
Pukul 10 pagi Zara bersama anaknya berkunjung ke rumah Tante Riska.
"Assalamualaikum," ucap Zara di depan pintu yang terbuka namun tidak ada orang yang terlihat, mungkin sedang berada di dapur atau di kamar.
"Oma Riska nya belum kelihatan sayang," kata Zara pada sang anak yang sudah tidak bisa diam.
"Assalamualaikum," kembali Zara mengulangi salam yang belum juga terjawab.
"Wa'alaikumsalam."
Akhirnya ada jawaban juga dari dalam rumah, Bi Sumi yang berjalan dari arah dapur bergegas menghampiri siapa yang datang.
"Eh Non Zara, masuk Non," katanya mempersilahkan masuk dengan senyum yang begitu sopan seolah itu untuk menyambut kedatangan keponakan sang tuan rumah.
Zara mengangguk lalu mengatur langkah masuk ke dalam rumah yang suasana kini jadi lebih berbeda dengan yang dulu, tampak lebih sepi atau hanya perasaannya saja?
"Tante mana Bi?" tanya Zara ketika masih juga belum melihat Mama dari temannya yang jadi sepupunya juga setelah dia menikah dengan Davi.
"Achnaaaaf."
Baru saja Bi Sumi ingin membuka mulut tapi orang yang di tanya sudah muncul dari dalam kamar.
"Sini sama Oma sayang," katanya mengulurkan tangan untuk mengambil Achnaf dari gendongan Zara.
"Sepi banget Tante, Ipul dan Ralen kemana?" tanya Zara mengekori Tantenya yang mengarah pada ruang keluarga.
"Ralen kan kerja Za," Jawab wanita yang sedang sangat gemas dengan bayi kecil yang sudah bisa duduk dan tengkurap lalu sekarang sedang belajar untuk merangkak.
"Ipul? dia udah pulang kan dari Batam?"
"Lagi ke kampus," sahut Riska singkat.
"Kampus? mau kuliah lagi?" Zara mengerutkan kening dengan tatapan bertanya.
Riska menggeleng, "mana sempat dia kuliah lagi Za, urusan kantor saja sudah sangat banyak," ucap Riska menghembuskan napas berat membayangkan anaknya yang kini harus mengambil semua tanggung jawab atas perusahaan dan juga keluarga, lumayan berat dan Riska berharap anaknya itu akan kuat.
"Ralen yang mau kuliah," sambung Riska kemudian.
"Bi bawakan Zara minum."
"Nggak usah Bi, biar nanti Zara ambil sendiri," kata Zara ketika Tante Riska berteriak pada Bi Sumi yang sudah berada di dapur.
"Ralen kuliah?" Zara kembali membahas tentang ucapan sang Tante.
"Lebih tepatnya Ipul yang minta Ralen buat kuliah aja," jelas Riska.
Zara mengangguk-angguk mengerti, yah tidak ada salahnya memang Ralen kuliah selama atas seizin suaminya apalagi ini Ipul sendirilah yang menawarkan, mungkin pria itu ingin istrinya bisa membantu mengurus perusahaan nantinya, kan kita tidak tahu.
"Gimana keadaan Tante sekarang?" tanya Zara tanpa bermaksud mengingatkan kalau Riska sudah kehilangan pria yang begitu dia cintai.
Riska menghela napas dengan tangan yang mengelus kepala kecil Achnaf.
"Jauh lebih baik Za, berkat Ralen juga Tante tidak merasa kesepian karena saat Ipul tidak ada kan sekarang ada Ralen yang memenin Tante, dan mungkin saat Ralen mulai kuliah dia tidak lagi perlu pergi pagi-pagi dan pulang saat sore, jadi lebih banyak waktu di rumah," jawab Tante Riska dengan wajah yang sumringah.
Sungguh Zara senang dan juga tenang kala mendengarnya, tadinya dia dan Davi sangat khawatir dengan keadaan Tante mereka itu, takut kalau wanita itu tidak bisa kembali ceria dan akan terus berlarut-larut dengan kesedihannya tapi tak di sangka belum ada satu bulan kepergian Om Irman, Tante Riska sudah bisa tersenyum yah meskipun senyumnya masih belum lepas seperti dulu, tapi itu suatu hal yang cukup baik.
__ADS_1
"Alhamdulillah Tante, mungkin Allah memang sudah merencanakan ini semua," ucap Zara dengan mengelus lengan wanita yang duduk di sampingnya.
Riska mengangguk menyetujui ucapan Zara, tapi kemudian dia berkata, "tapi Tante itu kesel banget Za sama Ipul," raut wajah yang tadi terlihat tenang kini malah berubah menjadi menampilkan kekesalan, mungkin teringat betapa kesalnya dia dengan tingkah laku sang anak.
