
Mata Ralen berpendar memperhatikan kamar milik sang pria yang sekarang juga akan dia tempati, kamar yang luas namun terasa sangat hampa karena sang pemilik kamar tidak lagi berkata apapun saat mereka tiba di rumah ini.
Ralen pun melihat pada tas besar yang sangat dia kenali, tas di atas sofa itu memang miliknya tapi kenapa ada di rumah ini? siapa yang mengantarnya? atau mungkin suaminya yang mengambil tas itu dari rumah kontrakan orang tuanya, mengingat dirinya memang tidak membawa pakaian sama sekali, bahkan baju yang dia pakai hari inipun masih baju milik Zara.
Ah, wanita bernama Zara itu memang sangat baik padanya, bahkan mereka baru saling mengenal beberapa hari saja.
"Ardan yang mengantarnya tadi pagi." suara itu tiba-tiba mengisi kekosongan ruang yang didominasi dengan warna gelap itu, ciri khas seorang pria.
"Ralen," suara panggilan dari lantai bawah membuat Ralen tidak menanggapi apa yang Ipul katakan.
Wanita itupun keluar guna menemui wanita yang memanggilnya, dia tahu Mama mertuanya lah yang memanggilnya sebab tadi saat datang dia belum bertemu dengan sang mertua, mungkin tadi wanita itu tengah mandi atau melakukan hal lainnya.
Langkah Ralen begitu lambat dan hati-hati mengingat tubuhnya masih lemas dan kepalanya pun masih sedikit pusing.
Ipul menghela napas memperhatikan langkah Ralen yang begitu lambat tahu kalau wanita itu sedang tidak sehat tapi dia mencoba abai meski hatinya sedikit terusik.
Ralen menghampiri wanita yang sedang menunggunya di dekat tangga, wanita yang wajahnya masih terlihat begitu pucat dengan mata yang bengkak itu malah sedang tersenyum kepadanya, senyum yang dipaksakan menutupi kesedihan yang tetap terlihat jelas.
"Maafkan Mama ya karena tidak ada melakukan perayaan apapun untuk pernikahan kalian," Mama Riska meminta maaf pada sang menantu seolah yang terjadi adalah kesalahannya.
Ralen menggeleng cepat, "tidak apa-apa Ma, Ralen juga tidak mengharapkan perayaan apapun, bagi Ralen ini sudah cukup," tutur Ralen.
"Kamu harus betah tinggal disini ya," kata Riska lagi menatap penuh harap pada anak menantunya meski dia tahu ini mungkin akan berat untuk Ralen mengingat sikap Ipul yang berubah sejak kemarin.
Riska merangkul tubuh sang menantu merasakan tubuh istri dari anaknya itu begitu panas, "badan kamu panas banget Len, kamu sakit?" Mama Riska nampak khawatir wajahnya menunjukkan itu dengan jelas.
"Gara-gara kehujanan kemarin Ma, sudah minum obat kok sebentar lagi juga sembuh," papar Ralen meyakinkan wanita di depannya yang memang sangat baik sejak pertama mereka bertemu, dan perlakuannya tidak berubah meski pun suaminya telah tiada sesaat setelah Ralen sah menjadi istri dari anaknya.
Wanita di depannya tidak seperti anaknya yang menyalahkan Ralen atas kepergian pria yang mereka sayangi, wanita ini terlihat lebih bisa menerima bahwa perpisahan karena kematian itu memang sudah menjadi takdir seseorang yang tidak pernah bisa dihindari apalagi menyalahkan orang lain atas kematian itu.
__ADS_1
"Kemarin kamu kemana, kenapa tidak pulang kesini?" tanya Riska seraya membawa menantunya itu untuk menuju ruang makan lalu memintanya duduk di depan meja makan yang sudah tarsaji makanan yang sama sekali tidak menggugah selera Ralen karena lidahnya masih terasa pahit akibat tidak enak badan.
"Ralen pulang ke kontrakan Ma, tidur sama Ayah dan Ibu biar nggak kangen, kan sekarang Ralen harus tinggal disini."
"Tukang bohong," gumam Ipul yang baru saja datang, mendengar kebohongan yang Ralen lontarkan.
