
Ralen mengerjapkan matanya, dia seperti orang yang baru saja sadar dari hipnotis hingga tangannya pun tanpa permisi mendorong bahu pria yang sedang mencuri ciuman darinya.
"Pelecehan!" seru Ralen seraya menatap tajam lalu punggung tangannya mengusap bibirnya yang sedikit basah.
"Pelecehan?" tanya Ipul dengan mata yang memicing, "gue ngerasain loh waktu bibir Lo ikut gerak," serang Ipul tersenyum menantang.
Wajah Ralen langsung terlihat gugup, "ap ap apaan nggak ada gerak-gerak," kelit Ralen dengan bicara yang gagap, patah-patah menyiratkan kalau dia merasa malu dengan apa yang tadi dia lakukan, diapun sadar kalau tadi memang sempat melakukan gerakan membalas perlakuan pria tengil itu tapi kan tidak mungkin dia mengaku, mau di taruh di mana wajahnya yang sudah sangat merah sekarang ini.
"Iya kah?" tanya Ipul dengan ekspresi mengejek, dalam kondisi seperti ini dirinya sangat menyukai wanita yang biasanya galak itu malah kehilangan kata-kata, sungguh membuatnya makin bersemangat untuk mengerjainya lagi dan lagi.
"Diam!" teriak Ralen lalu dengan refleks menutup mulut Ipul dengan tangannya.
Apa yang dia lakukan saat ini sungguh dia tidak berniat sama sekali semuanya murni karena spontanitas saja karena malu yang menyergapi dirinya akibat Ipul yang seakan dengan sengaja mengejek dirinya.
Sedangkan sang pria yang tidak menyangka hanya terdiam membeku dengan mata yang mengerjap-ngerjap dengan sendirinya, kenapa sejak tadi hatinya seakan ada yang diam-diam menyusup dan mengisi ruang yang telah lama tak berpenghuni.
Pria itu memejamkan kedua matanya mencoba mendalami sebuah makna tersembunyi yang enggan untuk dia sadari, lalu dengan cepat membuka matanya dan menyingkirkan tangan sang wanita menjauh.
Ralen terhenyak sadar akan apa yang dia lakukan, "maaf," katanya dengan wajah yang menunduk.
Tak ada jawaban dari pria di sampingnya, tapi Ralen bisa melirik kalau pria yang tadi menciumnya itu tengah membuka jas yang dia kenakan, Ralen tahu betul kalau pria itu langsung mendatangi rumahnya setelah pulang kantor.
Ekhem
Suara deheman serta batuk yang di paksakan akhirnya memecah keheningan di dalam mobil, meskipun hujan di luar makin deras namun nyatanya keramaian di luar akibat hujan tidak berpengaruh pada suasana di dalam mobil karena kecanggungan dari kedua insan yang tadi sempat saling mengadu bibir, entah apa yang mereka pikirkan sekarang ini yang jelas Ralen mulai merasakan tubuhnya semakin dingin, ah sepertinya meriang yang dua hari dia rasakan kembali menyerang.
Ralen mencoba memeluk tubuhnya sendiri mencoba memberi kehangatan yang nyatanya tak kunjung dia rasakan.
Ipul menghela napas melihat apa yang Ralen lakukan lalu mulut resenya mulai kembali berceloteh, "lain kali jangan pakai pakaian seperti ini saat keluar rumah," ujarnya sambil melemparkan jas yang tadi dia buka ke tubuh Ralen.
Tidak ada gerakan romantis seperti yang sering ada di drama Korea, bahkan jas itu jika tidak Ralen tangkis dengan tangannya mungkin akan mendarat di wajahnya, karena saat melemparkan jas itu tangan Ipul terangkat begitu tinggi seperti memang sangat berniat mengenai wajah Ralen yang sekarang warnanya sudah tidak tahu seperti apa, mungkin pucat kemerahan akibat apa yang tadi mereka lakukan.
Padahal tadi dirinyalah yang langsung begitu saja menarik Ralen pergi, membawanya ke dalam mobil tanpa peduli seperti apa penampilan wanita yang dia paksa ikut bersamanya.
__ADS_1
"Besok Lo harus masuk kerja!" tegas Ipul memberi perintah yang jelas-jelas tidak boleh di bantah.
"Tapi.." Ralen yang mencoba mencari alasan pun tak kuasa saat Ipul memberikan tatapan tajam padanya.
