Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Ini Kan..


__ADS_3

Kepulangan sang Mama mertua membuat Ralen tersenyum dengan lebar, sejak mertuanya sampai 30 menit yang lalu bahkan Ralen terus bergelayut manja di lengan Mama mertuanya, tidak melepaskannya barang sedetikpun, untuk ke kamar mandi saja sangat sulit, dia berubah menjadi anak manja lupa akan statusnya yang sudah bersuami dan yang dia peluk sejak tadi adalah mertua bukan ibu kandungnya.


Ini pemandangan yang luar biasa antar menantu dan mertua, kasih sayang terlihat sangat jelas ketika sang mertua juga tidak keberatan malah sebelah tangannya terus mengelus lembut pada rambut sang menantu.


Keduanya tidak ada drama pertikaian antar mertua vs menantu seperti yang kebanyakan terjadi dalam rumah tangga, sungguh berbahagialah Ipul ketika dua wanita yang dia sayangi terlihat begitu akur dengan kasih sayang yang tampak jelas.


"Mas Sai mu itu bawel sekali Len."


Ralen mengangkat kepala yang sejak tadi dia sandarkan pada lengan mertuanya, menatap tanya apa maksud dari pernyataan sang mertua barusan.


"Dia itu telepon Mama dari kemarin sampai pagi-pagi buta masih saja menelepon, menyuruh Mama untuk pulang padahal sekali saja sudah cukup kan?" aku wanita yang tengah mengadukan kelakuan anaknya sendiri pada sang menantu.


Ralen mengangguk menyetujui penuturan mertuanya, suaminya itu kan memang bawel sudah tidak aneh lagi baginya.


"Lagian Mama memang niat untuk pulang hari ini, kangen sama menantu Mama yang cantik dan juga calon cucu Mama," mengelus perut Ralen yang masih sangat datar, sudah hampir tiga bulan tapi belum terlihat ada tonjolan entah karena Ralen yang kurus dan hanya besar di bagian tertentu saja hingga membuat tonjolan perut tidak terlalu nampak atau memang karena faktor lain.


Ralen tersipu malu, wajahnya merah seketika mendengar perkataan sang mertua untuknya, seumur hidup baru mertuanya lah yang memujinya, bahkan rasanya dia juga tidak pernah mendengar suaminya memuji dirinya tidak tahu dia yang lupa atau bagaimana yang jelas sekarang dia merasa wajahnya jadi panas.


"Tapi tidak apa-apa karena itu artinya Mas Sai mu benar-benar sangat menyayangimu tidak mau kamu kesepian di rumah dan Mama senang akan hal itu, padahal sebelumnya Mama sempat khawatir dan takut.."


Ralen menaikkan wajahnya dan duduk dengan benar menunggu apa yang selanjutnya ingin dikatakan oleh sang Mama mertua.


"Saat Papa Irman meninggal.."


Lanjutan kata yang mertuanya lontarkan tentu saja mengingatkan Ralen tentang apa yang pernah terjadi.


Tentang suaminya yang menyalahkan dirinya menjadi penyebab sang Papa meninggal membuat wajah Ralen berubah menjadi sendu.


"Itu sudah terlewati sayang tidak perlu memikirkannya lagi toh sekarang Mas Sai mu sudah bertobat, hihi."


Sang mertua cekikikan dengan kata taubat yang baru saja dia ucapkan, karena merasa anaknya memang sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal terhadap wanita yang menjadi istrinya.


"Tidak usah membahas itu lagi, Mama itu kalau inget itu jadi sebel banget sama Mas Sai," celoteh Mama Riska.


Sepertinya dia sudah ketularan menantunya memanggil dengan panggilan Mas Sai untuk anaknya.


Ralen mengangguk dengan semangat cepat disertai dengan senyuman yang melengkung di kedua bibirnya.


"Sekarang ceritakan tentang Kakakmu," pinta sang mertua.


Dia mengira dengan mengubah topik pembicaraan akan merubah suasana hati Ralen agar kembali ceria, karena kan dia ternyata memiliki seorang Kakak tentu akan merasa senang mengetahui itu.


