Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Tak Bisa Diam


__ADS_3

Ini gila!


Baru hari pertama sudah datang terlambat meski baru 5 menit tapi yang namanya telat ya telat, karyawan baru tapi dia sudah tidak disiplin, lalu apa kata HRD yang akan dia temui nanti?


Ralen mengusap peluh yang membanjiri dahinya, hari masih pagi tapi gerahnya bagaikan di padang pasir, oh astaga Ralen rasanya mau pingsan karena tadi harus mengendarai motornya dengan kecepatan penuh agar bisa sampai tepat waktu, tapi nyatanya tetap saja telat.


Setelah memarkirkan motornya Ralen pun tergesa memasuki kantor, hidup dan matinya hari ini tergantung pada bagian HRD yang akan memberikan toleran padanya.


Tapi memberi toleran padanya dengan alasan kesiangan apakah terlalu berlebihan? bahkan seharusnya kesalahan di hari pertamanya ini sudah cukup membuktikan bahwa dia orang yang tidak bisa tepat waktu, dan itu sudah cukup untuk langsung meng cut off dirinya tanpa perlu bekerja di hari pertama.


Jantung Ralen benar-benar kembang kempis seirama dengan cuping hidungnya kala dia sudah berdiri di depan ruangan HRD.


Ah ya ampun kakinya terasa seperti jelly yang lembek dan tak bertulang, sungguh membuatnya kesulitan menopang tubuhnya sendiri hingga membuat dia tidak bisa diam saat menunggu diizinkan masuk.


"Hari pertama malah seperti petaka," gumam Ralen sesaat sebelum di minta masuk oleh suara dari dalam sana.


Ralen membuka pintu dengan sangat perlahan, ah melakukan gerakan slowmotion sepertinya dan ketika menutup pintu pun dirinya melakukan hal yang sama membuat pria di balik meja menggeleng melihat kelakuannya.


"Astaga bisa-bisanya wanita lelet begini mendapat rekomendasi dari anak bos," gerutu sang HRD tak sabar.


Pria itu makin tak sabar kala Ralen melangkah satu demi satu hingga membuatnya sangat lama hanya untuk sekedar mencapai mejanya.


"Mau sampai kapan saya harus menunggu kamu?!"


Suara berat dan mengagetkan langsung saja membuat Ralen menggerakkan kakinya dengan cepat.


Ah ketakutan gagal bekerja membuat Ralen bertindak tak jelas, sungguh hari ini dia akan membodohi dirinya sendiri yang bertingkah seperti bukan dirinya.


"Maaf Pak," kata Ralen ketika sudah berdiri di depan meja.


Wajahnya masih tertunduk tak berani menatap pria yang duduk di seberang meja.


"Duduk!" suara tegas nan berwibawa membuat Ralen tidak pikir panjang untuk segera duduk.


Ini kesempatan baginya untuk mengistirahatkan kedua kakinya yang mendadak begitu lemas tak bertenaga.


"Ada yang sedang kamu cari?"


"Hah?" Ralen tidak mengerti apa yang tadi dia dengar.


"Matamu, kenapa matamu terus melihat ke bawah sedangkan ada orang di depanmu yang mengajakmu bicara," protes sang HRD.

__ADS_1


Ralen menggigit bibirnya, tak menyangka HRD nya cukup bermulut pedas.


Mau tak mau Ralen pun mengangkat wajahnya dan kedua iris matanya langsung bisa melihat sosok pria yang sedari tadi mengeluarkan pernyataan pedas.


"Ternyata masih muda, godain aja apa ya kali mulutnya bisa diem," ucap Ralen dalam hati.


Di leher pria itu Ralen bisa melihat Id card dengan nama Amaris Septian.


"Gila Lo Ralen!" makinya pada dirinya sendiri.


"Ehhem." Amar berdehem kala mendapati wanita di depannya malah menatapnya tak berkedip.


Oh ayolah dia memang tampan tapi dia sudah punya istri jadi jangan terpesona padanya.


"Kamu sangat beruntung karena di hari pertama kamu yang seharusnya datang tepat waktu untuk menunjukkan bahwa kamu akan menjadi pegawai yang teladan kamu malah datang terlambat dan saya sangat menyesal sebab tidak bisa menendang mu seenaknya dari perusahaan ini meski sebenarnya saya ingin," jelas Amar mengatakan apa yang memang tidak dia suka.


