
Zara menyusuri lorong rumah sakit tempat Om Irman di rawat, dia ingin berbicara dengan Tante Riska tentang Ipul, bahkan dia menitipkan Achnaf pada mertuanya sedangkan tadi dia diantar oleh suaminya.
Sungguh sebagai seorang wanita dia tidak bisa membiarkan hal yang tidak diinginkan sampai terjadi, bagaimana kalau sampai perbuatan Ipul itu menghasilkan seorang bayi? lalu Om Irman belum juga terbangun dari komanya? bukankah itu akan membuat seorang wanita menjadi hancur?
Semalaman dia sudah memikirkan hal ini, dia berjanji untuk tetap merahasiakan perbuatan Ipul agar tidak membuat keluarganya kecewa dengan kelakuannya yang sungguh tidak bisa dipercaya oleh siapapun yang mengenalnya.
Seorang Saipul Gunawan yang sejak dulu terkenal dengan kesopanannya dalam memperlakukan wanita malah dengan tidak waras nya meniduri wanita yang tidak berdaya.
"Assalamualaikum, Tante," Zara membuka pintu setengah dan mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam, masuk Za," Sahut Tante Riska dengan sedikit senyum yang tersungging di wajahnya.
Wanita itu tengah duduk di samping tubuh suaminya yang layaknya orang sedang tidur hanya saja banyak sekali alat medis yang terpasang di tubuhnya.
Zara membuka pintu lalu perlahan masuk dan kembali menutup pintunya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik.
"Kamu sendiri?" tanya Tante Riska ketika Zara mengecup punggung tangannya.
"Iya Tante, tadi di antar Mas Davi," jelas Zara sambil menatap pria yang sepertinya belum ada kemajuan, masih setia dengan tidurnya padahal semua orang terutama istri dan anaknya tengah menanti dia bangun.
"Achnaf?"
"Achnaf Zara titip sama Mama," jawab wanita yang memakai kulot serta kemeja membentuk body yang dia masukkan ke dalam kulot nya.
Riska mengangguk-angguk kepalanya dengan jawaban yang Zara berikan.
"Tante," panggil Zara.
"Ya?"
"Zara mau bicara sama Tante boleh?" tanya Zara dengan tatapan penuh harap.
"Boleh dong, mau bicara apa memangnya?" Riska menatap sedikit bingung dengan ekspresi yang Zara tunjukkan, ekspresi wajah yang menggambarkan kalau ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
"Kita bicara di luar boleh Tante? biar nanti Zara minta suster untuk jaga Om sebentar," tutur Zara yang makin membuat kening Riska berlipat karena rasa bingung sekaligus penasaran yang membaur jadi satu, karena Zara tidak biasanya seperti ini, sudah pasti ini memang sangat penting untuk dibicarakan, pikir Riska yang lalu mengiyakan permintaan istri dari keponakannya itu.
"Ya sudah," jawab Riska.
Zara segera memanggil suster untuk menggantikan sang Tante menjaga Om Irman, sedangkan mereka pergi ke kantin rumah sakit berbicara sambil makan siang karena Zara sangat yakin Tantenya itu pasti belum makan siang.
******
"Gue lagi males kerja kenapa malah bawa gue kesini?!" Ralen terlihat tidak senang ketika tadi Ipul malah menyeretnya masuk ke dalam ruangan milik pria itu yang sudah tidak ditempati.
"Disini kan Lo nggak gue suruh kerja, cuma duduk doang," kata Ipul yang memang sejak tadi membiarkan Ralen duduk di depannya sedangkan dia sendiri sibuk dengan laptop yang ada di depannya.
Tadi dia meminta Om Damar untuk mengambilkan laptop miliknya yang berada di ruangan sang Papa di lantai 5 yang sekarang ini sudah menjadi ruangannya, entah hanya sementara atau mungkin selamanya andai Papanya ketika sadar sudah tidak mau lagi kembali ke kantor.
"Tapi tetap saja gue ada di kantor," celetuk Ralen.
"Terus kenapa memangnya kalau tetap di kantor? nggak suka?"
Ipul mengalihkan matanya dari layar laptop untuk menatap wanita di depannya yang tidak tahu kenapa seperti magnet bagi tubuhnya yang seperti ingin kembali mendekat tanpa ada jarak yang memisahkan seperti saat di tangga darurat tadi.
