Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Kamu Cinta Siapa?


__ADS_3

"Duduklah yang benar di tempatmu Jelita!" Ipul memperingatkan istrinya yang mungkin dalam keadaan sadar pun sangat ragu untuk menuruti apa yang dia katakan apalagi dalam keadaan mabuk seperti ini, rasanya semakin tidak mungkin terbukti ketika Ralen tetap saja bergerak berusaha untuk naik ke atas tubuhnya membuat Ipul berusaha keras untuk membuatnya duduk di bangku penumpang.


"Aku ingin bergerak di atas kamu Mas Sai," celoteh Ralen sesuka hati, tidak tahu ini memang sisi liarnya atau hanya karena pengaruh alkohol yang tadi dia minum.


Ipul menghela napas lalu dadanya naik turun dengan cepat, dia berusaha tidak meladeni ocehan istrinya itu karena ingin cepat sampai di hotel, tetapi ketika semakin tidak diladeni bukannya malah diam tapi makin menjadi, sepertinya kadar alkohol yang Ralen minum sangat tinggi bahkan lebih tinggi dari yang dia minum saat di pesta dulu.


"Kita harus sampai di hotel dulu Jelita, baru setelah itu kamu bebas melakukan apapun," papar Ipul dengan bodohnya malah menjelaskan pada seorang yang sedang mabuk, apa penjelasannya itu akan didengarkan? rasanya mustahil lihat saja sekarang ini Ralen tengah menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat.


"Tidak! aku ingin bermain disini!" sahut Ralen dengan suara yang terdengar tak jelas.


Mata Ipul melotot mendengarnya, ini di dalam mobil dan mereka sedang berhenti di tepi jalan karena Ralen yang sejak tadi mengganggu konsentrasi Ipul yang sedang menyetir.


Tangan Ralen bergerak mencari-cari sabuk pengaman untuk membukanya, ini sudah yang kedua kalinya sebab tadi suaminya sudah memakaikannya sabuk pengaman tapi dia selalu berhasil untuk membukanya.


Sabuk pengaman sudah kembali terbuka dan Ralen dengan grasak-grusuk naik ke atas pangkuan suaminya yang sudah dengan keras membuatnya agar tetap duduk di bangkunya.


"Ah, aku senang berada disini," ucap Ralen dengan suara lirih ketika berhasil menduduki suaminya seraya menenggelamkan wajah tak sadar tapi menggoda diceruk leher sang suami, tangannya bahkan langsung melingkari bagian pundak suaminya yang berulang kali menahan napas.


Di saat seperti ini tentu saja Ipul menjadi resah ada sesuatu yang perlahan bentuknya jadi berubah lalu masih harus di tambah dengan gerakan tubuh sang istri yang tidak bisa diam.


"Kamu bisa duduk diam tidak?" tanya Ipul dengan menahan gejolak yang perlahan menuntut.


"Tidak bisa Mas Sai, aku ingin bergerak dan terus bergerak," celoteh Ralen malah makin sengaja menggesekkan bagian dadanya pada tubuh depan sang suami.


"Kita di dalam mobil dan masih di jalanan, sebaiknya kita kembali ke hotel dulu setelah itu kamu mau melakukan apapun padaku aku tidak akan melarang." mencoba membujuk wanita yang sepertinya sudah semakin meninggi dengan segala bayangan percintaan mereka di dalam kepalanya.


"Sayang," suara pria yang tubuh bagian bawahnya diduduki sudah terdengar begitu berat nyaris seperti geraman ketika merasakan wanita di atasnya malah seperti terus sengaja menggodanya.


"Mas Sai pasti suka kan?" Ralen malah bertanya dengan suara yang menggoda seraya mengangkat wajahnya lalu menatap dengan kedua matanya yang menyiratkan sebuah rasa yang sudah sangat menggunung ingin segera diberikan penawar.

__ADS_1


Ipul tak menjawab hanya sibuk merasai apa yang menyusup ke dalam dirinya, merasai ketika istrinya kembali menjatuhkan kepalanya di leher lalu menghembuskan napas yang begitu hangat.


Sebagai seorang laki-laki tentu hal ini sangat menyenangkan, siapa yang tidak suka ketika istrinya menjadi begitu agresif dan terus menghimpit dirinya, tapi dia ini bukan CEO-CEO mesum seperti di dalam novel yang akan melakukan hubungan intim dimana saja termasuk di dalam mobil, sungguh Ipul tidak berpikiran untuk melakukan itu dengan Ralen di tempat yang tentu tidak akan membuat mereka leluasa bergerak nantinya.


Ipul mencoba mengembalikan kenormalan diri serta deru napas yang memburu lalu membuka kedua matanya yang tadi terpejam karena menikmati apa yang diperbuat oleh istrinya.


"Kita kembali ke hotel sekarang!" kata Ipul tegas sambil mengangkat pinggang sang istri untuk berpindah dan duduk dengan benar di bangku penumpang.


"Tidak mau!" tolak Ralen yang sekarang malah menjepit pinggang suaminya dengan kedua kakinya yang berbalut celana jeans.


