
Ralen sungguh tidak pernah mengira kalau Angga adalah seorang dosen dan ternyata akan menjadi dosennya, tadi Ralen hampir saja mati serangan jantung ketika membuka pintu ruangan dosen yang harus dia temui sebelum mulai mengikuti pelajaran di kampus itu, saat wajah yang sudah tak asing baginya memperlihatkan keterkejutan yang sama dengannya.
Mereka memang sama-sama terkejut dan tidak percaya kalau akhirnya mereka akan berada di ruang lingkup yang sama.
Sekarang Ralen sudah berada di dalam ruang kelasnya dan mulai berkenalan dengan para mahasiswa yang ada di kelas itu.
"Kenalin gue Seira lalu ini Devi dan yang itu tuh yang lagi ngaca mulu namanya Fara," Seira dengan telatennya memperkenalkan nama temannya yang duduk tak jauh dari Ralen.
"Hai." merasa namanya di sebut Fara pun menyimpan kaca kecil yang selalu dia bawa lalu melambaikan tangan dengan senyum yang sumringah.
"Primadonanya kampus," tutur Devi entah perkataannya serius atau tidak sebab dia berkata sambil terkekeh membuat Ralen jadi ikutan mengeluarkan tawa tanpa suara.
"Halo."
Sedang asiknya Seira memperkenalkan satu-satu nama yang ada di kelas itu malah seorang pria yang tadi duduk di belakang datang menghampiri Ralen mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.
"Jangan mau, dia playboy cap koyo!" dengus Seira melarang Ralen berkenalan dengan si pria yang bernama Abryal.
"Cap koyo?" Abryal mengerutkan kening tak mengerti kenapa dia Seira menjulukinya playboy cap koyo, apa tidak ada yang lebih bagus lagi selain koyo?
"Iya panas sebentar abis itu anyep!" kata Seira dengan mata yang melihat sinis Abryal.
"Dih kurang ajar," oceh Abryal seraya melenggang menjauh, sepertinya dia tidak mau meladeni kebawelan Seira yang memang masih sedang nyerocos tiada henti.
Ruang kelas itu akhirnya menjadi sedikit tenang ketika seorang dosen sudah memasuki kelas.
Ralen awalnya masih belum sadar kalau mata sang dosen terus melihat padanya dari awal masuk sampai duduk di meja di depan sana, sampai akhirnya Ralen merasakan sikutan di lengannya.
"Gue curiga Lo ada main sama Pak Angga, wah bisa banget Lo ngegebetnya dosen muda ganteng," celetuk Seira seenaknya sangat memperhatikan ke arah mana mata si dosen itu saat masuk sampai duduk sekarang.
"Ngaco," ucap Ralen dengan suara pelan, sedangkan Seira malah tertawa sambil menggerakkan kepalanya.
Sepanjang pelajaran Ralen tidak bisa berkonsentrasi, dia malah jadi salah tingkah sebab dosennya terus menatap padanya, sungguh tidak pernah mengira kalau dosennya adalah pria yang pernah mengatakan suka terhadapnya.
Lalu sekarang bagaimana dia harus menjalani hari-hari yang sudah dipastikan mereka akan sangat sering bertemu mulai hari ini.
Hingga pelajaran selesai Ralen bahkan tidak berani untuk mengangkat kepalanya guna membalas tatapan sang dosen yang dia rasakan masih terus melihat padanya, seperti busur panah yang siap melesat memanah buruan yang sejak tadi diincar.
__ADS_1
Kelas kedua sudah berakhir ketika langit yang tadinya masih sangat terang malah berubah menjadi gelap disertai dengan hembusan angin yang menerbangkan daun-daun kering, sebenarnya masih jam 3 sore tapi karena akan turun hujan membuat matahari bersembunyi entah dimana, tidak memberikan sinarnya.
Sambaran kilat sesekali menerangi langit yang tertutup awan hitam.
"Sebentar lagi akan hujan."
Ralen yang sedang berjalan sendiri dikejutkan oleh suara seseorang yang langkahnya perlahan mendekat.