Kekaguman Ralen akan wajah tampan dari pria yang tengah berbicara ini mendadak sirna tanpa jejak, mulut HRD ini seakan tidak punya rem, mengatakan apa yang dia mau, yah meski Ralen sadar dia salah tapi apakah harus demikian?


Oke! dia meralat bisikan hati kecilnya yang tadi, pria di depannya ini tidak tampan!


Sekarang yang bisa Ralen katakan dari mulutnya hanyalah permintaan maaf berulang kali dan berjanji tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi, dia berjanji akan datang tepat waktu sesuai yang sudah di tentukan oleh perusahaan.


Amar tak menjawab, pria itu lantas mengambil telepon di atas mejanya lalu berbicara dengan seseorang.


Tak lama terdengar pintu di ketuk lalu muncul lah seorang wanita berusia sekitar 30an melangkah dengan sopan.


"Ini Cleaning service baru, beritahu Jobdesk nya," kata Amar pada wanita yang segera mengangguk.


"Ikuti supervisor mu," perintah Amar kali ini kepada Ralen.


****


Ralen mendengarkan dengan seksama apa yang sedang di terangkan oleh supervisor nya, wanita bernama Dita Wasita itu menjelaskan dengan rinci apa saja yang harus Ralen kerjakan.


"Tugas kamu sebenarnya di lantai 9 tapi berhubung lantai itu masih dalam tahap renovasi jadi untuk sementara kamu saya tempatkan di lantai 7 dan 8," kata Dita ramah.


"Siap Bu," jawab Ralen semangat.


Menurutnya di tempatkan dimana saja tak masalah asalkan dia bisa bekerja di perusahaan ini.


"Kalau boleh tahu kapan lantai 9 selesai di renovasi Bu?" tanya Ralen.

__ADS_1


Bukan tidak sopan hanya saja dia berniat untuk mengetahui kapan dia akan mulai bekerja di lantai guna mempersiapkan dirinya.


Ah apa yang harus disiapkan, sedangkan baik di lantai 9 atau lantai lainnya pekerjaan yang akan dia kerjakan tetaplah sama.


"Sekitar seminggu atau dua Minggu lagi sepertinya."


"Oh begitu, baiklah," kata Ralen seraya menyunggingkan senyum.


"Ya sudah sebaiknya sekarang kamu mulai mempelajari apa yang harus kamu kerjakan, saya akan meminta Ratu untuk mengajarimu," jelas sang supervisor.


Dan sekarang Ralen sudah mulai belajar mengenali setiap sudut serta ruangan mana saja yang akan dia bersihkan sebelum dia bekerja di lantai 9 nantinya seperti yang sudah supervisor katakan.


"Nah tugas kita membersihkan setiap kotoran yang menempel, melekat, terlihat maupun tidak terlihat, semua tidak boleh terlewati," kata wanita bernama Ratu.


Ah beruntungnya Ralen karena teman barunya ini cukup ramah dan bisa dengan sabar mengajarinya.


"Mau lihat lantai 9?" tawar Ratu.


"Memang boleh?" tanya Ralen karena kan tadi supervisor nya sudah mengatakan kalau lantai itu sedang tahap renovasi, jadi tentu banyak pekerja yang mungkin akan terganggu dengan kehadiran mereka.


"Memangnya kenapa? tidak akan jadi masalah toh kita hanya melihat saja tidak melakukan apapun," sahut Ratu seraya mendorong troli berisi alat kebersihan yang menjadi temannya bekerja.


Ah alat ini juga yang nanti akan setia berada di tangan Ralen.


"Ya sudah ayo kita lihat." kali ini Ralen yang semangat.


"Sebentar aku simpan ini dulu," kata Ratu yang lalu bergerak cepat menyimpan troli ke tempatnya.


Kebetulan pekerjaan mereka mengelap kaca juga membuang sampah sudah selesai jadi ada sedikit waktu senggang untuk sekedar mengunjungi lantai 9.


Keduanya masuk ke dalam lift khusus karyawan yang langsung menaikkan tubuh mereka ke lantai tujuan.


Kaki mereka gegas keluar lift untuk menginjak lantai 9 yang memang masih tampak sedikit berantakan.


Kaleng-kaleng cat berjejer di dekat tembok dengan beberapa potong kayu.


"Sepertinya beberapa hari lagi juga selesai," kata Ratu melihat kaleng-kaleng cat.


Ralen melihat pada tembok yang mulus bertanda sudah siap untuk di warnai dengan cat yang sudah tersedia.


Dalam hati Ralen berbisik semoga saja pekerjaan barunya ini tidak ada masalah apapun.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2