
Daniya terdengar tengah menyenandungkan lagu dengan bahasa asing, lagu yang memiliki arti tentang kekaguman pada sosok laki-laki yang telah mengisi hati menjadikan dia sesekali tersenyum.
"Kamu terlihat sangat senang sekali hari ini Dani." Mamanya melangkah hati-hati.
Tadi Dayna sedang berada di teras rumah menyiram tanaman kesayangan miliknya tapi dari arah dalam rumah dia mendengar suara senandung yang terdengar seperti orang yang tengah sangat bahagia, senandungan yang seolah menyuarakan isi hati sang wanita yang sekarang menatap dengan wajah sumringah kepada wanita yang tengah berjalan menghampirinya.
"Mama kenapa masih tidak bisa diam, seharusnya banyak-banyak beristirahat," ucap Daniya gegas menghampiri sang Mama dan membantunya untuk melangkah menuju sofa lalu mendudukkan wanita tua itu di sana.
"Hanya menyiram tanaman apa tidak boleh juga?" Dayna menatap penuh tanya.
Sungguh dia itu merasa amat bosan karena harus berdiam diri saja tanpa memiliki kegiatan membuat dia malah jadi pusing karena tak bergerak.
Daniya menggeleng, "sekalipun hanya menyiram tanaman!" Daniya berkata tegas mengingatkan.
Dayna tersenyum simpul seraya menggeleng tak mengerti bagaimana bisa dia tidak boleh bergerak meksipun hanya sekedar menyiram tanaman, bukankah itu tidak akan membuatnya kelelahan?
"Kamu belum menjawab pertanyaan Mama," ucap Mama Dayna seolah menagih jawaban.
"Tadi pagi Awan menghubungi Dani dan mengajak bertemu," aku wanita yang tampil makin berseri di siang hari ini.
Pujaan hatinya menghubungi dan mengajak bertemu bukankah itu sangat membuatnya bahagia, melambungkan angannya yang sudah sangat tinggi semakin terbang tinggi menjauhi permukaan bumi?
"Awan?" Mamanya seakan tidak percaya, dia tahu dengan benar siapa Awan, pria itu adalah suami dari Ralen, adik kandung anak angkatnya.
Daniya mengangguk semangat serta antusias yang membumbung tinggi, "sepertinya ibu sudah berhasil berbicara dengan Ralen," tuturnya.
"Dani.."
"Mama tidak perlu khawatir karena setelah ini Dani akan memaafkan kelurga kandung Dani, itu kan yang Mama mau?" Daniya bahkan menyela apa yang ingin dikatakan oleh wanita yang amat menyayanginya itu.
"Tapi tidak dengan seperti itu Dani," sang Mama tampak kecewa mendengar apa yang anaknya katakan, beberapa hari lalu saat dia pergi ke rumah sakit untuk medical check up, dia mendapat laporan dari pelayan rumah tangganya bahwa Arni kembali datang tentu saja untuk menemui Daniya namun hal yang membuat Dayna sedikit tidak percaya adalah pelayannya itu mengatakan bahwa dia melihat Daniya memeluk Arni.
Sebenarnya Dayna tidak marah, justru dia merasa sangat senang karena itu artinya Daniya sudah memaafkan orang tuanya, bukankah dia ingin anaknya dan keluarga kandungnya itu berdamai dan saling menyayangi?
"Seperti itu bagaimana Mama? Dani hanya meminta sesuatu yang menurut Dani wajar, bukan meminta nyawa mereka," cetus Daniya menganggap wajar apa yang sudah dia lakukan tidak peduli sekalipun permintaannya itu sungguh sangat tidak masuk akal.
Kakak macam apa yang malah meminta suami dari Adik kandungnya sendiri? rasanya sangat sulit diterima oleh akal sehatnya hingga wanita yang berambut dengan sebagian warna putih itu membeku tak mengerti harus berkata apa lag.
"Sudah ya Ma, Dani harus siap-siap dulu karena sore ini akan bertemu dengan Awan," kata Daniya bangkit berdiri dari duduknya melenggang tanpa beban menuju kamar miliknya.