"Gue antar Lo pulang sekarang, dan pikirkan tentang pernikahan apa yang Lo mau, besok gue harus sudah mendapat jawaban," perintah Ipul yang sarat akan pemaksaan.
Jantung Ralen kembali berdegub tak beraturan, menatap pria yang kembali menjalankan mobilnya menerobos hujan yang makin deras.
Batin Ralen terus bertanya-tanya tentang pria yang kenapa begitu ngotot ingin menikahi dirinya padahal jika hanya karena tuntutan orang tuanya terutama Mamanya, bukankah pria itu bisa memperlihatkan rekaman CCTV yang ada di dalam ruangan istirahatnya, dan tidak akan ada pernikahan antara mereka, mereka akan selamat dari kehidupan rumah tangga yang kemungkinan tidak akan berjalan dengan baik nantinya.
Tapi kenapa pria ini tidak melakukan hal itu? apa pria ini sebegitu inginnya menikah? jika begitu kenapa tidak dengan wanita lain saja, padahal wajahnya cukup tampan pasti akan banyak wanita yang menginginkannya, dan kemungkinan pria ini juga mempunyai kekasih kan? rasanya sangat tidak mungkin kalau pria dengan wajah tampan dan juga kaya, bukankah ini terbilang sempurna? rasanya tidak mungkin tidak memiliki kekasih.
Ralen dengan segala pikirannya yang berkecamuk hingga tidak menyadari kalau mobil yang membawanya sudah berhenti di tepi jalan yang berada persis di depan kontrakannya.
"Mau turun sendiri apa gue turunin?"
Pertanyaan Ipul membuat semua isi kepala Ralen yang menumpuk pun buyar seketika, berhamburan entah kemana seiring dengan tatapan pria di sampingnya yang melihat dirinya penuh makna.
"Tu turun sendiri," kata Ralen gagap.
"Masih hujan," tunjuknya pada tetesan hujan yang membasahi di kaca di samping Ralen.
"Nih orang sebenarnya gimana sih? aneh banget, kayak punya dua kepribadian." Ralen membatin tak mengerti.
Padahal jarak mobil dengan kontrakan tidak terlalu jauh, Ralen bisa berlari menghindari hujan meski tetap saja tubuhnya akan terkena air yang menetes tapi setidaknya kan tidak terlalu basah.
Ralen melihat pada pintu rumahnya yang tertutup tidak ada harapan untuk memanggil Ibu atau Adiknya agar membawakannya payung sehingga dia tidak perlu berlama-lama berduaan dengan pria ngeselin dan sejuta tingkah lakunya yang membingungkan.
Tapi nyatanya pintu yang tertutup membuat harapannya kandas diterpa angin hujan yang makin membuat tubuhnya menggigil dingin hingga dia berusaha melindungi tubuhnya menggunakan jas yang tadi Ipul berikan, mau tak mau dia harus memakainya ketimbang harus kembali meriang nantinya.
Ipul yang menyadarinya pun segera mengulurkan tangannya pada belakang sandaran bangku yang dia duduki.
__ADS_1
"Nih pakai," mengulurkan benda yang baru dia ambil.
Mulut Ralen membulat dengan wajah melongo mengenali benda yang ada di tangan Ipul.
Payung!
"Kenapa bukannya dari tadi!" sungut Ralen dengan wajah di tekuk, sungguh dia tak habis pikir bagaimana bisa pria itu punya payung tapi malah baru memberikannya setelah dia hampir 20 menit di dalam mobil menunggu hujan reda.
"Suka-suka gue dong," sahut Ipul mengedikkan bahunya tak acuh.
"Dia balik pada sikap ngeselinnya lagi!" dengus Ralen merambet kasar payung warna biru tua di tangan Ipul yang mengumbar tawa nyinyir.
Tanpa permisi apa lagi pamitan Ralen pun membuka pintu lalu melebarkan payung serta kembali menutup pintu dengan kasar, sudah akan berjalan menuju rumah namun dia teringat sesuatu.
Tok! tok!
Mengetuk kaca mobil yang segera di buka oleh Ipul.
"Terimakasih!" kata Ralen melemparkan jas mengenai wajah Ipul.
Wanita itu membalas apa yang tadi Ipul lakukan padanya, begitu puas sampai dia menunjukkan senyum mengejek dengan bibir yang di buat-buat.
Ipul menggelengkan kepala seraya tersenyum samar mengiringi Ralen yang menghilang di balik pintu, sebelum akhirnya diapun meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*