Tanpa tanpa dia sangka perubahan pembicaraan malah membuat jantung Ralen berdegub dengan kencang.


Ralen memang belum menceritakan dengan detail tentang siapa Kakaknya itu, dia hanya mengatakan pada Mama mertuanya bahwa dia memiliki seorang Kakak tentang siapa dan seperti apa wajah Kakaknya itu dia belum memberitahunya, dan ternyata suaminya pun tidak mengatakan apapun pada Mamanya itu.


Wanita hamil itu belum menceritakan tentang seberapa gila Kakak kandungnya itu yang meminta suaminya.


Mama mertuanya belum tahu apapun.


"Mama jadi ingin melihat seperti apa Kakakmu itu," ucap Mama Riska.


Ralen menarik napas berat lalu mengambil handphonenya, ibunya sempat mengirimkan foto Daniya saat berada di rumah sakit.


Apalagi kalau bukan untuk mencari simpatinya agar mau menuruti apa yang mereka minta.


"Ini Kakak Ralen Ma," kata Ralen mengarahkan layar handphone pada sang mertua.

__ADS_1


"Loh ini kan.."


Ralen menatap tak mengerti pada ekspresi yang ditunjukkan oleh mertuanya.


Raut wajah terkejut yang begitu nyata terlihat menunjukkan rasa syok yang tidak bisa disembunyikan.


"Mama kenal?" tanya Ralen menyipitkan sepasang matanya.


Sang mertua membisu seperti tengah memikirkan bagaimana memberitahu menantunya tentang Daniya yang pernah datang ke rumah karena takut menantunya itu tersinggung karena tidak pernah memberitahukan tentang kedatangannya Daniya.


"Jangan marah sama Mas Sai ya? soalnya Mas Sai juga nggak tahu apa-apa kok." lebih dulu meminta menantunya untuk tidak marah.


Dia tahu wanita hamil akan lebih sensitif menyangkut apapun apalagi ini menyangkut wanita yang mencari suaminya dan kenyataan wanita itu adalah Kakak kandungnya sendiri.


Bukankah itu sangat menyebalkan?


Ralen mengangguk, tentu dia dengan mudah percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang mertua, dia tahu benar sebaik apa Mama mertuanya itu.


"Dia ini pernah datang ke rumah saat kalian sedang di Batam," menunjuk foto yang ada di handphone Ralen.


Dahi Ralen mengerut tidak menyangka bahkan Kakaknya sudah sempat mendatangi rumah suaminya, sungguh wanita yang kurang kerjaan.


"Dia itu tanyain Mas Sai, cari-cari Mas Sai mu untungnya kalian itu sedang tidak ada," Mama Riska menatap intens menanti reaksi apa yang akan diberikan oleh menantunya, meski dia sudah mengingatkan tapi dia tetap saja waspada tidak mau anak dan menantunya bertengkar karena wanita yang ternyata adalah Kakak dari menantunya sendiri.


Sungguh dia tidak menyangka ternyata dunia benar-benar sangat sempit.


"Mas Sai nggak tahu dia datang benar-benar nggak tahu apa-apa," ulang Mama Riska.


"Iya Ma, Ralen ngerti," ucap Ralen memberikan senyum agar sang mertua tidak perlu khawatir dia akan marah pada suaminya.


Setelah memberi senyum sesaat kemudian Ralen merapatkan bibirnya dengan kedua tangan yang saling meremas membuat wanita yang menemaninya melihat perubahan yang terjadi pada dirinya.



"Ada yang mau kamu ceritakan sama Mama?" usut snag mertua bisa membaca ada sesuatu yang tengah mengganggu pikiran menantunya.



Sungguh Ralen merasa sangat beruntung memiliki mertua yang bisa begitu mengerti dirinya bahkan saat dia hanya diam saja mertuanya itu bisa mengetahui kalau ada yang sedang dia rasakan.



