Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Kamu Balas Dendam?


__ADS_3

Ipul sudah bicara sangat banyak namun yang dia ajak bicara tidak mengeluarkan suara lagi, diam membisu dengan tatapannya yang entah melihat apa.


Hingga menjelang makan malam Ralen terus menutup mulut tidak juga bergerak dari tempatnya duduk sejak siang tadi, tidak tahu bagaimana caranya dia bisa betah duduk berjam-jam lamanya tanpa berpindah posisi.


Tidak tahu apa yang sekarang ada di dalam pikirannya, meski suaminya berulang kali untuk membujuk namun dia tetap tidak bergeming, masih mengunci mulutnya.


"Sayang, kita makan dulu yuk, dari pulang tadi kamu belum makan apapun perut kamu kosong kasihan Dede bayi." Ipul sudah benar-benar melunak tidak sekali pun bicara keras seperti yang dia lakukan di telepon waktu itu.


"Kenapa malah nangis?" tangan Ipul menyeka air mata yang kembali keluar dari sudut mata sang istri.


Isterinya di ajak untuk makan malah menangis membuat dia bingung tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi.


"Kamu sakit? kita ke dokter aja yah, biar di periksa," katanya dengan nada yang cemas.


Yang dia tahu istrinya itu terjatuh dari motor, saat dia bertanya kenapa bisa sampai jatuh istrinya malah diam tidak mengatakan apapun tapi raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam.


Ralen menggeleng cepat, dia tidak mau di perhatikan oleh pria yang kemarin menyakitinya tapi sekarang malah bersikap lembut penuh perhatian.


Dia masih kecewa jadi tolong biarkan dia mengabaikan pria yang menikahinya beberapa bulan lalu, biarkan dia menguatkan dirinya sendiri dulu sebelum dia mengatakan apa yang sudah terjadi, dia harus mempersiapkan diri sebelum nantinya dia akan disalahkan.


Mungkin di salahkan karena dirinya yang keras kepala dan terlalu cemburu.


Cemburu? sungguh itu hal yang sangat wajar apabila dia cemburu terhadap suaminya, di saat dia tengah kecewa terhadap ibu kandungnya dan dia membutuhkan pundak sang suami untuknya bersandar dan mengadu tapi dia malah mendengar suaminya tengah bersama dengan wanita lain.


Bukan hanya sekedar wanita lain saja, tapi nyatanya wanita itu adalah mantan tunangan sang suami, bukankah artinya wanita itu sempat berada dalam hati suaminya, atau mungkin wanita itu justru masih ada dalam hati sang suami?


Ralen menghapus air matanya lalu beranjak dari duduk dan melangkah keluar dari kamar tanpa mengatakan apapun meninggalkan pria yang menatapnya tak mengerti.


Lagi-lagi Ipul merasa orang asing yang tak di kenal oleh istrinya sendiri, membuatnya sedikit terusik tapi akhirnya dia harus sadar diri, istrinya seperti itu karena apa yang sudah dia perbuat pasti masih akan terasa sampai beberapa saat.


"Kamu duduk saja," kata Mama Riska saat Ralen datang menghampirinya berniat untuk membantu.


Mama Riska bisa melihat kedua mata yang merah menandakan kesedihan yang tengah di derita oleh sang menantu.


"Sudah tidak usah memikirkan apapun, Mas Sai mu tidak akan berani berbuat yang tidak-tidak," kata Mama Riska mengelus punggung menantunya yang mencoba untuk tersenyum namun senyum itu terlihat sangat tidak alami, terlihat sangat dipaksakan.


Ipul yang menyusul dengan langkah lambat pun tampak tidak bersemangat, merasa tidak enak ketika istrinya tidak mau bicara dengannya.


Pria itu menarik kursi lalu mendudukinya dengan napas yang berhembus berat.


"Duduk sana," pinta sang Mama dengan gerakan kepala meminta menantunya duduk di sebelah sang anak.


Andai bukan Mama Riska yang meminta mungkin Ralen memilih untuk duduk berjauhan, rasanya dia kesulitan bernapas jika harus berdekatan dengan suaminya sendiri.


Ipul bisa melihat ketika istrinya bergerak mendekat padanya, lalu dia dengan sigap menarik kursi sebelah kanannya untuk istrinya duduk.


Setelah menata piring ke atas meja Mama Riska kembali ke dapur mengambil gelas dan juga air untuk mereka minum.


