
Ipul yang sedang berada di ruangannya dan sedang memeriksa berkas-berkas penting sebelum dia kembali ke Jakarta besok pagi malah sudah di ganggu dengan suara dering handphone yang ada di dekat bingkai foto Papahnya, pria itu hanya melirik saja lalu kembali sibuk dengan pekerjaan berharap bunyi suara handphone itu akan segera berhenti.
Tapi yang Ipul harapkan sangat tidak sesuai sebab ketika sudah berhenti dan baru sebentar kemudian handphone itu sudah bersuara kembali dan kini malah berulang-ulang membuat Ipul kesal lalu membanting pulpen yang ada di jarinya ke atas berkas yang sebagian sudah dia tandatangani.
"Kenapa sih Bang?!" langsung menyemprot Abang sepupunya yang memang menjadi biang kerok pengganggu dia yang sedang bekerja.
"Lu lagi ngapain? lama banget jawab telepon gue?!" tanya Davi dengan datar tanpa rasa bersalah padahal dia itu tahu kalau Adik sepupunya ini kesal oleh yang dia lakukan.
"Gue bukan pengangguran Bang, jam segini ya sudah pasti gue sedang kerja!" menjawab dengan sangat sengit serta dengusan yang membuat hidungnya kembang-kempis begitu cepat.
"Dan lu Bang, lu juga bukan pengangguran tapi kenapa di jam kerja begini malah sibuk menghubungi gue! kekurangan kerjaan kah?" tambah Ipul yang tak habis pikir dengan kelakukan Abang sepupunya itu, bukankah pria itu juga pasti sedang bekerja saat ini? tapi kenapa begitu banyak waktu luang untuk meneleponnya.
Di seberang sana Ipul malah mendengar suara tawa dari Davi, membuat wajahnya jadi kebingungan, kenapa tiba-tiba Abangnya itu tertawa? mendadak gila? Ipul membatin dengan segala pertanyaan kala mendengar suara gelak tawa yang seiring terdengar di telinganya.
"Lu tahu dengan jelas kalau gue nggak akan pernah menghubungi elu kalau nggak ada hal yang penting." setelah menyelesaikan tawa yang membuat Ipul bingung Davi pun berbicara tentang.
Ipul terkekeh lalu berdecih dengan jawaban yang Abang sepupunya itu berikan, memang terdengar sangat menyebalkan! bagaimana bisa Abangnya itu dengan entengnya berkata demikian, tidak akan pernah menghubungi kalau tidak ada hal yang penting? jadi sekarang ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Abang sepupunya itu kah? yang benar saja.
"Berarti sekarang ada hal penting rupanya." tebak Ipul yang memang sudah benar tebakannya itu karena Davi pun langsung mengiyakan.
"Ya udah cepetan gue masih banyak kerjaan yang mesti gue selesaikan sebelum balik ke Jakarta besok," pinta Ipul seraya menyandarkan kepalanya di kursi yang dia duduki.
"Ekhem!" sebelum berbicara terlebih dulu Davi malah mendehem seperti tengah berancang-ancang untuk berkata.
"Lama Bang!" protes Ipul yang memang bukanlah seorang manusia yang akan dengan sukarela menunggu.
"Gue minta mobil gue."
"Hah?" Ipul yang tadi sangat santai dan tenang pun menegakkan tubuhnya mendengar permintaan sang Abang.
Minta mobil? yang benar saja, sejak kapan Ipul memakai mobil Abangnya itu? bahkan biasanya dia hanya sering memakai motor sang Abang tapi itupun tidak dalam waktu yang lama paling hanya dua harian lalu setelahnya akan langsung dia kembalikan pada pemiliknya, lalu kenapa sekarang Abangnya itu malah minta mobil? otaknya benar-benar sudah tidak waras sepertinya.
"Nggak usah sok paling terkejut Saipul!" kata Davi, dari suaranya Ipul saja dia sudah bisa membaca kalau Adik sepupunya itu sangat kaget mendengar ucapannya.
"Ya lu aneh Bang, sejak kapan gue pakai mobil lu, kok ya tiba-tiba lu malah minta mobil, lagi ngimpi nggak sih lu?" kata Ipul pedas dan sinis menyuarakan kebingungannya.
Dia ini sepertinya melupakan apa yang sudah dia sepakati dulu dengan Abang sepupunya, hingga terlihat seperti orang polos atau mungkin lebih tepatnya pikun.
"Jangan bilang kalau lu lupa? ah tidak sepertinya lu itu malah memang sengaja melupakan." Davi meralat sendiri ucapannya.
