
Ipul menggerutu kesal ketika Ralen malah asik dengan minuman, wanita itu kenapa setiap di bawa kesebuah acara selalu saja sibuk dengan minuman, apa tenggorokannya itu selalu kering? kalau begitu seharusnya sebelum pergi tadi minum yang banyak untuk bisa menahan haus seperti unta.
"Minum air putih saja," kata Ipul ketika Ralen sudah siap akan mengambil minuman bersoda hingga tangan sang wanita terhenti di udara karena perkataannya.
"Air putih tidak ada rasanya," dalih Ralen.
"Ya memang kenapa? bukankah kalau haus memang lebih baik minum air putih karena akan lebih cepat meredakan rasa haus, meminum yang bersoda tidak meredakan haus tapi malah membuat kamu ingin terus meminumnya dan akhirnya hanya akan membuat perut mu sakit," papar Ipul panjang lebar menjelaskan bahwa minuman bersoda tidak baik jika di minum terlalu banyak dan terlalu sering pun hanya akan mendatangkan penyakit dikemudian hari.
"Minum kopi setiap saat juga tidak baik," cecar Ralen yang memang berniat membalas pernyataan suaminya.
Ralen sangat tahu kalau suaminya itu sangat sering meminum kopi, bukankah kopi juga mengandung zat yang berbahaya apabila diminum sangat sering, belum lagi gula yang dicampurkan, tinggal tunggu saja penyakit apa yang akan menyerang lebih dulu dari kandungan kopi atau dari gula yang bersifat manis.
Ipul mendelik mendengar jawaban Ralen, wanita itu memang akan selalu bisa menjawab dan memberikan serangan balik untuknya.
"Lalu minum air dingin saat sedang musim dingin juga kebiaan yang buruk, pantas saja kamu sering sekali flu, jadi karena itu," cibir Ralen yang mengetahui kebiasaan buruk suaminya dari sang Mama mertua.
Bayangkan saja seorang Saipul Gunawan tidak peduli cuaca panas hujan badai angin topan tetap saja minum air es yang benar-benar sangat dingin bukankah minum air dingin bisa menimbulkan sensasi brain freeze, ah pantas saja pria itu selalu saja bersikap dingin dan tidak berperasaan kepadanya, mungkin kebiasaannya itulah yang membuatnya selalu bersikap tanpa otak kalau sedang tiba-tiba berlaku menyebalkan.
Ipul menundukkan sedikit kepalanya agar bisa berbicara dengan wanita yang sedari tadi menyerangnya berkali-kali, dia hanya menyerang sekali tapi balasannya tidak terkira, "beruntung kita lagi ada disini, kalau tidak.."
"Kalau tidak apa?" tanya Ralen kala si pria tidak melanjutkan ucapannya.
Bukannya memberikan jawaban tapi Ipul malah tersenyum miring, senyum misterius ditambah dengan gerakan mata yang mencurigakan.
"Sebenarnya apa yang ada di dalam pikirannya sekarang!" dengus Ralen ketika tidak mendapatkan jawaban.
"Sudah belum minumnya?" Ipul malah melupakan pertanyaan Ralen yang sengaja tidak dia jawab, biar saja wanita itu kesal karenanya.
"Kenapa? aku masih ingin minum sebentar lagi aku mau ke toilet," papar wanita yang mengibaskan rambutnya kebelakang hingga leher jenjangnya pun terpamerkan dengan sangat sempurna.
"Kalau untuk di keluarkan lagi lalu buat apa kamu minum," cibir Ipul.
Pria itu belum sadar dengan apa yang di lakukan oleh istrinya sampai akhirnya dia melihat banyak mata pria yang memandang ke arah sang istri, diapun melihat arah mata para pria itu, hingga akhirnya Ipul membelalak melihat perbuatan sang istri dalam hati dia merasa bersyukur bahwa jejak-jejak percintaan yang selalu dia tinggalkan saat berhubungan sudah tidak lagi terlihat.
"Sepertinya harus selalu di beri tanda agar kamu tidak lagi memakai pakaian seperti ini saat aku ajak pergi," desis Ipul melihat jengah pada mata kebanyakan pria yang melihat ke arah istrinya.