"Makan banyak sayang, bayi kita pasti lapar."


"Sudah tidak ada bayi."


Perkataan Ralen sangat pelan bahkan terkesan seperti berbisik namun Ipul yang duduk disampingnya bisa menangkap apa yang dia katakan membuatnya menghentikan gerakan tangan yang akan menyendok nasi ke piring Ralen.


"Apa?" bertanya dengan tangan yang tetap mengambang memegang sendok nasi diimbangi dengan raut wajah penuh tanya memastikan apa yang dia dengar juga berharap telinganya sedang salah mendengar.

__ADS_1


"Bayinya tidak ada lagi," ulang Ralen.


Ipul menggeser kursi yang dia duduki lalu berdiri lalu menendang kursi dengan kaki belakangnya hingga kursi itu bergeser jauh bahkan kini tergeletak di dekat lemari penyimpanan piring keramik milik sang Mama.


Mama Riska bahkan sampai berlari mendengar suara ribut di ruang makan.


Wanita itu terperangah menatap kursi yang terbalik lalu beralih pada anaknya yang sudah berdiri sedangkan Ralen menundukkan wajah tidak mengangkat kepalanya sama sekali.


"Katakan dengan jelas apa yang kamu lakukan terhadap bayi kita?!" suara Ipul menggema dan menggelegar.


Ralen menghela napas panjang lalu menguatkan diri untuk mengangkat kepala agar bisa melihat ekspresi marah pria yang ada di sampingnya.


"Aku keguguran," kata Ralen kali ini dengan suara yang lebih keras dari yang tadi.


Prang!


Ipul melempar piring.


"Ipul!" Mama Riska berseru histeris.


Dia bisa melihat ada berapa banyak kemarahan yang terpancar dari mata sang anak yang kini menatap tajam pada wanita yang masih tetap duduk membalas tatapan marah dari anaknya.


Pasangan suami istri itu seperti sedang mengibarkan bendera peperangan dan sungguh sangat membuatnya takut akan terjadi sesuatu yang lebih dari sekedar melempar barang.


"Menurutmu aku percaya dengan perkataan mu?" tanya Ipul dengan tatapan curiga.


Ralen membuang napas berat dengan bibirnya yang sekarang bergetar.


"Katakan apa yang kamu lakukan?!" tanya Ipul lagi dengan suara yang berat dan kasar.


"Kamu.." Ipul mengangkat tangan.


"Ipul!" Mama Riska berteriak sambil berlari memeluk Ralen yang bahkan tidak bergerak sedikitpun padahal suaminya sudah mengangkat tangan ingin menampar pipinya.


Tangan Ipul terhenti tepat di samping kepalanya.


"Kamu marah padaku lalu berniat balas dendam kah?" tuduh Ipul dengan maga yang merah.


"Berhenti mengatakan apapun! kamu sudah dengar sendiri apa yang Ralen katakan, Ralen keguguran itu bukan kesalahannya." Mama Riska mencoba melerai pasangan suami istri yang masing-masing larut dalam emosi.


"Dia bohong! dia pasti menggugurkan kandungannya sendiri karena dia marah sama Ipul Ma, dia ingin balas dendam pada Ipul!" sentak Ipul marah tak terima.


Jelas dia tidak akan terima begitu saja terlalu tidak masuk akal baginya, keguguran saat mereka memang sedang bertengkar dan istrinya marah terhadapnya sungguh hal yang tidak akan bisa dia percayai dengan mudah.


Ralen diam tak bergeming tidak lagi menatap pria yang tengah melancarkan emosi kepadanya, menudingnya dengan sesuka hatinya, apa pria itu tidak lihat berapa kesedihan yang terpampang jelas di wajahnya?


Sangat banyak kesedihan yang tampak jelas, tapi sepertinya pria itu buta.


"Tidak percaya tidak masalah karena aku juga tidak akan memaksamu untuk percaya," suara Ralen terdengar sarat akan kesakitan tapi dia berusaha untuk tegar dan kuat tidak ingin terlihat lemah.


Ipul menggeram, tarikan napasnya semakin kuat dan seolah berapi karena terasa panas.


Pria itu menggeram sambil kedua tangannya yang kini sudah terkepal.


"Ralen, sebaik nya kamu istirahat, kamu pasti lelah," kata Mama Riska membujuk.

