
Ralen ini sedang sangat kesal dengan suaminya sampai ketika sudah berada di kontrakan orang tuanya pun wajahnya terus saja di tekuk dan berlipat-lipat bagaikan cucian yang menumpuk membuat Ibu dan Ayahnya memandangnya heran.
"Kamu kenapa Len?" tanya sang ibu kepada sang anak yang sejak datang satu jam lalu masih saja memperlihatkan wajah yang cemberut padahal Ibunya ini ingin membicarakan tentang Daniya pada sang anak, memberitahu tentang Kakaknya karena Ralen memang belum tahu bahkan orangnya pun belum pernah bertemu, setidaknya itulah yang Ibunya ketahui.
Ralen menggeleng tapi bibirnya itu masih saja mengerucut bagaikan ujung terompet tahun baru.
"Kak Ralen kapan datang?"
Arda yang baru saja pulang dari rumah temannya bertanya pada sang Kakak yang duduk di dekat meja tv.
"Udah sejam yang lalu, Lo main Mulu sih!" dengus Ralen, sepertinya Adiknya itu akan jadi tempat dia melampiaskan kekesalan, lihat saja caranya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh sang adik, begitu ketus dengan ekspresi dan kedua mata yang mendelik.
"Dih galak banget," cetus Arda tapi bibirnya malah tersenyum mengejek.
"Ngapain Deket gue, mandi sana bau keringet!" usir Ralen lalu mendorong sang Adik yang baru akan duduk di sampingnya, tidak tahu kenapa hidungnya jadi lebih peka sekali ketika mencium aroma yang tidak mengenakkan padahal dulu dia itu tidak akan mengoceh ataupun menyuruh Adiknya untuk mandi bahkan ketika Arda baru pulang sekolah saja dia betah duduk berdampingan dengan adiknya itu, tapi kenapa sekarang malah jadi begini.
"Bau keringet apa, orang Arda udah mandi kok." Arda membela diri tapi dia tetap saja bergerak menundukkan wajahnya lalu mengendus-endus tubuhnya untuk merasakan bau yang dikatakan oleh sang Kakak.
"Nggak abu Kak," katanya kemudian setelah yakin memang dia tidak mencium bau apapun dari tubuhnya.
"Bau!" tegas Ralen dengan keyakinannya, indera penciumannya itu bahkan bisa mengendus bau yang orang lain pun tidak bisa menciumnya.
"Cium dah Bu, emangnya bau?" Arda beralih pada sang ibu meminta wanita itu untuk mengendus kaos yang dia pakai dan juga anggota tubuhnya.
Sang ibu mengerut bingung karena dia malah mencium bau minyak wangi.
"Bau kan Bu?" bertanya tapi dari raut wajahnya itu seolah meminta ibunya untuk mengangguk mengiyakan apa yang dia katakan sejak tadi.
Ibunya menggeleng, "malah bau minyak wangi," sahut sang ibu enteng.
"Dih hidungnya pada mampet," cetus Ralen.
"Itu hidung lo Kak yang bermasalah," tuding Arda tak mau kalah, enak saja Kakaknya itu tadi sebelum pergi ke tempat temannya dia sudah mandi dan di rumah temannya pun dia hanya mengerjakan tugas dari sekolah bukannya yang mencangkul ataupun mengerjakan pekerjaan yang menimbulkan keringat, eh begitu pulang Kakaknya malah menuduhnya bau.
Ralen mendengus lalu melempar guling yang tengah dia peluk untuk menyanggah perutnya yang tadi sore terasa sakit tapi untunglah sekarang sudah tidak terlalu berasa.
Arda pun kabur ke dapur membuat guling itu teronggok tak berdaya di lantai dengan gorden yang menjadi sekat antara ruang depan dan kamar.