"Lupa apa Bang? beneran dah gue nggak inget sama sekali apa yang lu bicarain sekarang," desak Ipul.
Dari raut wajahnya yang bingung sepertinya dia ini memang benar-benar lupa, bukannya sengaja melupakan apa yang sudah dia dan Davi sepakati dulu.
Davi tersenyum lalu mengangkat tangan ketika sekretarisnya masuk mengantarkan secangkir teh hangat untuknya.
__ADS_1
"Ralen dan mobil, seharusnya lu ingat dua hal itu," tutur Davi sengaja membiarkan Ipul berpikir untuk mengingat apa yang mereka lakukan dulu.
Sampai akhirnya terdengar suara umpatan dari mulut Ipul yang membuat Davi tertawa kencang penuh kemenangan.
"Ah sial!" Ipul melempar lembaran tak berharga yang ada di atas mejanya, tak peduli lembaran itu kini berhamburan di lantai.
"Gue belum bucin Bang," akunya kemudian.
Davi mengedikkan bahunya mendengar pengakuan Ipul yang baginya tak masuk akal, tidak bucin tapi anak orang di terjang terus bahkan sampai sulit dihubungi.
"Tapi lu berkelana setiap malam, rasanya benar-benar sulit untuk gue percaya kalau lu belom bucin," tampik Davi mengatakan apa yang dia ketahui dari istrinya.
Sepertinya tanpa Zara sadari dia ini sudah menjadi mata-mata suaminya, menyampaikan info apa saja yang dia ketahui dan dapatkan dari Tante Riska tentang Saipul dan Ralen.
"Itu kebutuhan biologis Bang, yang namanya pria normal memang butuh penyaluran apalagi kalau ada istri, ya memang sudah sewajarnya gue lakukan itu sama dia lagi pula.."
"Gue nggak percaya sama semua omongan lu Saipul, kita kecil bersama dan gue cukup mengenal seperti apa lu itu, jadi saat lu ngaku lu belum bucin, seratus persen gue nggak percaya, sumpah!" beber Davi yang membuat Ipul tidak lagi bisa mengeluarkan perkataannya.
Jika sudah begini Ipul tidak bisa mengelak lagi kan? salahnya sendiri yang mau-maunya bertaruh dengan orang yang begitu dekat dan sangat tahu pribadinya seperti apa, meskipun saat remaja mereka sempat menjauh dan kerap kali bertikai tapi yang namanya saudara sedikit banyak tentu sudah paham sifat masing-masing.
Ipul membuang napas kasar sadar benar mobil kesayangan akan raib dari tangannya dalam sekejap.
"Kapan gue bisa ambil mobil gue?" tanya Davi dengan nada yang sangat mengejek.
Davi tertawa kembali, "gue tahu benar berapa ratus juta uang yang lu habiskan untuk memodifikasi mobil lu itu, gue benar-benar ketiban durian runtuh sekarang, haha," Davi tertawa puas tapi terdengar menyebalkan bagi Ipul, "dan itu hanya nominal modifikasi saja, sedangkan gue tahu berapa harga mobil lu itu," tambah Davi yang sangat mengerti berapa harga mobil sepupunya yang sudah sangat kesal sedari tadi.
Memang sejak pertama kali membeli mobil itu dulu Ipul langsung memodif nya dengan uang yang tidak sedikit cukup banyak agar tampilan mobilnya menjadi sangat keren dan ternyata Abang sepupunya malah sudah mengincarnya sejak lama.
"Sial! tahu begitu nggak bakal gue modif tuh mobil!" sungut Ipul memijit pangkal hidungnya.
Mobil kesayangan yang membutuhkan banyak uang untuk bisa dia miliki dipastikan berpindah kepemilikan mulai saat dia sudah ketahuan bucin oleh Abangnya itu meski dia tadi coba membantahnya.
"Lu kenapa pakai muncul sih Jelita! belum juga setengah tahun kita nikah, gue udah kehilangan mobil mahal gue!" malah menyalahkan kehadiran wanita yang sudah membuatnya bucin tanpa sadar, padahal yang cari perkara ya dia sendiri begitu percaya dirinya menerima ide gila berupa taruhan yang diajukan oleh Abangnya.
"Terima nasib Pul, nanti kalau udah setengah tahun gue yakin seluruh properti yang lu punya akan berganti nama dengan sukarela," ujar Davi makin tak karuan menggoda Adiknya yang langsung menendang kaki meja menyalurkan kekesalan
Brak!
