Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Tidak Berhak Bahagia?


__ADS_3

"Mas Sai tunggu disini saja."


Baru saja Ipul hendak membuka pintu namun suara istrinya membuat gerakannya terhenti.


Pria itu menatap penuh tanya, dia sudah datang meski memang untuk mengantarkan Istrinya tapi kenapa dia malah dilarang untuk ikut serta masuk ke dalam rumah sakit, memangnya siapa yang sakit?


Padahal tadi dia dengan ibunya yang menghubungi sang istri, itu artinya salah satu keluarga dari istrinya kan yang sakit? keluarga istrinya tentu juga sudah menjadi keluarganya, terus sekarang dia malah tidak diijinkan, terdengar aneh dan tidak menyenangkan.


"Aku suamimu dan yang berada disini adalah anggota keluarga kamu jadi sama saja keluargaku juga, Jelita! tapi bagaimana bisa kamu malah melarang aku untuk datang melihat keadaan yang sakit?" papar Ipul memperjelas siapa dirinya, mengingatkan andai istrinya itu lupa mereka adalah sepasang suami istri.


"Memangnya siapa yang sakit? ibu? Arda atau Ayah?" bertanya lagi dengan kali ini lebih merinci siapa yang sekarang di rawat di dalam rumah sakit.


Keduanya masih berada di dalam mobil karena Ralen pun juga belum turun karena dia benar-benar tidak ingin suaminya ikut masuk ke dalam rumah sakit bersama dirinya.


"Jelitaa?" mulai geram sebab pertanyaannya diabaikan sekian menit.


"Daniya." sahut Ralen dengan kedua mata yang tak berkedip menunggu tanggapan dari sang suami.


Ipul menghela napas berat kemudian berkata, "ayo turun," ajaknya tanpa menanggapi ucapan dari istrinya.


Ralen diam membeku tidak bergerak bahkan ketika suaminya sudah membuka pintu mobil dana kan menurunkan sebelah kaki.


Ipul menoleh, "ayo sayang," katanya lagi.


Ralen menggeleng menolak ajakan suaminya, dia menjadi sangat keberatan tidak mau suaminya bertemu dengan Daniya sekalipun hanya melihat saja, tetap dia tidak rela tidak ingin Daniya berkesempatan untuk melihat wajah suaminya, jujur dia cemburu.


"Aku nggak mau Mas Sai ketemu sama dia, nggak mau dia lihat Mas Sai," tolak Ralen cepat dengan bibir penuh nan seksinya yang bergerak mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Cemburu hm?" malah menggoda serta mengiringinya dengan senyum bangga.


Bangga karena wanita galak yang biasanya marah kini terlihat tengah menunjukkan rasa cemburu yang begitu nampak jelas.


"Iya! puas kan?!" Ralen bersuara sedikit keras yang malah membuat suaminya terkekeh.


"Aku lagi hamil, jadi jangan memancing emosi terus!" salak Ralen lagi.


"Sabar sayang, sabar." Ipul kembali menaikkan kakinya ke dalam mobil lalu mengelus perut istrinya yang kembang kempis karena kesal.


"Pokoknya Mas Sai jangan ikut! tunggu disini aja." Ralen berkata tegas dengan kedua mata yang menatap tajam pada sang suami, memberi peringatan seraya menikmati usapan lembut pada perutnya yang tengah dia rasakan.


Ipul mendengus membuang napas kasar yang terasa panas, "yaudah terserah kamu, tapi kalau misal ada sesuatu segera hubungi," kata Ipul yang akhirnya pasrah menurut pada apa yang istrinya mau.


Alasan yang diberikan oleh istrinya cukup dia bisa terima, mungkin karena pengaruh kehamilan yang membuat istrinya menjadi lebih posesif dari yang sebelumnya, atau jangan-jangan memang seperti inilah sifat Ralen yang sebenarnya?


Tiga bulan menikah ternyata dia masih belum cukup mengenal seperti apa wanita yang dia nikahi, kemarin-kemarin dia merasa sudah sangat mengenal namun setelah hari ini sepertinya dia harus lebih mencari tahu lagi tentang sifat sang istri yang sebenarnya.


"Suamiku tercinta ternyata penurut," lontar Ralen dengan senyum yang mengembang.


"Lebih tepatnya terpaksa menurut!" Ipul meralat pernyataan dari wanita hamil di sampingnya.


