Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Peelaaan-peelaaan..


__ADS_3

Baru akan memulai pertempuran ke babak yang lebih sengit lagi tetapi pergerakan mereka malah harus terganggu dengan dering handphone yang ada di lantai dekat tempat tidur, sepertinya benda itu jatuh tanpa sengaja.


Ipul mencoba mengabaikan suara yang makin tak terkendali itu, mencoba terus menyelami dengan baik apa yang tengah dia lakukan akan tetapi telinganya malah semakin menjadi gatal dan terganggu dengan deringan handphone yang makin sambung-menyambung, sudah berhenti tapi berbunyi lagi.


"Biarkan saja," kata Ralen menggelengkan kepala saat suaminya hendak mengakhiri sesi pemanasan yang sudah benar-benar sangat panas membara hanya untuk melihat siapa yang tiba-tiba menghubungi seperti tidak tahu kalau yang dihubungi adalah pasangan suami istri yang menikah baru tiga bulan dan tentu masih menggebu-gebu terlebih lagi mereka yang sudah mulai saling mencintai satu sama lain.


Ipul tampak berpikir sambil melongok pada handphone di lantai dekat kaos serta celana jeans milik sang istri yang sudah berhasil dia loloskan sejak beberapa menit yang lalu menyisakan pakaian dalamnya saja, sedangkan dia masih memakai celana panjang dengan kancing kemeja yang sudah tidak lagi terkancing memperlihatkan bentuk tubuhnya meski masih memakai singlet berwarna putih, namun tetap saja itu membuat Ralen tak berkedip dan dengan tak sabarnya menyelinapkan tangan ke balik singlet terus menggerakkan tangan berkeliling pada bagian depan tubuh sang suami.


Akhirnya dering handphone pun berhenti membuat Ipul tenang merasa gangguan mungkin sudah berlalu hingga dia sudah akan mulai kembali melanjutkan apa yang terhenti.


Ting Ting Ting Ting!


Kali ini rentetan nada masuk, singkat namun berulang terdengar bertanda ada pesan masuk yang tidak hanya satu tapi banyak, telinga Ipul pun kembali berkedut merasa terusik, dia hendak beranjak dari atas tubuh sang istri yang tadi sudah sangat menanti dan mendamba.


"Mas Sai lebih mementingkan pesan?" Ralen bersuara ketika tidak ada lagi sentuhan yang dia rasa.


Ipul menggeleng, hanya sekedar pesan yang meskipun dalam jumlah banyak namun akan dia abaikan ketimbang harus mengabaikan keinginan istrinya yang dari raut wajahnya itu sudah mulai tidak sabar berserta dengan gerakan tubuh yang tak bisa diam.


Pria itu akan kembali menunduk..


"Astagaaaaa!" pekiknya keras luar biasa membuat Ralen terkejut hingga mata yang tadi setengah terbuka pun membelalak sangat lebar mendengar suara sang suami yang bagaikan tabuhan genderang perang.


Ipul kesal karena handphonenya kembali berdering nyaring seolah benda itu sedang menyadarkan dirinya dari hasrat menggebu yang tadi memang dipancing oleh sang istri.


"Aku jawab dulu," akhirnya memutuskan untuk menjawab.


"Nggak boleh." nyatanya Ralen malah melarang, dia sudah sangat ingin mana bisa menahan lagi.


"Lima menit setelah itu aku nonaktifkan handphone," kata Ipul memberi janji.


Akan tetapi Ralen masih menggeleng, tidak mau menerima janji yang kerap kali diingkari, dia sudah sangat ingin mana bisa disuruh untuk menunggu bukankah itu sama saja menjatuhkan apa yang sudah sangat tinggi?


Ralen menekuk wajah lalu membuang muka enggan melihat pada suaminya yang sudah duduk di tepi tempat tidur kamar hotel yang mereka sewa.


Ipul mengambil benda yang sedari tadi menjadi pengacau bagi mereka berdua lalu melihat siapa orang yang tidak menyerah terus menghubungi dirinya padahal sudah diabaikan, "Mama," katanya pada Ralen.


