Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Mimpi Buruk Kah?


__ADS_3

"Saipul Gunawan!!!!" suara Riska meninggi begitu kedua matanya mendapati ada wanita yang sedang tidur pulas di tempat tidur dalam ruangan sang anak, begitu pulas sampai tidak bergerak sedikitpun seolah tidak terganggu dengan suara yang begitu tinggi memenuhi ruangan bahkan kedua pria yang berdiri di belakangnya pun sampai tak kuat hingga harus menutup telinga mereka.


Mata Riska menjadi semakin nyalang kala di melihat jas serta kemeja milik anaknya tergeletak tak beraturan di lantai.


Ipul yang sedang memakai celananya pun bisa mendengar suara di balik pintu sana, membuat kepalanya menoleh dengan cepat diiringi dengan kening yang mengerut.


Begitu sadar kalau suara yang dia dengar sangat dia kenal barulah wajahnya menjadi sangat tegang.


"Mati gue! mati gue!" katanya berulang kali.


"Ipul!!"


"Fix mati berkali-kali," saat kembali mendengar panggilan yang suaranya sangat dekat.


"Mama, Papa, kok kalian bisa masuk?" malah mengajukan pertanyaan bodoh dan terdengar gila, seakan dia terganggu dengan kedatangan orang tuanya.


Sadar akan ucapan bodohnya itu diapun segera menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa dia bertanya begitu saat keadaan menjadi sangat mencekam seperti ini bahkan saat dia baru saja menongolkan kepalanya mengintip.


"Ipul bisa jelasin," kata Ipul begitu membuka pintu dan langsung di sambut dengan wajah seram sang Mama.


Tiga pasang mata itu pun bergerak naik turun seolah tengah memindai tubuh yang masih tampak basah akibat tidak sempat mengeringkannya dengan handuk, terlalu kaget hingga membuat Ipul lupa melakukannya.


"Ah sialan," rutuknya kala dia menatap tubuh bagian atasnya yang tidak memakai apapun.


"Bisa-bisanya dia masih tidur padahal suara Mama sudah begitu melengking," bergumam mendapati Ralen yang masih nyaman dengan tidurnya.


"Ralen! bangun Lo!" katanya pada wanita yang tidur bagaikan mayat bahkan sampai Ipul harus mengguncang punggungnya.


"Astaga Ipuuull," teriak sang Mama seraya berjalan cepat ke arah anaknya itu.


"Aduuuh sakit Ma, ampun-ampun," kata Ipul kala Mamanya menjewer telinganya lalu menariknya dengan kejam hingga tubuhnya merunduk.


"Udah buat salah bisa-bisanya malah santai bentak-bentak anak orang!" seru Riska tak terima anaknya itu membangunkan seorang gadis dengan cara yang begitu kasar.


Tubuh Ralen mulai menggeliat pertanda dia sudah mulai sadar dari tidurnya, akibat suara Ipul yang berteriak kesakitan.


Wanita di atas tempat tidur itu merentangkan kedua tangannya dengan lebar seraya menguap lalu sedetik kemudian terperanjat kala kedua matanya melihat ada banyak orang di dalam ruangan yang pintunya sudah terbuka lebar.

__ADS_1


Dia segera duduk dengan mulut yang menganga dan mata yang sepenuhnya membuka dengan lebar, lalu dengan gerakan lambat menoleh ke depan pintu kamar mandi saat telinganya mendengar suara kesakitan dari pria yang tadi terjebak bersamanya, pria songong yang berbuat ulah sampai akhirnya mereka layaknya pasangan mesum yang terkena penggerebekan oleh satpol PP.


Oh astaga ini mimpi buruk yang benar-benar sangat buruk.


"Ini petugas kebersihan yang kamu ceritakan?" tanya Irman pada sang asisten di saat istrinya sedang sibuk mengomeli anaknya.


"Benar Pak," jawab Damar dengan anggukan kepala.


Sekarang sudah mendekati pukul 01:11 pagi dan ketiga orang yang tadi datang layaknya petugas yang menggerebek pasangan mesum duduk menghakimi dua orang yang tadi berada dalam satu ruangan terkunci.


"Kan Ipul bilang tidak terjadi apa-apa Ma, itu kunci nya yang rusak."


Sejak tadi bahkan Ipul mencoba memberi penjelasan, membela diri dan terus mendebat Mamanya yang seakan tidak terima penjelasan darinya, keadaan ini sepertinya seakan di manfaatkan oleh wanita yang duduk di samping sang Papa itu untuk menekan dirinya.


"Kamu pikir Mama ini sebodoh apa Pul, hingga bisa percaya dengan pengakuan tak masuk akal mu itu?" lontar sang Mama dengan mata yang beralih pada wanita di samping Ipul yang bahkan tidak berani mengangkat wajahnya.


Terus menunduk mendengar debat demi debat di malam menjelang pagi ini, astaga ini layaknya mimpi buruk di pagi hari.


"Jangan di pikirin Ma, beneran dah," sahut Ipul.


Sungguh anak yang tidak berbakti, saat Mamanya berbicara malah terus saja menjawab dengan sesuka hatinya, membuat wanita yang melahirkannya makin mendelikkan sepasang mata yang memancarkan aura mengerikan.