Zara menyatukan alisnya, "loh kan memang dari dulu Ipul itu ngeselin Tante, Zara aja kadang-kadang tuh dongkol banget sama dia, apalagi waktu minta dia untuk nikahin Ralen, iisssh ngeselin banget deh Tan, rasanya pengen Zara bongkar tuh kepalanya terus keluarin otaknya saking Zara dongkol sama dia," aku Zara tentang perasaannya saat berbicara dengan Ipul dulu.
Siapapun orangnya akan kesal ketika berhadapan dengan pria yang sudah meniduri anak gadis orang tapi ketika di minta untuk menikahi malah ada saja alasan yang di lontarkan.
Zara mengerti waktu itu memang keadaan tidak cukup baik mengingat keadaan Om Irman, tapi setidaknya sebagai pria yang gentle harusnya memikirkan perasaan wanita yang sudah dia tiduri, bukannya malah meminta wanita itu menunggu tanpa batas waktu yang jelas, tak waras memang si Saipul itu.
"Ipul itu galak banget Za sama Ralen, bingung Tante tuh," adu Tante Riska pada Zara yang tentu sudah mengenal bagaimana Ipul itu.
Masa remaja mereka itu dihabiskan bersama tentu Zara sangat hafal segala tingkah polah Ipul termasuk sifat-sifatnya.
"Galak? masa sih?" tuh kan seorang Zara saja bingung kenapa Ipul yang dia kenal baik dan periang serta konyol malah jadi galak ketika menikah, ada yang geser dengan otaknya kah?
Tante Riska mengangguk cepat, "semua berawal pada saat Om Irman meninggal."
Zara bisa melihat Tante Riska masih begitu berat menyebut nama suaminya yang sudah tiada ada ekspresi kesedihan yang tertangkap jelas dimatanya.
Tante Riska kemudian bercerita tentang apa yang dia ketahui dengan Zara yang mendengarkan begitu serius.
"Tapi kan bukan salah Ralen Tante, yang terjadi itu takdir," tutur Zara ketika Tante Riska selesai bercerita.
"Tante sudah katakan itu kan kamu juga tahu sendiri Ipul itu kalau sudah berpikiran yang menurutnya dia benar ya begitu itu," terang Riska.
"Ngaco Ipul sih, terus sampai sekarang masih galak?"
"Sudah lebih baik sih, soal Papanya yang meninggal bukan karena Ralen dia sudah bisa terima tapi ya galaknya masih tetap berlanjut," Tante Riska menghela napas panjang.
Tante Riska mengerutkan kening, "awal ketemu? Tante udah cerita kan yang mereka berduaan di dalam ruang istirahat di kantor itu?"
"Iya, Zara ingat tapi maksud Zara bukan yang itu."
"Memangnya sebelum itu mereka sudah pernah bertemu?" Tante Riska nampak berpikir tapi kemudian menjawab sendiri pertanyaan yang dia lontarkan, "ya pasti ketemu lah kan Ralen juga kerja di kantor punya Om Irman," katanya.
"Bukan Tante," Zara menggeleng.
"Loh, jadi yang mana?"
"Dompet, Tante ingat soal dompet Ipul yang ketinggalan di motor orang yang mengantarnya ke bandara?"
"Ingat, Tante sudah bilang untuk dibiarkan saja dompet itu toh isinya juga hanya uang saja, KTP dan kartu-kartu yang lainnya dia simpan di dalam tas.
"Tante tahu siapa orangnya?"
"Enggak."
"Itu Ralen Tante, awalannya itu mereka bertemu waktu si Ipul serempet motor Ralen, nah disitu mereka berantem nggak ada yang mau ngalah ngerasa benar dua-duanya, jadi kalau menurut Zara sih masalahnya dipertemuan mereka itu," jelas Ralen yang membuat Tante Riska melongo mendengarnya, ada rasa keheranan yang menerpa dirinya mendengar kisah pertemuan sang anak dengan sang menantu.
"Pertemuan anak muda jaman sekarang tuh aneh-aneh ya, dulu kamu ketemu sama Davi di toilet pom bensin eh sekarang malah Ipul dan Ralen berantem-berantem di pinggir jalan," Tante Riska menggeleng kepala rasa tak percaya dengan jalan cerita anak-anak muda itu.
Zara tersipu malu mendengar penuturan sang Tante yang nyatanya masih ingat bagaimana awal pertemuannya dengan Davi dulu.
Pertemuan tak disangka yang menghadirkan kisah luar biasa dalam hidupnya, berulang kali mendapat cobaan tapi akhirnya dia dan suami mampu melewatinya dengan baik sampai akhirnya sekarang sudah ada Achnaf yang melengkapi hidup mereka.