Ada yang tak sengaja melihat hingga akhirnya menjadi sengaja melihat sampai akhirnya bersatu dengan orang-orang yang memang sengaja melihat, karena malam ini Ralen tampil sangat memikat, menarik siapa saja untuk melihat seolah wanita itu adalah magnet.
Ini yang dinamakan jalan menuju cemburu yang lama-kelamaan menghampiri dan mengganggu suasana hati seorang Saipul Gunawan.
Ralen menaikkan sudut bibirnya mendengar penuturan pria di sampingnya yang menunjukkan ketidaksukaan yang teramat jelas, pria itu cemburu dan Ralen suka.
Ralen tersenyum tipis lalu dengan sengaja mengibas-ngibaskan rambutnya lalu tangannya berpura-pura memijit bahu polos yang menjadi salah satu tempat favorit suaminya ketika mereka sedang berhubungan.
Suaminya akan menghujami bahunya dengan kecupan demi kecupan seraya terus bergerak tiada henti, ah Ralen malah jadi panas sendiri memikirkan apa yang sering suaminya lakukan.
"Aku mau ke toilet," kata Ralen cepat.
Dia ingin mencuci muka agar pikirannya tidak memikirkan hal yang tak seharusnya, bagaimana mungkin saat seperti ini dia malah memikirkan tentang segala sentuhan demi sentuhan yang suaminya lakukan di atas ranjang.
"Otak mesum!" omel Ralen memarahi otaknya yang tadi tergerak tanpa kendali memikirkan sesuatu yang panas membuat dia merasakan sesuatu yang berdenyut tak jelas.
Ipul tersenyum miring mendengar ucapan Ralen yang terdengar jelas olehnya, "otakmu yang mesum atau memang kamu sedang mengingat apa yang aku lakukan?" tanya Ipul membuat mulut Ralen menganga.
"Cepat sana, aku tunggu disini," Ipul mendorong tubuh istrinya.
Ralen tidak mengerti kenapa pria itu bisa menebak apa yang dia pikirkan sejak tadi, sungguh membuat Ralen menjadi sangat malu sampai akhirnya dia pergi begitu saja menuju toilet, berjalan dengan sangat cepat bahkan tidak mau menoleh sama sekali di saat suaminya mentertawakan tingkahnya itu.
Ralen masuk ke dalam toilet wanita yang cukup sepi hanya ada dua orang wanita cantik yang sedang memperbaiki riasan mereka lalu keduanya itu segera keluar setelah selesai, sekarang tinggal Ralen seorang diri di dalam toilet itu.
__ADS_1
Wanita itu melangkah menuju bilik untuk buang air kecil menyelesaikan apa yang dari tadi dia rasakan lalu beranjak keluar bilik menuju wastafel, menyalakan kran air lalu mencuci tangan sambil memandangi wajahnya sendiri di cermin besar.
"Tahi lalat ini yang membuat aku jadi banyak bicara," ketus Ralen menunjuk tahu lalat di atas bibirnya.
Kata orang tahi lalat di atas bibir menunjukkan orang yang sangat banyak bicara, entah mitos atau fakta tapi Ralen merasa dia memang sangat banyak bicara, terkesan bawel dengan pembicaraan yang kadang ceplas-ceplos.
"Rasanya aku ingin buang kamu!" dengus Ralen menekan-nekan tahi lalat berwarna hitam yang bahkan hanya setitik kecil saja, tapi dia tidak sukai.
Wanita itu tidak tahu saja kalau tahi lalat di atas bibirnya itu malah sangat disukai oleh Saipul Gunawan, suaminya itu sangat gemas kala titik hitam itu ikut bergerak ketika Ralen berbicara.
Puas mengomel dengan tahi lalat yang sama sekali tidak bisa menjawab akhirnya Ralen membasuh wajahnya dengan air mengalir yang terasa sangat dingin dan menyejukkan ketika menyentuh wajahnya.