Ralen menatap pria yang tadi mengajar di kelasnya sekilas lalu kembali fokus pada jalan yang tengah dia susuri untuk bisa sampai di luar gedung kampus.
"Aku akan antar kamu," kata Angga sang dosen yang kata Seira memiliki banyak sekali penggemar.
Yah, Ralen akui Angga memang memiliki tampang yang rupawan di atas rata-rata jadi sudah sangat pasti akan ada banyak wanita atau mahasiswi yang menyukainya apalagi pria itu tampak begitu sopan saat berbicara atau memperlakukan orang lain.
"Tidak.."
"Aku bukan menawarkan, lebih tepatnya memaksa," kata Angga menyela omongan Ralen yang sudah jelas akan menolaknya.
"Sudah mulai turun hujan," Angga menunjuk tetesan air yang mulai turun dari awan-awan gelap sang pembawa hujan.
Tepat saat Ralen sedang kebingungan harus bagaimana handphone di dalam tasnya berdering.
"Supir sudah menunggumu di depan, cepat keluar," suara ketus dan galak tapi malah membuat Ralen mengulas senyum senang mendengarnya, suaminya yang sedang berada di Batam masih mau merepotkan diri untuk menghubungi dirinya memberitahukan kalau supir sudah menunggu di luar gerbang.
"Tapi sekarang hujan," adu Ralen bermaksud bermanja dengan suaminya yang galak itu, masih saja menguji apakah suaminya itu perhatian atau tidak, padahal dengan mengirim supir untuk menjemputnya bukankah itu suatu bentuk perhatian?
"Kan kamu bisa berlari, jangan kayak anak kecil kamu, di perhatiin malah ngelunjak," omel Ipul sangat tidak berprikemanusiaan, Ralen kecewa tapi tetap saja menahan senyum mendengar Omelan dari pria yang berada jauh darinya itu.
__ADS_1
"Cepat pulang, jangan kelayapan kemana-mana!" tegas Ipul lalu mematikan sambungan telepon begitu saja.
"Dasar suami songong!" gumam Ralen menatap layar handphone yang menyala tapi sudah tidak ada lagi suara suaminya.
"Maaf Pak, saya sudah di jemput." kata Ralen pada pria yang setia menunggunya berbicara di telepon.
"Oh, jadi saya di tolak hari ini?"
"Maaf, saya tidak mau merepotkan," ujar Ralen.
"Kenapa bicaramu jadi sangat formal sekali," protes Angga terganggu ketika Ralen terus-terusan memanggilnya dengan sebutan Pak, dia memang dosen tapi tidak setua itu untuk bisa di panggil Bapak.
"Anda dosen saya jadi sangat wajar jika saya memanggil dengan sebutan Pak, lagian mahasiswa yang lain juga memanggil Pak kan?" Ralen menatap pria di depannya yang terdiam.
Sepertinya mulai besok dia harus membiasakan mahasiswanya untuk tidak memanggil Pak, salahnya sebab dulu membiarkan beberapa mahasiswa memanggilnya begitu sampai akhirnya menular pada semua mahasiswa.
"Kalau begitu saya permisi Pak," kata Ralen lalu melangkah cepat menerobos tetesan hujan yang lama-kelamaan makin deras, jika dia menunggu lebih lama lagi kemungkinan hujan makin deras dan akan susah untuk dia terobos karena yang ada dia akan basah kuyup sebelum sampai di mobil.
Angga melihat kepergian Ralen lalu menggumam, "mulai hari ini kita akan sering bertemu Ralensi Jelita," dengan senyum terukir di bibir tipisnya.
"Namamu sesuai dengan wajahmu, JELITA." menegaskan kata jelita dengan penuh penghayatan intonasinya pun sarat akan makna tersendiri dan hanya dia seorang lah yang akan mengerti sebab apa yang dia pikirkan tidak ada siapapun yang tahu otak dan hatinya tengah bekerja mengukir dan mengingat wanita bernama Ralensi Jelita yang baginya luar biasa mempesona dengan segala magnet di dalam tubuhnya yang menarik siapa saja untuk mendekat dan mengagumi setiap yang ada pada wanita itu.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*