Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Tidak Jawab Telepon


__ADS_3

"Lo kesini udah ngomong belum?" cecar Tika ketika Ralen muncul di kontrakannya saat sore hari, sepertinya temannya itu baru pulang kuliah dan tidak pulang dulu langsung datang menemui dirinya.


"Udah," sahut Ralen singkat.


"Sama siapa?" Tika mengecilkan matanya menandakan dia sedikit curiga dengan cara Ralen menjawab pertanyaannya, hanya singkat dan sedikit gurat tidak yakin yang terpampang jelas.


"Eemm," Ralen mengatupkan bibirnya terlihat bingung memberikan jawaban.


"Laki Lo nggak tahu ya Lo nggak pulang ke rumah abis kuliah?" tebak Tika yang sudah bisa membaca kalau temannya itu belum meminta izin pada suaminya.


Ralen menggeleng, "tadi izin sama Mama mertua doang," aku Ralen akhirnya.


"Ih si dodol, bukannya izin sama laki Lo juga, nanti tahu-tahu dia telepon dah kayak waktu itu," oceh Tika mengingat dengan baik bagaimana Ralen yang mendadak di telepon oleh suaminya dan langsung menyuruhnya untuk pulang padahal saat itu mereka sudah janjian untuk nonton film di bioskop, tapi akhirnya gagal membuat Tika juga tidak bersemangat untuk nonton kalau hanya sendiri saja.


"Dia di telepon nggak jawab-jawab, gue udah telepon dari sebelum beres kuliah Tik, tapi dia nggak ada respon pesan gue juga nggak di baca, nggak tahu dia lagi ngapain sekarang sampai gue susah banget buat ngomong sama dia," keluh Ralen tentang apa yang dia hadapi sekarang.


Dari masih berada di kampus dia sudah menghubungi suaminya itu, artinya dari sekitar jam setengah dua dia sudah mencoba menghubungi sang suami dan menghubungi pria itu lagi tepat setelah kuliahnya selesai tapi sama saja teleponnya tidak tersambung bahkan pesan yang dia kirimkan juga tidak ada tanda-tanda sudah di baca.


"Ngurusin apaan sih laki Lo? kayaknya sibuk banget sampai di telepon aja juga susah," celetuk wanita yang mengenakan celana pendek sebatas lutut.


Ralen mengedikkan bahu tidak tahu itu sebagai jawaban atau memang dia hanya sedang bingung memberi jawaban karena yang dia tahu suaminya memang mempunyai masalah dengan salah satu anak perusahaan yang ada di Batam dan harus diselesaikan dengan baik dan benar agar tidak ada pemecatan massal yang merugikan banyak karyawan yang selama ini bergantung pada perusahaan yang sudah menjadi tanggung jawab suaminya.


"Perusahaannya lagi bermasalah Tik," akhirnya Ralen mencoba membela suaminya didepan sang teman.


"Bermasalah kayak apapun kan seenggaknya masih punya waktu buat jawab telepon dari istrinya, nggak punya pikiran apa gimana sih itu laki Lo?!" Tika terlihat malah makin kesal dengan suami dari temannya.


"Gue curiga deh.." Tika tidak melanjutkan perkataannya membuat Ralen menatapnya bingung dan rasa penasaran yang tak terhingga tentang kecurigaan apa yang sekarang ada di pikiran Tika.

__ADS_1


"Curiga apa? Lo jangan bikin gue penasaran deh!" omel Ralen tak terima Tika tidak menyelesaikan perkataannya seolah sengaja membuatnya sangat penasaran.


"Nggak jadi," sepertinya Tika memilih untuk tidak mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya ketimbang membuat temannya malah jadi takut karena hal yang dia katakan.


Ralen menarik napas lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur busa yang dulu sering kali menjadi tempatnya bergelung ketika menginap di kontrakan sang teman.


"Tik," panggil Ralen kepada sang teman yang sekarang beranjak ke dapur guna memasak mie instan.


"Lo mau mie rebus apa goreng? biar sekalian gue masakin," tawar Tika, sepertinya wanita itu tidak mendengar Ralen memanggilnya.


"Rebus aja," sahut Ralen beranjak dari tidurnya menyusul Tika yang sedang meletakkan panci berisi air ke atas kompor yang kemudian apinya dinyalakan.


"Tik," Ralen memanggil lagi sambil memainkan bungkus mie instan.


"Apa sih Len?" Tika membiarkan air di dalam panci mendidih baru dia akan memasukkan sayuran serta telur sebagai pelengkap.


