
Saat ini Ipul dan Ralen sudah berada di dalam mobil yang menjemput mereka di bandara, melintasi jalanan Jakarta menuju rumah milik orang tuanya.
Pastinya Ipul bisa membeli rumah lain untuk dia tinggali bersama Ralen, tapi sejak dulu dia selalu berpikir tidak akan pernah meninggalkan Mamanya apalagi sekarang hanya wanita itulah yang tersisa sebagai orang tuanya, rasanya dia tidak akan pernah sanggup untuk membiarkan sang Mama tinggal seorang diri di rumah sedangkan dia berdua dengan istrinya.
Beruntung semenjak menikah Ralen tidak pernah menuntut untuk tinggal terpisah, istrinya itu terlihat sangat nyaman tinggal satu atap dengan ibu mertua, semoga saja Ralen akan tetap seperti itu karena sampai kapanpun dia tidak akan pernah mau meninggalkan Mamanya hidup sendiri, karena dia adalah anak satu-satunya yang harus menjaga menemani serta memenuhi semua apa yang Mamanya perlukan.
Ipul mendekap Ralen yang tertidur di dalam pelukannya sesekali mencuri kecupan lalu menatap wanita yang raut wajahnya menampakkan kelelahan, bagaimana mungkin istrinya itu tidak lelah, kalau tadi malam pun masih saja dia gempur padahal dia tahu kalau paginya mereka akan melakukan perjalanan dengan pesawat terbang untuk kembali ke ibukota.
Dan sekarang lihat saja bagaimana Ralen begitu pulas tertidur dengan dengkuran halus serta napas yang menerpa leher sang suami, wanita itu sudah langsung pulas saat masuk ke dalam mobil yang menjemput.
Ipul mengulas senyum seraya menyingkirkan anak-anak rambut di dahi sang istri.
"Aku baru menyadari kalau wajahmu ini ternyata memang sangat mirip dengan Dan.." Ipul tidak berani menyebut nama wanita yang hampir setiap saat menghubungi dirinya, takut kalau tiba-tiba istrinya itu terbangun dan akan mengamuk padanya.
Setelah berulang kali memblokir nomor Daniya, wanita itu menghubungi lagi dengan nomor baru, begitu terus bahkan membuat Ipul jadi jenuh mendengar nada dering dan bosan ketika harus kembali memblokir nomor wanita itu sampai akhirnya dia memilih untuk menonaktifkan handphonenya agar tidak bisa dihubungi.
Mobil yang dikendarai oleh supir kantor itu mulai memasuki komplek perumahan dimana salah satu dari banyaknya rumah besar itu yang menjadi tujuan akhir mereka.
"Kita sudah sampai tuan muda," ucap Damar ketika mendapati sang tuan muda sepertinya tidak menyadari karena terlalu asik dengan kegiatannya memandang wajah wanita yang berada di dalam dekapan sang tuan muda.
"Om duluan saja, Ipul bangunkan Jelita dulu," pinta Ipul pada sang asisten yang sudah berdiri di depan pintu yang pastinya berniat akan membuka pintu untuknya.
Damar pun mengangguk mengerti lalu dia bersama sopir beralih menuju bagasi mobil, menurunkan koper milik sang atasan dan beserta istrinya lalu gegas membawanya masuk ke dalam rumah.
"Permisi nyonya," ucap Damar sopan saat berpapasan dengan Riska di pintu masuk.
"Loh yang punya kopernya mana?" menanyakan Ipul dan Ralen ketika dia melihat Damar mengangkat dua koper milik anak dari menantunya tapi orangnya malah tidak terlihat.
"Masih di dalam mobil Nyonya," jawab Damar sopan.
"Oh," mulut Riska membulat mendengar jawaban pria yang sudah lama bekerja dengan keluarganya.
"Koper ini harus saya letakkan dimana, Nyonya?" tanya Damar yang belum juga melanjutkan langkah padahal Riska sudah hendak mengangkat kakinya menuju keluar.
"Langsung bawa ke kamarnya Ipul saja," pinta Riska yang diangguki oleh Damar.
Wanita itu lantas kembali meneruskan langkah untuk melihat anak dan menantunya itu sedang apa kenapa belum turun dari mobil.
"Pul," panggil wanita yang sudah berdiri di teras menatap pada mobil yang terparkir tak jauh darinya.
Kaca mobil bergerak turun lalu kepala pria yang namanya di panggil pun melongok melihat arah orang yang memanggilnya.
"Bangunin Jelita dulu Ma, ketiduran soalnya," jelas Ipul ketika mendapati kerutan di dahi sang Mama, menandakan bahwa Mamanya itu heran kenapa dia tak kunjung turun.
