
Angga berjalan tegap seperti biasa penuh dengan wibawa yang sempurna dan kerap kali menjadi magnet menarik semua mata tertuju padanya.
Seorang dosen muda dengan ketampanan yang bisa dibilang sempurna tentu akan banyak wanita termasuk para mahasiswinya yang jatuh hati, namun dia yang pernah mengalami patah hati memilih untuk menutup bahkan mengunci hatinya dengan rapat.
Sampai suatu ketika seorang wanita muncul dan seolah datang mengunjungi dan mengetuk pintu hatinya agar mau terbuka, wanita bernama Ralensi Jelita yang belum lama ini menjadi mahasiswinya sungguh membuatnya perlahan membuka hati yang terkunci dan juga sedikit demi sedikit membuka pintu hatinya, akan tetapi ketika hatinya mulai terbuka dia malah mendapati fakta menyedihkan.
Wanitanya itu sudah dimiliki oleh pria lain, laki-laki lain yang ternyata pria yang sama dengan pria yang disukai oleh mantan kekasihnya yang sudah memaksanya menutup hati.
Ini takdir kah? atau sekedar perjalanan hidup yang hanya sebagian saja baru dia jalani dan masih ada jalan lain atau juga takdir lain yang tengah dipersiapkan untuknya.
Angga keluar dari dalam mobil dan sepasang matanya langsung tertuju pada sosok bertubuh kecil dengan penampilan yang sederhana tapi selalu terlihat sangat sempurna.
Ralen, wanita yang sejak semalam dia pikirkan terlihat dikedua netranya berjalan lemah tanpa semangat menapaki anak-anak tangga yang tak jauh dari gedung kampus yang akan wanita itu tuju.
"Ralen," ucapnya tanpa suara karena hanya gerakan bibir saja yang terlihat.
Ralen tidak menyadari ada sepasang netra yang tengah memperhatikannya dari jarak yang tidak terlalu jauh, pikirannya tidak stabil dan hanya berpusat pada satu titik saja.
Titik masalah yang membuat otaknya terus berputar bahkan dia tidak bisa tidur dengan tenang tadi malam.
Matanya menjadi sangat sayu dengan lingkaran hitam yang coba dia samarkan dengan sapuan bedak, dia yang jarang sekali memakai riasan pun tidak bisa sepenuhnya menutupi lingkaran hitam itu, bahkan suaminya yang tadi mengantarkannya kuliah pun sempat protes juga memintanya untuk beristirahat saja di rumah, melarang kuliah namun seorang Ralen akan keras kepala menolak.
Wanita yang sejak semalam tidak berbicara apapun bahkan ketika suaminya bertanya hanya menjawab dengan sangat singkat itu berjalan menunduk seperti memperhatikan setiap langkah yang dia ambil.
Angga tahu pasti ini mengenai Daniya.
Iya, semalam dia dikabarkan oleh Tante Dayna tentang apa yang Daniya lakukan.
Percobaan bunuh diri hanya untuk bisa mendapatkan pria yang dia inginkan.
Percobaan bunuh diri yang sebenarnya hanya sekedar ancaman belaka namun menjadi kebablasan karena ancamannya itu tidak juga memberikan hasil hingga memaksanya untuk bertindak lebih jauh lagi, nekat mempertaruhkan nyawanya sendiri.
"Aku tidak sadar ternyata bertahun-tahun aku mencintai wanita tidak waras," batin Angga menggeleng perlahan mengingat dia pernah sangat mencintai Daniya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga.
Rasa menyesal pun lantas membuatnya mengumpat serta memaki dengan bahasa-bahasa yang luar biasa kasar, tidak peduli pada statusnya yang seorang dosen dan harus memberi contoh yang baik kepada mahasiswanya, dia tak peduli toh dia mengumpat hanya ketika sedang seorang diri saja.
Ralen sudah hampir menghilang di dalam gedung ketika Angga tersadar dari berbagai macam pikiran yang mendadak memenuhi otaknya.