"Seharusnya kamu tidak sampai seperti ini Daniya, kamu bisa mendapatkan pria manapun yang kamu mau asalkan jangan suami adikmu sendiri." Dayna membatin ketika Daniya sudah perlahan menjauh dan berakhir tak terlihat.
****
"Lo nggak bawa motor Len?" tanya Seira yang mendapati Ralen berdiri di depan gerbang kampus.
Mulai hari ini dia tidak lagi diperbolehkan membawa motor oleh suaminya meski dia sudah berusaha sekeras apapun agar tetap diperbolehkan membawa motornya sendiri akan tetapi suaminya justru lebih keras lagi membantah menolak bahkan benar-benar tidak memberi izin sama sekali olehnya, tadi pun dia pergi ke kampus harus di antar oleh supir yang biasa mengantar Mama mertuanya, dan ketika pulang akan kembali di jemput oleh sang supir mungkin ketika suaminya sempat suaminya itulah yang akan menjemput.
Ralen menggeleng, "tunggu jemputan," aku Ralen mengerjapkan bulu matanya yang tidak bisa di bilang lentik namun tetap memiliki porsi yang pas di kelopak matanya.
"Lo di antar jemput?" Seira sepertinya sangat terkejut, dia memang belum lama mengenal Ralen tapi setidaknya dia tahu kalau Ralen ini wanita mandiri yang akan lebih senang mengendarai motornya ketimbang menunggu jemputan seperti sekarang.
"Iya," katanya seraya mengangguk lalu menoleh sekilas dan kembali mencari keberadaan mobil yang katanya akan tiba sebentar lagi akan tetapi dia sudah berdiri sekitar 15 menitan namun mobil beserta supirnya belum juga terlihat.
__ADS_1
"Tumben," celetuk Seira seraya melihat kiri kanan, dia juga rupanya sedang mencari keberadaan mobil pujaan hatinya yang katanya mau datang karena ingin mengajaknya nonton.
Seira tersenyum sumringah kala mobil yang dia cari-cari sejak tadi perlahan menghampirinya, "gue duluan ya Len," katanya masuk ke dalam mobil.
"Oke, hati-hati," kata Ralen lalu membalas lambaian tangan dari temannya yang menurunkan sedikit kaca mobil agar bisa mengeluarkan tangan.
"Daaaa." mobil Seira perlahan menjauh meninggalkan Ralen yang masih belum juga di jemput.
"Duh lama banget sih, telepon Mas Sai aja deh," katanya, namun saat baru akan mengeluarkan handphone dan menghubungi sang suami, kendaraan yang dia tunggu sedari tadi akhirnya muncul juga.
"Maaf Non, tadi mogok di jalan," lapor sang supir merasa bersalah karena harus membuat istri dari tuan mudanya menunggu.
Ralen menyimpan kembali handphonenya lalu masuk ke dalam mobil tanpa menunggu si sopir membukakan pintunya, membuat sang sopir yang sudah turun dari mobil untuk melakukan tugasnya pun terbengong menatap istri dari tuan mudanya sudah lebih dulu membuka pintu dan duduk dengan manis di bangku belakang.
Ralen tidak terbiasa dilayani sampai seperti ini, dia wanita mandiri yang berpikiran selama dia masih bisa melakukannya sendiri tentu dia tidak akan mau merepotkan orang lain, hanya sekedar membuka pintu saja tangannya tidak akan terkilir apalagi terluka, kan?
Ipul turun dari mobil yang dia kendarai sendiri tidak tahu kenapa sebagai seorang yang kadang sangat sibuk dia malah lebih suka mengendarai mobilnya sendiri ketimbang harus memakai sopir atau pun meminta asistennya yang mengendarai mobil untuknya.
Pria itu sudah tidak lagi memakai jas karena sudah dia lepas di dalam mobil, tinggal kemeja berwarna gelap yang memang warna kesukaannya dengan lengan yang tergulung sampai ke batas siku serta dari yang juga sudah dia tanggalkan.