"Hehehe." lalu dengan tanpa bersalahnya Ralen malah cengengesan mentertawakan pria yang tengah menampilkan wajah dongkol namun tak bisa meluapkan.


"Aku turun dulu," kata Ralen bersiap membuka pintu tapi kemudian terhenti dia menatap pria yang tengah menatap juga padanya.


Cup!


Mengecup singkat pada bibir sang suami tanpa berkata apapun.


"Biar nggak kangen," katanya lalu gegas turun.


"Seperti ini malah membuat aku tidak ingin ditinggalkan," celoteh Ipul tak senang melihat istrinya sudah keluar dari mobil.


"Cuma sebentar," kata Ralen membungkukkan tubuhnya agar bisa melihat pria yang ada di dalam mobil.


"Berani lama, aku seret kamu!" peringatan yang membuat bola mata Ralen melebar terkejut tapi sedetik kemudian tertawa dengan tangan yang menutupi mulutnya.


Tidak ingin makin tak kelar pembicaraan dengan suaminya akhirnya Ralen pun gegas melenggang menjauh dengan langkah lebar menuju masuk ke dalam rumah sakit mencari kamar tempat Daniya di rawat.


Tadi ibunya sudah memberitahu berada di kamar mana Kakaknya itu.


Seorang Kakak yang entah otaknya ada atau tidak ada, seorang Kakak yang gila-gilaan ingin meminta suaminya, seorang Kakak yang melakukan perbuatan gila tak masuk akal hanya untuk mencapai tujuannya.


Ralen melangkah berat, teramat berat ketika dia yang sebenarnya terpaksa datang ke rumah sakit ini, jika bukan ibunya yang memaksa sudah pasti dia tidak akan mau mendatangi rumah sakit ini apalagi berurusan dengan Daniya.


Sungguh dia tidak peduli mau seperti apa saat ini Daniya, sekarat atau tidak pun dia tidak ingin tahu akan tetapi dia masih sangat menghargai ibunya.


Menghargai dan juga menyayangi ibu kandungnya yang bahkan beberapa hari lalu sudah membuat hatinya terluka kecewa mendalam atas permintaan yang rasanya sangat tidak masuk akan dan tidak pernah terpikirkan untuk menuruti permintaan ibunya itu.


"Bu."


Ralen memanggil sang ibu ketika dia sudah melihat wanita itu berdiri di depan satu ruangan yang mungkin adalah ruangan dimana Daniya ditempatkan.


Sang ibu yang mendengar anaknya pun menoleh lalu berjalan cepat menghampiri, "ibu sudah tunggu kamu sejak tadi, Len," ucap Arni memegang lengan sang anak dengan raut wajah yang sangat sedih.

__ADS_1


"Arda mana?" tanya Ralen yang memang tidak mendapati adiknya.


Biasanya sang adik lah yang akan selalu dengan setia menemani dan mengantar ibu mereka kemanapun, namun entah kenapa saat ini adiknya itu tidak terlihat.


Arni menggeleng lemah, "Arda nggak mau ikut," aku Arni.


Tadi dia memang sudah mengajak anak laki-lakinya, namun anaknya itu keras hati menolak berkata tidak mau tahu apapun yang terjadi dengan Daniya, karena menurut Arda, Daniya itu sangat menyebalkan dan egois juga angkuh dan mungkin segala sifat buruk bersemayam dalam diri Kakak pertamanya itu.


Arda tidak salah karena itulah kenyataannya.


Sedangkan Ayahnya itu tidak mungkin ikut karena kondisinya yang tidak memungkinkan.


"Daniya memotong nadinya lalu minum racun, untung segera ketahuan hingga lekas dibawa ke rumah sakit jika tidak mungkin dia tidak akan selamat," cerita Arni tanpa diminta.


"Dia melakukan itu setelah ibu memintanya untuk melupakan suamimu, ibu memintanya untuk tidak mengganggu kalian, tapi dia.."


Wanita tua itu seakan tidak bisa untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan, semua yang sejak tadi ingin dia ceritakan seolah tercekat di dalam tenggorokannya tertahan hingga membuatnya meneteskan air mata dengan bibir yang bergetar.


Dapat Ralen lihat ibunya itu tengah berusaha untuk kuat dan tegar atas kelakuan anak pertamanya yang baru ditemukan, anak pertama yang sekarang menyusahkan tak hanya ibu tapi juga dirinya.


Ralen menarik tubuh sang ibu lalu memberikan pelukan sambil mengusap punggungnya agar menjadi tenang.