Pria itupun bergegas untuk mengejar wanita yang terlihat sangat menyedihkan itu.
Melangkah lebar bahkan setengah berlari agar bisa mencapai wanita yang kembali terlihat olehnya, wanita yang tengah bersandar di tembok pembatas tangga itupun tengah menghela napas panjang yang sepertinya begitu menyesakkan.
Gerakan kaki Angga perlahan melambat dan berhenti ketika jaraknya dengan sang wanita hanya tinggal beberapa langkah saja.
Sejenak dosen yang terbilang masih muda di kampus itupun menatap memperhatikan wanita yang tengah menatap langit-langit gedung, seperti menerawang sesuatu yang tak terlihat namun terasa.
"Jika dipikirkan bukannya selesai malah akan menambah beban nantinya."
Ralen terusik dengan satu suara hingga dia menoleh agar terlihat siapa yang sudah dengan beraninya mengganggu konsentrasinya berpikir.
__ADS_1
Angga mengulas senyum lalu mendekat ketika Ralen membenarkan posisi berdirinya.
"Bolos beberapa hari ketika masuk bukannya ceria malah kusut tak bersemangat, sepertinya bolos kuliahnya harus di tambah." ucap Angga.
Pria itu terlihat sekali ingin menghibur wanita yang banyak masalah itu, ingin melihat wanita yang dulu awal mereka bertemu sangat banyak bicara dan juga jutek di saat yang bersamaan.
"Pak Angga," sebut Ralen terkejut, "selamat pagi Pak," sapanya meski sedikit terlambat tapi tidak mengapa yang penting dia sudah memenuhi standar kesopanan bagi para mahasiswa apabila bertemu dengan dosen.
Angga mengangguk namun tidak membalas ucapan selamat pagi yang Ralen berikan, pria itu berfokus pada wajah sang wanita, di jarak yang dekat ini makin terlihat jelas betapa murung dan tidak cerahnya wajah Ralen.
Terlihat lebih pucat dengan mata yang tidak bercahaya seperti biasa.
"Daniya lagi?" tebak Angga dengan suara yang datar namun ada perhatian yang coba dia sembunyikan.
Dia tahu status wanita disampingnya ini sudah bersuami dan dia menghargai itu, tidak mungkin terang-terangan apalagi sampai tidak tahu diri memberi perhatian mencolok pada wanita yang dia suka.
Dia seorang pria terpelajar yang tahu caranya menjaga nama baik agar tidak tercoreng.
Bukankah terdengar sangat tidak elegan ketika dia mendekati istri orang lalu ketahuan oleh masyarakat luas.
Julukan apa yang akan mereka berikan untuknya?
Pebinor? rasanya sangat memalukan sekaligus menggelikan.
"Sepertinya Pak Angga jauh lebih tahu dari saya atau siapapun," tebak Ralen sambil mengumbar senyum kecut dan teramat miris.
Angga menghela napas dalam.
"Aku merasa terganggu dengan panggilan mu kepadaku Len."
Malah mempermasalahkan tentang panggilan Pak yang sadari tadi dia dengar.
"Kenyataannya anda dosen dan saya mahasiswa, sudah sewajarnya saya bersikap sopan terhadap Bapak." tutur Ralen tanpa melihat pada pria di sampingnya.
Angga memberi senyum dengan sangat terpaksa yang menjadikannya terlihat kaku.
"Kita sudah saling mengenal sebelumnya, di luar kampus itu artinya kita ini teman, usiaku juga masih muda bahkan belum menikah sangat risih ketika dipanggil Bapak," papar pria yang berpenampilan rapi itu.
"Tapi tetap saja saya harus menghormati anda Pak." Ralen keras kepala.
"Kalau begitu biarkan saya memanggil kamu Ibu," cetus Angga.
"Ibu?" Ralen mengerutkan keningnya menjadi berlipat-lipat.
Angga mengedikkan bahu, "karena kamu ini sudah menikah, iya kan?" senyum membingkai di wajahnya.
