
"Om," panggil Ipul pada Damar yang tengah mengambil map dari lemari kaca.
"Ada apa tuan muda?" jawabnya seraya kembali menutup pintu lemari kaca setelah mendapatkan map berisi berkas yang dia cari.
Pria itu kembali mendekat ke arah sang atasan yang duduk di sofa dengan jejeran berkas-berkas yang begitu menumpuk, berkas yang berisi tentang anak perusahaan yang ada di Batam masih menjadi pusat perhatian dua orang itu.
"Ipul minta tolong carikan sekretaris baru," tutur Ipul yang langsung saja membuat Damar mengernyitkan keningnya mendengar permintaannya.
Memangnya kenapa dengan sekretarisnya yang sekarang? apa ada masalah? menurut penilaian Damar kerja Sarah cukup baik hanya saja memang sangat centil yang kerap kali mencari perhatian dari atasan mereka dan Damar sangat sadar itu terlebih lagi saat mereka berada di Batam, hal itu memang tidak baik mengingat pria pemilik perusahaan itu sudah memiliki istri.
"Lalu Sarah?" tanya Damar, dia tidak tega juga kalau harus memecat wanita itu tanpa alasan.
"Kalau di pecat bagaimana?" tanya Ipul meminta pendapat.
"Saat pemecatan setidaknya kita harus mempunyai alasan tuan muda," tutur Damar mengingatkan kalau mereka tidak bisa main pecat begitu saja tanpa alasan yang jelas, setidaknya harus ada satu alasan dan itupun cukup masuk akal.
"Kalau begitu di pindahkan saja, Ipul dengar Pak Raka sedang membutuhkan sekretaris," ucap Ipul memberi saran.
Pak Raka adalah manager di perusahaan itu, sudah cukup berumur dengan perut yang sedikit membuncit serta kepala yang sedikit botak di bagian tengahnya.
"Anda yakin?" tanya Damar memastikan, dia tidak mungkin asal memindahkan Sarah jika tidak ada kepastian karena nantinya malah jadi masalah, sedangkan yang dia tahu Pak Raka sekarang ini juga sedang menyeleksi calon sekretarisnya.
Ipul mengangguk pasti dan penuh keyakinan, "kalau tidak yakin kan tidak mungkin Ipul ngomong sama Om, lagian selama ini apa Ipul orang yang labil dengan keinginan yang sudah Ipul sampaikan?"
Damar menggeleng, "tidak, saya harap sih selamanya selalu berprinsip pada apa yang sudah menjadi keputusan," cetus Damar.
"Semoga tidak ada kejadian yang membuat Ipul melanggar prinsip yang selama ini Ipul pegang," lontar pria yang dua jam lalu menikmati makan siang bersama dengan istrinya.
Makan siang tidak romantis karena keduanya malah saling diam tanpa kata setelah membahas perihal sekertaris yang diminta untuk di ganti.
Damar mengangguk, "kalau begitu saya akan menemui Pak Raka dulu untuk membicarakan perihal Sarah," ujar Damar meletakkan berkas yang tadi dia ambil, lalu beranjak dari ruangan itu.
*******
"Mbak mau kemana?" tanya Safiq pada Ralen yang akan keluar dari pantry tempatnya berada.
"Mau ambil sampah di mejanya Mbak Siska," jelas Ralen, "emangnya kenapa?" tanya Ralen pada pria yang sedang mencuci gelas kotor.
Sebentar lagi jam pulang dan sebelum pulang mereka memang di wajibkan untuk sudah menyelesaikan tugas mereka, semua alat-alat makan dari gelas sendok garpu juga piring ataupun benda lainnya yang kotor harus sudah di cuci dan di simpan dengan baik di tempatnya semula, tidak boleh pulang saat semua pekerjaan belum selesai, supervisor mereka selalu menekankan hal itu untuk kebaikan mereka bersama agar bisa tetap bekerja.
"Tadi Mbak Ratu cariin Mbak, katanya mau pulang bareng," ujar Safiq dengan air yang tengah mengalir membilas gelas yang sudah dia sabuni.