Mendengar suara sang anak, Riska pun mengedikkan bahu lalu berniat untuk kembali masuk ke dalam rumah, namun lagi-lagi dia harus berpapasan oleh Damar untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Saya permisi nyonya," kata Damar mengangguk.
"Tunggu sebentar jangan pergi dulu, Pak Damar," entah ada angin apa Riska ini malah meminta dia untuk tidak langsung pergi, biasanya kan saat dia mau pergi ya pergi saja tidak akan ada acara di larang seperti ini.
Damar pun terlihat kikuk tidak bisa menebak apa gerangan yang membuat istri dari Tuan Irman itu memintanya menunggu, ada yang ingin dibicarakan? atau ditanyakan mungkin?
Otak damar ini sedang tidak bisa berpikir sehingga dia hanya menurut saja apalagi ketika Riska mengajaknya untuk pergi ke halaman belakang.
"Ada yang mau saya tanyakan," kata Riska begitu hati-hati dengan suaranya, tidak terlalu pelan tapi juga tidak kencang dan yang pastinya tidak akan terdengar oleh orang di ruangan lain, hanya mereka berdua saja yang akan mendengar.
"Kamu kenal wanita bernama Daniya?"
Damar menjengkit dengan ekspresi wajah yang terkejut, ini kenapa mendadak Nyonya nya itu menanyakan wanita yang menjadi biang dari keributan antara tuan muda dan istrinya?
Otak Damar bertanya-tanya tentang bagaimana mungkin Riska yang dia rasa tidak tahu menahu tentang Daniya malah hari ini mendadak menyebut dan menanyakan wanita itu.
"Pak Damar!" Riska sedikit membentak mengejutkan pria di depannya yang malah tercenung mendapat pertanyaan darinya.
"Ada apa Nyonya menanyakan wanita itu?" Damar malah balik bertanya.
"Artinya kamu kenal?" Riska memicingkan mata menelisik pria yang baru saja mengajukan pertanyaan untuknya.
Sedikit ragu Damar menganggukkan kepalanya untuk membenarkan tebakan dari wanita yang berdiri di depannya dengan wajah penuh pertanyaan, rasa ingin tahu yang begitu besar.
Damar makin tidak mengerti kenapa Riska bisa tahu apa yang terjadi di Batam?
"Bagaimana Anda bisa tahu Nyonya?" Damar menyuarakan kebingungannya.
"Wanita itu datang ke sini kemarin malam," beber Riska dengan helaan napas yang berat.
"Kenapa Ipul tidak pernah bilang kalau sebelum menikah dia sedang dekat dengan seorang wanita," gumam Riska yang dapat di dengar oleh Damar.
"Kamu lihat wajah wanita itu kan? dia mirip dengan Ralen, apa jangan-jangan Ipul mau menikah dengan Ralen karena wajahnya yang mirip dengan wanita bernama Daniya itu?" sekarang Mamanya sendiri pun menyangka sama seperti apa yang pernah Ralen katakan.
__ADS_1
Menyangka kalau Ipul bersedia menikah hanya karena wajah Ralen yang mirip dengan wanita yang kemarin datang menemui dirinya.
Bola mata Damar bergerak tak bisa diam, tidak tahu harus berkata apa ketika wanita di depannya itu tengah mengurut pelipis menandakan pusing yang datang mendadak.
"Mereka masih berhubungan?" tanya Riska seraya masih memijat pelipisnya.
Damar menggelang, "yang saya dengar dari tuan muda mereka sudah tidak ada hubungan bahkan mereka tidak pernah menjalin hubungan, itu yang tuan muda katakan," aku Damar.
"Tapi wanita itu mengatakan.."
"Maa," teriakan dari Ipul membuat Riksa tidak melanjutkan perkataannya.
"Saya permisi Nyonya," kata Damar ketika dia tahu Nyonya nya itu tidak akan melanjutkan pembicaraan mereka.
Riska pun mengangguk lalu berjalan menghampiri anak dan menantunya yang baru saja masuk.
Ralen dengan wajah yang masih mengantuk memaksakan diri untuk membuka matanya.
"Ralen masih ngantuk, langsung ke kamar aja," ujar Riska yang tidak tega melihat menantunya lelah sekaligus ngantuk.
Ipul gegas mengantarkan istrinya ke dalam kamar, menggandengnya dengan sangat perhatian meniti anak tangga satu demi satu.
Sedangkan Riska menatap pasangan suami istri dengan penuh tanya yang bergelut di dalam kepalanya.
"Apa Ipul benar-benar mencintai Ralen?"
\*\*\*\*\*
__ADS_1