Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Apa Menyesal?


__ADS_3

"Daniya akan bunuh diri!"


Aura ketakutan langsung menyelimuti seisi rumah mendengar ancaman yang Daniya lontarkan, bukan hanya ancaman namun pisau juga sudah mengarah pada pergelangan tangan mengincar urat nadi dengan begitu dekat andai tangan yang memegang pisau itu bergerak sedikit saja mungkin tangan itu sudah mengeluarkan darah.


"Jangan lakukan perbuatan bodoh Dani!" Dayna mulai bersuara memberi peringatan pada sang anak.


Wajah Dayna sama tegangnya dengan yang Arni tunjukkan, bukankah dia yang selama ini merawat juga membesarkan Daniya? tentu tidak mustahil ketika dia takut kehilangan sang anak angkat yang sekarang menjadi satu-satunya tempat berbagi setelah suaminya tiada.


Sekalipun dalam hatinya terbersit kekecewaan atas sikap Daniya, tapi yang namanya kasih sayang orang tua akan tetap ada sekalipun itu bukan anak kandung, sungguh dia menyayangi Daniya dengan tulus dan sepenuh hati namun sejak kepulangan Daniya dari Inggris, dia terus saja diperlihatkan sifat-sifat dari Daniya yang sangat jauh berubah dari yang dia kenal dulu.


Apa ini akibat dari kesalahannya dalam menyayangi, karena selalu saja memberikan apa yang Daniya inginkan tanpa terkecuali? kasih sayang yang malah jadi masalah besar di saat ini ketika anaknya itu kembali meminta agar keinginannya dipenuhi.


Bukan masalah besar andai Daniya meminta hal lain sekalipun dia Dayna harus berkorban akan dia berikan jika itu membuat Daniya bahagia, tapi sekarang yang Daniya minta seorang manusia bernyawa yang bahkan punya perasaan dan berhak menolak.


"Apa selama ini Mama salah dalam menyayangi kamu Dani?"


Daniya membuang pandangannya ke arah lain, rasanya tidak ingin mendengar pertanyaan dari sang Mama namun telinganya itu tidak tuli, telinganya masih berfungsi dengan baik.


"Mama memberikan apapun yang kamu mau, bahkan saat kamu membatalkan rencana pernikahanmu dan memilih pergi jauh meninggalkan Mama dan Papa dengan rasa malu akibat apa yang kamu lakukan, mungkin kamu menganggap sepele tapi kenyatannya Kamilah yang menanggung semua yang sudah kamu perbuat, keluarga Angga sahabat dekat Mama dan Mama harus rela berulang kali membungkukkan badan untuk mendapatkan maaf dari mereka, itu untuk siapa Dani?" Dayna menjeda menarik napas lalu membuangnya dengan lancar oksigen yang membuatnya sesak dan kembali melanjutkan perkataannya, "untuk kamu, Daniya Ranita!" Dayna bersuara tinggi berniat menyadarkan wanita yang diam membeku memasang telinga.


Namun tak disangka Daniya yang tadi melihat ke sembarang arah pun membalas tatapan sang Mama tapi dengan tatapan yang memelas, tatapan penuh kesedihan yang teramat disertai dengan linangan air mata yang makin deras.


"Jadi Mama menyesal membesarkan aku?" Daniya bertanya lirih namun diselingi dengan senyuman yang seolah penuh luka.


Sekarang dia merasa menjadi orang yang paling terluka dalam kisah ini, keluarga kandung membuangnya lalu orang tua angkat nya pun mulai menyuarakan penyesalan, sebenarnya apa yang dia lakukan sehingga membuat semua orang yang harusnya memberikan kasih sayang menjadi terlihat membencinya.


"Perkataan Mama apa menyiratkan sebuah penyesalan?" Dayna menggeleng, "bukan menyesal Dani, lebih tepatnya kecewa, Mama kecewa dengan sikap kamu sekarang kamu boleh menginginkan sesuatu tapi tidak semua yang kamu inginkan harus kamu dapatkan, bukan? tidak seperti itu cara menjalani hidup tolong hargai orang lain."


"Bagaimana bisa Dani menghargai orang lain ketika orang lain tidak ada yang mau menghargai Dani!" pisau masih berada di tangan namun Daniya sudah berteriak histeris seolah dialah manusia paling tersakiti, bukankah dia terlihat sangat manipulatif dan juga impulsif?


"Daniya.." Arni memanggil dengan suara lembut dan penuh kasih sayang, jujur saja dia ngeri melihat pisau yang masih berada di tangan sang anak.


