
Malam ini setelah beberapa hari terlewat saat untuk pertama kalinya dia mengetahui bahwa pria yang menjadi mantan tunangannya sudah mempunyai istri membuat dia kecewa namun setelah itu mencoba untuk membuang semua kecewanya karena dia tahu hal seperti ini pasti akan terjadi mengingat dia yang sudah lama tidak bertemu dan mengetahui kabar pria itu, bukankah dia juga sudah pernah menikah dan statusnya kini adalah seorang janda tanpa anak, sebab anaknya pergi lebih dulu meninggalkan dirinya.
Beberapa tahun tentu akan merubah apapun dan siapapun termasuk status seseorang hingga akhirnya dia menjadi sadar diri kalau dia dan sang pria memang hanya masa lalu, semua tidak akan mungkin kembali, dia cukup tahu diri untuk tidak memikirkan suami orang lain.
Hanna kembali bekerja seperti biasa, menjalankan kewajibannya sebagai seorang pelayan tempat hiburan malam meski dengan setengah hati, dia sedang berusaha untuk mencari pekerjaan yang lebih baik tapi tak kunjung mendapatkannya.
Hanna akan kembali mengambilkan pesanan pelanggan ketika dia tak sengaja melihat kedatangan dua orang wanita dengan pakaian yang cukup terbuka.
"Itu Ralen kan?" katanya menggumam seraya memastikan apa yang dia lihat.
Hanna yang penasaran pun berusaha mendekat memastikan kalau dia tidak salah orang, akan tetapi lampu yang kedap kedip membuat penglihatannya tak benar, dia hanya bisa mengenali wajah yang sama juga potongan rambut sebahu tanpa mengindentifikasi lebih jauh wajah wanita yang dia pikir adalah istri dari mantan tunangannya.
Mulut Hanna menganga lebar, terkejut kala matanya menangkap wanita yang dia sangka Ralen berpelukan dengan seroang pria yang memang sudah menjadi pengunjung tetap tempatnya bekerja.
Hanna menutup mulutnya terkejut dan syok yang datang bersamaan.
"Kasihan kamu Mas," batinnya bersuara.
Dia merasa tidak tega mengetahui Ipul dibohongi hingga akhirnya dia berpikir untuk memberitahu apa yang dia lihat, bukan berniat ikut campur hanya saja dia sakit hati melihat pria sebaik Ipul di khianati oleh istrinya sendiri.
Hanna berjalan cepat menuju locker untuk mengambil handphonenya lalu dengan tangan gemetar dia mencoba untuk menghubungi snag mantan tunangan.
Hanya menunggu panggilannya di jawab namun Hanna merasa sangat lama membuat dia tak sabar sampai harus berjalan mondar-mandir di depan locker.
Ipul yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan hendak beranjak ke kamar lantas terhenti saat merasakan handphone di tangannya bergetar.
Nama kontak Hanna langsung terlihat oleh sepasang netranya.
Saat di Surabaya dia memang sempat memberikan nomornya kepada Hanna, dan dia tidak menyangka kalau Hanna akan menghubunginya, dia mengira Hanna menghapus nomornya karena saat memberi kabar tentang sang Mama, wanita itu mengubungi melalui telepon rumah yang memang sudah ada bertahun-tahun, jadi jelas Hanna hapal nomor telepon rumahnya.
"Hallo Mas."
Telinga Ipul yang peka langsung bisa mendengar suara Hanna di tengah suara yang bising.
Wanita ini sedang ada dimana? batinnya dengan kerutan yang terpajang di dahi.
"Hanna."
Panggilan Ipul yang masih tetap sama menurut Hanna, membuat wanita itu berdesir ada rasa tak biasa yang menyeruak masuk ke dalam hati mengusik jiwa dan raganya, membuat dia mengingat momen manis yang sempat mereka lalui.
