
Ipul perlahan berjongkok guna mengintip dari celah antara meja dan lantai, lalu mengumbar senyum mendapati ada seseorang yang tengah bersembunyi.
Tindakannya itu tak luput dari perhatian sang asisten yang mungkin dalam benaknya saat ini terus bertanya-tanya kenapa anak dari atasannya itu malah sibuk bermain-main padahal ada banyak pekerjaan yang harus di pelajari.
Damar menggelengkan kepalanya seraya menghela napas samar melihat tingkah laku pria yang kini kembali berdiri seraya menepuk-nepuk telapak tangan guna membersihkan debu karena tadi sempat menyentuh lantai saat akan mengintip.
Hening membuat Ralen yang bersembunyi di balik meja mulai menenangkan diri, meyakinkan kalau sudah tidak ada siapapun di tempat itu.
Sungguh dia merasa sangat konyol saat ini karena main kucing-kucingan dengan anak pemilik perusahaan demi menghindari masalah baru yang mungkin akan semakin membuatnya tidak waras, urusan hutang belum selesai jangan menambah lagi dengan masalah baru akibat kecerobohan yang dia perbuat, begitu pikiran Ralen saat memutuskan untuk bersembunyi di kolong meja.
Wanita itu baru saja akan keluar dan..
Brak!
Dug!
Suara gebrakan di atas meja tempatnya bersembunyi membuat kepalanya terantuk meja yang terbuat dari kayu itu, dirinya meringis seraya mengelus kepala belakangnya.
Habis menggebrak meja tanpa bersalah Ipul malah berdiri dengan kedua tangan di atas meja untuk menopang tubuhnya, telinganya bahkan mendengar suara benturan dari balik meja tapi bersikap seolah tidak ada apapun.
"Pemandangan disini cukup indah," katanya menatap pada jendela besar yang bersisian dengan meja.
"Pemandangan indah apa yang dia lihat?" batin Damar kala matanya hanya melihat deretan jendela milik gedung tinggi yang berseberangan dengan gedung tempatnya berada.
Di bawah sana Ralen masih meringis pusingnya bertambah bukan cuma karena pria yang dia hindari tapi juga akibat meja yang di gebrak dengan sengaja oleh sang pria songong yang sekarang malah terlihat senang dengan perbuatannya.
"Ah, sepertinya kita harus kembali ke ruangan!" seru Ipul keras seakan sengaja ingin di dengar oleh wanita yang bersembunyi di kolong meja tempatnya berdiri.
"Tentu tuan, anda memang harus mulai mengerjakan tugas anda," sahut Damar merasa lega akhirnya tuan mudanya itu ingat apa tugasnya di kantor itu.
Langkah kaki mulai terdengar berderap semakin kecil menandakan sang pemilik langkah sudah menjauh.
Huuuuufftttt
Ralen membuang napas berat namun terasa sangat lega merasa dirinya sudah aman.
Tubuhnya yang kecil perlahan kepalanya mengintip dari balik meja mengawasi apakah dua pria itu benar-benar sudah tidak ada.
"Selamat gue," kata Ralen lalu bergerak mengeluarkan seluruh tubuhnya dari kolong meja.
Wanita itu segera mengambil peralatan yang tadi dia tinggalkan begitu saja di dekat pintu toilet lalu membawanya serta meninggalkan tempat yang tadi menjadi persembunyiannya.
Melenggang ringan tapi begitu tiba di belokan malah jantungnya di buat berdebar kala melihat seraut wajah yang sejak tadi dia hindari.
Ekhem!
Suara deheman menggetarkan kedua bahu Ralen dengan wajah yang berubah sangat pucat layaknya bertemu hewan buas yang membahayakan nyawanya.
__ADS_1
Ah, Ralen harus menyelamatkan diri dari pria yang masih saja bertingkah songong bahkan sepertinya malah semakin songong berkali lipat dari semalam.
Ralen hendak melewati menganggap tidak ada siapapun tapi sepertinya itu tidak akan terlaksana sebab Ipul yang dengan gesit merambet tangannya membuat tubuh menyentak tertahan.
"Saya mesti kerja Pak," kata Ralen akhirnya berusaha bersikap sopan.
Tentunya dia harus melakukan itu setelah dia mengetahui siapa cowok songong itu sebenarnya.
Anak dari pemilik perusahaan yang entah takdir seperti apa yang sedang Tuhan siapkan untuknya hingga harus memiliki urusan dengan pria yang kini sedang menatapnya intens.
"Ohoo biasanya gue, kenapa sekarang jadi saya?" ejek Ipul mendengar kata saya dari mulut bawel wanita di depannya yang bahkan tadi malam masih begitu berani memerintah dirinya, tapi pagi ini malah seperti kerupuk tersiram air, melempem!
Ralen tidak menjawab, baginya sejak hari ini lebih baik mencari aman ketimbang harus kehilangan pekerjaan karena bermasalah dengan keturunan sang bos.