Dia berlama-lama dengan air itu menikmatinya dengan baik membiarkan wajahnya basah baru setelahnya mengambil tissu lalu mengeringkan wajahnya.
"Untung Mama tadi mengingatkan untuk membawa bedak dan juga lipstik," kata Ralen menarik tas tangannya dan mengeluarkan bedak serta lipstik untuk dia pakai agar wajah yang tadi terkena air tidak pucat dan kembali cantik seperti tadi.
Ralen ini kalau Mama mertuanya tidak mengingatkan mungkin tidak akan pernah berpikir untuk memasukkan bedak serta lipstik ke dalam tas tangannya, dan ketika mencuci wajahnya seperti ini dia akan sangat kebingungan nantinya karena tidak bisa memperbaiki riasan yang sudah tersapu hilang oleh air karena perbuatannya sendiri.
Ralen tersenyum melihat wajahnya sudah terlihat kembali seperti sebelum dia masuk toilet tadi, lalu ketika merasa sudah pas dia kembali menyimpan bedak dan lipstiknya ke dalam tas tangan dan keluar dari toilet setelah memastikan kembali kalau tampilannya sudah dia perbaiki.
Ralen mencari suaminya yang tadi mengatakan menunggunya tapi dia mendapati suaminya itu malah sedang berbincang dengan dua orang wanita dan satu orang pria sambil tertawa-tawa mungkin mereka itu teman kuliahnya dulu.
"Bahagia sekali sepertinya dia," decih Ralen dengan matanya yang menatap sinis, dia tidak suka terlebih lagi ketika tangan salah satu wanita itu menggandeng lengan suaminya.
"Iiishh," desis Ralen kesal dia sudah panas dan ingin menghampiri tapi ketika akan melangkah tangannya malah di tahan oleh seseorang dari arah belakang.
"Apa-ap.."
Mulut Ralen yang tadinya akan mengomel memarahi orang yang dengan lancang memegang tangannya malah tertahan di tenggorokan begitu melihat siapa yang memegang tangannya itu.
"Angga!" terkejut serta bingung kenapa mereka lagi-lagi dipertemukan.
"Kita bertemu lagi," cetus Angga seraya tersenyum tipis namun kebahagiaan memancar jelas dari sorot matanya karena bisa bertemu kembali dengan wanita yang sejak pertama bertemu sudah berani mengusik hatinya.
"Maaf," katanya merasa tak enak.
Ralen menggeleng, "tidak apa."
"Sepertinya tuhan memang mentakdirkan kita," tutur Angga Wirasprata sang dosen muda yang pernah patah hati itu, tapi sepertinya sekarang pria itu sedang berusaha untuk mengobati hatinya yang perlahan kembali utuh.
"Maksudnya?" Ralen bingung tak mengerti dengan pernyataan tentang takdir yang Angga utarakan.
"Kita terus dipertemukan, ah untungnya aku memutuskan untuk menghadiri pernikahan sepupuku, kalau tidak mungkin kita tidak bertemu," aku Angga merasa senang karena keputusannya untuk membatalkan pertemuan dengan para dosen kampus suatu hal yang menguntungkan sebab akhirnya dia bisa bertemu dengan wanita yang mengusik hatinya.
"Sepupu?"
Angga mengangguk, "iya sepupu, pengantin wanitanya sepupuku," jelas Angga menjawab pertanyaan wanita yang begitu cantik dengan segala pesona yang sang wanita miliki.
"Oh," mulut Ralen terbuka kala mengekpresikan apa yang dia ketahui.
Angga menatap kagum padanya sampai akhirnya tidak tahan untuk memberikan pujian, pria itu sedikit membungkukkan badannya dan mendekat ke arah Ralen, "kamu cantik."
"Kita pulang sekarang!"
Ralen terkesiap ketika tangannya di tarik begitu saja oleh suaminya yang entah kapan datangannya.
Dia yang baru saja kaget dengan apa yang dikatakan oleh Angga semakin kaget ketika tangannya di tarik oleh sang suami, dua hal yang membuatnya kaget bersamaan menjadikan dia tak bisa berkata apa-apa lagi, kakinya hanya ikut melangkah mengikuti tarikan dari pria yang kemungkinan tengah emosi karena cemburu.
