Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Bunuh Diri


__ADS_3

"Arni cepatlah datang, sejak tadi Dani terus mengamuk memanggil namamu." Dayna terpaksa menghubungi Arni, karena sejak pulang tadi Daniya terus memanggil nama wanita itu memanggil dengan suara yang sangat keras disertai dengan tangisan yang meraung menyiratkan kesedihan yang bercampur dengan marah.


"Daniya mengamuk? memangnya kenapa?" tanya Arni yang sempat terkejut ketika handphonenya berdering dan nama Dayna terpajang di layar handphone miliknya yang sudah sangat usang.


Dayna menunjukkan raut wajah panik ketika untuk sekian kalinya dia mendengar suara dari kamar anak angkatnya, suara teriakan dan tangisan yang sungguh menyayat hati.


"Kamu cepatlah datang, aku tidak bisa menjelaskannya ditelepon," pinta Dayna dengan suara yang terburu dan tarikan napas yang tak menentu.


Ini pertama kalinya dia mendapati Daniya mengamuk sampai tak terkendali seperti ini, pertama kalinya semenjak dia merawatnya dari kecil, kalau hanya keras kepala dan tidak mau mengalah dia sudah cukup paham dengan sifat Daniya yang itu tapi mengamuk seperti ini rasanya dia tidak pernah melihatnya, sungguh ini hal yang baru dia lihat sepanjang dia mengangkat Daniya sebagai anak.


"Baiklah saya akan segera datang," kata Arni lalu segera mengakhiri pembicaraan dan memutus panggilan.


"Kalian semua jahaaaatt!!!!" teriak Daniya dari dalam kamar.


"Nyonya." pelayan yang sudah sangat lama bekerja di rumah itupun menatap sang nyonya dengan binar mata yang ketakutan.


Dayna meremas handphone yang tadi baru saja dia gunakan, meremasnya dengan sangat kencang meski benda itu tidak akan bisa hancur oleh tangannya dan hanya menimbulkan rasa nyeri saja bagi tangannya.


Dayna menjadi lebih gelisah lagi, dia sudah tua dan pergerakannya juga sangat terbatas rasanya membiarkan Daniya mengamuk di dalam kamar itu jauh lebih baik ketimbang dia harus mengambil resiko mencelakai dirinya sendiri nantinya, karena biasanya orang yang sedang dikuasai oleh emosi dan kemarahan tidak akan mengenal siapapun, tidak akan ragu untuk menyakiti dirinya sendiri juga siapapun yang berusaha untuk menenangkan.


"Kita tunggu Arni datang saja," putus Dayna akhirnya.


Meski dua orang penjaga sudah sangat bersiap untuk mendobrak pintu kamar namun jika sang pemilik rumah tidak memberikan perintah apapun mereka tentu tidak akan bisa sesuka hati melakukan tindakan.


Sepertinya Dayna mulai jenuh dengan sikap Daniya, dia memang sangat menyayangi anak angkatnya itu, tapi jika sudah keterlaluan begini diapun menjadi tidak peduli terlebih lagi dia sudah berulang kali memberikan pengertian pada anaknya itu agar tidak bertindak berlebihan dan terlalu terobsesi dengan laki-laki apalagi laki-laki itu adalah suami adiknya sendiri.


Padahal dia sejak dulu selalu mengajarkan anaknya itu tentang kebaikan meski caranya salah terlalu memanjakan tapi seingatnya dia tidak pernah mengajarkan untuk merebut milik orang lain, apa terlalu dimanjakan membuat seseorang menjadi egois dan ingin selalu menjadi nomor satu, hingga apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan?


"Buat apa lagi sih Bu datang ke sana?!" marah Arda ketika ibunya meminta di antar ke rumah orang tua angkat Daniya, meski Arda tahu tujuan sang ibu tentu untuk menemui anak pertamanya namun dia tetap bertanya karena setelah semua yang Daniya lakukan rasanya dia sudah sangat bagus tidak kembali datang.


Lalu sekarang ibunya di malam yang sudah menjelang larut ini meminta diantarkan ke rumah mewah itu dengan cara memaksa pula, sungguh makin membuat Arda tidak habis pikir sebenarnya apa yang ada di kepala ibunya sekarang ini.


