
Ralen berteriak histeris sambil tangannya yang kini memukuli pria yang terus berusaha mendekap kuat tubuhnya.
Pria itu tidak peduli berapa banyak pukulan serta rontaan yang Ralen lakukan, baginya saat ini adalah mendekap wanita yang terlihat begitu menyedihkan, malang dengan segala penderitaan hati yang menguras emosi.
"Kalian semua jahat.." suara Ralen mulai melemah, terdengar sangat lirih bertanda dia yang sudah sangat lelah melakukan perlawanan berusaha untuk menyelamatkan hati dan jiwanya yang terus saja terusik dia seolah tidak diperkenankan untuk hidup bahagia.
"Sebenarnya kesalahan apa yang sudah aku perbuat sampai aku harus mengalami ini semua?"
Bertanya dalam dekapan pria yang kini sangat menyesali apa yang sempat dia ucapkan, semua ucapannya tidak pernah dia pikirkan lebih dulu akan memberi efek yang sangat fatal bagi wanita yang menyandang status sebagai istri.
Pukulan Ralen perlahan melambat sampai kemudian tangannya benar-benar terhenti dan kini hanya menggantung di samping kiri-kanan tubuhnya, namun isakan tangisnya masih tetap memenuhi kamar tempat yang seharusnya menjadi yang paling nyaman untuknya berbagi cerita apa saja yang dia rasakan kepada sang suami.
Jika sudah begini apa dia masih ingin berbagi cerita mengadukan semua yang menekan batinnya pada sang suami?
Sungguh setelah ini dia hanya ingin berada dalam hidupnya sendiri, tanpa ada orang lain apalagi pria yang menikahinya.
Dia bukan benci, dia hanya marah kenapa pria yang dia anggap bisa dia jadikan tempat untuk mengadu malah begitu kejamnya terus menuduh dirinya melakukan hal yang bahkan tidak ada dalam pikirannya.
Berulang kali bahkan Ipul mengecup puncak kepala wanita yang begitu menderita setelah apa yang terjadi lalu dia malah dengan jahatnya menambahkan derita yang mungkin tidak akan sanggup untuk diterima.
"Kamu jahat Mas," kata Ralen lirih dengan mata yang menatap kosong jendela kamar, buliran air mata masih tampak mengalir dengan lancar menetes satu demi satu hingga membasahi pakaian pria yang tengah mendekapnya.
Ipul tidak sanggup untuk menjawab, tidak mungkin mengelak sebab yang dikatakan oleh istrinya memang benar.
Dia jahat, bahkan teramat jahat untuk wanita yang dia nikahi itu, matanya pun memejam mendengarkan setiap kalimat yang Ralen lontarkan untuknya, menghembuskan napas dengan tangan yang berusaha terus mendekap tidak ada niat sekalipun untuk melepaskan tubuh wanita yang kini menampilkan luka baret serta beberapa memar yang masih terlihat dengan jelas.
Dia tahu dekapannya itu menimbulkan rasa sakit untuk sang istri, tapi dia juga tidak mau melepaskan istrinya dari dalam pelukannya, dia tidak ingin membiarkan istrinya itu terpuruk sedemikian rupa.
Lambat-laun suara Ralen tidak lagi terdengar, wanita itu tidak lagi berbicara dan hanya sesekali menarik napas panjang karena merasa sangat sesak.
Tangisan yang tadi kencang kini hanya menyisakan rintihan saja, rintihan kekecewaan yang mendalam.
Tanpa bicara Ipul mengangkat tubuh istrinya yang hanya memakai pakaian dalam, membawanya ke tempat tidur lalu merebahkan tubuh malang itu ke atasnya serta menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Kamu menyesal menikah denganku kan?"
Tangan Ipul berhenti bergerak mendengar apa yang Ralen katakan, tangannya mencengkeram erat selimut putih yang sudah menutupi sebagian tubuh istrinya.
Mata Ralen menatap sendu menandakan dia masih sangat kecewa, kecewa sangat besar yang mungkin sulit untuk disembuhkan.
"Berulang kali kamu mengatakan aku penyebab hidupmu hancur.."
Ipul menggeleng, dia sendiri tidak suka mendengar apa yang sudah dia katakan, lalu entah kenapa dia dengan entengnya mengatakan apa yang tidak ingin dia dengar.
"Jelita aku mohon ber.."
"Kenapa tidak ceraikan aku?" mata Ralen mengerjap menyebabkan air mata kembali turun.