"Gue males kerja juga males ada di kantor, kepala gue sakit setiap kali lihat.."
"Lihat gue?" sela Ipul dengan pemikirannya tentang Ralen yang sakit kepala karena dirinya.
__ADS_1
Ralen mengatupkan bibirnya tidak membantah ataupun mengiyakan pertanyaan pria di depannya yang sekarang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Entah tatapan macam apa yang Ipul berikan terhadap wanita yang saat ini seperti tengah menjaga diri dari tindakan apapun yang tidak dapat di tebak.
Ralen mendekap tasnya ke dalam pelukan dengan begitu kencang dengan kedua mata yang mengawasi sang pria, berjaga-jaga andai terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan, bukankah pria di depannya ini bisa melakukan apa saja?
"Lo nggak sadar sama omongan Lo? dan setelah yang terjadi pun Lo masih nggak bisa mikir kalau nantinya Lo bakal terus lihat gue, lihat wajah gue bahkan saat Lo bangun tidur pun wajah gue yang pertama kali akan Lo lihat," papar Ipul mengingatkan kalau mereka akan menjadi suami istri dan berharap Papanya bisa segera sadar agar dia tidak lagi menunggu.
Ralen hanya bisa menggigit bibir mendengar apa yang terjadi terhadap mereka berdua nantinya, memang benar setelah semua yang mereka lakukan, ah tidak bukan mereka tapi Ipul lakukan, Ralen tidak akan bisa menolak untuk dinikahi karena biar bagaimanapun pria itu yang sudah merenggut kehormatannya dia tidak mau di cap sebagai wanita murahan nantinya andai sampai menikah dengan pria lain dalam keadaan tak lagi utuh.
Ralen semakin tidak nyaman dengan tatapan yang Ipul berikan padanya, tatapan intens yang seakan menembus tubuh lalu menelanjangi perasaan hatinya hingga membuat jantungnya berdebar tak terkendali.
Sampai ketika suara handphone Ralen kembali berbunyi mengakhiri tatapan mata Ipul kepadanya namun kini telinga Ralen malah mendengar tarikan napas yang begitu kencang seolah sang pemilik napas tengah merasakan sesak yang teramat sangat, bahkan Ralen bisa melihat melalui ekor matanya kalau sekarang Ipul mengendorkan dasi yang pria itu kenakan.
Wanita yang merasakan suasana ruangan itu mulai sangat berbeda pun mengambil handphone guna melihat siapa sang penelepon yang seperti menjadi penyelamat baginya dalam suasana sedikit menakutkan tadi.
"Angga lagi, siapa dia sebenarnya?" suara Ipul membuat Ralen terhenyak kaget, dia tidak menyangka kalau pria itu sudah berada di dekatnya, sejak kapan pria itu pindah?
"Nggak tahu," jawab Ralen.
"Nggak tahu tapi bisa-bisanya Lo simpan nomor dia, Lo berharap gue percaya?" Ipul duduk di meja depan Ralen dengan tatapan menusuk.
"Gue nggak suka di bohongin," tambah Ipul lagi dengan intonasi biasa namun di telinga Ralen malah terdengar seperti sebuah peringatan.
"Bohong apa sih, gue memang nggak tahu siapa dia ketemu juga baru sekali," ketus Ralen tidak mau disudutkan.
"Ketemu sekali tapi udah simpan nomornya sedangkan nomor gue Lo blok tiap saat!" Ipul berkata sinis mengingat nomornya yang kerap kali Ralen blokir setiap mereka bermasalah, merasa tidak terima.
"Kan Lo bikin salah sama gue," sahut Ralen.
Ipul memutar bola matanya mendengar jawaban Ralen, dia seorang laki-laki jadi sebenar apapun dia akan tetap salah di mata wanita terutama seorang Ralen, terlebih lagi dia sudah melakukan kesalahan yang besar pada wanita itu.
"Waktu Lo ajak gue ke pesta waktu itu," jawab Ralen sedikit ragu sebab dia merasakan aura yang tidak enak saat ini.
"Pergi sama gue tapi kenalan sama cowok lain, Lo bercanda?" Ipul menggeleng tak percaya lalu teringat pada pria yang sempat dia lihat bersama Ralen saat dia sedang bersama dengan Davi.
"Sini handphone Lo!" meminta benda yang ada di tangan Ralen.