Tidak! Hanna menggeleng berusaha menyadarkan diri dari segala pikiran yang tak benar, pria itu sudah menjadi suami wanita lain, dia wanita baik-baik yang tidak akan mengusik suami orang, hanya saja keadaan yang membuat dia harus berada dilingkungan yang menyeramkan seperti ini.
Hanna mengepalkan sebelah tangannya, "aku melihat istrimu."
Kening Ipul dengan cepat mengernyit.
Istrinya?
Ralen memang tidak ada di rumah karena tadi wanita itu meminta ijin untuk menginap di rumah temannya, Antika.
Dan Ipul mengijinkan karena dia berpikir mungkin istrinya butuh teman untuk bercerita dan dia menganggap itu hal yang baik bahkan dia sendiri yang mengantarkan sang istri ke rumah kontrakan temannya.
Lalu kenapa sekarang Hanna mengatakan kalau dia melihat Ralen?
"Ralen?"
Pertanyaan bodoh memangnya selain Ralen siapa lagi istrinya.
Hanna mengangguk meski Ipul jelas tidak melihat.
"Dia berada di tempatku bekerja, datang bersama dengan seorang temannya dan sekarang sedang.."
"Tempat kamu bekerja? memangnya pekerjaan apa yang mengharuskan kamu kerja sampai tengah malam begini?" Ipul tidak percaya dengan pendengarannya hingga dia bertanya untuk memastikan.
Hanna diam sesaat terlihat ragu karena dia merasa malu dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Hanna." Ipul menegur karena terlalu lama menunggu jawaban.
"Klub malam." suara Hanna terdengar lemah.
Mata Ipul membelalak lebar, terkejut tak menyangka kalau wanita seperti Hanna bisa bekerja di tempat hiburan malam seperti itu.
"Aku terpaksa," ucap Hanna ketika tidak hanya mendengar deru napas dari sang pria.
"Kirim alamatnya," kata Ipul cepat.
Entah saat ini yang dia ingin temui istrinya atau justru ingin membawa Hanna pergi dari tempatnya bekerja.
Hanna wanita baik-baik sangat tidak pantas bekerja di tempat seperti itu, tempat yang banyak sekali didatangi pria hidung belang dengan kondisi mabuk tak jelas.
Pria itu mematikan handphonenya lantas menunggu Hanna mengirimkan alamat baru kemudian dia melangkah tergesa masuk ke dalam mobil.
Saat di dalam mobil pria itu menghubungi sang istri namun tidak di jawab karena Ralen yang sudah tertidur dengan pulas setelah bercerita panjang lebar dengan Antika.
Wanita itu benar-benar tidak mendengar suara dering handphone yang berulang kali berbunyi sedangkan Antika malah menutupi telinganya dengan bantal.
Rahang Ipul mengetat menahan marah dengan tangannya yang mencengkeram kuat kemudi mobil, dia bahkan menjadi tidak sabar untuk cepat sampai agar bisa menyeret istrinya pulang.
"Kamu keterlaluan Jelita!" geramnya dan kenyataannya dia memang ingin membawa istrinya pulang, meski sudut hatinya sedikit terusik dengan keadaan Hanna.
Wanita itu bekerja di tempat hiburan malam yang dulu bahkan sangat wanita itu takuti.
Dulu Ipul sempat membawa Hanna bertemu temannya ke tempat gemerlap itu, namun Hanna malah terus mengajaknya pulang, wanita itu takut melihat pemandangan yang ada di dalam tempat itu.
Para wanita menggerakan tubuhnya dengan sensual menggoda para laki-laki juga minuman memabukkan yang disediakan.
Sungguh saat itu Ipul bisa melihat betapa takutnya Hanna, sampai dia yang baru saja datang harus kembali pergi setelah menemui temannya yang mengundang dia datang.
Mobil yang Ipul bawa sudah berhenti di alamat yang Hanna kirimkan.
Pria itu menggelengkan kepala benar-benar tidak menyangka bahwa Hanna sungguh bekerja di tempat seperti ini.
Tidak menyangka ternyata Hanna sudah berdiri menunggu dirinya.