"Oh iya Bu, soal wanita yang kata Ibu adalah Kakak Ralen bagaimana keadaannya?" Ralen mulai mempertanyakan wanita yang katanya adalah Kakaknya, Kakak yang sejak kecil tidak pernah dia tahu bahwa ternyata dia bukanlah anak tertua melainkan anak kedua.
Saat di Batam Arda menghubunginya tapi dia tidak banyak bertanya karena saking terkejut dan tidak menyangka, hidupnya terasa seperti sinetron saja dari yang bertemu dengan lelaki lalu bertengkar bagaikan musuh bebuyutan tapi akhirnya malah menikah dengan lelaki kaya itu dan berlanjut dengan cerita selanjutnya tentang dia yang ternyata mempunyai saudara kandung lainnya selain sang Adik, bukankah siapapun tidak akan pernah menyangka semua itu menjadi kisah dalam hidup dan harus dijalani.
Sang Ibu dan Ayahnya saling tatap lalu menarik napas dan kemudian membuangnya dengan berat, terlihat amat berat seperti ada beban yang menghimpit.
"Wajahnya sangat mirip denganmu Len, cantik sama cantiknya dengan kamu," jelas sang ibu dengan wajah yang senang tapi ada gurat kesedihan juga yang terlihat jelas.
"Bohong Kak, cantikan Kakak kemana-mana!" seru Arda dari dalam kamar yang dulu milik Ralen dan sekarang menjadi miliknya.
ABG SMP itu sepertinya sangat tidak rela Daniya yang judes dan angkuh itu disamakan dengan Kakaknya, perlakuan Daniya seolah tidak akan pernah dia lupakan dan membuatnya tidak respek sama sekali pada Kakaknya yang satu itu.
__ADS_1
Arda lalu mulai berbicara panjang lebar mengadukan sikap Daniya yang sangat tidak sopan dan juga jahat pada mereka.
"Namanya siapa?" tanya Ralen ketika Arda menyebutkan nama Daniya barusan, dia mengira salah dengar.
"Daniya," ulang Arda yang lantas diangguki oleh sang ibu.
"Biar bagaimanapun Daniya itu Kakak kamu juga Ar, kamu harus menyayangi dan juga menghormati dia sama seperti kamu kepada Ralen," sang Ibu memberikan peringatan pada anak lelaki satu-satunya di keluarga itu.
Ralen mengerutkan lalu mengingat nama wanita yang menyukai suaminya wanita yang beberapa jam lalu bertemu dengannya di kampus dan wanita yang wajahnya juga mirip dengannya, apa wanita itu wanita yang sama dengan yang tengah dibicarakan oleh Arda? otak Ralen berpikir mulai curiga tapi kemudian mencoba untuk berpikir positif dan meyakinkan diri kalau Kakaknya itu tidak mungkin menyukai pria yang sudah beristri.
"Kamu mau bertemu dengannya tidak? siapa tahu saat melihat dan bertemu kamu Kakakmu itu sudah menjadi lebih baik kepada kita dan mau memaafkan apa yang sudah ibu dan ayah lakukan dulu, ibu benar-benar merasa sangat bersalah kepadanya Len," terang sang ibu dan dia berencana untuk mengajak Ralen bertemu dengan Daniya, harapannya Ralen bisa membuat Daniya mau memberi maaf.
Ralen mengangguk, "besok Ralen libur, mau besok?" tanya Ralen.
"Lah ngapain Kak, orang keras kepala begitu nggak bakal bisa berubah lah, Arda walaupun baru bertemu dengannya saja sudah tahu kalau si Daniya itu licik dan jahat! Arda tuh nggak suka!" Arda tampak sangat keberatan ketika ibunya itu malah ingin mengajak Ralen untuk menemui Daniya, berharap kalau Ralen bisa membuat Daniya mau memaafkan padahal sudah beberapa kali dia menemani ibunya itu untuk bertemu dengan Daniya tapi sambutan yang mereka dapatkan masih tetap sama, ekspresi penuh dendam masih dengan jelas di tunjukkan oleh Daniya.