"Kalian berani maju aku tidak akan segan menggerakkan pisau ini!" ancam wanita yang tengah kesetanan ketika dua orang penjaga mulai merangsek maju atas perintah Dayna yang mungkin sudah pusing dengan tingkah anak angkatnya.


"Nyonya.." kedua penjaga itu menatap pada snag nyonya yang akhirnya meminta mereka mundur dengan gerakan bibir tanpa suara.


"Bu.." Daniya beralih pada ibunya yang berdiri di dekat pintu masih sangat takut untuk mendekat karena Daniya yang sejak tadi memberikan ancaman.


"Daniya ibu disini akan selalu bersama kamu," ucap Arni menatap sendu dan penuh rasa kasihan.


Iya, dia kasihan dengan anak pertamanya yang baru saja bertemu setelah bertahun-tahun lamanya dia tidak tahu bagaimana keadaan anaknya itu, apakah masih hidup atau sudah meninggal, hingga akhirnya sebuah berita yang tidak pernah dia sangka datang memberikan sebuah harapan kebahagiaan, anak pertamanya ternyata hidup sehat dan tumbuh besar menjadi wanita yang cantik serta terpelajar sungguh dia sangat bersyukur sekaligus bersalah karena dia tidak menyaksikan anaknya yang tumbuh dewasa.


Rasanya dia tidak tega jika harus memberinya kecewa setelah kekecewaan besar yang dia berikan dulu.


"Dani hanya minta satu dan setelah itu Dani berjanji tidak akan meminta apapun lagi," bicaranya sangat pelan dengan napas yang sesak.


"Ibu akan memberikannya tapi tolong lepaskan pisau itu," Arni mulai berjalan mendekat dengan perlahan.


"Ibu janji?" bertanya dengan lelehan air mata yang masih turun dengan deras di kedua pipinya.


Arni mengangguk, "seorang ibu bisa melakukan apapun untuk anaknya," kata Arni.


Dayna menghela napas, perkataan Arni terdengar seperti sedang menyadarkan dirinya bahwa dia tidak berhak atas Daniya, membuat dia tersadar mau seperti apapun Daniya memperlakukan Arni, wanita itu tetaplah ibu kandungnya yang mempunyai hak penuh atas dirinya sekalipun namanya lah yang berada di berkas-berkas penting Daniya namun dia harus tetap sadar diri siapa dirinya.


Dayna berjalan keluar meninggalkan ibu dan anak yang sekarang tengah saling memeluk.


"Nyonya tidak apa-apa?" tanya sang pelayan ketika melihat raut wajah wanita yang melangkah menjauh dengan bantuan tongkat.


"Aku hanya ingin istirahat," sahut Dayna dan sang pelayan pun dengan sigap membantunya berjalan menuju kamar.


Arni menyimpan pisau yang dilemparkan oleh Daniya, menjauhkan benda tajam itu dari kamar sang anak lalu kembali masuk dan menghampiri anaknya yang duduk di tengah tempat tidur dengan memeluk kedua lututnya.


"Jangan lakukan hal yang membahayakan lagi, jika itu terjadi ibu tidak akan bisa memaafkan diri ibu sendiri," kata Arni memeluk Daniya yang masih menangis layaknya seorang yang sangat menderita.


"Ibu akan menepati janji ibu kan?" mengangkat wajah yang tadi menunduk guna menatap wanita yang jelas menunjukkan gurat kekhawatiran akan dirinya.


"Dani.."


"Ibu sudah berjanji!" sentak Daniya ketika dia malah mendapati raut wajah keraguan.


Arni segera memeluk Daniya dan berkata panik, "ibu akan melakukan apapun untuk kamu Daniya, apapun!" kata Arni meyakinkan dirinya sendiri yang tentu saja ragu.


Saat ini dia benar-benar bingung, andai tidak menurut dia akan kehilangan anak pertamanya yang sangat dia rindukan, dan ketika dia menurut jelas dia akan membuat anak keduanya pasti kecewa padanya, sungguh Arni berada diantara dua anak perempuannya.


Ingin rasanya dia membelah dirinya sendiri agar bisa membagi dengan adil pada kedua putrinya, satu bagian tubuh untuk memihak pada Daniya dan satu bagian tubuh lainnya untuk berpihak pada Ralen.


Arni menemani Daniya sampai anaknya itu tertidur pulas dan tidak lagi menangis dan memohon untuk dituruti keinginannya.