Bahkan Ralen tidak membiarkan Ipul menyelesaikan apa yang ingin dia katakan.
Deg!!
__ADS_1
Jantung Ipul langsung berdegub keras mendengar apa yang diucapkan wanita di depannya, istrinya bertanya tentang perceraian?
Sungguh dari awal menikah Ipul tidak pernah memikirkan tentang perceraian, tapi tidak tahu kenapa saat dia marah dia selalu tidak bisa mengontrol apa yang dia ucapkan, tidak bisa mengendalikan emosi yang selalu ingin meledak dengan cepat bagaikan gunung yang meletus.
"Kumohon jangan mengatakan apa yang tidak mungkin aku lakukan Jelita, maafkan aku sudah sangat menyakiti hatimu tapi jangan menanyakan tentang perpisahan, aku tidak akan bisa," ucapnya dengan mata yang memerah, bukan merah karena amarah tapi karena kesedihan serta ketakutan Ralen akan meminta cerai.
Ralen tersenyum nanar, "aku merasa kamu permainkan," kata Ralen seraya membuang muka, menatap jendela yang sejak tadi seolah lebih menarik baginya.
"Aku benar-benar minta maaf aku tidak bermaksud," aku Ipul frustasi, suaranya menjadi sangat gelisah karena perkataan Ralen sungguh membuat dia tidak nyaman.
"Aku mau tidur," kata Ralen.
Dia tidak ingin membahas apapun lagi, dia tidak ingin berbicara dengan pria yang terus menganggap dia pembawa masalah, dia tidak ingin menangis lagi merasakan luka batin maupun fisiknya.
Ipul mengangguk lalu memaksakan senyum meskipun di dalam hati dia berdenyut teringat pertanyaan Ralen kenapa tidak menceraikan dia.
Sampai kapanpun dia tidak akan pernah menceraikan wanita yang telah memiliki tempat tersendiri dalam hatinya.
Ralen memejamkan mata sedangkan Ipul dengan telatennya mengelus rambut hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Pria itu sejak tadi duduk dengan tubuh setengah merunduk di samping wanita yang mulai terlelap.
Menangis terlalu lama membuat Ralen merasa sangat lelah, belum lagi saat dia masih berada di rumah sakit begitu mengetahui anaknya tidak bisa di selamatkan, tangisannya begitu kencang bahkan dia mencoba untuk menyerang suster yang berusaha menenangkan dirinya, beruntung ada Angga yang dengan baiknya mau membantu, memberikan semangat untuknya.
Bukankah yang dilakukan oleh Angga seharusnya dilakukan oleh suaminya?
Hal itu yang membuat Ralen kecewa tak berkesudahan belum lagi mendapati kenyataan kalau suaminya bersama dengan wanita lain saat dia sedang membutuhkannya.
"Kamu satu-satunya wanita yang akan menjadi istriku," tutur Ipul lemah lalu mengecup kening wanita yang sudah terlelap, mengecup dengan penuh perasaan, meski tetap rasa bersalah akan terus menghantuinya.
Sedangkan pria yang dia cari malah ada di ruang kerjanya, berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Cari tahu siapa yang sudah menabrak istri saya, cari sampai dapat siapapun orangnya dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya!" perintahnya dengan tegas diiringi dengan rahang yang mengeras, giginya saling beradu menimbulkan suara yang tak biasa.
Dia tidak akan diam saja mengetahui orang yang menabrak istrinya bisa bebas berkeliaran tanpa mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia lakukan.
Mau sengaja ataupun tidak dia tidak mau tahu, orang itu harus bertanggung jawab karena sudah membuat bayinya meninggal.
Ipul langsung menutup telepon lalu mencengkeram erat benda yang ada di tangannya, menyalurkan semua amarah yang tak terhingga.
****
Pagi hari saat matahari masih sangat malu-malu menampakan sinarnya, Ralen sudah mulai menggeliat di balik selimut.
Semalam tidurnya sangat gelisah terlebih lagi saat dia hanya seorang diri di dalam kamar membuat otaknya lantas berpikir yang tidak-tidak.
Memikirkan bagaimana seandainya jika dia mati saja, mungkin setelahnya dia akan merasa damai karena tidak akan ada lagi yang akan menekan batinnya.
Dia tidak akan mendengar lagi permintaan ibunya yang membuat dia berpikir dia ini bukan anak dari wanita itu, juga dia tidak akan pernah mendengar lagi suaminya menyalahkan dirinya, semua itu akan tertinggal di dunia sedangkan tubuhnya tertutup tanah.