Ralen memutar bola mata, "tapi.."
Ralen tidak bisa meneruskan perkataannya, apa yang dikatakan oleh Angga itu memang benar, dia sudah menikah bahkan sekarang sudah ada janin yang tengah tumbuh di dalam rahimnya.
__ADS_1
Janin yang akan menjadi bayi kecil lucu menggemaskan yang masih akan menjadi pertanyaan akan mirip siapa nantinya.
Janin kecil yang membuat dia berada pada pilihan sangat sulit saat ini, dia tidak tahu harus bagaimana memikirkan nasibnya kedepan.
Ralen mendengar pria disampingnya menarik napas berulang kali, melihat dengan tatapan yang memendam pertanyaan namun dia ragu untuk menyampaikan.
"Sudah waktunya masuk kelas," kata Angga melihat arloji yang ada dipergelangan tangannya.
Ralen bergerak lambat masih saja malas-malasan tak mempunyai semangat.
Angga sudah berjalan lebih dulu karena dia harus segera mengajar para mahasiswanya yang mungkin sudah menunggu.
"Pak," panggil Ralen dengan suara pelan namun tetap membuat Angga mendengar hingga memutar kepala untuk melihat padanya.
"Setelah pulang kampus bisakah kita bicara?"
Entahlah Ralen merasa dia sangat membutuhkan teman untuk bicara, teman yang sudah mengerti akan masalah yang dia hadapi dan berharap mendapatkan solusi.
Angga menatap dalam wanita yang kini berdiri berhadapan dengannya, "asal tidak lagi memanggil Bapak, tentu aku akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk kamu," jawab Angga dengan senyum tipis di bibirnya yang meskipun merokok namun tetap berwarna kemerahan, mungkin pria itu melakukan treatment pada bibirnya?
"Tapi Bapak tetap lebih tua dari saya." tampaknya Ralen masih tidak ingin mengubah cara panggilnya.
"Kalau begitu panggil Kakak atau apalah asal jangan Bapak, itu terdengar menyakiti telinga," cakap Angga dengan tangan yang bergerak di depan daun telinganya.
"Panggilan Kakak sepertinya juga tidak bagus, bagaimana kalau Om?" Ralen sungguh luar biasa dalam memberikan panggilan untuk orang lain, bisa-bisanya dia menawarkan untuk memanggil Om kepada Angga.
Mata Angga membola membelalak bahkan rasanya ingin keluar, "Om?" Angga menggelengkan kepala seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
"Panggilan Bapak sudah menyakiti telinga, lalu kamu ingin memanggil aku Om? bukankah itu nantinya tidak hanya menyakiti telinga tapi juga menyakiti hati?" Angga menatap dengan tajam seolah memberi peringatan padahal dia hanya sedang berpura-pura marah saja.
"Aku ini bukan Om-om genit yang suka menggoda gadis-gadis kampus, perutku juga tidak buncit Ralen," cakap Angga dengan mata yang membulat.
"Ah aku merasa terluka," Angga mengeluarkan satu tangannya lalu menepuk-nepuk dada.
Pria itu benar-benar bersikap seolah tersakiti dan kecewa karena Ralen yang malah membuat Ralen tertawa meski dengan suara yang samar.
"Ok karena kamu tertawa jadi mulai sekarang panggil aku Kakak saja." Angga menjentikkan jarinya melihat Ralen tertawa.
Ralen menutup mulutnya dengan mata yang melebar.
"Kakak?" tanyanya seperti terkejut.
Angga mengangguk cepat, "setelah kuliah kita bisa bicara, sekarang aku harus mengajar Inis udah terlambat dua jam." Angga berkata seraya berlalu pergi meninggalkan Ralen dengan lambaian tangan.
Pernyataan Angga membuat Ralen menautkan alisnya.
"Dua jam? pria itu tengah korupsi waktu!" dengus Ralen menatap kepergian Angga.
****
__ADS_1