__ADS_1


"Ibu pulang dulu, ibu berjanji akan memberikan apa yang kamu mau asal kamu bahagia," Arni menyingkirkan rambut halus di dahi sang anak, "maafkan ibu karena selama ini tidak pernah memberi kamu kebahagiaan bahkan ibu sangat jahat sudah memberikan kamu pada orang lain," tambahnya lagi lalu memberikan ciuman kasih sayang pada Daniya sebelum akhirnya turun dari atas tempat tidur dan beranjak keluar.


Arni menutup pintu dengan gerakan yang sangat hati-hati tidak mau menimbulkan suara yang nantinya akan membuat Daniya malah terbangun.


Ketika pintu tertutup..


Dania menghela napas panjang lalu bergerak duduk seraya menatap pintu yang tertutup rapat.


"Mudah sekali mempermainkan emosimu, IBU." mengucap kata ibu dengan penuh penekanan.


Wajahnya yang tadi terlihat sangat menderita dan penuh dengan kesedihan dalam waktu singkat berubah menjadi ekspresi seorang yang sangat culas tak tertinggal dengan senyum miring dan tatapan mata yang teramat sinis tak terkira.


"Aku tidak selemah itu untuk menyerah dan bunuh diri," ketusnya seraya menyapu titik air mata yang tersisa dengan ujung jarinya.


"Bukankah untuk mencapai sesuatu kita boleh melakukan berbagai cara? termasuk melakukan kecurangan sekalipun, aku bisa memanipulasi siapapun saat aku mau." Daniya tersenyum layaknya seorang psikopat yang sukses menjalankan rencananya.


"Haaaahhh." wanita itu kembali menghela napas seraya menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur lalu menatap langit-langit kamar sambil sesekali mengulas senyum.


****


Pagi hari..


"Mama mana?" tanya Daniya pada pelayan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.


"Nyonya belum turun dari kamar, Nona muda," jawab sang pelayan yang hatinya merasa sangat bingung.


Semalam dia menyaksikan sendiri Nona mudanya itu terlihat sangat hancur, mengamuk bahkan mengancam ingin bunuh diri, tapi pagi ini semua yang dia lihat semalam seolah hanya sebuah mimpi ketika mendapati wajah sang Nona muda tampak baik-baik saja tidak ada lagi jejak tangis dan kehancuran yang kemarin dia lihat.


"Apa punya kepribadian ganda?" gumamnya ketika Daniya sudah berlalu.


Pelayan itu menggeleng kepala lalu mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak mau berpikiran macam-macam dan memilih melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Mama.."


Daniya memanggil sang Mama sambil membuka pintu yang masih belum di buka.


"Mama kenapa belum bangun?" tanyanya melihat sang Mama masih berada di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


"Setelah ini kamu pasti akan meninggalkan Mama seorang diri di rumah ini kan?"


Daniya mengerutkan dahi bingung kenapa tiba-tiba Mamanya berbicara seperti itu.


"Biar bagaimanapun mereka keluarga kandungmu, cepat atau lambat kamu akan kembali pada mereka," dari intonasi suaranya terdengar ada rasa kecewa yang mengganggu hatinya sejak semalam dia menyaksikan bagaimana Daniya dan Arni saling berbicara seolah tidak menganggap dirinya.


Daniya menggeleng cepat seraya menatap pada wanita yang tua yang dari manik matanya terlihat jelas rasa sedih yang bersemayam.


"Sampai kapanpun Daniya akan terus bersama Mama, hanya Mama seorang yang Daniya sayang tidak akan digantikan oleh siapapun, meskipun Daniya tahu mungkin Mama kecewa dengan Daniya, kecewa dengan sikap Daniya semalam," beber Daniya mengakui kekecewaan dari sang Mama yang bisa dia lihat dengan jelas.


"Dani hanya perlu dukungan dari Mama, itu saja," tambahnya lagi dengan sorot mata memohon.


"Tapi Dani.."


"Dani mohon Ma, Dani janji setelah ini Dani tidak akan meminta apapun lagi asalkan Mama mau mendukung Dani," tutur Daniya lirih seraya meneteskan air mata.


Dayna menarik napas berat, dia tidak setuju tapi melihat anaknya memohon sejak semalam membuat dia menjadi iba hingga akhirnya mengangguk.


Daniya tersenyum lebar menyapu air mata yang sempat menetes lalu memeluk tubuh sang Mama, "terimakasih Ma, Dani sayang Mama." katanya lalu tersenyum, senyum yang sangat beda dengan yang barusan.


Senyum yang tidak diperlihatkan pada Mamanya itu lebih terasa sangat menyeramkan dengan aura yang seperti ingin mematikan siapapun yang menghalangi jalannya mendapatkan apa yang dia inginkan, senyum kejahatan yang jelas menunjukkan seperti apa isi hatinya saat ini.