Bukankah itu sangat menyenangkan? akan tetapi dalam sekejap pikiran buruk itu langsung dia tepis, dia tidak mau jadi manusia yang putus asa sampai harus melakukan tindakan bodoh seperti itu, otaknya masih sangat waras untuk diajak berpikir hingga akhirnya dia membuang pikiran menghabisi nyawanya sendiri.
__ADS_1
Dia menghindari masalah dunia lalu bagaimana caranya dia menghadapi dosa di akhirat? karena dia tidak akan mungkin bisa lari kan?
"Kamu sudah bangun?"
Suara lembut yang datang dari arah pintu lantas membuat Ralen menoleh, menengok pada pria yang kemarin terus menyalahkan dirinya, tapi sekarang pria itu menampakkan wajah tenang dan penuh kasih sayang juga membawa nampan berisi makanan dengan segelas susu serta air putih.
Pertanyaan itu tidak membuat Ralen membuka mulutnya, dia tidak ingin menjawab apalagi bicara pada pria yang melangkah mendekat ke arahnya.
Ralen mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya karena dia sadar saat ini dia hanya memakai pakaian dalam saja karena semalam dia sendirilah yang sudah melepas pakaiannya sendiri untuk menunjukkan seberapa banyak luka di tubuhnya akibat kecelakaan yang tidak pernah dia inginkan.
Ipul duduk di tepi tempat tidur setelah meletakkan nampan dengan makanannya ke atas meja lalu mengambil semangkuk bubur yang sudah dibuatkan oleh sang Mama.
"Dari kemarin kamu belum makan apa-apa jadi sekarang makan setelah itu aku akan mengobati luka di tubuhmu," kata Ipul mengambil sesendok bubur yang masih panas lalu meniupnya.
"Mas Angga sudah mengobati lukaku," jawab Ralen ketus dan jawabannya itu sukses membuat Ipul membeku matanya tak berkedip dengan sendok yang ada di tangannya.
Dia yang tadi meniup bubur pun terhenti lalu menatap tak percaya wanita yang baru saja mengatakan hal yang tidak mungkin.
Ipul yakin sekarang ini Ralen hanya sedang marah padanya, ingin membalas apa yang sudah dia lakukan dengan mengatakan hal yang tidak mungkin.
Yang dia tahu istrinya di bawa ke rumah sakit bukan ke rumah pria yang menjadi dosen istrinya itu, jelas yang akan mengobati luka istrinya adalah perawat atau mungkin dokter, sangat tidak mungkin kalau Angga menyentuh dan melihat tubuh istrinya.
Ipul tersenyum tipis lalu menyodorkan sendok berisi bubur yang sudah mulai hangat.
"Kenapa malah senyum? bukankah seharusnya kamu marah? kamu tidak cemburu tubuh istrimu di lihat bahkan disentuh oleh pria lain?!" sepertinya Ralen memang sengaja memancing pria yang susah payah berusaha untuk berpikiran positif tentang dirinya.
Ipul menarik napas lalu membuangnya dengan perlahan, terlihat sekali kalau dia sedang mengatur napasnya sendiri agar bisa lebih tenang dan tidak terpancing.
"Aku percaya kamu tidak akan pernah membiarkan pria lain melihat apalagi menyentuh tubuhmu," kata Ipul pelan namun penuh dengan ketegasan tatapannya juga sarat akan makna yang mendalam dengan jari-jemarinya yang bergerak untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian mata sang istri.
"Ya, karena aku memang tidak akan melakukannya, karena aku tidak akan pernah mengkhianati suamiku sekalipun suamiku mengkhianati aku tidak akan pernah membalasnya," ujar Ralen cepat dengan bibir yang bergetar.
Lihat saja kenapa dia mudah sekali untuk menangis di depan pria yang kemarin melontarkan kata menyakitkan kepadanya, pria itu benar-benar sudah berkuasa di dalam hatinya melebihi dirinya sendiri.
"Sayang.." Ipul mendekap tubuh yang mulai bergetar.
__ADS_1
Ralen ini bodoh, kenapa semenjak menikah dia jadi mudah sekali menangis padahal sebelumnya dia sangat pintar menyembunyikan kesedihan yang dia rasakan, rasanya sekarang ingin sekali memaki wanita bodoh ini, tapi tidak mungkin bisa dia memaki dirinya sendiri.
\*\*\*\*\*