"Jika tentang perusahaan mungkin Papa bisa membantu, tapi jika sudah menyangkut kamu dan segala perilakumu itu yang kadang tak jelas, mohon maaf Papa angkat tangan, menyerah!" ucap Irman sambil mengangkat kedua tangannya.


"Oh astaga, anak sendiri pun tak mau menolong," keluh Ipul.


Irman mencebikkan bibir lalu bersandar seraya melipat tangannya di dada lalu menyilangkan kakinya, sungguh saat ini dia memang tidak bisa memberi bantuan, ah sepertinya bukan tidak bisa tapi lebih dia yang memang sangat tidak mau membantu anaknya itu.


Bayangkan saja, di hari pertama dia sudah mendapat laporan dari Damar tentang apa yang di lakukan anaknya itu, berkeliling lantai 9 mencari tenaga kebersihan yang dia tahu wanita itulah yang sebulan lalu diminta anaknya agar bisa bekerja di perusahaannya.


Hingga akhirnya hari ini dia tahu kalau ada yang tidak beres dengan sang anak, makin terkejut kala anaknya itu kedapatan berduaan dengan sang wanita di dalam ruangan, meski tadi anaknya sudah terus menjelaskan tentang apa dan kenapa mereka bisa sampai terkunci namun tetap saja dirinya tak peduli dan menunggu istrinya mengambil keputusan.


"Pak." Ralen yang sejak tadi tidak mampu bersuara pun mulai menginterupsi.


Ipul langsung mengangkat tangannya dan memberi peringatan, "Lo diem aja, Lo ngomong malah bikin gue kena masalah," ancam Ipul tak tanggung-tanggung di depan ketiga pasang mata yang tidak pernah mengira kalau pria yang biasanya ramah itu malah terlihat begitu galak pada wanita yang bernama Ralen.


Sungguh seperti bukan seorang Saipul Gunawan yang dulu selalu membuat siapapun tersenyum terutama jika sudah bersama dengan Zara.

__ADS_1


"Ipul!" hardik Riska tak suka.


"Apa Ma, Ipul bener loh nih dia nggak usah ngomong, orang yang dia omongin juga bakal sama dengan yang Ipul omongin tadi," lontarnya sambil menunjuk wanita yang akhirnya mengatupkan bibirnya tak jadi berbicara.


Padahal dia hanya ingin mengatakan kalau dia ngantuk dan ingin pulang, bisakah masalah ini dibicarakan besok lagi saja.


Tapi nyatanya malah langsung kena damprat si songong dan tengil yang akhirnya memasukkannya dalam kubangan masalah genting seperti ini.


Sangat amat genting terlebih lagi sekarang dia mendengar suara pria yang dia ketahui adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja, berbicara pada sang istri.


"Nikahkan saja Ma, pusing-pusing amat," bisik Irman pada sang istri memberi usulan yang bahkan sudah terlintas saat pertama kali dia mendapati kemeja anaknya yang berserakan di lantai dan seorang wanita yang tidur pulas di atas tempat tidur.


"Papa jangan ngaco, please!" suara Ipul meninggi tak terima dengan ide dari sang Papa yang malah menunjukkan cengiran tanpa dosa.


"Kamu yang ngaco!" Riska bersuara guna membela suaminya, "yang Papa kamu bicarakan itu benar, kalian memang harus menikah, enak saja sudah berbuat macam-macam tidak mau nikah! lelaki itu berani berbuat berani juga bertanggung jawab!" cerocos Riska.


"Memangnya Ipul melakukan apa? Ipul nggak ngapa-ngapain dia loh Ma." masih tetap membela diri, memperjuangkan haknya sebagai manusia yang tidak mau di nikahkan secara paksa hanya karena kesalahpahaman yang berawal dari dirinya.


"Loh, itu pingsan!" seru Riska panik kala Ralen malah pingsan setelah mendengar pernikahan.


"iiishhh." Ipul mendesis mendapati wanita di sampingnya sudah tak sadarkan diri.


"Ambil air putih Ipul, kenapa malah diem aja sih!" omel Riska yang kini berusaha membangunkan Ralen dengan cara menepuk pelan pipinya.


Dengan malas Ipul beranjak menuju meja kerjanya mengambil segelas air sisanya minum tadi siang.


"Om.." sapa Ipul pada Damar yang sejak tadi tak mampu berkata-kata, sapaan biasa tapi terdengar menyeramkan karena diiringi dengan tatapan tajam.


Sepertinya Ipul tengah memberikan ancaman terselubung kepada sang asisten.


Riska mencipratkan air ke wajah Ralen, tiga kali cipratan sampai akhirnya wanita itupun sadarkan diri.


"Pak," katanya mencari-cari keberadaan Ipul.


"Lo nikah sama gue," ucap Ipul dan ucapannya itu sukses membuat Ralen kembali pingsan.


"Ipuuuuuuuuulllll!" teriak sang Mama.

__ADS_1


Dengan tenangnya Ipul malah memainkan kedua alisnya seperti puas sudah membuat Ralen kembali pingsan karena syok.


******


__ADS_2