Siapapun tidak akan ada yang menyangka bahwa dia bisa melakukan apapun, menghalalkan segala cara agar apa yang dia mau tersampaikan.


***


"Ma, aku mengenal seorang pria yang sangat menyebalkan, tukang bohong yang pintar sekali mengumbar janji tanpa peduli janjinya itu ditepati atau tidak, apa orang itu tidak takut termakan oleh janjinya sendiri." oceh Ralen pada sang Mama mertua yang malah dengan polosnya mendengarkan ocehan menantunya.


"Pagi-pagi sudah menyindir suami sendiri, mulutmu itu memang sangat pedas rupanya, ckckck." Ipul yang baru saja turun dari lantai atas menimpali apa yang istrinya ocehkan, dia tahu dengan jelas siapa dan pria mana yang jadi bahan pembicaraan istrinya pagi ini.


Tentu saja dirinya karena dia memang manusia yang sering kali memberi janji tapi malah lupa untuk memenuhi janjinya itu.


Ralen melirik kesal dengan suaminya yang ikut nimbrung dan cukup tahu diri juga ternyata.


"Jadi aku tidak perlu nyindir-nyindir lagi?" Ralen menatap dengan kelopak mata yang mengerjap.


"Sebaiknya kalian sarapan, jangan mulai membuat kepala Mama pusing dengan perdebatan kalian," keluh sang Mama menatap pasangan suami istri itu bergantian.


"Mas Sai tukang bohong Ma," Ralen masih tidak terima hingga masih ingin membahas sekaligus mengadukan tentang suaminya.

__ADS_1



"Janjinya tidak ditepati?" tanya Mama Riska, karena sejak tadi menantunya memang terus membahas tentang kebohongan.



Ralen pun dengan semangat menganggukkan kepala.



"Ipul sibuk Ma, kan bisa jalan-jalannya besok," katanya mengurut kepala yang mulai terasa pening.



"Dari kemarin itu terus bilangnya, jalan-jalannya besok jalan-jalannya besok," dengus Ralen tak terima, dia seolah dianggap anak kecil yang hanya diberi janji manis tanpa ada pembuktian.



"Aku sibuk sayang, sibuk banget," kata Ipul dengan suara yang sangat pelan namun menunjukkan rasa gemas yang besar mengenai sikap istrinya.



"Kemarin padahal libur tapi Mas Sai malah tidur!" sengit Ralen.



Iya, kemarin itu dua hari suaminya libur akan tetapi malah memilih untuk bermalas-malasan di dalam kamar mengabaikan wajah istrinya yang sudah di tekuk seribu berharap suaminya akan menepati janji yang sudah diucapkan hampir lima hari yang lalu.



"Pul, Ralen itu sedang hamil moodnya naik turun harusnya kamu mengerti," sang Mama mencoba menengahi.



"Tapi kan yang ngidam Ipul, harusnya Jelita dong yang mesti paham keadaannya Ipul, kalau Ipul libur kerja itu inginnya istirahat saja di rumah, badan Ipul tuh masih sakit tiap pagi juga masih mual dan muntah.."



"Kalau begitu lain kali Mas Sai tidak usah berjanji!" Ralen menyela lalu beranjak dari duduk meninggalkan ruang makan.



Mama Riska mengurut kening, tinggal satu rumah dengan dua orang keras kepala membuatnya selalu merasa pusing menyaksikan perdebatan demi perdebatan yang setiap saat menghiasi rumah.



Kadang menganggap ini adalah hiburan tapi saat waktu tertentu malah membuat Riska ingin berteriak meminta pertolongan dari suaminya yang sudah tiada.



"Ngambek terus!" sungut Ipul tak berniat mengejar sang istri.



Riska menggeleng menyaksikan betapa anaknya itu yang sangat tidak peka, tidak ada inisiatif sama sekali untuk mengejar dan membujuk.



"Bujuk sana, wanita hamil jangan selalu dibuat kesal," titah sang Mama.



"Tapi Ipul mesti ke kantor," masih ingin pergi juga ke kantor.



"Saipul Gunawan! jangan hanya ada maunya saja kamu membujuk dan berkata manis, Mama gencet kamu nanti!" hardik Mamanya dengan mata yang bengis.



"Ok!" ternyata masih ada rasa takut juga dengan sang Mama.



Ipul segera berdiri lalu melangkah lebar menyusul sang istri yang tadi berlari ke halaman depan.


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2