
Ipul melihat tatapan Ralen yang semakin garang dan ganas pun malah menahan tawa, dia yang tadi merasakan nyalinya sedikit ciut malah jadi gemas dengan letupan emosi yang mungkin sudah diujung kepala sang istri.
"Katakan dengan jelas! aku tidak suka berpikir hanya untuk menjawab pertanyaan yang aku tanyakan sendiri!" sentak Ralen menunjukkan seberapa kadar emosi yang sudah berkuasa didalam dirinya.
"Jangan tertawa!" tambah Ralen lagi mendapati suaminya menahan tawa seperti yang senang mempermainkan emosi dirinya.
Ipul mengedikkan bahu, "aku tidak sedang tertawa, apa kamu melihat bibirku melebar?" tanya pria itu menunjukkan bentuk bibirnya yang memang tidak sedang tertawa seperti kata Ralen.
"Kamu memang tidak tertawa tapi kamu menahan tawa! kamu mengejekku? jangan buat aku murka!" bentak Ralen dengan hidung yang kembang kempis.
"Hidungmu itu loh." Ipul malah dengan tenangnya menoel hidung sang istri yang di tepis dengan kasar oleh tangan lentik istrinya.
"Iiishhh!" mata Ralen melotot seram seperti memberi peringatan pada pria yang malah makin menjadi mengerjai dirinya, kesenangan melihat dirinya terpancing dengan kelakuannya.
"Jangan buat aku marah!" sentak Ralen tegas dengan jari tangan yang menunjuk tepat pada hidung mancung suaminya.
Iya, hidung mancung dengan bentuk yang sempurna dan itu terpaksa harus Ralen akui karena memang kenyatannya bentuk hidung dari suaminya itu memang sangat bagus dan proposional untuk menjadi pelengkap yang sempurna di wajah sang suami.
Sekarang gantian Ipul yang menyingkirkan tangan Ralen dari hidungnya namun dengan cara yang lembut, "aku sudah terbiasa melihat kamu marah, bukankah pertemuan pertama kita kamu juga marah-marah?" menatap wajah istrinya lalu kembali menyambung ucapannya, "lagian sejak tadi pun kamu juga sudah marah, Jelita."
Sungguh Ipul masih sangat tenang meladeni istrinya yang terlihat lebih emosi, mungkin karena wanita itu sedang berada pada fase mood yang tidak stabil? sedikit senggolan saja sudah membuat darahnya naik dan memancing emosi dalam dirinya.
Ralen mengedutkan ujung bibir sebelah kiri tempat tahi lalat kecilnya berada membuat pria di depannya malah jadi gemas melihat tingkahnya itu.
"Aku suka ini." celetuk Ipul menunjuk titik hitam di atas bibir sang istri.
Ralen menggerakan kepala bermaksud untuk menjauhkan bibirnya dari jangkauan sang suami menyebalkan.
"Jangan bergerak, Jelita," berkata frustasi ketika apa yang dia sukai malah tidak boleh dia sentuh.
"Kalau kamu masih tidak mau bilang apa yang kamu lakukan bersama Daniya, aku akan terus bergerak tidak akan aku biarkan kamu menyentuh tahi lalat ku ini!" sentak Ralen memberikan ancaman yang sontak membuat Ipul mendengus kesal.
Pria itu membenarkan posisi duduknya yang tadi berhadapan dengan sang istri jadi menghadap ke arah depan, pada meja kerjanya yang sudah memamerkan tumpukan berkas yang seharusnya dia tandatangani seraya melipat kedua tangan di dada.
"Aku katakan tapi janji setelah ini kita akan ke lantai 9, bagaimana?" malah dengan enaknya memberikan penawaran.
"Lantai 9?" tentu Ralen sangat ingat dengan lantai 9 itu, lantai yang membuat dia akhirnya terikat dengan pria tampan di depannya ini walaupun tragedi sebenarnya terjadi di hotel namun lantai 9 itulah yang menjadi awal permulaan dari segala hal yang akhirnya mengubah hidupnya.