Lagi-lagi Ralen keras kepala dan enggan menurut dan makin memperkuat jepitan kakinya di pinggang sang suami membuat suaminya itu memejamkan mata dengan kepala yang menengadah ke atas, jepitan kaki Ralen membuat bagian tubuhnya yang lain ikut terhimpit dan menuntut dibebaskan.


Ralen mengangkat wajahnya lalu menangkup kedua pipi suaminya hingga berhadapan dengannya, dengan perlahan mata pria yang tadi begitu hanyut dalam gelombang rasa pun membuka membalas tatapan dari Ralen yang begitu saya.


Kedua mata itu berpandangan beberapa menit dengan deru napas yang saling beradu dan bertukar rasa hangat lalu menerpa wajah mereka masing-masing.


"Kamu tidak mungkin cinta sama aku," tutur Ralen menjawab sendiri pertanyaannya sebab pria di depannya tidak memberikan jawaban.


Suara Ralen terdengar kecewa lebih lagi ketika suaminya tidak bergerak sama sekali, dia ingin menyerah ketika mendadak suaminya melakukan penyerangan terhadap bibir yang tadi bergerak mengajukan pertanyaan tentang perasaan.


Ralen sedikit terkejut tapi kemudian memilih untuk menikmati apa yang tengah dilakukan oleh suaminya, kedua tangannya pun kini sudah mendekap bagian belakang kepala suaminya berjaga-jaga agar pria itu tidak menghentikan apa yang sedang dia perbuat.


Bibir mereka saling bertaut saling bergeeak dan membelit satu sama lain menciptakan suara-suara yang begitu misterius pun mulai bergerilya mengisi indera pendengaran di dalam mobil yang hampir 30 menit berhenti di tepi jalan.


Pertanyaan Ralen tenggelam tanpa jawab sebab yang ada sekarang adalah gerakan-gerakan serta suara yang dihasilkan dari pergerakan yang berbalut nafsu itu.


Ralen mengangkat wajahnya ketika suaminya bergerak menyusuri lehernya, dia yakin setelah ini apa yang dia inginkan sejak tadi akan menjadi nyata, bercinta di dalam mobil dengan gerak yang terbatas sungguh membuatnya makin tertantang.


Tangan Ipul yang mendekap punggung sang istri pun bergerak naik turun dengan wajahnya yang berada di dada wanita yang memejamkan mata menanti apa yang selanjutnya akan suaminya itu lakukan.

__ADS_1


"Tahan sebentar aku akan membawa mobil dengan cepat!" tegas Ipul mendudukkan Ralen ke bangku penumpang lalu memakaikan sabuk pengaman di tubuh wanita yang kedua matanya menatap sendu sekaligus kesal karena apa yang dia bayangkan tidak akan terjadi.


Ralen sudah akan membuka sabuk pengaman tapi tiba-tiba suaminya merentangkan tangan kiri lalu menahan tubuhnya agar tidak melakukan apapun.


Ralen mendengus tak puas lalu membuang wajahnya pada kaca mobil dengan kedua mata yang masih sangat sayu akibat pengaruh alkohol yang dia minum.


Sepanjang jalan Ralen yang dilanda kesal tapi juga tengah meninggi malah bergerak gelisah di tengah himpitan lengan sang suami yang tak sengaja berada tepat di dadanya.


"Sepertinya lain kali aku akan sengaja membuatmu mabuk untuk membangkitkan jiwa liar mu, Jelita," ujar Ipul melirik istrinya yang tak bisa diam, menekan dengan sengaja lengan tangannya ke arah dada yang terlapisi oleh pakaian.


Ipul mulai merencanakan sesuatu untuk istrinya yang benar-benar sedang dalam kondisi menginginkan dirinya bahkan sekarang wanita itu tengah mengarahkan tangan kiri yang tadi dia gunakan untuk menahan tubuh istrinya itu untuk menyentuh bagian tubuh bawahnya, membuat dia pun menggeram mengeluarkan suara yang tertahan serta menyiratkan diapun ingin segera melakukan tugasnya sendiri tanpa perlu bantuan sang istri.



Dengan hanya sebelah tangan saja pria itu mengendalikan mobil mengarah pada hotel tempatnya menginap, berkonsentrasi penuh pada laju kendaraan serta jalan yang mereka lalui dengan bantuan pencahayaan dari lampu mobil, lampu jalan serta bulan yang kadang terhalangi oleh rimbunnya pohon di pinggir jalan



Berulang kali Ipul menelan saliva nya guna menahan diri atas setiap yang Ralen lakukan manakala memberikan arahan pada tangannya untuk menyelinap masuk ke dalam celana.



"Ah," mulutnya mengeluarkan suara yang berat ketika menyentuh sesuatu yang sensitif milik sang istri.



Sedangkan Ralen makin seenaknya berbuat apa yang dia inginkan, tangan suaminya benar-benar dia manfaatkan dengan baik di tengah mobil yang masih melaju.


****

__ADS_1


__ADS_2