Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Tidak Sengaja Bertemu


__ADS_3

"Kamu belum makan sejak semalam Jelita," omel Ipul di pagi hari ketika istrinya terus menolak makanan yang sudah dia pesan dari hotel itu, tapi wanita yang sejak menerima telepon dari Adiknya itu menunjukkan wajah yang penuh keterkejutan terusan menggelengkan kepala menolak apa yang dia katakan.


"Aku sudah kesiangan ini, nggak ada waktu ngurusin makan kamu doang." pria yang sudah berpakaian rapi itu mulai tidak sabar dengan istrinya yang duduk menatap jendela besar di kamar hotel, melihat ke arah luar tapi tidak tahu apa yang istrinya itu lihat sebab tatapan matanya terlihat kosong.


"Ya sudah kamu berangkat sana nggak usah ngurusin aku, aku bukan anak kecil yang harus di urus!" Ralen yang sejak tadi diam akhirnya membalas omelan suaminya dengan tak kalah ketus.


"Tapi kamu makan, terus jangan kabur," pinta Ipul, bukan tanpa alasan karena semalam setelah mengetahui dia memiliki seorang Kakak, wanita itu memaksa untuk pulang ke Jakarta tentu saja dia sebagai suami melarang bukan karena sudah malam tapi lebih karena istrinya itu sudah jauh-jauh datang kenapa harus pulang lagi padahal sejak kemarin dia begitu mendambakan pertemuan dengan istrinya, jelas setelah ada kesempatan itu dia tidak mungkin melepaskannya begitu saja bukan? malam-malam menyenangkan harus kembali di ulang, enak saja datang sebentar lalu mau pergi lagi.


"Kenapa sih aku mau pulang malah nggak boleh?" Ralen melihat laki-laki yang sedang memakai jas berwarna gelap.


Laki-laki itu yang semalam melarangnya untuk pulang bahkan sampai membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut lalu mendekapnya sepanjang malam agar tidak bisa kemanapun, mau ke kamar mandi untuk buang air kecil saja rasanya sangat sulit bahkan sampai akhirnya laki-laki itu mengikutinya ke kamar mandi, bertindak seperti seorang pengawal yang tidak mau kehilangan orang yang dia jaga.


"Kamu sudah jauh-jauh datang kesini lalu apa salahnya kalau kamu menemani suami mu sampai pekerjaanku selesai, cuma satu Minggu lalu kita akan pulang bersama ke Jakarta, sesimpel itu Jelita," ujar Ipul melihat wanita yang perlahan mendekat ke arahnya.


"Tapi aku ingin tahu semua tentang yang Arda katakan semalam, aku harus menanyakannya langsung pada Ayah dan Ibu, tentang siapa Kakakku dan bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau aku memiliki seorang Kakak, lalu kemana selama ini Kakakku itu," papar Ralen memberikan penjelasan tentang rasa ingin tahunya tentang kenyataan yang baru saja dia ketahui.


Semalam setelah Arda mengatakan kalau sebenarnya mereka itu tiga bersaudara dan mereka memiliki seorang Kakak perempuan yang usianya berjarak 4 tahun dengannya Ralen langsung tidak bisa berkata-kata mulutnya mendadak terasa begitu kelu untuk melontarkan kalimat pertanyaan yang seharusnya dia tanyakan, siapa nama Kakaknya itu, dimana Kakaknya itu tinggal selama ini, semuanya tidak sempat dia tanyakan karena mendadak handphone di tangannya terlepas jatuh saking terkejutnya, masih bagus dia tidak punya penyakit jantung jika punya mungkin saja sekarang dia berada di rumah sakit atau mungkin lebih parahnya lagi terbujur kaku dan siap masuk ke liang lahat.


"Kamu bisa melakukan itu setelah kita pulang, tidak kasihan kah kamu sama suamimu sendiri? beberapa hari pikiranku selalu mengingat hal kotor tentang mu, tentang yang kita lakukan sangat bagus aku bisa bertahan, apa kamu tidak berpikir kalau aku sampai tidak tahan dan berlari ke pelukan wanita lain, atau mungkin ke pelukan Dani.."


"Berhenti mengatakan hal yang membuat aku marah, Mas Sai!" sentak Ralen membungkam mulut suaminya dengan telapak tangannya.


Telinga serta kepalanya langsung sakit mendengar laki-laki yang sudah banyak sekali mendapatkan kenikmatan darinya masih saja ingin menyebut nama wanita yang dia sukai dulu.


Ayolah, istrinya mana yang tidak akan cemburu dan marah mengetahui wanita yang dulu ada di dalam hati suaminya malah kembali hadir mempertanyakan tentang perasaan, dan sekarang nama itu malah seolah di gunakan oleh suaminya untuk mengancam dirinya? oh yang benar saja!