Ralen mendengar akan tetap dia tetap tidak mau melihat pada pria yang sekarang tangannya mengelus-elus paha miliknya dengan gerakan naik turun, caranya agar Ralen tidak surut dan padam karena setelah ini mereka akan kembali melanjutkan peperangan.


"Iya Ma."


Ipul mulai berbicara dengan sang Mama yang langsung menanyakan keberadaan mereka saat ini.


"Lagi di hotel."


"Sama siapa?"


Tanya sang Mama dan pertanyaan itu membuat Ipul menaikan sudut bibir dan berekspresi aneh, bukankah pertanyaan dari Mamanya itu terdengar aneh? bertanya dia dengan siapa bukankah tadi pagi sang Mama melihat sendiri bahkan wanita itulah yang menyuruhnya tidak pergi ke kantor untuk menemani istrinya jalan-jalan, terus kenapa sekarang malah bertanya dengan siapa? apa Mamanya ini berpikir dia akan bermain-main dengan wanita lain? konyol!


"Sama menantu Mama, Jelita!" menjawab dengan suara yang ditekan seperti tidak ingin sang Mama berpikir macam-macam.


"Cepat kalian pulang." suara sang Mama kembali mengisi indera pendengaran Ipul.


Cepat pulang? apa-apaan ini, mereka bahkan baru saja mulai tapi malah sudah di minta untuk pulang, jelas Ipul akan menolak apalagi saat dia melihat pada istrinya yang makin menggembungkan pipi mengisyaratkan bahwa wanita itu mulai tidak sabar.


"Belum tuntas Mama, nanti kalau sudah tuntas baru pulang."

__ADS_1


Benar kan? seorang Ipul jika sudah terkena pelet istrinya tidak akan mau pulang tanpa mendapatkan hasil.


"Ralen sedang hamil muda! tidak baik berhubungan terus sebaiknya mulai sekarang kamu belajar untuk menahannya Saipul! anak kalian itu masih sangat rentan!" seru sang Mama mengingatkan.


Samar-samar Ralen bisa menangkap apa yang dibicarakan oleh Mama mertuanya apalagi suaminya itu berada di dekatnya.


Ipul memasang wajah bingung tak mengerti berpandangan dengan Ralen yang juga tak mengerti.


"Apa ada hal yang seperti itu? maksud Ipul apa wanita hamil tidak boleh berhubungan dengan suaminya?" tanya Ipul mulai mencari tahu atas ketidaktahuannya.


"Bukan tidak boleh akan tetapi untuk kehamilan yang masih muda sebaiknya dihindari dulu, mau dengan suaminya apa lagi sampai berhubungan dengan suami tetangga malah sangat tidak boleh!"


Ipul menjadi emosi mendengar perkataan terakhir dari sang Mama, Ralen itu istrinya kalau dia berani berhubungan dengan pria lain atau suami orang bisa habis dia buat.


"Apa dokter tidak memberitahu kalian?" Mama Riska bertanya namun belum sempat di jawab oleh sang anak dia malah menjawabnya sendiri, "tidak mungkin dokter tidak memberitahu."


Memang waktu datang untuk periksa banyak sekali yang dokter katakan padanya akan tetapi dia tidak mendengarkan tidak peduli karena perhatiannya sudah teralihkan pada kabar bahagia yang dia dengar.


Tangan Ipul yang sedari tadi bergerak naik turun pada paha putih sang istri pun sontak berhenti dan terangkat perlahan dengan tatapan mata Ralen yang mengikuti dan melihat tak senang.


"Lebih baik kalian pulang sekarang, lagipula sekarang ada ibu mertuamu datang dari siang tadi."


"Hah? ada ibu di rumah?"


Tentu saja Ralen tahu siapa yang dimaksud oleh suaminya namun dia tidak terlalu memikirkannya, toh ibunya datang ke rumah menantunya memangnya kenapa? biar saja menunggu karena dia masih ingin melanjutkan tapi suaminya malah bertingkah ngeselin.


"Ipul sama Jelita pulang sekarang," katanya memutuskan tanpa meminta persetujuan dari wanita yang menatapnya dengan nyalang dan siapa menerkam.


