Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Kembar?


__ADS_3

"Apa Daniya punya saudara kembar?"


Tante Dayna terdiam begitu mendengar pertanyaan dari pemuda di depannya, kembar? Dayna pun tampak tengah berpikir sebelum benar-benar memberikan jawaban untuk pertanyaan yang diberikan kepadanya.


"Kembar?" Tante Dayna kembali mengulang apa yang tadi ditanyakan oleh Angga, meyakinkan diri kalau telinganya tidak salah mendengar.


"Iya, kembar," Angga mengangguk pasti dengan pertanyaan yang dia ajukan.


Tante Dayna mengerutkan kening lalu sesaat kemudian tertawa pelan, "kenapa kamu menanyakan itu? karena sangat tidak mungkin kalau Daniya memiliki kembaran," jelas wanita yang setelah tertawa langsung mengubah kembali ekspresinya menjadi serius.


Angga terdiam ada rasa tidak percaya atas jawaban yang dia dengar barusan, "bagaimana kalau ternyata Daniya memiliki kembaran?" Angga masih saja bertahan dengan pertanyaan meskipun sebenarnya diapun sedikit ragu.


"Tapi kenyataannya Daniya tidak memiliki kembaran," jawab Tante Dayna tegas tentang apa yang dia ketahui.


"Kenapa Tante bisa sangat yakin, sedangkan Tante bukan wanita yang telah melahirkan Daniya," Angga sedikit keterlaluan mengeluarkan isi kepalanya hingga akhirnya dia sadar dengan kesalahannya dalam bertutur kata, "maaf Angga tidak bermaksud berkata seperti itu kepada Tante," jelas Angga.


Dari Ibunya, Angga mengetahui kalau Tante Dayna memang tidak bisa hamil akibat penyakit yang wanita itu derita sejak muda sampai berujung dokter memvonisnya tidak bisa mempunyai anak, mungkin karena itulah Tante Dayna akhirnya mengadopsi Daniya.


Wanita yang terdiam mendengar perkataan tidak sengaja dari Angga pun kemudian mengulas senyum seraya menggelengkan kepala tanda bahwa dia tidak tersinggung dengan perkataan anak dari temannya, itu memang kenyataan yang sebenarnya jadi buat apa lagi dia capek-capek tersinggung toh usianya sudah tidak lagi muda sudah tidak perlu repot memusingkan apa yang orang lain ingin katakan terhadapnya.


"Itu kenyataan jadi tidak perlu merasa tidak enak apalagi merasa bersalah," ucap wanita yang memakai cincin dengan batu permata berwarna hijau tua yang terkadang memantulkan sinar ketika terlena cahaya.


"Dan soal Daniya, Daniya lahir seorang diri tidak ada bayi lainnya yang lahir setelah Daniya, kenapa Tante biasa tahu? karena Tante yang menemani ibu kandung Daniya melahirkan," terang Tante Dayna yang akhirnya membuat Angga makin tak enak hati.


Angga pun membenarkan perkataan Tante Dayna ketika dia baru menyadari sesuatu yang dia lupakan tentang usia, usia Daniya sekarang 24 tahun sedangkan dari data mahasiswa yang Angga terima Ralen baru berusia 20 tahun jadi perkataan Tante Dayna memang benar bahwa Daniya dan Ralen tidak mungkin kembar.

__ADS_1


Dia yang tidak tahu apa-apa malah seperti orang yang paling tahu, padahal dia sendiri pun tidak yakin kalau Daniya dan Ralen itu kembar meskipun wajah mereka terlihat sangat mirip, bukankah di dunia ini kita akan memiliki kembaran dari rahim yang berbeda, mungkin Ralen salah satu orang yang berwajah mirip dengan Daniya atau sebaliknya, Daniya salah satu orang yang mirip dengan Ralen.


"Memangnya kenapa?" tanya Tante Dayna yang sekarang balik penasaran pada anak dari temannya itu.


Pagi-pagi sudah bertamu ke rumahnya lalu mengajukan pertanyaan yang membuat dia geleng-geleng kepala.


"Jadi Tante mengenal orang tua kandung Daniya?" bukannya menjawab Angga malah kembali mengajukan pertanyaan.


Tante Dayna mengangguk, "kenal, bahkan sangat mengenal siapa mereka dan bagaimana kehidupan mereka," jawab Tante Dayna yang makin membuat Angga menegakkan tubuhnya.


"Siapa mereka? apa mereka masih hidup? kalau masih hidup lalu dimana mereka sekarang?" rentetan pertanyaan langsung Angga cecarkan kepada wanita di depannya, bahkan duduknya sudah semakin tegak saja seperti tidak sabar menanti jawaban dari wanita tua yang sangat dia hormati itu.


Dugaan kalau Daniya dan Ralen adalah saudara kembar sudah terbantahkan, tidak ada bukti apalagi usia yang terpaut empat tahun sudah sangat jelas bahwa dua wanita berwajah mirip itu memang bukan saudara kembar, tapi bisa saja mereka lahir dari rahim yang sama bukan?