__ADS_1


Ralen menatap sendu pada sang mertua, dia kasihan pada mertuanya yang dia tahu sudah ingin sekali mendapatkan cucu tapi dia malah mengecewakan seperti ini.


"Maafin Ralen Ma," suara Ralen terdengar lirih dengan deraian air mata.


Di depan sang mertua dia tidak bisa menyembunyikan juga bertahan lebih lama, dia ingin menangis mengadu atas semua yang terjadi.


"Kamu tidak salah apapun Len, semua yang terjadi juga bukan kemauan kamu jadi tidak perlu meminta maaf," tutur Mama Riska seraya mendekat menenangkan sang menantu yang sekarang menangis sesak.


Ipul menatap tidak terima ketika mendengar Mamanya malah seolah membela Ralen, wanita yang dia anggap dengan sengaja menggugurkan anaknya karena marah terhadapnya.


"Jahat kamu Len!" desis Ipul.


Dia tidak lagi memanggil Jelita, menandakan dia sangat kecewa atas apa yang terjadi, dia tetap menuduh Ralen telah menggugurkan kandungannya untuk membalas sakit hati dengannya, membalas apa yang sudah dia lakukan.


Ipul menatap tajam Ralen yang tidak lagi melihat padanya, wanita itu menangis di dalam dekapan sang Mama.


"Jangan mengatakan apapun!" Mama Riska memberikan peringatan terhadap anaknya.


Tapi seorang Ipul tidak peduli, saat dia marah tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya.


"Kamu datang kehidupanku hanya untuk mengacaukan jalan hidupku!" mata Ipul begitu murka.


"Pertama Papa lalu sekarang anakku, setelah ini apa? Mama atau justru aku!?"


"Ipul berhenti!" Mama Riska berteriak kencang, pembicaraan anaknya makin menjadi.


"Semua yang Ipul katakan kenyataan, semenjak dia," Ipul menunjuk Ralen dengan begitu kejam, "datang dalam hidup Ipul semuanya menjadi kacau, berantakan!"


Semua yang dikatakan oleh Ipul sungguh menyiksa hati Ralen, dia wanita seorang ibu yang baru saja kehilangan anak tapi kenapa bukannya diberikan semangat malah di tuduh sedemikian jahatnya oleh suaminya sendiri.


Apa menurutnya dia tidak sedih?


Dalam hal ini tentunya dialah orang yang paling sedih dan merasa bersalah atas apa yang terjadi, tapi di jelaskan pun percuma karena dia akan tetap jadi orang yang salah Dimata siapapun yang tidak mengetahui kronologi kecelakaan yang dia alami.


Sore itu dia sudah ingin pulang ke rumah tapi mobil yang datang dari arah belawanan malah seperti dengan sengaja mengarah padanya menabrak dia lalu mobil itu langsung pergi begitu saja andai tidak ada Angga yang kebetulan melintas mungkin tidak ada yang akan membawanya ke rumah sakit karena jalan yang dia lewati sangat sepi.


Lalu tadi saat dia baru pulang ke rumah dan mengaktifkan handphonenya dia malah mendapat pesan dari Daniya berupa gambar suaminya yang bersama wanita lain.


Apa dia tidak makin sakit hati?


Dia makin sakit hati, terpuruk dengan semua yang harus dia terima, dia butuh semangat dan ingin mengadu pada suaminya tapi yang dia dapatkan malah kenyataan suaminya kembali ke Jakarta bersama wanita lain.


Sungguh dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, bahkan tadi dia sempat berpikir untuk mengakhiri saja hidupnya karena dia yang benar-benar merasa hanya seorang diri di dunia ini.


Ralen makin mengeratkan pelukannya pada sang Mama mertua, saat ini setidaknya masih ada Mama mertuanya yang berada di sampingnya membelanya meski dia hanya seorang menantu.


Mama Riska membawa Ralen masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu membiarkan sang anak tetap di luar seorang diri.


"Argghhh!" Ipul menggeram marah tak terima pada kenyataan yang terjadi.


Menurutnya Ralen salah dan akan menjadi makin salah dengan segala tangisan yang menyayat hati.


Hatinya teriris mendengar istrinya menangis tapi di dalam kepalanya sudah mengumpul kemarahan atas kepergian anak yang bahkan dua hari lalu masih membuat dia muntah saat bangun tidur.


****

__ADS_1


__ADS_2