Ipul melangkah masuk ke dalam sebuah tempat yang sebelumnya memang sudah dia reservasi untuk bertemu dengan Daniya.
Benar! sore ini dia meminta Daniya bertemu tentu seperti yang sudah dia katakan pada istrinya bahwa dia akan berbicara dengan Daniya memintanya untuk tidak mengusik kehidupannya juga sang istri yang adalah adik kandung wanita itu sendiri.
"Kamu sudah datang?" tanyanya datar ketika melihat Daniya sudah duduk di tempat yang sudah dia pesan.
"Sudah dari satu jam yang lalu," kata Daniya dengan senyum yang dibuat sangat manis, memperlihatkan bola mata yang berbinar melihat pria yang dia tunggu akhirnya datang dan duduk tepat di depannya.
"Hanya terlambat 15 menit," kata Ipul ketika melihat jam yang hanya terlewat 15 menitan saja dari waktu yang dia janjikan.
Daniya tertawa mendengar ucapan pria di depannya, "aku yang terlalu cepat datang, mungkin karena aku terlalu antusias dan tidak sabar." Daniya mengedikkan kedua bahunya mengakui bahwa memang dirinyalah yang datang lebih awal.
"Kamu mau minum apa makan apa? aku pesankan," tawar Daniya seraya membuka buku menu.
Wanita itu juga belum memesan makanan sengaja karena ingin pesan bareng dengan pria yang sukses membuat sepanjang harinya menyunggingkan senyum karena ajakan bertemu.
"Tidak perlu, aku tidak lama," sahut Ipul datar menolak apa yang Daniya katakan.
Tentu saja hal itu membuat wanita yang sedang melihat daftar menu pun menatap padanya dengan tangan yang perlahan menutup kembali buku menu.
"Kamu baru saja datang tapi kamu sudah mengatakan tidak akan lama, apa itu tidak terdengar sangat kejam untukku?" beber Daniya dan senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya pun perlahan memudar lalu menghilang tanpa jejak.
"Kejam?" Ipul bertanya tak mengerti, bagaimana baja dia dituding kejam sedangkan dia tidak merasa melakukan kekejaman ataupun kejahatan.
Daniya mengangguk, "kejam, karena setelah kamu yang terus-terusan menolak kedatanganku akhirnya mengajak bertemu dan aku sedang berada pada tahap bahagia karena akhirnya kita bertemu lagi dan hanya berdua saja, bukankah seharusnya kita memanfaatkan waktu berduaan kita ini?" lontar Daniya menatap netra sang pria yang tidak bergeming mendengar penuturannya.
"Tidak bisakah kita melepas semua kerinduan yang mendalam?" tambah Daniya lagi dengan sorot mata yang memohon.
"Jangan berpikiran hal yang tidak mungkin Dani," kata Ipul meruntuhkan kebahagiaan Daniya dalam sekejap.
"Hal yang tidak mungkin?"
Ipul mencebikkan bibir lalu mengangguk.
__ADS_1
"Apa yang tidak mungkin?" dada Daniya mulai naik turun merasakan debar jantung yang cepat.
"Semua yang kamu katakan barusan, tentang kita tentang melepas kerinduan, semua itu tidak mungkin dan sangat mustahil!" tegas Ipul dengan kejam membuat wanita di depannya seperti tersambar petir.
"Aku tidak.."
"Sejak tadi kamu sudah banyak bicara, jadi sekarang biarkan aku yang berbicara," cakap pria yang dari segi manapun tetap terlihat tampan dengan pesonanya yang luar biasa meskipun sedang sangat lelah atau marah sekalipun.
Ipul melarang wanita di depannya berbicara sebab dia ingin mengatakan apa yang ingin dia katakan, jujur saja dia tidak tahan berlama-lama berada di tempat yang padahal dia sendirilah yang memesan tempat itu, sungguh kepalanya pusing mencium bau parfum dari para pengunjung yang datang juga dia mendadak mual dengan aroma tak mengenakkan yang sejak dia masuk tadi tercium oleh indera penciumannya.