Ipul mengerut kan keningnya lalu perlahan menarik telapak tangan wanita yang membekap mulutnya, "Mas Sai?" agak tidak mengerti Ralen memanggilnya dengan Sai, kalau Mas mungkin sudah sangat biasa tapi embel-embel di belakangnya itu terdengar sedikit tidak biasa, itu singkatan dari kata sayang kah?


"Ehh itu," Ralen tampak malu-malu untuk menjelaskan, sepertinya dia sudah meyakinkan diri untuk mulai memanggil suaminya itu dengan panggilan Mas untuk lebih menghormatinya sebagai seorang suami.


"Sai itu apa?" Ipul menarik pinggang istrinya dan mendekapnya dengan sangat posesif dengan kepala sedikit menunduk karena memang tinggi mereka yang sangat tidak berimbang.


"Sai.."


Ralen kembali mengatupkan bibirnya dengan rapat disaat pria yang katanya sudah terlambat untuk melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya itu malah makin merapat padanya, tubuh mereka jadi berhimpitan bahkan begitu menempel dengan sangat erat dan kuat, mungkin setetes air pun akan sulit untuk melewati dua tubuh yang teramat rapat.


"Sayang kah?" memilih menebak sekaligus bertanya.


Tapi dia harus kembali berpikir ketika wanita yang dia tanya malah menggelengkan kepala memberikan tanda kalau tebakannya salah.


"Sai..pul."


"Kurang ajar," desis Ipul seraya mengendurkan dekapan di tubuh sang istri sampai akhirnya tubuh mereka berjarak dengan sempurna.


Kesal rasanya dia sudah berpikir, wah istrinya itu sangat romantis sekali memanggilnya dengan Mas sai yang dia kira sai itu adalah kependekan dari kata sayang, tapi nyatanya itu malah kependekan dari namanya.


"Songong," katanya lagi untuk menutupi rasa malu sebab tadi dia sudah sangat begitu percaya diri dengan panggilan Ralen.


"Nggak songong, kan aku pakai Mas nggak langsung Saipul," cakap Ralen dengan wajah polos melihat sang suami yang sudah mengambil handphone.


"Mas Sai," Ralen mengekori suaminya yang hendak keluar tapi tidak dihiraukan.


"Ya sudah aku pulang ke Jakarta kalau gitu," ancam Ralen yang akhirnya berhasil membuat Ipul menghentikan langkah.


"Aku ikat lagi ya?"


"Hah? kamu bertanya atau memberikan ancaman?" tanya Ralen sambil menghentikan laju kakinya yang tadi masih melangkah kecil.

__ADS_1


"Ya kamu tadi itu ngancem aku apa nggak? kalau cuma ngancem nggak aku ikat tapi kalau memang benar-benar mau pulang ya aku ikat kamu kayak semalam," beber Ipul dengan raut wajah yang terlihat serius.


Dia sudah terlambat tiga puluh menit dan tidak akan menjadi masalah kalau dia makin terlambat karena harus mengikat istrinya di atas tempat tidur agar tidak pergi kemanapun.


Ralen mengerucutkan bibirnya membuat wajahnya terlihat makin menggemaskan.


"Aku tidak pulang," ucap Ralen akhirnya.


"Janji nggak?"


"Iya janji, tapi aku boleh ya jalan-jalan di luar," pinta Ralen.


Tentu saja dia ingin berjalan-jalan di kota yang baru sekali ini dia datangi, pastinya di akan berkunjung ke tempat yang bisa membuatnya senang ketimbang harus berdiam diri saja di kamar hotel seorang diri menunggu suaminya pulang, sungguh sangat membosankan.


"Mau kemana? nanti kalau nyasar gimana?" tampak meragukan istrinya sendiri yang bahkan begitu tangguhnya melayani dirinya tadi malam bahkan saat menjelang pagi.


Ralen memutar bola matanya merasa konyol sekali ketika suaminya malah mengira dia akan tersesat, dia ini bukan seorang anak kecil kan? jadi tidak perlu mengkhawatirkan dirinya ketika kemarin pun dia bisa dengan sangat mudahnya datang ke kota yang sama sekali belum pernah dia kunjungi hanya berbekalkan nama hotel yang ditempati oleh suaminya dari Damar.


Kalaupun dia tersesat pun kan masih ada handphone untuk menghubungi suami atau siapapun yang bisa membantunya, jadi tidak perlu memikirkan hal yang rasanya tidak masuk akal untuk wanita berusia 20 tahun.


"Kamu ini menikahi wanita umur 20 tahun, jangan memperlakukannya seperti anak di bawah umur," jelas Ralen.