Tante Dayna mengedikkan bahu tanda dia juga tidak tahu apakah orang gua Dayna masih hidup atau sudah meninggal, kalau masih hidup diapun juga tidak tahu keberadaan mereka karena setelah memberikan Daniya padanya yang kala itu sakit-sakitan dan harus di rawat di rumah sakit mereka tidak lagi bertemu.


Tante Dayna pun memutuskan untuk bercerita tentang siapa orang tua kandung Daniya, tentang bagaimana Daniya akhirnya menjadi anak angkatnya.


"Jadi Ibunya Daniya bekerja di rumah temannya Tante?" tanya Angga setelah mendengar cerita dari Tante Dayna.


Tante Dayna mengangguk membenarkan, "Tante yang menemani ibunya Daniya melahirkan karena saat itu bertepatan Tante sedang berada di rumah teman Tante, kala itu Tante juga sangat bingung karena hanya ada Tante dan.." Tante Dayna terdiam karena mencoba untuk mengingat nama ibu kandung Daniya, "Ah Arni, namanya Arni," ucap Tante Dayna yang akhirnya bisa mengingat nama dari wanita yang melahirkan Daniya setelah sekian lamanya tidak pernah lagi menyebutnya.


"Dulu itu Daniya sakit-sakitan sering bolak-balik rumah sakit, sedangkan orang tuanya saja sangat kekurangan, Ayahnya itu dulu kerja serabutan kadang kerja kadang juga tidak, sangat kesusahan ketika satu malam badan Daniya demam tinggi dan hampir saja tidak bisa selamat kalau Tante tidak tiba-tiba datang berkunjung ke rumah kontrakan mereka, tidak Tante pungkiri saat pertama kali melihat Daniya Tante sudah sangat menyukainya, saat bayi Daniya sangat menggemaskan siapapun pasti menginginkannya, bahkan dulu bukan hanya Tante yang ingin mengadopsinya, ada orang kaya lain yang ingin menjadikan Daniya anak mereka tapi karena Tante dan orang tua Daniya sudah sangat mengenal karena Tante sering sekali berkunjung ke rumah teman Tante dimana ibunya Daniya bekerja, sampai akhirnya mereka memberikan Daniya kepada Tante," cerita Tante Dayna dengan begitu jelas dan meyakinkan di tengah ingatannya yang mungkin saja sudah mulai melemah, tapi wanita itu mau bersusah payah untuk menceritakan apa yang dia ingat.


"Jadi mereka menjual Daniya kepada Tante?" pertanyaan yang malah terkesan menuduh itu langsung di tepis Tante Dayna dengan gelengan kepala yang sangat cepat.

__ADS_1


"Tidak ada jual beli antara kami, bahkan mereka tidak menerima uang sepeserpun yang sebenarnya sudah Tante siapkan, mereka memberikan Daniya dengan sukarela tanpa mengharapkan apapun, mereka hanya ingin Daniya bisa mendapatkan perawatan dan sembuh dari penyakitnya, mereka sendiri sadar bahwa mereka benar-benar tidak mempunyai uang untuk membawa Daniya berobat, kalau terus bersama mereka Daniya tidak akan bisa hidup sampai sekarang," papar Tante Dayna dengan raut wajah sedih mengingat apa yang Daniya alami saat masih sangat kecil dulu, kulitnya bahkan masih berwarna merah tapi bayi itu harus terus bolak-balik ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, untuk bisa sembuh dari penyakit bawaan yang dia derita saat masih dalam kandungan ibunya.


Angga terdiam mendengarkan dengan baik setiap untaian cerita tentang bayi yang akhirnya diberi nama Daniya Ranita oleh Tante Dayna dan suaminya.


*******


Di dalam mobil Angga melamun, pandangannya terlihat kosong mengingat semua kenyataan yang baru saja dia ketahui, kenyataan kalau Daniya tidak memiliki saudara kembar sudah terjawab, sekarang dia malah terpikir untuk mencari tahu siapa orang tua Daniya dan siapa orang tua Ralen.


Dia seorang dosen tentu akan sangat dengan mudah menemukan data mahasiswanya.



"Bodoh, kenapa aku hanya fokus pada nama dan usianya Ralen saja," ujar Angga menyalahi dirinya sendiri yang tidak melihat nama orang tua Ralen di data mahasiswa yang dia terima.



Pria itupun akhirnya menyalakan mesin mobil lalu gegas meluncur menuju kampusnya, padahal dia sudah izin tidak mengajar dengan beralasan ada urusan penting, tapi sekarang dia malah datang ke kampus, bukan berniat untuk mengajar tapi hanya ingin memeriksa data milik Ralen.



"Kenapa sekarang aku malah berpikiran kalau kalian itu saudara kandung," gumam Angga di tengah fokusnya mengendalikan kemudi mobil yang sedang berpacu melewati kendaraan demi kendaraan agar bisa segera sampai di kampus.



\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2