
"Umur mu itu 20 tahun, tapi kelakuanmu macam ABG baru mengenal cinta! marah sedikit blokir!"
Ipul yang akhirnya bisa menghubungi Ralen setelah meminjam handphone asistennya langsung saja memarahi sang istri tanpa membiarkan wanita itu bersuara.
Ralen kesal kenapa setiap marah selalu saja membawa-bawa usia, memangnya hanya ABG saja yang boleh blokir kalau sedang marah? setiap orang kan punya hak untuk melakukan apa yang dia mau termasuk memblokir orang yang membuat marah apalagi sudah salah tapi selalu mencari celah untuk menyalahkan orang lain.
"Memangnya yang boleh marah dan main blokir cuma ABG saja, sedangkan istri yang tidak diberi kabar oleh suaminya tidak boleh?" cecar Ralen mulai bersuara ketika Ipul sedang mengatur napas karena emosi yang tersulut dengan tingkah lakunya.
"Gue sibuk, banyak yang harus gue selesaikan Lo bisa lebih dulu hubungi gue apa susahnya," ujar Ipul dengan intonasi yang sarat akan emosi.
Kelopak mata Ralen mengerjap ketika mendengar pria itu kembali ke wujud saat pertama kali mereka bertemu dulu, wujud galak dengan kata-kata menyebalkan dan panggilan tak lagi aku kamu seperti ketika pria itu akan pergi ke Batam.
Ralen kepalang kesal hingga akhirnya memilih untuk mematikan panggilan itu padahal dia mendengar suaminya masih terus berbicara.
"Terus aja salahin gue!" kata Ralen dengan suara yang tertahan, lalu mengabaikan handphonenya yang berbunyi kencang dengan nomor yang sama tertera di layar.
"Bocah tukang ngambek!" maki Ipul seraya melempar handphone yang bukan miliknya dengan tanpa dosa sedikitpun di depan mata sang pemilik benda yang sekarang melotot lalu kelabakan mengejar handphone yang teronggok di sudut sofa.
Damar menarik napas lega karena handphone yang mendarat di sofa, andai benda itu terjun bebas di lantai sudah pasti tidak akan lagi bernyawa sebab Ipul yang melemparnya dengan kekuatan penuh, seperti memang sengaja untuk melampiaskan emosi karena teleponnya malah di matikan dan kini diabaikan oleh wanita yang berada di Jakarta sana.
Dua orang keras kepala bersatu dan yang akan menjadi tumbal adalah orang-orang disekitar mereka, selalu jadi sasaran empuk untuk lampiasan emosi menggunung.
"Saya mau istirahat Om," ucap Ipul pada Damar yang sekarang tengah mengelus handphone yang baru saja menjadi korban.
Di dalam handphone itu banyak sekali hal penting yang tersimpan dan semuanya tentang pekerjaan jadi akan sangat menyusahkan dirinya kalau handphone itu sampai rusak, dia yang harus memperbaiki atau bahkan menginstal kembali file-file yang tentu akan memakan waktu.
Damar mengangguk sebab ini memang sudah mau jam sepuluh malam, sudah waktunya mereka untuk beristirahat sebelum kembali menyelesaikan pekerjaan mereka esok hari.
*****
__ADS_1
Pagi hari di kota Batam..
"Mau apa?" tanya Damar ketika mendapati Sarah, sekretaris yang sepertinya tidak pernah lepas dari make up di wajahnya, bahkan mungkin tidur pun wanita itu akan tetap memakai make up, wanita itu sudah berdiri tepat di depan pintu kamar sang atasan.
"Mau bangunin bos Pak Damar, kan kita ada rapat pagi ini," jawab Sarah dengan nada yang ketus, terlihat sekali kalau dia tidak suka dengan asisten yang selalu saja muncul di saat krusial dalam hidupnya.
Kenapa krusial? ya karena memang dia punya misi untuk mendekati bosnya itu, bos muda dengan wajah tampan dengan kulit yang eksotis yang terlihat begitu macho hingga saat pertama kali dia diterima sebagai sekretaris langsung saja terpesona dan tertarik seolah ada magnet yang terus menariknya untuk selalu bisa berdekatan dengan sang atasan yang sekarang menjadi idolanya.