"Mas." panggilan Hanna membuat Ipul melihat padanya.
Ipul membuang napas kasar saat melihat pakaian seperti apa yang sekarang di pakai oleh mantan tunangannya.
Mentang-mentang seorang janda lalu mencari pekerjaan dengan asal.
Hanna ingin baru ingin berbicara saat seseorang tanpa sengaja menyenggol dirinya membuat dia kehilangan keseimbangan tapi Ipul dengan sigap menahan dirinya, mendekap pinggulnya sampai mereka kini sangat dekat, tidak ada jarak yang memisahkan tubuh mereka.
Keduanya saling tatap sangat lama lalu ketika merasa ada cahaya yang begitu menyilaukan mereka pun dengan kompak menoleh pada sumber cahaya.
"Wow ini luar biasa bukan? aku berhasil mengabadikan momen romantis," tutur Daniya yang tengah memegang handphone.
Wanita gila itu, padahal sudah di larang untuk tidak menggunakan handphone saat berada di tempat hiburan malam itu tapi dia malah dengan sengaja menggunakannya untuk mengambil gambar.
"Daniya!" sentak Ipul terperangah lalu melepaskan kedua tangannya dari tubuh Hanna.
"Dia bukan istrimu Mas?" tanya Hanna bingung.
Ipul menggeleng, "Kakak ipar, Kakak dari istriku." sahut Ipul menatap tajam wanita di depannya yang sedang tersenyum penuh arti.
Ipul tahu setelah ini Daniya akan melakukan apa yang wanita itu pikirkan.
Wanita itu sangat licik kan? diapun menyesal sempat menyukainya.
__ADS_1
"Maaf aku salah, aku kira.."
"Tidak apa-apa Hanna," sahut Ipul cepat.
Daniya tersenyum licik lalu memainkan handphone yang ada di tangannya.
"Oh Hanna namanya ya? bagaimana kalau Adik tersayangku mengetahui suaminya bermain dengan wanita malam bernama Hanna? apa yang akan dia lakukan?" Daniya berkata dengan mulut berbisanya.
Mata Ipul memicing lalu berubah menjadi tajam, "aku pastikan akan segera memasukkan mu ke dalam penjara!" Ipul membalas perkataan Daniya.
"Aku hanya mengirimkan bukti perselingkuhan suami adikku lalu bagaimana bisa aku di penjara?" Daniya tertawa mengejek.
"Karena kamu sudah dengan sengaja menabrak istriku!" kata Ipul tajam.
Sontak tawa Daniya menghilang dengan cepat, wajahnya yang tadi sangat senang berganti menjadi pucat seperti tidak ada darah yang mengaliri.
"Ak aku tidak melakukan apapun." suara Daniya kini berubah menjadi gugup, tubuhnya juga jadi gemetar dengan keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuhnya, atmosfer kebahagiaan kini berubah menakutkan bagi Daniya.
Mendapati ekspresi yang Daniya tunjukkan semakin membuat Ipul yakin kalau Daniya lah yang sudah menabrak istrinya, dia hanya tinggal menunggu orang suruhannya mendapatkan bukti dan Daniya akan segera dia tendang ke dalam penjara.
Sudut bibir Ipul berkedut menampilkan senyum yang tak kalah menyeramkan bagi Daniya.
Wanita itu tidak lagi bisa bersuara kala Ipul menunjuk tepat di depan wajahnya.
"Puaskan hidupmu sekarang karena sebentar lagi kamu tidak akan bisa bebas menikmati hidup!" begitu tajam dan mengancam.
"Kamu ikut denganku." Ipul berbicara pada Hanna yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara.
"Hanna!" sentak Ipul saat wanita itu malah diam melamun.
Hanna terkesiap lalu dengan cepat mengikuti pria yang sudah melewati pintu penjagaan.
Hanna mengira mungkin sekarang giliran dialah yang akan mendapat kemarahan dari Ipul karena sudah memberi informasi yang salah.
__ADS_1
\*\*\*\*