Ralen melirik Arda lalu menggeleng lemah, dia tahu bagaimana sifat Adiknya itu jika sudah tidak suka ya tidak akan suka apalagi kesan pertama bertemu dengan Daniya yang sangat buruk tentu akan melekat diingatan sang Adik.
Arda mendengus lalu beranjak pergi masuk ke dalam kamar meninggalkan pembicaraan ketiga orang di ruang depan yang masih membahas tentang Daniya.
***
"Mama teleponin Jelita dong Ma," Ipul sejak tadi uring-uringan dan meminta bantuan pada sang Mama.
"Kamu ini kan suaminya ya kamu aja yang telepon ngapain juga malah suruh Mama!" ocehan sang Mama langsung menyeruak ke dalam telinga.
"Telepon Ralen mau ngapain? kan dia udah bilang sama kamu kalau dia mau ke rumah orang tuanya," kata Mama Riska sedikit kesal pada sang anak, padahal Ralen sudah minta ijin tapi sekarang malah sangat riweh ingin istrinya pulang.
"Iya tapi Ipul maunya dia pulang bukannya nginep, Ipul kan lagi sakit," keluh Ipul seraya menggelayuti lengan Mamanya padahal sang Mama sudah berusaha untuk menepisnya dan mendorongnya menjauh tapi malah tidak mempan sama sekali.
"Sakit aja manja banget," ketus sang Mama yang mulai risih dengan kelakuan anaknya itu.
"Haaaah Mama!!" Ipul menyentak bagaikan anak kecil.
"Astagfirullah, kamu ini kerasukan tuyul kayaknya!" sungut Mamanya menggeleng kepala tak percaya mendapati anaknya bertingkah sangat berlebihan seperti ini.
Dia tahu anaknya memang terkadang manja tapi tidak akan berlebihan seperti sekarang ini.
"Mamaa." terus saja merengek tak jelas sambil menggoyang lengan wanita yang menatapnya tak percaya.
__ADS_1
"Ya udah Mama teleponin tapi kamu jauhan saja," melerai tangan sang anak dari lengannya.
Ipul pun dengan semangatnya menurut, mengikuti apa yang Mamanya katakan lalu mendengarkan dengan baik ketika sang Mama tengah menghubungi istrinya hingga akhirnya Mamanya itu mulai berbicara dengan sang istri.
"Telepon dari mertua di angkat, giliran suami yang telepon malah di reject," bersungut sambil memasang kedua telinganya mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang Mama.
"Suruh pulang Ma!" bisik Ipul ketika dia mendengar Ralen mengatakan ingin menginap dan baru akan pulang besok.
Sang Mama melirik saja sampai akhirnya hanya mengiyakan ketika Ralen tetap mengatakan akan menginap.
"Jelita pulang kan Ma?"
Mama Riska menggeleng, "Jelita mu itu mau nginep besok baru pulang, ya udah biarin aja sih, toh cuma semalam ini besok juga udah pulang lagian kan semenjak nikah istrimu itu nggak pernah nginep di rumah orang tuanya," terang sang Mama.
"Tapi kan.."
"Sekarang tidur sendiri dulu, besok baru kelon lagi sama Ralen," kata Mamanya dengan cengiran.
Ipul mendengus, bisa-bisanya Mamanya itu masih saja menggoda dirinya padahal dia ini sedang kesal karena istrinya tidak pulang.
"Mama sama Jelita itu ngeselin!" berteriak lalu melenggang pergi menuju kamarnya meninggalkan sang Mama yang cekikikan melihat tingkah lakunya itu.
Puas mentertawakan sang anak akhirnya Mama Riska terdiam lalu termenung memikirkan tentang sikap anaknya yang dia lihat malah jadi sangat manja, manjanya melebihi yang dulu.
"Kenapa ya itu anak?" gumamnya menatap pada tangga yang tidak ada siapapun.
\*\*\*\*\*
__ADS_1