Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Pagi hari Ralen sudah di buat bingung dengan permintaan Mama mertuanya, bukan masalah tentang seberapa paginya wanita itu meminta di antar untuk ke pasar tapi tentang betapa memaksanya sang Mama mertua ingin di bonceng motor olehnya.


Sungguh Ralen sudah sangat dilema, suaminya melarang tapi mertuanya begitu ngotot dengan kemauannya, Ralen bahkan sudah dengan sengaja berlama-lama di dalam kamar dengan alasan bersiap-siap padahal dia hanya sedang memutuskan harus bagaimana.


"Ralen," suara panggilan untuk kesekian kalinya membuat Ralen menghela napasnya dengan jantung yang tidak bisa diam, berdebar sangat-sangat keras dan cepat.


"Semoga aja tidak ketahuan," katanya yang akhirnya mengambil keputusan menuruti permintaan Mama mertuanya.


Sungguh dia sangat terpaksa melakukan kebohongan ini kepada suaminya, tidak mau juga mereka yang baru berbaikan malah menjadi kembali bertengkar kalau sampai dia tidak mendengarkan perintah suaminya untuk tidak membonceng sang mertua dengan motor yang baru di belikan oleh suaminya.


"Mama jangan bilang sama Mas ya," cicit Ralen ketika sudah bersiap mengeluarkan motor dari dalam garasi.


Mama Riska mengangkat jempolnya lalu berkata dengan sangat yakin, "Mama nggak akan bilang sama Mas kamu itu, lagian kalau Mama bilang Mama juga pasti kena marah sama dia Len," aku Riska pada sang menantu.


Ah sudah tahu pasti kena marah tapi kenapa masih sangat bersikeras ingin naik motor. tidakkah dia khawatir dengan keadaan menantunya kalau hal ini sampai diketahui oleh anak galaknya yang menjadi lebih protektif terhadapnya setelah kepergian suaminya.


"Mama pakai helm nya," sela Ralen kala mertuanya malah sudah ingin naik ke atas motor, mertuanya ini malah seperti anak kecil yang tidak sabar untuk di ajak jalan-jalan dengan motor.


Riska pun mengambil helm dari tangan sang menantu lalu memakainya.


"Walaupun dekat harus tetap pakai helm biar aman," jelas Ralen mengingatkan mertuanya yang sudah duduk di atas motor dengan helm di kepala.


"Kamu ini mirip sama suami kamu," celetuk Riska dan Ralen menoleh dengan kerutan di keningnya.


"Cerewet, hihi," cetus Riska sambil tertawa.


Kedua wanita itu ternyata cepat sekali akrabnya, mungkin kalau orang lain melihat akan mengira bahwa mereka ini anak dan ibu atau karena saking akrabnya, tanpa menduga bahwa mereka hanya menantu dan mertua yang bahkan baru saling mengenal dalam hitungan hari saja.


"Loh?" saat akan mencapai pagar rumah dua orang penjaga serta supir malah tampak begitu kaget mendapati Riska yang sudah duduk di boncengan motor Ralen.

__ADS_1


Jelas mereka sangat tahu tentang larangan anak dari pemilik rumah hingga sekarang wajah mereka tampak begitu bingung.


"Suuuutttt."


Riska menempelkan jari telunjuknya ke depan bibir, memberi kode agar tidak mengatakan apapun pada anaknya.


"Anggap kalian tidak tahu apa-apa," katanya dengan tenang padahal menantunya terus saja menampilkan wajah tegang dengan berulang kali menggelengkan kepalanya berharap hal seperti ini tidak akan pernah terulang kembali.


Ketiga pria itu akhirnya pasrah memilih untuk menuruti permintaan sang nyonya besar dalam rumah itu lalu dengan keterpaksaan membuka pagar tinggi agar motor bisa keluar.


Sepanjang jalan menuju pasar Ralen begitu hati-hati membawa motornya, dia juga susah payah mengendalikan tangannya yang terus saja bergetar, dia yang sudah sangat pandai mengendarai motor dalam sekejap seperti orang yang baru belajar motor, dapat terlihat jelas dia sangat tegang membonceng Mama mertuanya yang malah sangat berkebalikan dengannya.


Wanita di belakangnya terus saja bersuara mengomentari jalanan yang mereka lalui serta menghirup sejuknya udara pagi, sungguh seperti anak kecil.


Ralen diam-diam melihat melalui kaca spion wajah sang mertua yang jauh lebih baik dari hari-hari kemarin, senyumnya mengembang baik menunjukkan betapa ada rasa bahagia karena akhirnya bisa naik motor yang selama ini selalu mendapat larangan oleh anaknya.


Ralen pun akhirnya turut mengulas senyum lalu berpikir kalau tidak ada salahnya sesekali melakukan hal ini, menuruti keinginan sang mertua toh dia tidak mungkin mencelakai ini dari suaminya kan? dia akan sangat hati-hati membawa motor bahkan dia yang biasanya selalu membawa motor dengan kecepatan tinggi kini berubah menjadi seperti seekor siput, lambat asal selamat.