__ADS_1
"Pulang bareng? emang dia nggak di jemput?" tanya Ralen heran karena yang dia tahu Ratu itu selalu di jemput oleh Adiknya.
"Nggak kayaknya, kan kalau di jemput nggak bakal minta bareng alias nebeng sama Mbak," celetuk Safiq membuat Ralen menaikkan sudut bibirnya.
"Nggak bisa di ajak basa-basi Lo," kesal Ralen dengan jawaban yang Safiq berikan.
Menurutnya pertanyaan yang tadi dia ajukan adalah pertanyaan yang sangat lumrah saat ada orang yang berniat pulang bareng padahal selama ini selalu di jemput, tapi Safiq malah memberikan jawaban yang ngeselin, Ralen juga tahu tidak mungkin Ratu minta bareng kalau dia di jemput.
Dengan dengusan napas yang kencang Ralen pun berjalan keluar dari pantry meninggalkan pemuda 18 tahun yang kadang menyulut emosi saat di ajak bicara.
Pukul 5 sore kantor sudah mulai sepi dan hanya menyisakan para pekerja seperti Ralen yang bersiap untuk pulang setelah menyelesaikan segala tugas mereka.
"Len." Ratu yang sudah duduk di boncengan motor Ralen mulai mengusik konsentrasi Ralen dalam berkendara.
"Apaan?" tanya Ralen melirik kaca spion motornya.
"Gue itu masih penasaran sama apa yang sempat gue ceritain sama elo dulu."
"Itu loh yang waktu gue sama Safiq masuk ke ruangannya anak bos, eh udah jadi bos yang sekarang mah," meralat sendiri ucapannya tentang kedudukan pria yang sepertinya akan menjadi topik pembicaraan.
Ralen terdiam sesaat, "cerita yang mana lagi?" tanya Ralen yang sebenarnya sudah cukup mengerti apa yang temannya itu maksud, satu-satunya cerita yang sampai sekarang tidak ingin Ralen ingat tapi malah selalu teringat.
"Itu loh yang gue nggak sengaja masuk ruangan itu buat cari elo tapi Lo nggak ada, eh yang ada malah si bos yang keluar dari ruang istirahatnya dan kondisi ruangan yang berantakan, gue udah cerita kan yang ruangan itu berantakan?" tanya Ratu memastikan.
"Iya," menjawab singkat dengan jantung yang tak karuan.
__ADS_1
"Gue rasa ada perempuan tuh, jangan-jangan abis gituan."
Ciiiitt!
Ralen ngerem motornya dengan mendadak membuat Ratu menubruk punggungnya karena tidak sempat berpegangan.
"Waduh, untung nggak ada kendaraan Len," kata Ratu dengan kulit wajah pucat, "lagian Lo kenapa sih?"
"Perut gue mendadak sakit," bohong Ralen seraya memegangi perutnya agar terlihat lebih meyakinkan.
"Gue turun disini aja deh," Ratu turun dari motor Ralen.
"Lo langsung pulang sana, masuk angin kali," tambahnya lagi.
"Naik aja lagi, dikit lagi juga sampe rumah Lo ini, gue masih bisa nahan kok," ucap Ralen.
"Beneran?" Ratu bertanya memastikan.
"Bener," sahut Ralen cepat hingga akhirnya Ratu pun kembali naik ke motor.
Sepanjang jalan Ralen dag-dig-dug berharap agar cepat sampai di rumah Ratu, benar-benar tidak ingin Ratu membahas tentang dugaan temannya itu, sungguh dia tidak mau kalau teman-temannya tahu bahwa dialah wanita yang ada di dalam ruangan sang pemilik perusahaan karena waktu itu mereka belum menikah bisa-bisa dia di cap wanita murahan.
"Makasih ya Len," ucap Ratu saat sampai di rumahnya.
"Sama-sama," jawab Ralen dan setelahnya gegas menjalankan motornya takut kalau Ratu akan menyambung lagi acara bergosipnya dengan salah satu pelaku di dalam ruangan.
\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1