"Aduh!" tapi setelah menendang meja malah kesakitan sendiri.
"Jadi kapan gue ambil?"
"Bacot lah Bang, lu minta sana sama Mama kunci mobilnya!" sentak Ipul keras menandakan dia ini sebenarnya tidak rela tapi tidak mungkin juga menelan ludahnya sendiri.
"Nah ini baru Adik gue, senang berbisnis dengan anda," kekeh Davi senang menganggap taruhan dengan sang Adik adalah sebuah bisnis yang menguntungkan.
__ADS_1
"STNK sama BPKB nya jangan lupa," kekeh Davi mengingatkan.
"Bodo amat! lain kali jangan ngajak gue taruhan Bang!" emosi Ipul tak terkira.
"Takut kalah lagi kah?"
Davi ini sejak dari remaja kan memang rajanya taruhan, dari taruhan bola sampai bertaruh ketika balapan hampir semua dialah yang menjadi pemenangnya, jadi memang Ipul lah yang salah kenapa menerima saja ajakan taruhan dari Davi.
"Takut gue emosi dan nonjokin elu!" seru Ipul.
"Biasanya kalau orang kalah memang akan selalu emosi, haha." dengan seenaknya malah makin mengejek Adiknya, si Davi ini memang sangat senang ketika Adik sepupunya sewot dengannya, gemar sekali memancing darah orang naik ke kepala.
"Brengsek!" maki Ipul lalu mematikan sambungan telepon tidak peduli sekarang Abang sepupunya itu sedang mentertawakan dirinya.
"Dasar pengusaha kurang kerjaan pagi-pagi udah jadi rampok! mana mobil gue lagi yang dia rampok." Ipul menggeram kesal, melayang sudah mobil kesayangannya itu.
Di tengah omelan nya Ipul malah mendapati handphonenya bergetar lalu sebuah notifikasi pesan bergulir di layar handphone yang tanpa sengaja terlihat lalu terbaca olehnya.
Ipul segera mengambil benda itu lalu dengan sangat cepat memblokir nomor yang sangat dia tahu siapa pemiliknya hanya dari pesan yang dua baca sekilas.
"Lebih baik menghindari masalah daripada harus mengahadapi singa betina ngamuk!" desisnya.
Jelas sudah siapa singa betina yang tengah dia bicarakan saat ini, istrinya yang kalau sudah mengamuk diapun sulit mengendalikannya bahkan sangat kewalahan kalau saja dia tidak memiliki tenaga yang cukup untuk melumpuhkan sang singa betina.
"Gue udah ngerasain amukannya saat marah dan juga saat sedang mabuk, remuk semua badan gue!" cerocos Ipul lalu menggeser handphonenya menjauh setelah memblokir nomor milik wanita yang masih saja mengejarnya padahal dia dengan jelas sudah mengatakan bahwa mereka tidak pernah ada hubungan apapun juga dia yang sudah menikah, tapi malah tidak cukup untuk membuat wanita itu berhenti mengejarnya.
"Gue ini udah kehilangan mobil, jadi jangan sampai gue jadi duda gara-gara ngeladenin Daniya."
Mulut pria itu berceloteh tanpa henti sambil menghadapi berkas yang menumpuk dan ketika mendengar suara pintu yang dibuka diapun melihat siapa yang masuk.
Ternyata adalah sang asisten yang langsung melongo, tercenung mendapati kertas-kertas yang berhamburan di lantai, bahkan ada kertas yang terinjak oleh sepatunya.
"Apa ada gempa, tuan muda?"
Ipul mendengus, dia tahu benar itu bukan sebuah pertanyaan karena kalaupun ada gempa Damar sudah pasti juga akan merasakannya sebab pria itu tadi berada di ruangan yang tepat berada di sebelah ruangannya.
"Gempa besar yang membuat mobil Ipul hilang!" sungut pria yang kembali melanjutkan apa yang seharusnya dia kerjakan sejak tadi.
Damar tidak menimpali karena sekarang dia sibuk memunguti kertas yang berserakan itu lalu mengumpulkannya, untunglah itu bukan kertas penting hanya kertas berisi kontrak lama yang seharusnya sudah di musnahkan agar tidak menjadi masalah.
"Saya akan memusnahkan kertas ini dulu tuan muda," kata Damar ketika selesai mengumpulkan kertas di tangannya.
Ipul mengangguk tanpa melihat pada sang asisten yang langsung pergi menuju mesin penghancur kertas yang memang sengaja disediakan di kantor itu.
******
__ADS_1