__ADS_1
"Iya." Ipul memainkan alisnya naik turun, terlihat sangat jelas apa yang pria itu pikirkan saat ini.
"Kamu katakan sekarang atau nanti malam kamu jangan tidur denganku!?" Ralen malah mengeluarkan ancaman.
Dia tidak akan mau masuk perangkap, sangat jelas bahwa suaminya itu ingin bernostalgia dengannya diruangan keramat itu namun kondisinya saat ini tidak tepat dia sedang tidak mood untuk bernostalgia, dia sedang kesal suasana hatinya sangat buruk tidak akan mungkin dia bisa ehem-ehem dengan suaminya.
Ipul menjatuhkan tubuhnya di sofa, seluruh persendiannya mendadak lemas tak bertenaga mendengar ancaman yang terlontar dari mulut sang istri.
Ralen bersikap tenang melirik suaminya, "keputusan ada padamu Mas Sai, mau bicara sekarang atau tidur di kamar lain?" ketus Ralen.
"Jangan terlalu kejam pada suamimu sendiri, Jelita, aku ini sedang sakit bagaimana bisa kamu memintaku tidur di kamar lain." Ipul mengeluh tak terima.
"Kamu cuma tinggal katakan saja lalu masalah selesai, sangat simpel Mas Sai!" sentak Ralen.
Ipul diam dengan bibirnya yang dibuat mengerucut, sungguh sangat terlihat tidak pantas dengan bentuk tubuhnya yang gagah itu.
"Hanya ciuman saja dengannya, tidak ada yang lain," aku Ipul.
Ipul mencebikkan bibir lalu mengangguk.
"Tidak ada masalah kan? itu biasa dilakukan oleh orang-orang bule."
"Kamu bukan bule!" bentak Ralen tak terima suaminya mewajarkan apa yang dia perbuat.
"Tapi saat itu aku berada di negara bule dan jelas lingkungan pun lingkungan mereka serta pergaulan mereka," beber pria tidak menganggap hal yang dia lakukan itu penting untuk dibicarakan toh semua orang juga pernah melakukan itu mau punya hubungan atau hanya sekedar TTM saja.
__ADS_1
Ralen merengut lalu mengubah posisi duduk membelakangi suaminya.
"Kamu marah? tadi kan kamu yang tanya dan minta aku jawab tapi kenapa sekarang kamu malah marah?" Ipul menjadi heran dengan sikap istrinya.
Wanita itu yang bertanya dan memaksanya untuk menjawab namun setelah diberikan jawaban malah ngambek begitu.
Apa setiap wanita memang senang mencari masalah dengan pasangannya?
"Tidak terjadi apapun setelah itu Jelita, itu murni karena kami terbawa suasana malam tahun baru, apalagi kami berada ditengah-tengah pasangan yang saling berciuman, aku seorang lelaki yang punya nafsu tentu akan merasakan getaran yang akhirnya membimbingku untuk melakukan itu padanya," Ipul memberi penjelasan.
"Tapi kalian saling suka." lontar Ralen.
"Itu dulu kita sudah pernah membicarakannya jadi sekarang tidak perlu membahasnya lagi," ujar Ipul seraya menarik tubuh sang istri yang tengah merajuk.
"Sudah ya tidak perlu membicarakan Kakakmu lagi hanya akan membuat kita bertengkar.."
"Dia bukan Kakak ku!"
"Oke fine, dia bukan Kakakmu." Ipul berkata lembut mengiyakan apa yang istrinya katakan.
Ralen bergeming ketika suaminya merangkulnya lalu memberikan kecupan seperti tengah mendamaikan hatinya yang resah karena pertemuan serta permintaan tak masuk akan dari Daniya, dia bahkan tidak mengatakan apapun pada suaminya tentang pertemuannya dengan Daniya, memilih untuk menyimpannya sendiri.
__ADS_1
****