"Kakakmu membutuhkan ibu, Ar." Arni menatap sang anak memberitahu.


"Membutuhkan untuk apa? untuk di maki-maki lagi? apa ibu tidak sakit hati mendengar mulut tajamnya itu berbicara yang tidak baik?!" Arda malah jadi sengit dan tidak senang hati dengan yang ibunya katakan.


"Ardaaa.." Arni mulai frustasi, "kalau begitu biar ibu pergi sendiri saja," putusnya kemudian.


"Antarkan ibumu Ar," titah sang Ayah yang sejak tadi memang menjadi saksi perdebatan antara ibu dan anak itu, bagaimana tidak sebab dia saja berada di ruangan yang sama.


Arda sebenarnya ingin tidak peduli dan membiarkan ibunya pergi sendiri, namun dia sebagai anak tentu tidak tega ibunya pergi malam-malam begini.


"Arda ambil jaket dulu," katanya yang akhirnya beranjak menuju kamar untuk mengambil jaket.


Anak muda itu sungguh sangat terpaksa memundurkan motor lalu memakai helm dan mulai menjalankan kendaraan roda duanya setelah sang ibu duduk di boncengan, melaju lambat yang akhirnya mendapat teguran dari ibunya.


"Lebih cepat, Ar!" seru sang ibu menepuk pundak anaknya.

__ADS_1


"Lampu motor mati Bu, bahaya kalau ngebut," kata Arda beralasan, untunglah lampu motor memang benar mati dan belum sempat dia bawa ke bengkel untuk menggantinya, jadilah dia mendapat alasan yang tepat untuk menolak permintaan dari ibunya.


Dia tidak ingin buru-buru sampai dan melihat wajah judes angkuh dan sombong milik Kakaknya, yah meskipun dia sadar bahwa wajah Daniya mirip dengan Ralen akan tetapi dia selalu menekankan bahwa Daniya dan Ralen itu berbeda, jauh cantik Ralen, Kakak keduanya itu ketimbang Daniya sang Kakak pertama yang bahkan enggan sekali dia anggap Kakak.


Tubuh Arni bergerak gelisah membuat Arda juga jadi sedikit oleng karenanya.


"Kalau ibu gerak-gerak terus yang ada kita malah berakhir di rumah sakit," memberi peringatan wanita yang malah membuatnya tak benar dalam mengendarai motor.


"Ibu takut Kakakmu kenapa-kenapa," tutur Arni.


Dia sebagai seorang ibu sekalipun sudah sangat disakiti oleh anak tentu kasih sayangnya akan tetap ada apalagi dia merasa kebencian anaknya itu terjadi karena apa yang dia lakukan, meski sesakit apapun dia akan tetap datang demi sang anak.


"Kakak itu baik-baik saja dengan suaminya, kan ibu tahu sendiri, Kak Gunawan itu sangat baik dan Arda lihat juga sangat menyayangi Kak Ralen."


Sepertinya Arda benar-benar tidak menganggap Daniya, bahkan sekarang saat sang ibu menyebut Kakak, Arda malah membahas Ralen seperti sengaja melakukan itu untuk memberitahu pada sang ibu bahwa Kakak baginya hanyalah Ralen, tidak ada Daniya maupin yang lain.


Sedangkan Arni tercenung mendengar pernyataan dari anaknya, tentang menantunya yang sangat menyayangi Ralen, itu mengingatkan dia pada permintaan Daniya padanya, sungguh disaat ini dia menjadi sangat gamang hingga tak sadar meskipun motor sudah berjalan sangat lambat namun ternyata sudah tiba di tujuan.


"Arda tunggu disini saja," kata Arda enggan turun sama sekali dari motor.


Sang ibu mengangguk lalu masuk ketika pagar kecil sudah di buka oleh seorang penjaga.


"Dimana Daniya?" tanyanya pada Dayna yang sejak tadi memang sudah menunggu kedatangannya.


"Ada di kamarnya," kata Dayna lalu meminta pelayan untuk mengantar Arni sedangkan dia mengikuti di belakang tentu saja karena dia harus berjalan menggunakan tongkat.


"Apa tidak ada kunci cadangan?"


"Aku pikir Daniya sudah mengambil kunci cadangan sebelum masuk kamar." Dayna mewakili pelayannya memberikan jawaban.