Menurut Sarah hanya wanita buta dan bodoh saja yang akan menolak seorang dengan tingkat mendekati sempurna itu.
Damar melihat arloji di tangannya yang memang akan selalu ada di tempat itu ketika dia sudah harus berkegiatan, "baru setengah 6, apa kamu tidak salah lihat? padahal kamu yang menyusun sendiri jadwal rapat," celetuk Damar dengan sorot mata yang memancarkan ketidaksukaan.
Sekarang dia jadi berpikir apa sebaiknya meminta sang atasan agar memecat wanita bernama Sarah ini, karena apa yang dia lihat membuat dia jadi khawatir kalau-kalau wanita itu berbuat hal yang tidak seharusnya.
Sarah menatap tak berdaya ketika apa yang sudah dari semalam dia rencanakan malah tidak berjalan ketika ada seorang Damar yang entah kenapa malah mendadak muncul, padahal seingatnya Damar baru akan datang ketika jam sudah menginjak pukul 7 kurang.
"Tidak perlu khawatir, saya yang akan mengingatkan, tugas kamu itu hanya menyusun jadwal yang penuh dan kosong lalu memberitahukannya pada saya, kembali ke kamar mu sana,masih ada waktu satu jam lebih sebelum pertemuan dengan pihak investor yang bermasalah," usir Damar dengan tatapan tegas pada wanita yang menampilkan senyum ketidaksukaan terhadap dirinya.
"Baik Pak, saya permisi," kata Sarah seraya mengangguk lalu dengan langkah yang sedikit di hentak dia berjalan menyusuri lorong guna menuju kamar tempatnya menginap.
Sedang di dalam kamar, Ipul yang sudah bangun dari tidurnya malah sedang duduk di tepi tempat tidur dengan rambutnya yang masih acak-acakan pertanda dia memang belum mandi apalagi bersiap untuk menghadiri pertemuan.
Otak kepalanya masih saja kesal dengan kelakuan istri yang usianya berbeda lima tahun.
"Dia sudah 20 tahun kan? lalu kenapa sikapnya sangat mengesalkan, childish apa-apa main blokir! nggak mikir apa gimana pusingnya gue saat ini," Ipul bersungut memikirkan sikap Ralen sejak kemarin.
Pria itu menarik napas kasar lalu mengambil handphone yang ada di dekat bantal dan kembali memeriksa apakah Ralen masih memblokir nomornya.
__ADS_1
"Masih di blokir," geram Ipul tahu bahwa Ralen masih belum membuka blokiran nomornya.
Rasanya dia sangat geram sekali sampai rahangnya terlihat mengeras dengan sangat jelas, pusing dengan kerjaan masih harus ditambah pusing menghadapi istri yang entah ngambek atau marah karena dia tidak pernah menghubungi.
Suara ketukan di pintu membuat dia menoleh hingga melupakan sejenak rasa kesal terhadap wanita bernama Ralen, istri yang dia nikahi hampir dua Minggu itu.
Dia beranjak membuka pintu kamar hotel tempatnya menginap lalu menuju pintu luar yang dia tahu sudah ada seseorang yang berdiri di sana menunggu dia membuka pintu.
"Ipul baru bangun Om," katanya setelah membuka pintu dan melihat sang asisten sudah berdiri di sana.
"Masih banyak waktu bersiap saja dulu," kata Damar seraya mengikuti pria yang usianya jauh di bawahnya.
"Semua berkas sudah Ipul baca, Om kalau mau periksa lagi periksa aja, ada di atas meja," tutur Ipul melihat ke arah meja dimana ada tumpukkan berkas yang akan mereka bawa nantinya.
Damar mengangguk lalu mengarah pada meja sedangkan Ipul sudah berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan dirinya yang sudah sangat kusut, bukan hanya fisik tapi juga pikiran.
*******
__ADS_1