
Ralen menghembuskan napas dengan sangat lega ketika akhirnya dia membonceng Mama mertuanya selamat sampai di rumah, oh astaga dia merasa bagaikan habis berperang, ketegangan bercampur rasa takut sejak membawa motor hampir membuatnya kehilangan nyawa saking takutnya kalau-kalau hal yang tidak mereka inginkan terjadi.
Wanita yang tadi dia bonceng bahkan begitu bersemangat membawa barang belanjaan yang tadi mereka beli di pasar, ah andai dia bisa memberitahukan suaminya kalau dia sudah berhasil membuat Mamanya kembali tersenyum, tapi sungguh dia tidak akan pernah melakukan itu terlebih lagi ketika dia sudah melanggar apa yang suaminya larang, bukan pujian yang dia dapat malah caci maki yang akan dia dengar nantinya.
"Ralen bantu apa Ma?" Ralen menghampiri Mama mertuanya yang sudah sibuk membongkar barang belanjaan ditemani oleh Bi Sumi, yang membantu di rumah itu.
"Nggak perlu kamu istirahat aja Len, capek kan habis bonceng Mama," kata Riska pada Ralen yang sudah siap membantu apa yang dia suruh, tapi malah di suruh istirahat dasar mertua yang terlalu baik pada menantu.
"Tapi Ralen mau bantu Ma," paksa Ralen yang sekarang malah duduk di lantai bersama dengan Bi Sumi yang sedang memilah-milah sayuran apa saja yang harus dia bersihkan untuk dia masak nantinya.
"Dasar Saipul Gunawan." celetuk Riska menyebut nama anaknya untuk seolah mengatakan pada dunia kalau wanita keras kepala yang menjadi menantunya itu memang sangat mirip dengan anaknya, dari bawel serta susahnya saat di beritahu.
Ralen nyengir tanpa dosa yang membuat Bi Sumi menggelengkan kepalanya dengan seulas senyum.
Wanita paruh baya itu turut merasa senang karena akhirnya sang nyonya rumah bisa kembali tersenyum setelah kepergian sang tuan, bersyukur karena adanya Ralen membuat rumah itu menjadi sangat hidup setelah ditinggalkan oleh satu orang, ternyata satu orang pergi dan satu orang datang sepertinya tuhan memang sudah mengaturnya dengan sangat baik hingga rumah itu tetap menjadi hidup meski sedikit berbeda.
Menjelang sore rasanya Ralen bosan terus berdiam diri di rumah, dia yang biasa berkegiatan dan selalu berjalan kesana-kemari menjadi gelisah sendiri apalagi sudah berhari-hari suaminya itu tidak pernah menghubunginya, kemarin pun dirinyalah yang menghubungi lebih dulu.
"Sibuk banget banget apa, sampai kasih kabar pun nggak bisa? padahal kirim pesan satu kalimat kan nggak makan waktu sampai berjam-jam," gerutu Ralen memandangi handphone di atas meja yang seperti tak ada kehidupan.
Tidak tahu kenapa dia merasa jadi sangat menginginkan kalau Ipul menghubunginya, memberinya kabar padahal dia juga tidak mengerti bagaimana perasaan yang dia rasakan, dia tidak bisa mengartikannya dengan baik.
Lalu pikiran Ralen pun berkelana mengingat kalau sekretaris dengan penampilan seksi nan menggoda suaminya yang turut serta menemani sang suami, dalam sekejap bantal sofa sudah menjadi sasarannya melampiaskan kekesalan yang mendadak mengumpul di hatinya.
"Sialan! gue istrinya tapi kayak nggak dianggap sama sekali," maki Ralen mulai tak tahan seraya memukul-mukul bantal tak memiliki kesalahan apapun padanya.
"Bilangnya mau mulai dari awal, tapinya bullshits! emang laki kalau ada maunya doang baik!" omel Ralen mulai tak tahan dengan kelakukan suaminya itu, mengingat bagaimana pria itu yang sebelum berangkat banyak mengatakan hal manis tapi setelah berangkat malah tak ada kabar sekalipun.
Ditengah kekesalan dan kesibukan pikiran diimbangi dengan gurat wajah marah yang malah terlihat menggemaskan benda di atas meja yang sejak tadi Ralen tatap berbunyi, berbunyi nyaring pertanda ada panggilan yang masuk, sungguh hal itu membuat mata Ralen berbinar sampai akhirnya tangan bergerak cepat bagaikan angin menyambar benda yang bersuara itu.
Tapi dengan begitu cepat ekspresinya kembali berubah ketika membaca nama yang sekarang terpampang di layar handphone, Antika si teman yang harus mematahkan semangat Ralen untuk menjawab telepon darinya.
"Halo." dengan sangat malas dan kekesalan yang menyelimuti Ralen menjawab panggilan dari temannya.
"Lemes banget, kenapa Lo?" tanya Tika yang sekarang juga sedang bermalas-malasan karena hari ini dia mendapat jatah libur.
"Lo nelepon saat gue lagi nggak pengen di telepon sama Lo!" omel Ralen sekenanya, masa bodo dia tak lagi peduli ketika harus menjadikan temannya itu pelampiasan emosi.