Ralen dan mertuanya melihat kedatangan pria yang langsung menuju dapur, pria itu ingin mengambil air minum lalu kembali lagi ke dalam kamar
Riska tentu tahu kalau saat ini Ralen tengah berbohong, bagaimana mungkin wanita itu tidur di kontrakan orang tuanya sedangkan tadi pagi saja Ardan datang untuk mengantarkan barang-barang miliknya sekaligus menanyakan keadaan Ralen.
Kalau memang Ralen pulang ke rumah orang tuanya, buat apa Ardan menanyakannya sedangkan yang ditanyakan ada di sana.
"Sebentar ya, Mama tinggal dulu," ucap Riska pada menantunya yang hanya mengangguk.
Sungguh Ralen merasa sangat tidak enak berada di dalam situasi ini, mertuanya baik tapi suaminya malah bersikap dingin kepadanya seakan dia ini adalah musuh padahal sebelumnya pria itu sangat banyak bicara terus melakukan pendekatan terhadapnya bahkan saat pria itu kembali menidurinya masih ada kata manis yang terucap dari bibir sang pria.
"Terus Ipul mesti apa? Ipul dengar kok tadi dia bilang udah minum obat, terus mau apa lagi? Mama minta Ipul ngapain? Ipul bukan dokter," papar Ipul dengan gelas di tangannya.
"Setidaknya Ralen butuh perhatian dari suaminya dan itu kamu, mana ada suami yang kayak kamu ini, jelas-jelas istri sakit tapi kamu tanya keadaannya juga nggak, Mama nggak suka kamu kayak gitu," jelas Riska menuntut anaknya untuk memperhatikan Ralen, karena biar bagaimana pun Ralen adalah tanggung jawab dari anaknya.
"Kemarin Ipul sudah jelaskan sama Mama kenapa Ipul kayak gini sama dia, Ipul nyesel Ma nikah sama dia."
Perkataan Ipul membuat Riska menarik napas panjang dan wajahnya memperlihatkan ketidaksukaan atas apa yang keluar dari mulut sang anak.
"Ceraikan kalau gitu."
"Dulu Mama yang suruh aku nikah sama dia memaksa lalu sekarang Mama minta Ipul ceraikan dia, Mama mau apa sebenarnya?" Ipul bertanya tak mengerti.
"Itu dulu kan? sekarang Mama berubah pikiran, melihat cara kamu memperlakukan seorang wanita yang kamu nikahi membuat Mama merasa bersalah padanya, cerai saja mumpung kalian belum ngapa-ngapain daripada nanti Ralen keburu kamu apa-apain terus hamil, malah makin menderita dia kamu buat!"
__ADS_1
Mendengar semua penuturan sang Mama membekukan otak Ipul, Mamanya masih menyangka kalau dia adalah anak baik yang tidak akan pernah berani melakukan perbuatan bejat kepada wanita sungguh membuatnya benar-benar merasa sangat bersalah.
Dia sudah meniduri Ralen dan bahkan tidak hanya sekali, kemungkinan Ralen hamil pun akan sangat besar mengingat dia tidak memakai pengaman saat melakukannya.
Lalu sekarang dia harus mengatakan apa kepada Mamanya itu? mengakui perbuatannya dan akan menambah rasa kecewa yang Mamanya rasakan? bukankah itu akan membuat keadaan sang Mama semakin menyedihkan setelah di tinggalkan oleh pria yang dia cintai lalu harus dikecewakan oleh anak yang selama ini dia banggakan.
"Kenapa diam saja? kalau memang mau cerai, bukankah itu lebih baik dari pada harus Mama paksa untuk memperlakukan Ralen layaknya seorang istri," cecar Riska mendapati anaknya hanya diam mematung dengan tatapan tak jelas.
"Ipul tidak akan ceraikan dia Ma."
"Dengan sikapmu yang masih seperti ini?"
Ipul menggeleng, "Ipul akan berusaha untuk memperlakukan dia lebih baik," terang Ipul.
"Itu kewajiban kamu, sebagai suami sudah menjadi kewajiban kamu untuk memperlakukan istri dengan baik, semua yang terjadi lupakan karena Ralen pun tidak mau seperti ini, tentu dia juga merasa bersalah kalau kamu terus-menerus mengabaikan dia."
Riska menepuk bahu sang anak dengan penuh kasih sayang berharap anaknya bisa kembali seperti dulu, selalu menghargai orang lain.
\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1