Di Batam Ipul dengan Damar tengah memeriksa semua berkas yang bermasalah, kontrak kerjasama tak ada satupun yang memberi keuntungan bahkan malah semuanya memberatkan.


Ipul menghela napas panjang lalu mengacak rambutnya, pusing dan lelah begitu dia rasakan membuat dia kini hanya mengurut pangkal hidungnya lalu bergerak ke arah kelopak mata yang beberapa hari ini kurang tidur membuatnya benar-benar terasa berat untuk di buka.


"Kopinya Pak." sang sekretaris yang turut serta ikut ke Batam pun membawakan kopi untuk atasannya yang sejak datang ke Batam sudah langsung di suguhi dengan banyaknya berkas proyek yang tak jelas.


"Terimakasih," ucap Ipul melihat pada sang sekretaris yang tersenyum sumringah.


Damar melirik pada tingkah sekretaris yang penampilannya sedikit mulai berlebihan, roknya dari hari ke hari malah semakin pendek saja dan juga bibirnya di buat begitu merah menyala seperti sedang menantang siapa saja yang melihat untuk.. Damar tidak mau melanjutkan pikirannya yang sudah mulai butek sejak kedatangan mereka ke Batam.


Setelah meminum sedikit kopinya Ipul kembali memeriksa berkas yang menumpuk, membolak-balik berkas-berkas itu membaca serta menelitinya dengan cermat dan seksama tidak boleh melewatkan satu baris atau bahkan satu kata pun agar dia bisa memahami apa yang terjadi dan harus dia lakukan.

__ADS_1


"Om," panggilnya pada sang Asisten yang memang sejak dulu dia panggil dengan sebutan Om tidak akan berubah sampai kapanpun sebab dia menaruh hormat dan kepercayaan karena selama ini Damar sudah mendampingi Papanya dengan sangat baik.


Damar mendekat ketika Ipul menunjuk salah satu berkas yang isinya sangat tidak sesuai dan meminta Damar untuk ikut membaca serta memastikannya.


Kedua lelaki itu kemudian membaca lembar demi lembar dengan seksama.


"Atur rapat satu jam lagi," kata Ipul pada sekretaris yang sejak tadi duduk di sofa seraya memeriksa tab untuk memeriksa berbagai email yang masuk.


"Baik Pak, jawab Sarah dengan cepat, lalu wanita itupun gegas keluar dari ruangan menuju meja kerja untuk menghubungi semua para petinggi perusahaan agar menghadiri rapat yang diadakan satu jam lagi.


Rapat mendadak yang jelas saja membuat semua orang jadi harus bersiap dengan cepat.


Di Jakarta Ralen masih menemani Mama mertuanya berkeliling di dalam pasar dengan wajah yang keduanya sumringah, sepertinya mertua dan menantu itu memang sangat cocok dan serasi sekali, keduanya bahkan sekarang masuk ke dalam tempat makan yang ada di dalam pasar untuk mengisi perut.


"Makanan disini enak, Mama sering sengaja nggak sarapan kalau mau ke pasar biar bisa makan disini," cerocos Riska menyeret menantunya masuk ke dalam tempat makan yang kebanyakan pelanggannya adalah pedagang-pedagang di pasar itu.


Ralen mengangguk-angguk kepalanya saja mendengar cerita dari Mama mertuanya yang jadi sangat banyak bicara dengan wajah yang berbinar, ah melihat ini rasa bersalah Ralen karena berbohong pada suaminya jadi sedikit berkurang apalagi melihat mertuanya kini memesan makanan dan mulai makan dengan lahap sambil sesekali bercerita.


Ralen merasa berbohong tidak buruk juga karena dari kebohongan itu nyatanya membantu sang mertua makan dengan baik setelah berhari-hari bahkan enggan melihat makanan dan sering kali hanya menyendok nya saja lalu hanya di aduk-aduk saja.


"Kenapa malah lihatin Mama terus?" tanya Riska ketika Ralen malah hanya melihatnya saja dan mengabaikan sepiring makanan yang sudah di pesan.


Ralen menggeleng dengan senyum lalu meraih sendok dan mengambil makanan serta menyuapkannya ke dalam mulut dengan Riska yang menatapnya menunggu reaksi darinya.


"Enak kan?" kata Riska ketika mendapati ekspresi wajah Ralen yang langsung mengerjap dan mengangguk membenarkan.


"Enak Ma," sahut Ralen.


"Tuh kan, apa Mama bilang lidah Mama tuh nggak pernah salah kalau soal makanan," celetuk Riska lalu kembali melanjutkan makannya.

__ADS_1


Keduanya begitu bersemangat makan sambil berbicara dengan selingan tawa kala pembicaraan mereka tentang hal lucu sampai tak terasa makanan mereka sudah bersih tak bersisa di dalam piring.


******


__ADS_2