__ADS_1
******
Sudah jam istirahat ketika Ralen malah di minta untuk ke lantai 5 oleh supervisor nya.
"Kan harusnya ini Ratu yang kerjain, kok malah jadi gue, tadi juga Ratu ada," sungut Ralen ketika memasuki lift menuju lantai 5.
Tadi supervisor nya memerintahkan dia untuk membersihkan ruangan pemilik perusahaan membuat dia tak bisa berkata-kata karena dia tahu itu adalah ruangan yang sekarang ditempati oleh suaminya.
Ingin menolak jelas tidak mungkin jadilah dia menggerutu tak jelas seorang diri, mengomel karena di lantai 5 pun juga sudah ada petugas kebersihannya, dan itu adalah Ratu, temannya yang tadi dia temui sedang tidak melakukan apa-apa, tapi kenapa malah menyuruh dirinya?
"Lagian ini waktunya istirahat, ngaco banget yang lain pada makan, santai-santai tapi gue masih aja di suruh kerja," celoteh Ralen dengan bibir yang kadang mengerucut seraya memandang langit-langit lift yang tengah bergerak turun ke bawah.
Tidak terasa pintu lift sudah terbuka itu artinya Ralen sudah tiba di lantai yang dia tuju dan harus segera keluar dari lift sebelum lift itu kembali tertutup.
Langkah Ralen melambat ketika tak jauh dari lift sudah bisa melihat ruangan dengan pintu yang di tutup terlihat, sedikit maju lagi dia juga bisa melihat meja sekretaris yang agak sedikit ke samping, meja sekretaris suaminya yang selalu berdandan menor mencolok, namun meja itu kosong tidak ada si sekretaris bernama Sarah yang selalu sinis jika bertemu dengan Ralen.
"Dia aja istirahat," katanya menunjuk pada kursi kosong yang biasa Sarah duduki.
Tok!
Tok!
Tok!
Ralen mengetuk pintu tiga kali dengan gerakan malas, perutnya lapar dan dia ingin makan tapi bukannya membawa makanan dia malah membawa kain lap serta cairan pembersih kaca, kalau saja kedua benda itu bisa di makan mungkin Ralen sudah memakannya habis.
"Masuk," suara dari dalam yang sangat Ralen kenali langsung memintanya untuk masuk.
Ralen pun segera membuka pintu dan detik itu juga dia bisa melihat ada seorang wanita dengan pakaian sangat pendek berdiri membelakanginya, hanya punggung serta tubuh bagian belakang saja yang terlihat tapi Ralen sudah bisa mengenali siapakah wanita itu.
Akhirnya kain lap yang dia bawa menjadi pelampiasan baginya, kain itu dia kepal-kepal, remas-remas, pelintir-pelintir hingga bentuknya tak karuan.
"Seperti ini Pak," kata Sarah yang masih berdiri membungkuk di depan meja kerja sang pemilik perusahaan.
"Ya sudah, kamu atur saja jadwalnya kalau sudah selesai laporkan pada saya, sekarang kamu boleh istirahat," kata Ipul pada sang sekretaris yang tampak sedikit kecewa.
Tadinya Sarah sengaja berlama-lama di ruangan sang atasan sampai waktunya istirahat pun masih tetap berada di ruangan itu, sungguh dia berharap atasannya itu mau mengajaknya untuk istirahat makan siang bersama tapi nyatanya malah disuruh pergi begitu saja setelah usahanya yang luar biasa dari jam setengah 11 tadi.
"Baik Pak, saya permisi," katanya seraya memeluk tab tempat dia mencatat semua jadwal rapat juga hal penting lainnya.
"Sialan," desis Sarah ketika melewati Ralen.
Ralen bahkan sampai memutar kepala guna melihat Sarah dengan tatapan tak percaya, kenapa wanita itu tiba-tiba mengumpat padanya, memangnya apa yang sudah dia lakukan?
"Mulai besok kamu tidak perlu kerja lagi Len."
Suara Ipul mengalihkan fokus Ralen pada Sarah yang sudah menghilang di balik pintu, dia sekarang melihat pada sang pria yang tengah membuka map di atas meja.
"Tidak perlu kerja? resign?" tanya Ralen berjalan mendekat, sudah lupa pada sekretaris yang tadi mengumpat di depan telinganya.
"Aku sudah mendaftarkan kamu untuk kuliah dan kamu harus mempersiapkan diri sebelum masuk Minggu depan," jelas Ipul, "baca itu," pintanya menunjuk map yang tadi dia buka.
"Nggak mau kuliah!"
*********
__ADS_1