Cemburu? suaminya itu cemburu membuat Ralen menatap wajah sang suami dari samping, memperhatikan rahang yang mengeras sebagai ekspresi marah yang merusak pikiran.
__ADS_1
Sedangkan Angga juga merasa terkejut dengan kedatangan pria yang rasanya sudah tak asing sekali dimatanya, dia merasa pernah melihat pria yang menarik Ralen itu tapi tidak tahu kapan dan dimana.
Ipul mendorong Ralen masuk ke dalam mobil lalu membanting pintu hingga tertutup dengan suara yang sangat keras bahkan tubuh Ralen pun sampai menjengkit kaget karenanya.
Ipul masuk ke dalam mobil dengan deru napas yang memburu, udara panas begitu terasa membuat Ralen tidak berani untuk berkata-kata.
"Dia pria yang waktu itu kan?" tanya Ipul dengan menatap tajam wanita di sampingnya.
Ralen mengerutkan keningnya tapi tak menjawab pertanyaan pria yang sedang sangat marah dengannya itu.
"Masih tetap berhubungan padahal aku sudah melarang!" tuduh Ipul.
"Berhubungan apa? tadi itu tidak sengaja bertemu, istrinya teman kamu itu sepupunya dia jadi wajar kalau dia berada di pesta itu," jawab Ralen membela diri.
Enak saja dituduh berhubungan dengan pria lain padahal melakukannya pun tidak, lagian hubungan apa? hanya sekedar kenal saja memangnya salah?
Ralen menatap tidak terima atas tuduhan yang dilayangkan suaminya.
Ipul melihat bahu Ralen yang terbuka membuatnya semakin emosi saja, dia yakin pria tadi begitu menikmati apa yang di pamerkan oleh istrinya itu.
"Pakai!" melemparkan jas miliknya kepada Ralen yang mendarat di pangkuan sang wanita.
Ralen gegas memakai jas itu ketimbang singa buas di sampingnya malah makin kesal, dia tidak mau kalau sampai di turunkan singa buas itu mengamuk di dalam mobil begini, sungguh sangat tidak lucu kalau singa itu tiba-tiba melakukan penyerangan.
Ipul menjalankan mobilnya dengan cepat keluar dari parkiran hotel, bahkan tadi dia juga tidak sempat berpamitan pada temannya karena emosi yang langsung memuncak ketika melihat ada seorang pria yang berbicara sangat dekat dengan istrinya.
"Kalau aku sampai melihatmu berbicara dengannya lagi, habis kamu!" ancam Ipul.
Apa maksudnya ini? habis? dia mau menghabisi Ralen? maksud kata habis ini yang bagaimana? mau di bunuh? mau di beri pelajaran, atau apa? ah sungguh Ralen tidak bisa mengerti dan tidak akan mengerti ketika seorang pria tengah emosi bisa melakukan hal apa.
"Bisa tidak bawa mobilnya sedikit pelan?" tanya Ralen dengan tangan yang memegang sabuk pengaman.
Suaminya membawa mobil dengan cara yang gila membuat dia takut apalagi tadi juga memberikan ancaman padanya, meski dia terkenal wanita pemberani dan galak tapi tetap saja nyalinya selalu ciut ketika harus dihadapkan dengan maut seperti ini.
Ipul melirik wanita di sampingnya yang menatap jalanan dengan tatapan ngeri, tapi tidak membuat dia mengikuti apa yang Ralen minta, dia tetap menjalankan mobil dengan cepat dan sesuka hatinya mengarahkan mobil itu ke tempat yang dia mau.
Mobil akhirnya melambat ketika memasuki halaman sebuah gedung bertingkat dengan lampu-lampu yang menyala.
Ralen tahu itu adalah hotel berbintang di kawasan ibukota, saat masih jadi ojek online dia sering melewati jalanan ini dan sekarang tidak menyangka kalau dia akan masuk ke hotel yang pastinya biaya menginap untuk satu malam saja sudah cukup mahal untuknya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*