Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Sakit


__ADS_3

Saat ini seharusnya Ipul tidak perlu pergi ke kantor karena semua karyawan serta jajaran direksi pun tahu pemimpin tertinggi perusahaan baru saja meninggal kemarin, tapi Ipul memilih untuk melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya sekarang.


Menyibukkan diri agar bisa melupakan bahwa dia baru saja kehilangan seseorang yang begitu penting dalam hidupnya.


Langkahnya tegap dan berderap tanpa ada keraguan kala menginjakkan kaki di gedung perusahaan yang sekarang banyak karyawan bergantung padanya.


"Dia sudah datang?" tanya Ipul pada Damar yang sekarang sepenuhnya menjadi asisten pribadinya yang akan setia mendampingi dirinya sama seperti yang Damar lakukan pada Papanya dulu.


"Dia?" Damar terlihat mengernyit tak mengerti siapa dia yang sedang di tanyakan oleh tuan mudanya yang tampaknya tidak lagi mau memamerkan senyum ramah seperti yang dulu sering terlihat, senyum itu sudah tidak ada lagi.


"Ralen," ucap Ipul menyebutkan siapa yang dia maksud.


Tidak tahu kenapa lidahnya terasa amat berat untuk menyebut nama wanita yang dia anggap menjadi masalah dalam hidupnya, bahkan sejak kemarin dia sama sekali tidak menyebut nama istrinya, sesuka hati memakai kata dia yang ditujukan untuk sang istri.


Damar melihat jam tangannya, "seharusnya sudah," jawab Damar karena di jam ini memang para pekerja seperti Ralen sudah mulai bekerja dari setengah jam yang lalu.


*****


"Badan Lo panas banget loh Len, nggak mau ke rumah sakit aja?" Antika terlihat khawatir dengan keadaan Ralen.


Semalam temannya itu datang dalam keadaan hujan deras dan tentunya dalam keadaan basah kuyup juga, ini sudah sekian kalinya Ralen datang ke kontrakannya hujan-hujanan seperti ini dan mungkin sekarang imun tubuhnya sedang tidak bagus sehingga langsung terserang demam tinggi.


Sejak semalam suhu tubuh Ralen sangat panas sudah di beri obat berharap pagi ini akan membaik tapi nyatanya malah semakin parah saja, temannya itu menggigil tak karuan meski sudah memakai tiga lapis selimut dan itu masih tidak cukup untuk membuatnya lebih baik.


Tubuh luarnya panas tapi Ralen merasakan dingin yang teramat, "nggak usah nanti juga mendingan." lagi-lagi Ralen menolak ajakan dari temannya.


"Dari semalam lo bilang kayak gitu, nanti mendingan kalau udah minum obat, nyatanya apa? bukannya mendingan malah makin parah!" omel Tika yang terpaksa tidak masuk kerja karena takut kalau harus meninggalkan Ralen sendirian.


"Lagian gue tuh bingung, Lo baru nikah kemarin tapi kok bisa-bisanya Lo malah ke kontrakan gue ini? hujan-hujanan lagi laki Lo kemana emang?!" cerocos Tika mempertanyakan pria yang kemarin menikahi temannya itu.


Ralen memaksa matanya yang panas untuk terpejam, tidak mau menanggapi omelan Antika yang sedang mempertanyakan suaminya.


Memangnya dia harus menjawab apa? sedangkan kemarin dia mendengar sendiri kalau pria itu menyesal menikah dengannya, jika Ralen tidak memikirkan pria itu dalam keadaan berduka karena Papanya meninggal mungkin Ralen juga sudah berteriak bahwa dirinya juga menyesal, menyesal dinikahi oleh pria bernama Saipul Gunawan, menyesal harus mengenal dan menyesal karena harus kehilangan harga dirinya sebagai wanita oleh pria itu.


"Bisa diem nggak sih Tik, kepala gue pusing pease Tik jangan bahas apapun saat ini," pinta Ralen dengan suara tak jelas karena dia yang merasa sangat lemah.


Antika menghela napas, kemudian mengatur napas dan kembali duduk lalu membenarkan letak selimut yang sedikit merosot dari tubuh temannya.


"Gue beliin bubur dulu ya, biar Lo bisa minum obat, gue nggak suka Lo kayak gini aneh banget tahu nggak sih Len, Ralen yang gue kenal tangguh kuat dan tahan banting malah tumbang karena hujan bahkan saat Lo baru aja merubah status dari lajang menjadi menikah," celetuk Antika diantara deru napas Ralen yang terdengar berat.


Ralen menggumam entah menjawab apa yang jelas setelah itu Antika segera pergi untuk mencari bubur agar Ralen bisa mengisi perutnya sebelum meminum obat warung yang semalam dia beli.

__ADS_1


Menjelang jam pulang kantor Ipul meminta Damar untuk menemui Ralen, tapi asistennya itu bukannya segera menjalankan perintahnya malah diam tak bergerak.