Dia sudah sekuat tenaga menahan agar tidak muntah tapi dia juga tidak akan mungkin bisa bertahan lama, meski dia memasang wajah tenang dan datar namun perutnya itu seperti sedang diguncang berulang kali hingga menimbulkan rasa mual yang makin menjadi.
"Jangan pernah lagi berpikiran untuk meminta aku dari istriku, aku bukan barang yang bisa kamu minta sesuka hati, aku ini suami dari adikmu itu artinya aku adalah adik iparmu!"
Daniya menggeleng tidak senang pada yang dia dengar.
"Istriku sedang hamil jadi jangan lagi mengganggunya, aku memberi peringatan masih dengan cara baik sebab bukan orang yang suka bertindak kasar apalagi terhadap wanita, akan tetapi jika kamu tidak mendengarkan apa yang aku katakan.."
"Aku tidak peduli!" sentak Daniya menutup kedua telinganya tidak mau mendengar setiap kata peringatan yang Ipul katakan.
Dia tidak suka! sangat tidak suka mendengar Ralen sedang hamil, hamil anak dari pria yang dia cintai.
"Sebaiknya kamu kembali ke Inggris, bukankah negara itu tempat yang membuatmu nyaman."
"Aku akan kembali jika itu bersama kamu!" seru Daniya.
Ipul berdecih, "bermimpilah sesuka hatimu asal tidak mengganggu kehidupanku dan juga istriku!" tegas Ipul lalu beranjak pergi, dia sudah tidak bisa lagi menahan mual yang makin menjadi membuat dia berlari dengan cepat masuk ke dalam mobil lalu mengambil tempat sampah kecil yang memang tersedia di mobil itu.
Pria itu memuntahkan apa yang ada di dalam lambungnya, meski hanya berupa cairan saja karena makanan yang dia makan saat jam makan siang tadi sudah langsung dia keluarkan lagi selang beberapa menit dia makan, sedangkan sore ini dia belum sempat makan apapun.
Air mata membasahi wajah Daniya, telinga serta hatinya menjadi sangat sakit ketika berulang kali mendengar pria yang dia cintai terus-menerus menyebut Ralen sebagai istri.
Juga tentang kehamilan Ralen yang makin membuatnya tidak bisa terima, dia makin sakit hati dan kecewa dengan takdir yang Tuhan berikan untuknya.
"Ini sangat tidak adil, tidak adil!" memukul meja membuat orang-orang melihat padanya.
Dia tidak peduli tidak ambil pusing karena yang dia pikirkan sekarang adalah rasa sakit yang makin menjadi, merasa Tuhan pilih kasih terhadapnya, tuhan memberikan apa yang seharusnya menjadi miliknya kepada Ralen.
"Ralen sialan!" memaki sang adik yang membuat darahnya mendidih.
"Kamu sudah merebut pria yang aku cintai, lalu sekarang kamu juga mengandung anaknya? jahat kamu Ralen!" berkata geram tak terima menjadi orang yang tersakiti.
"Aku harus bertemu ibu!" kata Daniya menyambar tas yang dia tempatkan di kursi kosong sebelahnya lalu berjalan sangat cepat menuju pada kendaraan yang dia parkir.
Tujuannya saat ini adalah ibu kandungnya, entah dia mau melakukan apa namun yang jelas gurat wajahnya terlihat penuh dengan emosi.
Wanita itu mengendari mobil dengan sangat cepat, tidak mau mendengar ketika ada kendaraan lain yang memberikan klakson memberi peringatan padanya agar sedikit mengurangi kecepatan agar tidak mencelakakan dirinya dan juga orang lain.
Tangannya mencengkram kemudi mobil dengan mata yang menjadi sangat tajam penuh kebencian, tidak terima pada takdir kejam yang sekarang tengah dia jalani, tidak terima hingga akhirnya dia malah jadi menyalahkan siapapun yang terlibat pada takdir hidupnya.
Wajah yang tadinya berseri dengan cepat berubah menjadi mendung tidak ada warna hanya ada kegelapan.
****
__ADS_1