Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Punya Mobil Baru


__ADS_3

"Mas kamu tahu tidak?"


"Suamimu ini baru pulang Zara, dan kamu datang-datang malah menyambutnya dengan pertanyaan yang nantinya berujung pada gosip yang harus aku dengarkan," papar Davi yang memang baru saja pulang namun istrinya yang tengah menggendong Achnaf malah mengajukan pertanyaan yang jelas-jelas dia tidak akan tahu apa isi dari pertanyaannya itu.


Dia ini seorang pengusaha bukan si tukang gosip yang akan selalu bisa dengan cepat menjawab dan menimpali pertanyaan istrinya itu dengan cepat dan benar.


"Ish, aku lagi mau ngobrol dengan kamu Mas, obrolan penting banget ini," ucap Zara dengan wajah yang terlihat menggemaskan dengan matanya yang membulat.


"Obrolan penting yang akhirnya berujung gosip kah?" tebak Davi seraya mengendurkan dasi lalu melepaskannya.


Zara mendengus lalu wajahnya berubah menjadi masam ketika suaminya seakan tidak mau mendengarkan apa yang dia katakan, Zara memang seperti ini dan mungkin Davi bosan menjadi teman bergosip wanita yang dia nikahi itu.


Davi yang sadar perubahan ekspresi istrinya itupun langsung mengubah raut wajahnya dari yang tadinya lelah menjadi sangat bersemangat, tentu dia tidak ingin tidur di luar kamar hanya karena tidak menimpali istrinya yang sedang ingin bergosip itu.


"Ayo sayang, kamu mau ngomongin atau cerita apa, ayo Mas dengarkan," cakap Davi dengan senyuman yang merekah, entah itu senyum yang dibuat-buat karena takut tidak bisa tidur di kamar atau memang dia ingin menunjukkan kalau dia begitu semangat mendengarkan apa yang ingin istrinya itu katakan.


Zara menggeleng membuat Davi panik, bukankah gelengan itu artinya istrinya tidak lagi berminat untuk mengajaknya bergosip? dipastikan setelah ini posisinya di dalam kamar tidak akan aman, sangat pantaslah kalau dia waspada.


"Kamu marah Mama?" tanya Davi dengan wajah yang memelas.


"Achnaf, Mama marah bilangin Mama jangan marah sama Papa," berkata pada sang anak yang ada di gendongan istrinya, anaknya itu bahkan malah tertawa melihat kelakukan Papanya seolah senang ketika Papanya itu dimarahi oleh sang Mama.


"Siapa yang marah sih!?" tanya Zara menjauhkan Davi dari anaknya.


"Itu kamu nggak jadi cerita, kan tandanya kamu marah," kata Davi seraya masih saja mendekati Achnaf padahal Zara sudah berusaha menjauhkannya.

__ADS_1


"Kamu belum mandi, jangan dekat-dekat Achnaf!" sengit Zara menyorot pada suaminya yang langsung mundur menjauhi.


Davi tahu Zara sangat tidak suka jika dia yang baru pulang kerja sudah langsung mendekati Achnaf, terlebih lagi sekarang ini Achnaf sudah mandi dan harum.


Sekarang malah jadi gantian Davi yang merengut mendengar penuturan Zara meski Zara tahu itu hanya di buat-buat karena selama ada Achnaf Davi tidak pernah marah ataupun ngambek padanya, suaminya itu menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya dan Zara selalu bersyukur akan itu.


"Kamu beneran nggak ngambek?" tanya Davi memastikan.


"Enggak," geleng Zara lalu duduk di sofa memangku sang anak yang menunjukkan wajah sumringah dengan tangan yang direntangkan tanda minta di gendong oleh Papanya.


"Kamu mandi cepat Mas, ini anaknya minta gendong," pinta Zara.


"Siap!" sahut Davi penuh semangat dengan tangan yang diletakkan di pelipis kanan.


"Papa mandi dulu ya, nanti baru gendong," berbicara pada sang anak yang nyengir seakan mengerti apa yang dikatakan orang tuanya.