Ipul yang tengah menatap layar laptop pun melihat sikap sang asisten mengerutkan kening penuh tanya.


"Saya lupa mengatakan pada tuan muda," ucap Damar melupakan sesuatu yang dia ketahui dan seharunya sudah dia katakan sejak awal dia tahu hal ini.


Ipul mengecilkan kelopak mata, menatap dengan seribu pertanyaan tentang apa yang ingin disampaikan oleh asisten kepercayaan Papanya dulu.


"Istri anda tidak masuk kerja, supervisor nya yang memberitahu, seharian ini saya juga tidak melihat istri anda tuan."


Tangan Ipul mengepal, tampak kesal entah karena mendengar Damar menyebut kata istri atau karena Ralen yang tidak ada di tempat kerja.


Jadi seharian ini dia tidak tahu kalau Ralen tidak ada di kantor? entahlah suami macam apa pria yang bahkan terlihat tidak peduli setelah menjadikan seorang wanita sebagai istrinya.


Sedangkan sebelum menikah dialah yang terlihat sangat gencar mendekati sang wanita, tapi hanya karena kesalahan yang bahkan tidak diperbuat oleh wanitanya menjadikan dia berubah bagaikan pria lain, mungkin Zara pun tidak akan mengenalinya.


Pria dengan penampilan formal itu menutup laptopnya dengan sangat kasar lalu menggapai handphone yang tergeletak tak jauh dari sambungan intercom di atas mejanya.


Gegas melakukan panggilan pada wanita yang dia nikahi kemarin yang namanya bahkan seperti tidak ingin dia sebut lagi.


"Dimana?" tanyanya begitu teleponnya di jawab.


"Share loc," katanya tegas kala Ralen mengatakan dia sedang berada di tempat temannya.


"Gue jemput sekarang!" tegas Ipul langsung memutus pembicaraan padahal wanita yang dia hubungi belum mengatakan mau atau tidak dijemput olehnya.


*****


Tiiin!


Suara klakson dari luar sana mengalihkan tatapan Tika yang sedang melipat selimut, selimut yang tadi digunakan oleh Ralen.


"Suami Lo udah datang tuh," kata wanita berambut sebahu itu.


Ralen hanya menoleh namun tetap tidak bergerak dari posisinya duduk saat ini, meskipun dia sudah bersiap sejak tadi tapi hati kecilnya menikah untuk bertemu dengan pria yang menunggu di dalam mobil sana.


Di dalam mobil Ipul menunggu dengan perasaan campur aduk, entah apa yang dia pikirkan saat ini yang dia ingat kalau sekarang sejak kemarin napasnya terasa begitu sesak.



"Dia nungguin Lo Len, kalau memang Lo nggak suka sama pernikahan ini Lo cerai aja udah!" sentak Antika kesal.

__ADS_1



"Kalau harus cerai lalu kenapa gue mesti nikah kemarin?" suara Ralen terdengar lirih.



"Ya mana gue tahu, kan Lo yang mutusin buat nikah! Lo nggak kasih tahu alasan apa-apa sama gue tahu-tahu Lo kasih tahu gue kalau Lo mau nikah sama dia, padahal awalnya kan Lo nolak Len," cecar Antika mengingatkan Ralen tentang bagaimana dia yang tampak sangat ragu tentang pernikahan dengan pria yang tidak dia kenal sebelumnya.



Sungguh Antika pun bahkan begitu terkejut ketika malam kemarin Ralen mengabari dirinya kalau dia akan menikah dengan begitu mendadak.



Ralen menghela napas, merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Tika yang tidak tahu menahu tentang alasan sebenarnya yang membuat dia akhirnya mau menikah dengan Ipul.



Memilih untuk menyembunyikan yang terjadi sebenarnya, merasakan sendiri beban kecewa yang kian menggunung kala pernikahan ini telah disesali oleh sang suami.



Wanita itu memilih untuk ikut dengan suaminya meski dia tahu saat ini pria itu sangat terpaksa untuk membawanya pulang.



"Mama suruh gue jemput," kata Ipul ketika Ralen baru saja duduk di dalam mobil dan tepat di sampingnya.



Pria itu bahkan seolah tidak mau menyadari bagaimana pucat nya kulit wajah wanita yang kemarin dia nikahi, matanya hanya menatap lurus ke depan fokus pada mobil yang mulai bergerak.



Tak ada sambutan dari mulut Ralen untuk pernyataan yang dilontarkan pria di sampingnya, dia memilih memaksanya kedua matanya untuk terbuka padahal dia merasa sangat lelah dan ngantuk karena tidak tidur semalaman akibat demam yang menyiksa.



Membiarkan kalimat demi kalimat terlewat begitu saja, sebab dia tidak ingin mendengar apapun setelah semua yang dia dengar kemarin.


*******

__ADS_1


__ADS_2