"Tante Dayna dimana?" tanya Ralen kemudian karena dia tidak melihat orang tua angkat dari Daniya.


"Ada di dalam menemani Kakakmu," jawab ibunya.


Sungguh Ralen benci ketika ibunya mengatakan bahwa Daniya adalah Kakaknya, seolah mengingatkan dirinya bahwa dia dan wanita yang ingin merebut suaminya itu adalah saudara memiliki ikatan darah yang tidak bisa dielak bagaimanapun juga.


"Kalian jahat, semuanya jahat!"


Suara teriakan histeris membuat Ralen dan ibunya tersentak kaget membuat pelukan mereka terlepas dan menatap pada pintu yang tertutup rapat namun memperdengarkan keributan dari dalam sana.


"Kalian tidak pernah menyayangi aku!"


Lagi, Ralen menangkap dengan jelas suara Daniya yang sangat tinggi, kencang seakan ingin merusak indera pendengaran.


Brak!


Lalu kemudian ada suara benda jatuh ke lantai di susul dengan suara pecahan benda yang mungkin gelas atau juga piring, membuat ibunya menjadi sangat panik.


"Len, Kakakmu Len," suaranya sarat dengan ketakutan, cemas pun mengiringi ketika wanita itu akan membuka pintu.


Ralen berada di belakang ibunya saat pintu sudah terbuka, menyaksikan ruang rawat yang menjadi sangat berantakan akibat perbuatan Daniya.


"Dani.."


Ralen melihat pada Dayna yang berteriak takut melihat amukan sang anak angkat.


"Kamu wanita tidak punya hati!" tunjuk Daniya pada Ralen yang berdiri di belakang sang ibu.


Ralen bergeming, tidak terima dituding tak punya hati padahal mereka juga tahu benar siapa sebenarnya yang tidak punya hati, siapa sebenarnya yang jahat dan egois.


Daniya berusaha untuk mencabut selang infus tapi untungnya ada dua orang perawat yang datang memegangi, langsung memberikan obat penenang yang segera saja membuat berontakan Daniya melemah dan perlahan wanita itu memejamkan mata.


Tante Dayna terduduk lemah di atas sofa, menghela napas berat karena dia yang sedang tidak sehat terpaksa untuk menenangkan Daniya yang mengamuk.


"Tante Dayna seharusnya menyuruh orang untuk menjaga dia," kata Ralen pada wanita tua itu.


Biar bagaimanapun yang gila adalah Daniya, cukuplah dia membenci orang itu saja tanpa melibatkan orang disekitarnya, bahkan dia sekarang menjadi sangat iba pada wanita yang sudah merawat Daniya sejak bayi.


Tante Dayna tersenyum kecut seraya mengurut kepalanya.


"Arni." Tante Dayna memanggil wanita yang berdiri cemas di samping Daniya yang sudah tidak sadar.


"Sepertinya aku sudah tidak bisa lagi menghadapi Daniya."


Pernyataan Dayna membuat Ralen dan ibunya saling pandang tak mengerti apa maksudnya.


"Aku kembalikan Daniya padamu," kata Tante Dayna lemah dengan napas yang memberat, terasa sesak tapi dia juga tidak bisa terus menahan, ketimbang dia jadi tidak sehat karena kelakukan Daniya lebih baik dia mengembalikan anak itu pada orang tua kandungnya, toh dia juga sudah puas merawatnya sejak kecil.


"Maksud nyonya?" Arni menatap tak mengerti.


"Rawat Dani bersamamu, tapi jangan khawatir karena aku akan tetap memberikan fasilitas untuknya, tapi aku tidak sanggup lagi andai harus setiap saat melihatnya seperti ini." Tante Dayna berkata terus terang.


Setelah mengatakan itu, Tante Dayna pun menghubungi asistennya untuk datang menjemput.


Ralen dan ibunya terdiam tanpa kata melihat Tante Dayna pergi meninggalkan ruangan itu.


Benar-benar pergi, bukan hanya sekedar ancaman belaka.


Mereka tidak bisa mencegah karena setiap orang punya pilihan untul bertahan atau pergi meninggalkan.


"Len," suara sang ibu terdengar bergetar, semua perasaan sedih dan bingung serta yang lainnya pun bercampur menjadi satu, melebur dalam hati dan otak pikirannya membuat kalut tak berdaya.

__ADS_1


"Ibu mohon pada kamu Len."


Deg!


Jantung Ralen berdetak, ibunya kembali memohon dan dia tahu dengan jelas permohonan untuk apa.