Bagaimana bias pulang saat mereka belum menuntaskan peperangan, bukankah hanya akan membuat gelisah tak jelas.


"Kan bisa pelan-pelan," suara Ralen terdengar berat karena dilingkupi oleh keinginan yang belum tersalurkan.


Ipul menggeleng, "kamu tahu aku bagaimana Jelita, tidak akan bisa pelan jika itu tentang kesenangan kita," ucap Ipul seraya mengancingi kembali kemeja yang sudah terlihat kusut.


"Tapi aku benar-benar sangat ingin."


Kini Ralen merengek dan meminta dengan wajah yang memang menggemaskan akan tetapi apa yang dikatakan oleh sang Mama tadi malah membuat Ipul ketar-ketir, dia tidak mau terjadi apa-apa terhadap anaknya yang baru dua bulanan.


"Mereka baru akan pulang?" tanya Arni pada besannya yang datang menghampiri setelah selesai menelepon.


Riska mengangguk sambil tersenyum, "sejak beberapa hari lalu itu Ralen ingin sekali jalan-jalan dan baru sempat hari ini," kata Riska memberitahu.


Arni mengulas senyum, sebenarnya dia merasa ikut senang ketika mengetahui anaknya diperlakukan dengan sangat baik dengan suami dan juga mertuanya, tidak ingin merusak kebahagiaan anaknya itu tapi dia juga tidak mau melihat anak pertamanya menjadi depresi apalagi sampai mengancam bunuh diri.


Bagaimana kalau ancaman itu benar-benar dilakukan? bukankah dia yang akan semakin menyesal karena tidak pernah memberikan kebahagiaan dalam hidup anak pertamanya.


"Kamu jangan bilang-bilang sama Mama, kalau sampai keceplosan ngomong nanti nggak aku kasih lagi."



Saat sudah sampai di rumah Ipul tak hentinya mengingatkan pada sang istri yang tengah bergelayut manja di lengannya menyandarkan kepala di dada bidangnya padahal mereka ini sedang berjalan menuju pintu rumah.



Ralen mengangguk dengan mulutnya yang mengukir senyum, tentu saja dia tidak akan mengatakan apapun kepada Mama mertuanya, toh apa yang dilakukan oleh suaminya itu karena dia yang memaksa.

__ADS_1



"Dua jam kalian baru sampai? ckckck." Mama Riska menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan gelengan kepala serta decakan dari mulutnya.



"Jalanan macet banget Ma," sahut Ipul tenang dengan wajah datar.



"Masa?" Mama Riska tampak meragukan pengakuan anaknya lalu beralih pada sang menantu, "beneran macet Len?"



Ralen yang masih saja tersenyum tak jelas pun menjawab, "macet Ma, Mas Sai sampai peeeelaaan-peeeelaaaaan banget gituinnya sangat hati-hati."



"Hah?" Mama Riska mengernyit tak mengerti sedangkan Ipul mendelik lalu menyenggol lengan istrinya agar sadar apa yang baru saja dia katakan.



"Itu Ma, bawa mobilnya pelan-pelan," menjelaskan seraya menggaruk pelipisnya.



Mama Riska memicing memperhatikan tingkah laku pasangan yang baru saja pulang itu.



"Ibu Mana Ma?" ketimbang makin membuat Mama mertuanya curiga lebih baik Ralen mengalihkan dengan menanyakan sang ibu.



"Di ruang tengah, sana temui," kata Mama Riska membiarkan sang menantu masuk.



"Beneran macet Ma, suer dah," kata Ipul mengangkat dua jari ketika kedua mata sang Mama menyorot tajam penuh curiga.



Yang sebenarnya macet dalam artian lain.



Setelah mengatakan itu Ipul segera kabur menghindari Mamanya sendiri, jelas Mamanya tidak akan begitu saja percaya pada pengakuannya.



Andai ketahuan jelas dia akan membela diri, tidak mau disalahkan karena dia sudah memaksa istrinya untuk segera pulang tapi istrinya yang keras kepala itu terus saja merajuk minta dituruti, mau tak mau dia memberikan apa yang istrinya mau dengan senang hati.



\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2