
Mobil Ipul sudah berada di pinggir jalan depan rumah kontrakan Ralen yang tampak sangat kecil bahkan sejak tadi Ipul pun harus memijit pelipisnya.
"Bapak mau ngapain kesini?" tanya Ralen ketus dan meski tetap memanggil dengan hormat.
"Bisa nggak panggil gue tuh nggak usah Bapak, gue belum tua dan gue juga belum nikah," desis Ipul protes.
Ralen memutar bola matanya lalu mendengus kesal, udara panas langsung terasa menyapu wajahnya, terang saja karena sejak kemarin dia memang tak enak badan, demam tinggi akibat terguncang hebat pada pernyataan pria yang datang ke rumahnya saat ini.
"Nggak bisa!" kata Ralen.
"Nyolot mulu ya bawaannya kalau ngomong sama elo," tuding Ipul.
Menurutnya Ralen ini type wanita yang kerasa kepala dan juga sok kuat, padahal siapapun tahu kalau wanita di depannya ini akan sangat lemah jika sudah berhadapan dengan masalah yang mungkin tidak mudah untuk dilewati.
Contohnya saja saat Ipul mengatakan kalau mereka akan menikah, wanita itu langsung syok serta pingsan berkali-kali bahkan sampai jatuh sakit, Ipul tahu benar Ralen sakit setelah kejadian dua hari lalu.
"Bodo amat," menjawab dengan ekspresi mengejek.
Ipul memejamkan mata lalu untuk sekian kalinya menghela napas panjang sekaligus berat, dalam hidupnya rasanya baru kali ini dia menghadapi wanita ngeyel seperti ini, bahkan Zara yang kadang menyebalkan pun tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Ralen.
"Lo ikut gue sekarang!" ucap Ipul dengan menahan kesal yang terlihat jelas.
"Mau ngapain? males ah," tolak Ralen tak mau.
"Ada yang mau gue omongin, atau gue ngomong disini aja biar sekalian orang tua Lo dengar?"
Ralen menatap pria di depannya itu mulai curiga hal apa yang akan dibicarakan olehnya, pasti ini ada sangkut pautnya pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan, pernikahan karena salah paham dan dengan pria yang tak jelas kelakuannya, memangnya wanita mana yang mau menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia cintai? jangankan jatuh cinta, pertama bertemu saja rasanya sudah kesal bukan main.
Ralen sibuk menerka dalam hati bahkan sampai tidak menyadari kalau Ipul tengah menatap wajahnya tanpa berkedip, wajah polos yang tampak pucat akibat sakit malah menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Saipul Gunawan.
"Nggak boleh, saya nggak boleh kemana-mana masih sakit," tolak Ralen menggelengkan kepala.
"Oke kalau gitu gue ngomong langsung sama orang tua Lo, kita lihat apa mereka kasih izin atau tidak," ucap Ipul sambil berdiri.
Sekarang harapan Ralen hanya pada kedua orang tuanya itu, berharap keduanya menolak permintaan Ipul untuk mengajaknya keluar.
Ralen segera menyusul Ipul yang sudah duduk di ruang tamu sekaligus ruang tidur bagi orang tuanya serta sang Adik, Ralen bisa melihat bagaimana Ipul dengan santainya duduk di lantai tanpa alas apapun tidak ada rasa risih atau jijik dari wajahnya membuat Ralen merasakan sesuatu yang beda.
Penilaiannya tentang Ipul pun sedikit berubah, yang tadinya selalu minus sekarang ada sedikit plus nya karena pria itu tampak tidak berpura-pura sama sekali terlebih lagi kala tengah berbicara dengan Ibu dan Ayah, begitu sopan sangat berbeda jauh saat berbicara dengannya.
Ralen menggeleng memberi kode pada orang tuanya saat Ipul meminta izin untuk membawanya keluar, tapi sialnya orang tuanya itu malah seperti tidak mengerti akan kode yang dia berikan.
"Tidak apa-apa, asal jangan pulang terlalu malam," kata sang Ayah.
Ralen langsung menepuk keningnya sendiri.
"Tapi kan Ralen masih sakit Yah," sambar Ralen berusaha untuk tidak pergi dengan Ipul.
"Ayo berangkat sekarang nanti keburu malam."
Ipul menarik tangan Ralen dengan sesuka hati, tak peduli apakah wanita itu setuju atau tidak, dia terus menariknya menuju mobil setelah tak lupa berpamitan pada orang tua sang wanita.
Ralen tidak bisa melakukan apapun meski dalam hati ingin sekali dia menendang pria ngeselin yang tengah melakukan paksaan terhadap dirinya.
__ADS_1
"Lo tuh bos ngeselin tahu!" omel Ralen ketika sudah duduk di dalam mobil.