Ralen merasa lebih di sayang oleh mertuanya itu, merasakan sayang yang bahkan rasanya lebih dari yang ibunya berikan, bukan berniat membandingkan hanya saja itulah yang Ralen rasakan semenjak kedatangan Daniya.


Ibunya menjadi berubah, sangat berubah berbeda dengan yang sebelumnya bahkan terkesan tega terhadapnya.


"Wanita itu suka sama Mas Sai, Ma," suara Ralen terdengar lirih dengan wajah yang menunduk dalam.



Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Ralen tidak terlalu mengejutkan lagi untuk sang mertua karena Ipul pun sudah menceritakan semuanya, memberitahunya tentang siapa wanita itu dan bagaimana mereka bisa saling mengenal, semua dia sudah tahu tapi saat Ralen bicara dengan wajah yang kecewa membuat dia pun ikut kecewa juga.



"Tapi kan Mas Sai nya suka sama kamu," menarik tubuh menantunya lalu mendekapnya sangat erat.


"Kalian sudah menikah dan sebentar lagi akan jadi orang tua, Mas Sai mu itu nggak akan berani kemana-mana, jadi kamu tenang saja toh yang suka kan hanya dia saja Mas Sai mu tidak, kan?" berkata panjang lebar untuk menenangkan dan menyemangati sang menantu, mengingatkan bahwa dialah yang paling berhak atas diri Ipul, tidak ada wanita lain.

__ADS_1


Ralen mengangguk mengulas senyum, sebenarnya hatinya masih resah karena dia masih belum bisa menceritakan semuanya.


Menceritakan tentang ibunya yang meminta dia untuk memberikan suaminya kepada Daniya, sungguh meski dia marah pada ibunya akan tetapi dia tidak ingin ibunya terlihat buruk di mata besannya sendiri.


"Sudah jangan galau terus," Mama Riska meminta dengan wajah yang ceria, berharap keceriaannya itu bisa menular pada menantu yang dia sayangi.



Dia hanya punya satu anak dan itupun laki-laki lalu saat anaknya menikah jelas dia akan sangat menyayangi istri dari anaknya terlebih lagi dirinyalah yang memaksa mereka menikah meski dia tahu keduanya bahkan tidak ada hubungan apapun, bertemu dalam ketidaksengajaan.



Tapi seorang Riska akan menganggap menantunya itu seperti anaknya sendiri, menyayanginya sama seperti dia menyayangi anaknya.



"Kata Mas Sai kamu ingin jalan-jalan, bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan?" Mama Riska menawarkan, berusaha untuk menghibur menantunya agar tidak lagi gelisah memikirkan masalah yang mengesalkan tentang Daniya.



Ralen tersenyum lebar lalu dengan semangat menggerakan kepalanya mengangguk begitu cepat memberikan jawaban.



Namun sejenak kemudian raut wajahnya berubah, "kan Mama baru sampai, nanti capek kalau kita jalan-jalan sekarang besok aja deh Ma." Ralen tentu tidak mau mertuanya yang baru saja tiba dari luar kota dengan menempuh perjalan panjang malah harus menemaninya, mertuanya itu harus istirahat lebih dulu karena pastinya sangat lelah.



"Iya juga sih, badan Mama juga pegal banget ini," cetus Mama Riska.



"Mama mau pijat nggak? kalau mau nanti aku panggilin tulang pijat yang dekat kontrakan."



"Kamu ada nomornya?" Mama Riska bertanya cepat, saat ini tubuhnya memang butuh di pijat agar pegalnya hilang.



"Ada, biar Ralen telepon sekarang," Ralen mengambil handphonenya.



"Ya udah deh kamu telepon terus nanti suruh sopir jemput aja," Mama Riska senang, dia juga sudah membayangkan betapa nikmatnya di pijat saat tubuhnya sedang sangat lelah, tentu akan kembali membuat dia segar nantinya.



"Iya Ma."



"Ya udah Mama ke kamar dulu ya." kata Mama Riska seraya beranjak menuju kamar meninggalkan sang menantu yang sedang menghubungi tukang pijat.



\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2