Ralen menatap nanar dengan pandangan yang menjadi buram, tidak percaya ketika ibunya malah ingin mengorbankan dirinya, mengorbankan kebahagiaannya.


Apa dia tidak berhak bahagia? tidak pantas bahagia?


Mulut Ralen membisu lidah menjadi sangat kelu bahkan sepatah kata pun seolah tidak sanggup untuk dia keluarkan manakala melihat linangan air mata yang sudah mengalir begitu deras dari kedua belah mata wanita di depannya yang sekarang menangkupkan kedua tangan memberikan permohonan.


Ralen bukanlah Tuhan yang bisa mengabulkan apa yang diinginkan oleh wanita di depannya ini.


Tubuh Ralen membeku dan menjadi sangat dingin dengan butiran-butiran bening yang memaksa untuk keluar.


Haruskah dia berkorban?


Sungguh terasa sangat tidak adil!


"Ibu akan melakukan apapun asal kamu mau memberikan apa yang Kakakmu inginkan, ibu tidak ingin kehilangan Kakakmu lagi, Len."


Jantung Ralen makin berdebar tak karuan, akan melakukan apapun asal tidak kehilangan Daniya lagi?


Tidak ingin kehilangan anak pertamanya?


Apa lebih rela kehilangan anak yang selama ini sudah berkorban banyak untuknya, anak yang merelakan tubuhnya bekerja siang malam hanya untuk bisa mencukupi kebutuhan mereka.


Ralen tak mengerti dan menjadi sakit hati.


"Ibu rela melakukan apapun, bahkan bersujud memohon.."


Ralen makin kehilangan kata-kata, makin tak bersuara hanya matanya saja yang bergerak mengikuti apa yang akan dilakukan ibunya.


Arni pun membuktikan apa yang dia katakan barusan, wanita itu bersujud di depan kaki sang anak dengan wajah yang menderita.


Ralen menggeser kakinya, bergerak mundur perlahan menjauhi wanita yang bersujud di depannya dengan pandangan tak menyangka.


Ralen menggeleng-gelengkan kepala tak sanggup melihat ibunya harus melakukan hal seperti ini hanya untuk seorang Daniya, anak pertama yang bahkan baru datang namun sudah memberi mereka kesedihan, menghancurkan keharmonisan keluarganya.


Pedih dan teriris hingga Isak tangis pun Ralen keluarkan karena sudah tak kuasa lagi menahan tangisan yang membuatnya sesak.


"Ibu benar-benar memohon sama kamu Len," kata sang ibu seraya menunduk dihadapan kaki sang anak yang lambat-laun menjauh.


"Apa Ralen tidak pantas untuk bahagia, Bu?" tanya Ralen yang sejak kecil sudah harus mengalami hidup susah sampai remaja bahkan saat sudah menikah dan ingin bahagia pun rasanya tidak boleh.


Arni tak berani melihat pada sang anak, "hanya untuk kali ini saja Len, ibu takut Kakakmu akan melakukan bunuh diri lagi kalau kita tidak menurutinya."


"Dia bukan Kakak Ralen!" sentak Ralen tak terima sejak tadi ibunya terus saja menyebut Daniya adalah Kakaknya sedangkan perbuatannya tidak mencerminkan seorang Kakak.


Untunglah di ruangan itu tanya ada mereka bertiga, suster yang tadi membantu sudah pergi sejak tadi.


Ralen menangis tak tahan, menangis sesak tak terima pada permintaan dari ibunya.



Wanita yang melahirkannya itu memintanya untuk mengalah? tidak tahukan ibunya bahwa dia sangat sakit saat ini.



"Ralen sedang hamil Bu, Ralen hamil!" kata Ralen mengingatkan ibunya.



"Ibu tahu Len, ibu tahu tapi ibu tidak punya pilihan," tutur sang ibu lemah.



"Ibu tidak punya pilihan lalu kenapa harus Ralen yang di korbankan!" Ralen menyentak keras.



"Ralen kecewa Bu, kecewa sang Ibu!" kata Ralen berulang lalu dengan wajah yang basah diapun keluar dari ruangan itu.



Berjalan cepat tak peduli pada ibunya yang juga menangis.


Ibunya egois, jahat tak berperasaan, mengorbankan anak yang lain demi anak yang lainnya, apakah itu adil?


Sungguh Ralen tidak merasa mendapatkan keadilan dalam hidupnya selama ini.


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2