"Buat apa?"
Ralen bingung kenapa pria songong ini malah berubah menjadi pria menakutkan, tatapan matanya juga ekspresi wajahnya menggambarkan betapa pria itu memendam emosi.
Ipul tak menjawab lalu mengambil handphone dari tangan Ralen dengan paksa, "buka," pintanya saat handphone Ralen ternyata di kunci.
Ralen mengulurkan tangan untuk membuka kunci pengaman dan sesaat kemudian layar handphone pun terbuka.
Ipul segera memblokir nomor pria bernama Angga itu agar tak lagi bisa menghubungi wanita yang akan dia nikahi.
Sungguh dia tidak suka apa yang akan menjadi miliknya malah di ganggu orang lain, membuatnya tidak bisa membendung lagi kekesalan dan menahan emosi yang memanasi seluruh tubuhnya.
Ralen melongo dengan wajah polos tak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Ipul, yang dia tahu hanyalah pria di depannya itu kini malah mendekat padanya mengukungnya terpenjara di atas kursi yang dia duduki membuat dia tidak bisa kemanapun.
Semuanya terjadi begitu saja, sungguh bagaikan sebuah kilatan petir yang menyambar dengan cepat dan menghanguskan benda yang terkena sambarannya, percikan-percikan api malah makin membara di kedua bola mata hitam sang pria saat mendaratkan sentuhan demi sentuhan.
__ADS_1
Entah bagiamana caranya kini kedua insan itu malah sudah berada di dalam ruang istirahat yang sempat mengunci mereka berdua.
Nyatanya nafsu seorang manusia tidak bisa terkendali ketika sudah merasakannya sekali, selalu ingin mencobanya lagi dan lagi, dan sekarang keduanya sama-sama dalam keadaan sadar hanya saja terlalu larut dalam rasa yang sulit di bendung hingga akhirnya malah mengulang apa yang pernah terjadi.
\*\*\*\*\*\*
"Apa ini yang terbaik?" Tante Riska menatap Zara.
Mereka berdua masih membicarakan Ipul, dengan Zara yang menyarankan untuk segera menikahkan Ipul dengan Ralen.
Zara sudah memikirkan ini sejak semalam sebab dia yakin seorang pria jika sudah merasakan sekali pasti akan selalu mengingatnya dan ingin mengulangi lagi hingga akhirnya ketagihan dan Zara jelas tidak mau kalau sampai Ralen hamil sebelum menikah.
Meski belum mengenal siapa Ralen tapi dia sebagai seorang wanita tentu tidak akan pernah mau hamil di luar nikah dan memalukan keluarga.
"Sangat baik Tante, biar Ipul ada yang ngurus kan perusahaan sekarang dia yang pimpin lagian Tante juga jadi bisa fokus sama Om, nggak perlu mikirin Ipul karena akan ada yang ngurus dia," terang Zara seraya menatap wanita yang wajahnya tampak tidak lagi ceria seperti dulu.
"Tapi kasihan Ipul kalau menikah tidak ada pesta, dia juga pasti ingin mengundang teman-temannya Za," kata Riska.
"Ipul laki-laki Tante dia tidak akan memikirkan hal itu, Tante cukup mengenal anak Tante sendiri sejak dulu Ipul itu tidak suka dengan pesta bahkan saat ulang tahun saja kan dia tidak pernah mau di rayakan padahal Tante memaksa, lagian dulu Zara dan Mas Davi juga hanya menikah saja kok tidak ada pesta apa-apa yang penting kan sah, kasihan juga Ipul Tante nanti keburu tua," kata Zara mengumbar cengiran membuat Tante Riska tertawa mendengarnya.
"Yah sepertinya ini memang yang terbaik, Ipul itu memang sudah mendekati tua belum lagi sudah harus menangani perusahaan, makin tua lah dia, nanti Tante akan bicarakan dengan Ipul, tapi Za.."
Riska terlihat memikirkan sesuatu.
"Tapi apa Tan?" tanya Zara.
"Bagaimana dengan keluarga Ralen, apa mereka akan setuju?"
__ADS_1
"Soal itu biar Zara yang bicara sama Ralen Tan, Tante terima beres aja," sahut Zara memberikan senyuman agar wanita di depannya ini tenang dan tidak lagi pusing memikirkan masalah Saipul.
*********