Di rumah kontrakannya Tika yang sedang tiduran pun terlonjak sampai duduk dengan kerutan di keningnya, "perasaan sensi banget, lagi kesel ya sama your husband?" tebak Tika yang sangat-sangat benar dan itulah kenyataan yang Ralen rasakan sekarang.
Diamnya Ralen sudah dipastikan kalau apa yang Tika katakan barusan memanglah benar hingga Tika mencoba untuk mengembalikan mood Ralen yang sedang tidak bagus karena pria yang menikahinya itu.
"Nggak usah ngelawak, nggak lucu," kata Ralen kala Tika mulai menceritakan hal-hal konyol yang sempat terjadi dengannya.
__ADS_1
"Tapi Lo ketawa kan?" ejek Tika sangat tahu jika saat ini Ralen memang sedang berusaha untuk menahan tawanya yang akhirnya pecah dengan suara yang kencang.
"Hahahahaha," suara tawa Ralen memenuhi kamar.
"Nah kan, sok-sokan bilang nggak lucu, ckckck," decak Tika mendengar suara tawa Ralen yang membuat telinganya berdenging.
"Gue bete banget nih," kata Ralen setelah menghentikan tawanya.
"Ya udah ayo jalan-jalan, nonton kek makan kek nongkrong kek, apa kek gitu mumpung gue libur," ajak Tika akhirnya.
Sebenarnya sejak tadi dia pun juga merasa bosan dan tujuan menelepon sang teman ya memang ingin mengajaknya keluar guna menghibur diri dan melupakan kejenuhan yang menerpa akibat lelahnya bekerja di ibukota yang kata orang lebih kejam dari ibu tiri.
"Libur Len, kalau nggak libur ngapain gue ngajak Lo jalan," dengus Tika dengan ketidakpekaan sang teman.
"Tumben," celetuk Ralen, karena Ralen tahu benar selama ini Tika tidak pernah bisa libur kalau di akhir pekan sebab di akhir pekan para pengunjung supermarket akan lebih banyak dari hari biasanya itulah kenapa selama ini Tika tidak akan pernah bisa libur kalau bukan hari-hari biasanya.
"Izin sakit gue, hihi." Tika malah cekikikan sendiri dengan pengakuannya.
Mata Ralen mendelik lalu mulutnya mengoceh, "izinnya sakit tapi malam ngajak gue jalan, yang sakit otak Lo kayaknya." Ralen mendecih kesal dengan sang teman yang sekarang malah tertawa girang bak mendapat harta karun.
"Ah udah ah, cepetan siap-siap mumpung malam Minggu ini," kata Tika tak sabar, bahkan wanita itu sekarang sudah berlarian mencari handuk untuknya yang memang belum mandi sedari pagi tadi.
Jorok! karena dia memang sungguh bermalas-malasan di kontrakannya.
__ADS_1
"Ya udah, gue jemput Lo deh," ucap Ralen.
Ralen yang sudah rapi dan siap untuk pergi kini malah tengah mondar-mandir di dalam kamar, dia galau untuk menghubungi suami yang tidak pernah berinisiatif menghubunginya.
"Izin dulu nggak?" tanyanya menatap handphone.
Sedikit bimbang tapi akhirnya mengambil keputusan, "nggak usah izin segala, dia aja nggak tahu lagi ngapain sekarang, mending sekalian aja nggak usah kasih kabar sekalian!" Ralen mengutak-atik handphonenya entah melakukan apa.
Wanita itupun berpamitan pada sang mertua yang sedang bersama Bi Sumi, dan langsung pergi begitu mendapat izin.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Langit sudah mulai menggelap kala Ralen dan Tika masih berkeliaran di dalam mall, sekarang keduanya tengah bingung memutuskan untuk menonton film apa.
Mereka sudah berada di bioskop setelah memuaskan diri berkeliling tak jelas di mall yang semakin dipadati oleh pengunjung dengan masing-masing tujuannya.
"Ma, Ralen mana? Ipul telepon nomornya nggak aktif."
Pria yang tadi membuat Ralen kesal kini tengah berbicara dengan sang Mama, menanyakan keberadaan istrinya yang tidak dapat dihubungi.
"Lagi keluar Pul dari jam setengah empat tadi, aktif kok ini dia baru kirim pesan katanya lagi di sama temannya," kata Mama Riska membuat Ipul mengerutkan keningnya.
"Ya udah Ipul coba telepon lagi deh," ujar Ipul.
"Iya coba kamu telepon lagi, tadi mungkin nggak ada sinyal kali," tebak wanita yang baru saja selesai merapikan tanaman.
Setelah memutus telepon dengan sang Mama, Ipul pun kembali menghubungi nomor istrinya dan yang dia dapatkan tetaplah hal yang sama.
Sadar profil Ralen tidak ada akhirnya Ipul mendengus kesal, "gue di blok lagi!" geram Ipul yang untuk sekian kalinya dia di blokir oleh wanita bernama Ralensi Jelita.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*