"Gue juga mesti kerja, memangnya elo saja yang punya kerjaan," cibir pria yang sekarang hanya sendiri setelah tadi meminta Damar untuk kembali lebih dulu ke ruangan.
"Ya sudah kalau gitu saya kerja, Bapak juga kerja."
"Gue bukan Bapak Lo!" sengit Ipul gatal dengan panggilan bapak yang sudah dua kali di lontarkan oleh Ralen.
Ralen memundurkan kepalanya sebab wajah Ipul menjadi begitu dekat.
Raut wajah Ralen sudah terlihat semakin gelisah bahkan saat ini dia kerap kali melihat pada tangan sang pria yang masih belum juga terlepas dari pergelangan tangannya, entah sengaja atau pria itu tidak sadar.
Ipul yang tahu kemana arah mata Ralen pun gegas melepaskan tangannya dari sang wanita.
"Ini sudah satu bulan," katanya kemudian seraya membenarkan jas yang melapisi kemeja berwarna gelap di dalamnya.
Ralen sungguh tidak mengerti ternyata orang kaya pun butuh uang yang nilainya pun bisa dikatakan sangat kecil untuk orang-orang seperti mereka ini, bahkan sampai menagih, ah rasanya Ralen benar-benar ingin memukul kepala pria di depannya ini guna mengingatkan bahwa uangmu masih sangat banyak meskipun uang yang Ralen pakai tidak di ganti.
Apakah pria di depannya ini termasuk golong orang kaya yang pelit dan perhitungan? entahlah yang jelas Ralen jadi keki mendengarnya.
Yah meskipun sebelumnya dia sudah berjanji akan mengganti dalam waktu satu bulan, tapi setidaknya tidak perlulah menagih seperti ini bahkan saat mereka berada di satu kantor yang sama, bukankah pria itu juga sudah menyimpan nomornya? apa masih takut dia akan kabur, melarikan diri dari hutang yang harus dia bayar.
Oh ayolah Ralen tidak mungkin segila itu, janjinya akan dia tepati tapi tidak bisa sekarang karena dia memang belum gajian.
Ralen menggaruk kepalanya membuat rambutnya sedikit berantakan.
"Saya belum gajian Pak, kasih waktu lagi deh janji saya akan bayar nggak bakal kabur kok," kata Ralen melas meminta keringanan.
Ipul mengernyit, "nggak kabur? lah yang dari tadi apa?" tanya Ipul menganggap perkataan Ralen sedikit konyol.
"Tadi apaan Pak, memangnya saya ngapain?" bertanya layaknya menunjukkan wajah polos terkesan tidak pernah melakukan apa-apa.
"Lari waktu melihat gue, lalu ngumpet di kolong meja, itu bukan kabur namanya?" cerocos Ipul membuat wajah Ralen berubah menjadi sangat merah.
Dalam hati Ralen mengomel melampiaskan rasa malu yang dalam sekejap mengitari anggota tubuhnya.
__ADS_1
"Itu refleks Pak." menjawab asal karena tak tahu harus menjawab apa sebab mengelak pun tidak mungkin.
"Refleks Lo kayak di tagih debt collector tahu nggak!"
"Ya apa bedanya Bapak sama debt collector? sama-sama nagih utang, cuma bedanya Bapak pakai jas.."
Mata Ipul mendelik memberi peringatan agar Ralen tidak meneruskan ucapannya dan itupun Ralen lakukan, ketimbang masalah malah makin merembet kemana-mana nantinya.
"Dasar mulut kurang ajar, kalau udah ngomong nggak mau berhenti." mengomeli mulutnya sendiri membuat telinga Ipul berkedut mendengarnya.
"Pokoknya gue nggak mau tahu, bayar hutang Lo sekarang!" seru Ipul.
Sepertinya dia sangat senang bermain-main dengan sang petugas kebersihan yang memang sejak awal selalu berani terhadapnya, bermulut bawel dan tak mau kalah.
Hanya sebentar saja wanita itu bersikap sedikit takut padanya, mungkin masih terlalu kaget mengetahui dirinya adalah anak dari pemilik perusahaan.
Tapi lihatlah sekarang, tingkahnya perlahan kembali seperti saat pertama kali mereka bertemu akibat motor dan mobil yang saling bersenggolan, ah tidak, lebih tepatnya mobilnya yang menyenggol motor sang wanita.
"Kasih waktu lah Pak, dua Minggu lagi saya gajian bakal saya ganti uang Bapak," melakukan penawaran.
Ipul memutar bola matanya lalu melihat jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan berapa lama dia membuang waktu hanya untuk mengerjai anak gadis orang.
"Jam 5 ke ruangan gue," kata Ipul, lalu tanpa memerlukan jawaban atau ketersediaan Ralen, Ipul langsung pergi begitu saja.
"Ngapain?"
Ralen menggigit gagang sapu gemas sendiri.
"Issshhh dasar cowok songong!" makinya saat tubuh pria yang dia maki sudah menghilang tak terlihat.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*