Mobil mewah yang seumur-umur belum pernah dia naiki, sungguh ini adalah yang pertama kali, oh tuhan akhirnya dia semakin sadar kalau ternyata dia memang sangat miskin!
Ipul tertawa tanpa suara mendengar Ralen akhirnya tidak memanggilnya Bapak lagi.
Ralen berdecih ketika Ipul yang malah tertawa padahal dia sedang sangat emosi atas perlakuannya barusan, menariknya bagaikan dia adalah seekor kambing yang ingin disembelih.
"Dasar tidak waras!" maki Ralen sadis.
Sedangkan pria yang di maki dengan senang hati menjalankan mobilnya menjauhi rumah kontrakan yang mungkin luasnya hanya sepertiga dari rumahnya saja, sangat kecil dan sempit bahkan Ipul ragu apakah dia bisa tidur nyenyak di rumah itu.
Sampai di suatu tempat yang cukup sepi Ipul menepikan mobilnya lalu mematikan mesin mobil yang membuat Ralen malah jadi terperangah.
"Lo ngajak gue ngomong disini? seriusan?" tanya Ralen dengan mata yang membesar.
"Lah kenapa memangnya? kan suka-suka gue mau ngomong dimana yang penting cuma kita berdua," seloroh Ipul tak peduli dengan protesan yang Ralen tunjukkan.
"Seenggaknya ajak gue ke cafe kek gitu, Lo kan banyak duit masa ke cafe aja nggak mampu!" mulut Ralen nyapnyap tanpa henti mencela pria yang seperti tidak mau keluar modal untuk mengajaknya pergi ke cafe.
"Oh jadi Lo pengen gue ajak ke cafe?" tanya Ipul sambil memamerkan senyum mengejek.
"Nggak usah!" seru Ralen dengan mata yang mendelik, "Lo mau ngomong apaan cepetan, males lama-lama sama Lo bawaannya emosi terus," celetuk wanita yang hanya memakai celana pendek serta kaos dengan bahan yang sedikit tipis.
"Mama gue tanyain Lo mau pernikahan yang seperti apa," kata Ipul akhirnya tanpa basa-basi.
Ralen yang tadi mendelik makin mendelik lagi dengan pertanyaan yang Ipul ajukan, sungguh tidak menyangka kalau pernikahan itu memang benar-benar serius.
"Gue nggak mau nikah sama elo!" tolak Ralen tegas, sangat tidak suka dengan pernikahan yang hanya didasari karena keterpaksaan, mereka tidak sedekat itu hingga harus menikah, bahkan malah tidak saling mengenal sebelumnya.
"Tapi gue mau, gimana dong?" ujar Ipul seraya mencebikkan bibirnya.
"Nggak peduli yang jelas gue nggak mau!"
__ADS_1
"Kalau gitu gue bakal.."
"Pecat gue?" tanya Ralen, tadi dia sudah mendapat peringatan dari supervisor nya tentang pemecatan kalau dia tidak masuk kerja lagi besok.
"Mungkin."
"Ya udah pecat aja, nggak takut gue," tantang Ralen berani.
Memangnya dia akan takut, di pecat di kantor itu dia masih bisa mencari pekerjaan di tempat lain bahkan bisa kembali menjadi ojek online ketimbang harus menikah dengan pria songong nan menyebalkan, bisa mendadak gila dia kalau harus punya suami macam Saipul Gunawan.
"Kalau gue bilang sama orang tua Lo kalau kita udah tidur bareng gimana? apa Lo bakal di pecat jadi anak ya?" tanya Ipul yang bahkan lebih terdengar seperti sebuah ancaman.
"Lo ngancem?" tanya Ralen dengan tatapan miris, bisa-bisanya pria ini malah ngotot ingin menikah dengannya, apa ada yang salah dengan otak sang pria?
Ipul menggeleng pelan dengan bibir terkatup, "lebih tepatnya peringatan."
"Lo pria gila dari mana sih, gue nggak ngerti kenapa bisa berurusan dengan pria kayak Lo!" jerit Ralen sambil memukuli lengan Ipul membabi buta.
Sungguh hari-harinya menjadi tidak tenang semenjak mereka bertemu lalu sekarang dia harus di hadapkan pada kerumitan hidup yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
Menikah dengan pria yang selalu mencari masalah dengannya, oh ya tuhan apa dosa yang sudah Ralen perbuat sangat banyak, sehingga engkau memberikan ujian semacam ini.
Ralen tak juga kunjung menghentikan pukulannya guna melampiaskan emosi yang memuncak di ujung kepalanya, sampai akhirnya Ipul menarik tangannya hingga tubuh mereka saling berdekatan.
Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain hingga tanpa Ralen bisa mengelak pria di depannya itu sudah menempelkan bibirnya.
Mereka berciuman di dalam mobil dan di saat rintik hujan mulai turun membasahi bumi.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*