Davi mencium kening Zara lalu segera berlari menaiki tangga, dia tidak berani mencium Achnaf karena takut Zara akan mengomel, istrinya itu sangat menjaga kebersihan bagi Achnaf, bayi mereka itu memiliki kulit yang sensitif terkena debu sedikit akan membuat kulitnya merah-merah bahkan yang lebih parahnya lagi menimbulkan bentolan yang cukup banyak.


Jadilah Davi harus mandi dulu kalau mau memegang anaknya itu.


Beberapa jam kemudian..


Sekarang keluarga yang terlihat sangat bahagia itu tengah berada di ruang keluarga setelah menyelesaikan makan malam mereka.


Tengah berbincang dengan Achnaf yang sudah tertidur di pangkuan sang Papa dengan sangat lelapnya.

__ADS_1


Mereka berdua itu sedang asik membicarakan Ipul, terutama Zara yang menjadi begitu bersemangat menceritakan apa yang tadi sudah diceritakan oleh Tante Riska saat dia berkunjung ke rumah Tantenya itu yang hanya berdua saja dengan pembantunya.


"Tante Riska yang bilang tadi Mas, katanya Ralen nyusul Ipul ke Batam nah pas di Batam itu orang berdua nggak ada yang bisa dihubungi, sekalipun bisa dihubungi tapi nggak ada satupun yang mau jawab telepon dari Tante Riska, Tante Riska kan khawatir takut terjadi apa-apa sama mereka," terang Zara kembali mengatakan apa yang Tantenya ceritakan kepadanya tadi siang.


Kening Davi mengerut lalu dengan santai sambil mengusap-usap kepala anaknya diapun menimpali apa yang Zara katakan, "kan bisa tanya sama Om Damar, Om Damar pasti tahu apa yang sedang dilakukan oleh pasangan suami istri itu, lagian Tante Riska tuh ada-ada saja, kan anaknya itu baru nikah ya pasti lagi senang-senangnya ngunci diri di dalam kamar, Mas yakin dia itu kesenangan banget disusulin sama Ralen," tutur Davi menganggap apa yang dilakukan oleh Ipul dan Ralen itu ya normalnya pasangan pengantin baru yang tidak mau diganggu oleh siapapun sekalipun itu adalah keluarga.


Mendengar ucapannya sendiri Davi terdiam lalu matanya mengerjap cepat seperti baru teringat akan sesuatu.


"Kamu kenapa Mas?" Zara malah panik melihat suaminya sekarang, bengong diam dengan mulutnya yang sedikit menganga, suaminya tidak sedang terkena azab kan?


Zara menggoyang-goyang lengan suaminya berharap pria itu sadar dan tidak semakin membuatnya panik.


"Kayaknya kita bakal punya mobil lagi Za," kata Davi menatap sang istri yang memundurkan kepalanya tak mengerti.


Zara mengerutkan keningnya tak mengerti, kenapa suaminya malah membicarakan mobil padahal mereka sedang membicarakan Ipul dan Ralen, konotasinya apa? ada kaitannya kah?


"Mas mau beli mobil lagi?" tanya Zara malah mengira suaminya mungkin ingin membeli mobil lagi.


Davi menggeleng lalu memberikan senyum yang makin membuat Zara bingung setengah mati, di tanya mau beli mobil tapi jawabannya malah geleng kepala yang artinya tidak akan membeli mobil, tapi kenapa suaminya itu mengatakan mereka akan punya mobil lagi?


"Kita bakal dapet mobil, walaupun bukan mobil baru tapi setidaknya mobil kita nambah satu, lumayan untuk tambah-tambah warisan buat Achnaf nanti." Davi menaik-turunkan kedua alisnya malah berteka-teki sedangkan istrinya masih juga tak mengerti.


Zara menggaruk rambutnya lalu memberikan sorot mata meminta penjelasan dari perkataan yang baru saja suaminya katakan.


"Kamu nggak perlu tahu, yang penting mobil kita nanti bertambah," cetus Davi dengan wajah sumringah.

__ADS_1


Dua pria itu taruhan tanpa diketahui oleh siapapun termasuk Zara, ini hanya antara mereka berdua saja.


****


__ADS_2