Arni menghela napas panjang, bukankah itu artinya Daniya memang sudah merencanakan hal ini? wanita itu mengambil kunci cadangan lalu mengurung diri di dalam kamar serta mengamuk dan terus berteriak-teriak seperti orang tak waras.


Tok! tok!


"Pergi kalian!"


Daniya bersuara lalu..


Brak!


Terdengar lemparan benda yang menghantam tembok membuat semua orang di depan pintu tersentak kaget dengan mata yang membulat tak percaya.


"Aku sudah berusaha membujuknya untuk keluar, tapi entah kenapa dia sama sekali tidak mendengarkan ku sama sekali," Aku Dayna kecewa merasa dia tidak lagi dianggap oleh anak yang sudah dia rawat sejak masih sangat merah.


"Daniya ini ibu nak, buka pintunya sayang."


Dengarlah bagaimana lembutnya Arni dalam memanggil Daniya, menyebutnya anak dan sayang menunjukkan bahwa sekejam apapun perlakukan anak padanya yang namanya ibu akan tetap bersikap lembut agar disaat anaknya tengah dalam keadaan yang tidak baik.

__ADS_1


Beberapa menit tidak ada suara di dalam kamar sampai kemudian terdengar bunyi kunci yang di putar.


Cklek!


Lalu handle pintu pun perlahan turun diikuti dengan daun pintu yang lambat-laun membuka.


Sungguh Dayna merasa tidak percaya, dia sejak tadi sudah berusaha membujuk Daniya untuk membuka pintu akan tetapi anaknya itu tidak menurut tapi kemudian ketika Arni datang dan hanya meminta sekali saja dan Daniya langsung membuka pintu menampilkan wajahnya yang sangat kacau beserta dengan isi kamar yang layaknya tempat pembuangan sampah.


Semua barang berhamburan bercampur dengan tisu yang mungkin dipergunakan untuk mengelap air mata.


"Bu.." dengan suara lirih Daniya memanggil wanita yang berdiri tepat di depannya dengan kedua mata yang bengkak dan masih mengeluarkan air mata.


"Daniya.." Arni bergegas memeluk sang anak yang langsung mencurahkan isi hatinya, perasaan terluka yang membuat dia mengamuk seperti ini.


"Aku mau Awan tapi Ralen menolak bahkan menghinaku," adu Daniya dengan suara yang terdengar sesak.


Arni memejamkan mata, mendengar ini dia kembali menjadi sangat bingung, dia belum berbicara apa-apa dengan Ralen mengenai permintaan Daniya lalu sekarang Daniya sudah seperti ini.


"Ibu berjanji untuk membantuku, aku sudah memaafkan ibu dan Ayah jadi kumohon tepati janji ibu," sekarang Daniya mulai mendesak ibunya yang menjadi bimbang.


Satu sisi dia merasa ragu untuk menuruti sebab ini bukan tentang dirinya saja akan tetapi juga tentang rumah tangga anak keduanya, sekalipun dia juga senang ketika mendengar Daniya sudah mau memaafkan dirinya dan juga sang suami.


"Daniya.." Arni ingin berbicara tapi Daniya sudah melepas pelukan di tubuhnya.


"Jangan katakan kalau ibu tidak mau melakukannya? jangan katakan kalau ibu lebih sayang Ralen, apa tidak cukup ibu merenggut kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku? Awan milikku Bu, milikku!" Daniya menyentak tak senang dengan ekspresi yang ibunya tunjukkan.


"Kenapa tidak ada yang memihak padaku?!" teriak Daniya kembali histeris.


"Bukan begitu, ibu menyayangi kamu Ayahmu dan tentu kedua adikmu juga sayang terhadap kamu."



"Kalau sayang kenapa Ralen tidak mengembalikan Awan padaku, sejak awal Awan milikku Bu! milik Daniya!" kembali berteriak kencang.



"Kalau Ralen masih tidak mau mengembalikan Awan, Daniya lebih baik mati!"



Arni dan Dayna serta pelayan dan dua penjaga sangat terkejut mendengar ancaman Daniya, bukan hanya itu saja Daniya pun sekarang sudah memegang pisau yang entah kapan sudah berada di dalam genggamannya, mengarahkan pada pergelangan tangannya.



"Daniya akan bunuh diri!"


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2