"Kira-kira mimpi bisa jadi kenyataan nggak?" Ralen mempertanyakan hal yang membuat Tika menautkan kedua alisnya.


"Suami gue berduaan sama perempuan," Ralen menjelaskan sebagian apa yang dia lihat di dalam mimpinya.


"Berduaan bukan berarti selingkuh Len, Lo jangan mikir yang aneh-aneh deh," pinta Tika, tadi dia sudah mencoba untuk tidak mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya, eh bisa-bisanya malah Ralen sendiri yang mengatakan hal itu dari mimpi yang dia alami.


"Tapi mimpinya berkali-kali Tik, kalau cuma sekali mungkin gue anggap itu cuma bunga tidur dan gue nggak akan mikirin itu sampai gue nggak bisa tidur, itu kayak nyata Tik, orang-orang bilang kalau mimpinya berulang itu suatu pertanda," papar Ralen dengan wajah yang terlihat murung.


Antika memasukkan sayuran ketika air di dalam panci sudah mendidih, "pertanda apa? suami Lo selingkuh? ada main sama perempuan lain?" Tika memandang sengit Ralen, "kalau dia berani gue bakal bawa kabur elo Len, nggak bakal gue biarin elo ketemu sama laki lo lagi!" kata Tika sengit, tidak mengerti apakah itu sekedar ancaman belaka atau memang akan dia wujudkan ketika melihat temannya tersakiti, yang jelas sebagai teman dia tidak akan membiarkan Ralen kecewa oleh siapapun.


Biar Ralen ngeselin tapi tetap saja, Ralen lah satu-satunya teman yang selalu ada saat dia membutuhkan bantuan, Ralen lah yang kerap menghiburnya saat dia sudah sangat jenuh dengan pekerjaan.

__ADS_1


Ralen tersenyum tipis lalu merangkul lengan sang teman sambil mengutarakan kalimat pujian atas kebaikan temannya itu.


"Lo emang teman terbaik yang gue punya," tutur Ralen bergelayut manja layaknya anak kecil.


"Ya karena teman Lo itu cuma gue, yang lain nggak ada yang cocok temenan sama elo!" sentak Antika menaikkan sudut bibirnya.


"Iish ngeselin Lo, nggak bisa di puji sedikit aja langsung sifat ngeselin nya muncul tanpa kendali," papar Ralen seraya melenggang pergi meninggalkan temannya yang kembali sibuk dengan rebusan mie instan.


"Dikirain mau bantuin masak mie taunya cuma curhat nggak jelas!" sungut Tika mematikan kompor ketika semua yang ada di dalam panci sudah matang.


"Jangan ketawa Lo!" hardik Tika ketika mendengar Ralen malah cekikikan di dalam ruang depan sana.


"Nih makan," kata Tika sambil membawa dua mangkok mie instan yang asapnya mengepul menandakan kalau mie instan di dalam mangkok itu masih sangat panas, jadi siapapun harus berhati-hati saat memakannya.


Tapi kemudian malah terdengar suara teriakan dari mulut Ralen yang tangannya tak sengaja tersiram kuah panas dari dalam mangkok karena tangannya yang meleset saat akan menerima mangkok yang di berikan oleh Tika.


"Panas-panas!" seru Ralen merasakan tangannya melepuh, mungkin.


"Ke kamar mandi cepetan," Tika menarik tangan Ralen ke arah kamar mandi lalu menyiram tangan yang terkena kuah panas itu dengan air dingin menggunakan gayung.


Ralen menatap nanar tangannya yang sudah kemerahan akibat kuah yang masih sangat panas tadi.


"Mikirin apaan sih Lo Len?!" omel Tika sambil memperhatikan tangan temannya itu.


"Udah nggak panas Tik," bukannya menjawab pertanyaan dari temannya malah mengatakan kalau dia sudah tidak merasakan panas.


Kedua wanita itu beranjak kembali ke ruang depan dengan Ralen yang menatap tangannya, tidak tahu kenapa dia menjadi tidak fokus pada apapun, tadi saat mengambil mangkok yang Tika berikan dia memang sedang memikirkan hal tak jelas tentang suaminya yang tidak juga menghubungi dirinya.

__ADS_1


Apa yang sedang pria itu lakukan membuat Ralen bertanya-tanya dalam hatinya, sampai akhirnya tangannya yang tidak bersalah apa-apa malah menjadi korban.


\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2