
Mulut Ralen menganga ketika melihat wanita bernama Daniya yang berada di lingkungan kampus.
"Ngapain tuh orang?" gumamnya.
"Ngelihatin apaan sih Lo Len?" tanya Seira yang baru kembali dari toilet mendapati temannya malah melongo dengan mulut yang terbuka.
Ralen terkaget tapi kemudian menormalkan sikapnya, "nggak ada," katanya pelan lalu kembali duduk menunggu bakso yang dia pesan datang.
Tidak lagi memikirkan tentang apa dan kenapa wanita yang menyukai suaminya itu berada di kampusnya.
Menurutnya wanita itu bebas mendatangi tempat manapun selagi itu adalah kawasan atau wilayah yang memang siapapun berhak untuk berada di tempat itu, kecuali berada di wilayah pribadi miliknya semisal rumah tentu Ralen akan mengamuk apalagi kalau wanita itu berani-beranian datang untuk mencari suaminya sudah Ralen ajak ribut mungkin.
Wanita itu belum tahu saja bahwa Daniya sudah sempat mendatangi rumah untuk mencari suaminya, mungkin akan ada badai besar yang akan memporak-porandakan seisi rumah apalagi dalam masa sekarang ini dia sedang sangat sensitif dan mudah sekali tersinggung.
Ralen meracik bakso yang sudah sangat membuatnya menelan liur berulang kali, memasukkan saos botolan masih di tambah lagi dengan sambal yang terbuat dari cabai memasukkannya dua sendok hingga kuah bakso yang tadi berwarna bening kini berubah menjadi merah sesuai dengan yang diinginkan.
"Gila Lo Len!" Seira berseru tidak percaya kala matanya melihat bakso di dalam mangkok sudah terlihat sebegitu menyeramkan, teman barunya itu apa tidak takut sakit perut nantinya makan bakso dengan campuran sambal yang tidak kira-kira.
"Kepala gue pusing," sahut Ralen santai seraya menyeruput kuah bakso lalu wajahnya bertambah sumringah kala merasakan kuah bakso itu sudah sesuai dengan yang dia inginkan.
"Pusing tuh minum obat, ngapain Lo makan bakso setan begitu!" celetuk Seira yang sudah ngeri melihat penampakan kuah bakso di dalam mangkok itu.
"Wah stres nih anak," cetusnya ketika matanya melihat Ralen malah sangat menikmati bakso tang baunya saja sangat membuat hidung Seira gatal tak karuan ingin bersin tapi tak bisa.
Ralen mengabaikan celotehan wanita di depannya, dia hanya ingin menikmati suap demi suap bakso yang masuk ke dalam tenggorokannya hingga benar-benar habis tak bersisa.
__ADS_1
Begitupun dengan siomay yang ada di piring Seira juga habis tak bersisa, mulutnya tetap mengunyah meskipun terus memprotes bakso Ralen yang sangat pedas meski dia tidak mencobanya, tidak mau mencoba karena dia tahu bakso itu sangat pedas dan dia tidak akan sanggup untuk menahannya, lihat saja sekarang bibir Ralen sudah menjadi merah dan lebih tebal dari biasanya akibat kegilaannya memasukkan sambal.
Kedua wanita itu sudah kenyang dan memutuskan untuk masuk ke kelas setelah menghabiskan teh manis yang masih tersisa.
"Nggak usah dilihatin, dua cowok nggak jelas," peringat Seira kala mereka melewati Rio dan Gerry yang sedang berduaan, entah membicarakan apa.
Ralen hanya mengangguk lalu berjalan lurus tanpa menoleh meski dia mendengar suara-suara dua pria itu yang tengah berbicara sambil menatap pada mereka.
****
Ipul yang sedang menahan sakit perut dan pusing serta mual di tambah lagi dengan pinggangnya yang ikut-ikutan terasa linu pun bergulung tak jelas di atas tempat tidur.
"Makanya jangan kebanyakan olah raga malam Pul, jadi sakit kan," lontar sang Mama yang setia mengolesi pinggang sang anak yang sejak tadi di keluhkan.
"Apa hubungannya," dengus Ipul mendengar pernyataan dari wanita yang tengah mengolesi minyak angin di seluruh pinggangnya.
"Astaga Mama!" memotong apa yang Mamanya ingin katakan.
Dia tidak mengerti mengapa Mamanya itu malah berbicara tanpa menyaringnya lebih dulu, berkata tentang urusan intim meskipun sekarang hanya ada mereka berdua saja tapi dia merasa malu dan itu bukan pembicaraan yang menyenangkan untuk didengar pada saat ini.
Semua badannya sangat sakit dari yang bagian luar hingga bagian dalam badannya sakit tak terhingga, sungguh dia tidak pernah mengalami sakit yang seperti ini selama dia hidup, tapi sekarang entah bagaimana bisa dia merasakan sakit yang begitu meremukkan badannya.
"Mama keluar aja deh," mengusir sang Mama.
"Dasar tidak tahu terimakasih, sudah diurusin malah ngusir," omel Mama Riska pada sang anak yang malah dengan entengnya malah memintanya keluar dari kamar.
__ADS_1
"Mulut Mama berisik apa aja diomongin," celetuk Ipul seraya meringis memijit pinggangnya.
Sang Mama pun keluar dari kamar dengan wajah yang ditekuk lalu menutup pintu, begitu pintu tertutup mulutnya langsung ngedumel membicarakan anaknya sendiri.
"Biarin aja nanti juga kena omel lagi sama istrinya, orang laki sakit bawel banget," menggerutu terus sepanjang kakinya melangkah meniti anak tangga menuju lantai bawah.
Ipul yang tengah aduh-aduhan merasa badannya benar-benar tidak enak malah di ganggu oleh suara pesan dari handphone yang dia geletakkan di sampingnya.
Tangannya yang tadi sedang memijat pinggangnya pun terulur untuk mengambil benda yang tadi berbunyi begitu dapat diapun segera membuka handphone itu lalu membuka pesan dari seseorang.
"Wah, gue lagi kesakitan dia malah berduaan sama dosen lenjeh," ketusnya saat matanya dihadiahi oleh pesan gambar yang tadi masuk.
Gambar itu diambil dari jarak yang lumayan jauh dan yang Ipul lihat postur tubuh itu adalah istrinya, rambutnya juga sama hanya saja otaknya yang tidak berjalan dengan baik sehingga dia melupakan kalau pakaian yang wanita itu pakai berbeda dengan istrinya.
Langsung saja Ipul menghubungi nomor istrinya, tentu saja untuk mengomel badannya sedang sakit kebetulan ada bahan untuk melampiaskan rasa sakitnya itu dengan mengomel.
Tapi wanita yang dia hubungi malah tidak menjawab membuat dia yang sedang sakit malah di tambah dengan rasa kesal yang tidak bisa terlampiaskan membuatnya makin menjadi.
"Gue samperin!" katanya geram lalu turun dari tempat tidur mengganti celana serta kaos lalu segera menyambar kunci mobil.
"Loh kamu mau kemana?" tanya sang Mama yang berpapasan dengan sang anak di lantai bawah.
"Kampus Jelita," menyahut tanpa menghentikan langkah.
Mama Riska mengerutkan kening, "katanya sakit, terus tadi kan mukanya melas banget tapi kok sekarang mukanya jadi sangar begitu," Mama Riska pun bergidik melihat wajah anaknya sendiri.
__ADS_1
Ipul tak peduli dengan ocehan sang Mama, yang dipikirannya saat ini adalah menemui istrinya kalau perlu memergokinya sedang berduaan dengan sang dosen.
****