"Anak di bawah umur tidak mungkin bisa berperang denganku di tempat tidur, bodoh!" mendorong kening sang istri hingga kepalanya terdorong.



"Makanya biarkan aku jalan-jalan ya, Mas Sai."


Cup!



Ralen dengan spontan memberikan kecupan singkat pada bibir laki-laki yang seperti tersengat listrik, terdiam mematung dengan mata yang terbuka lebar, dia harus segera berangkat masih ada waktu kah untuk menyeret istrinya itu ke tempat tidur? Ipul membatin memikirkan getaran yang mendadak menuntut, dia tidak bisa melakukannya sekarang apalagi asistennya sudah bolak-balik membunyikan bel di depan pintu sana.



"Aku berangkat sekarang nanti kamu di antar sama sopir dan jangan lupa untuk kembali sebelum aku," ucap Ipul yang memilih untuk menunda hal panas yang kembali menyerang akibat perbuatan sang istri.



Ralen mengedipkan sebelah matanya dengan sangat menggoda, "baiklah suamiku," tuturnya dengan suara yang di buat-buat.



Sekarang rasa panas malah menyerang dari sudut manapun membuat telinga Ipul jadi ikut merah dibuatnya, tapi dia tetap mewaraskan dirinya agar tidak tergoda, dia harus segera menyelesaikan urusannya baru setelah itu memberikan pelajaran pada wanita galak yang terus menggoda birahinya.



Ipul memilih untuk berjalan cepat guna menghindari godaan yang mungkin akan semakin menggila jika dia tidak segera pergi.



"Hihihi," Ralen tertawa geli melihat tingkah suaminya itu, dia tahu benar bagaimana suaminya itu gampang sekali tersulut.


__ADS_1


Wanita yang tadinya sangat penasaran dengan Kakaknya yang semalam dibicarakan oleh Arda pun sejenak melupakan rasa penasarannya itu, suaminya tidak mengijinkan dia untuk pulang ke Jakarta jadi biarlah rasa penasarannya itu dia simpan, toh tidak sampai satu Minggu dia dan suaminya sudah akan berada di ibukota lagi.



Ralen pun bergerak menuju koper kecil miliknya untuk mengambil pakaian yang akan dia pakai, saat ini dia memakai pakaian tidur sangat tidak mungkin kalau dia keluar dengan pakaian seperti ini.



Wanita yang berstatus sebagai istri dari pengusaha muda itupun sudah berada di dalam lift yang akan membawanya turun dari lantai dimana kamar suaminya berada.



Terlihat tidak sabar untuk bisa segera menikmati udara di kota Batam itu, padahal cuaca sedang sangat panas tapi tidak membatalkan niatnya untuk berkunjung ke sebuah mall.


Iya dia memilih untuk jalan-jalan di mall, mall terbesar di kota itu kini menjadi tujuannya, mungkin benar-benar hanya sekedar jalan-jalan semata atau malah jadi berbelanja? tentu dia mendapatkan uang bulanan yang cukup besar dari suaminya kan?


Ralen sudah keluar dari dalam lift dan melangkah di dalam lobbi hotel tapi kemudian dia malah menabrak seseorang.



Bruk!



Entah dia yang berjalan terburu-buru dan tidak memperhatikan sekitarnya atau memang orang yang dia tabrak lah yang sedang tergesa hingga tidak melihat ada siapa di depannya.



"Maaf," ucap Ralen merasa bersalah sambil membungkukkan sebagian tubuhnya.



"Saya yang seharusnya minta maaf karena saya yang tidak memperhatikan jalan," kata si wanita yang malah meminta maaf mengakui kesalahannya.



Ralen mengangkat wajahnya guna melihat si wanita yang menabraknya itu, begitupun dengan wanita di depannya itu melakukan hal yang sama hingga kini mereka saling melihat dan keduanya menunjukkan raut wajah tak percaya dengan mata mereka sendiri.



Mereka seperti sedang bercermin, potongan rambut serta gurat wajah mereka sangat mirip hanya yang membedakan adalah tahi lalat di atas bibir sebelah kiri dari salah satu wanita, juga pakaian yang mereka kenakan sangat berbeda jauh.


Yang satu memakai dress yang membentuk body sedangkan yang satunya memakai kulot serta atasan berwarna pastel.


Keduanya saling tatap tak percaya tapi kemudian wanita yang Ralen tabrak tadi memilih untuk segera pergi tidak memikirkan kenapa ada wanita yang memiliki wajah persis dirinya.



"Kayak ngaca," gumam Ralen memperhatikan wanita yang tengah menuju meja resepsionis.



Ralen menggaruk kepalanya heran seraya terus menggerakkan kakinya menuju mobil yang sudah menunggu.



\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2