
Ralen hanya mau makan sedikit itupun harus melalui proses paksaan oleh suaminya, jika tidak wanita itu tidak akan membuka mulutnya dan seperti yang sudah dikatakan oleh Ipul setelah makan dia langsung mengoleskan salep pada luka di beberapa bagian tubuh sang istri.
Luka yang nyatanya membuat istrinya berulang kali meringis merasakan sakit saat dia mengoleskan salep pada luka itu, dan sekejap dia merasa makin bersalah karena tadi malam pun dia memeluk istrinya dengan sangat erat, dia tahu pasti tubuh istrinya akan sakit tapi otaknya seperti tidak bisa berpikir saking takutnya dia mendapati istrinya terus menangis histeris.
"Om, sepertinya Ipul tidak bisa kembali ke Surabaya."
Sekarang dia sedang berbicara dengan Om Damar, asisten yang sekarang berada di Surabaya menangani proyek mereka.
"Baiklah, kalau ada masalah Om bisa langsung laporkan pada Ipul," katanya lagi setelah sang asisten memaklumi dia yang tidak akan bisa kembali mengurus pekerjaan di Surabaya.
Ipul segera mengakhiri pembicaraannya saat dia tak sengaja melihat sekelebat bayangan istrinya yang melewati ruang kerja tempatnya berada saat ini karena pintu yang sengaja tidak dia tutup.
Mamanya sedang pergi ke pasar bersama Bi Sumi jadi sekarang hanya ada dia dan istrinya saja.
"Jelita," panggilnya dengan derap langkah cepat mengejar wanita yang sudah akan mencapai pintu.
"Mau kemana?" tanyanya meraih tangan sang istri yang bahkan enggan untuk melihat padanya.
Jelas Ralen masih sangat marah padanya dan dia harus memaklumi itu.
Karena satu kata saja dari mulut seorang pria akan terus diingat oleh wanita sepanjang masa, sampai wanita itu benar-benar merasa sudah baik-baik saja.
Ralen tidak menoleh juga tidak menjawab, namun penampilannya saat ini sudah bisa ditebak oleh suaminya kalau dia ingin pergi kuliah karena dia membawa tas yang biasa dia pakai kuliah.
"Kamu belum sembuh sayang, tidak usah kuliah dulu," kata Ipul menahan tangan Ralen yang berusaha untuk lepas dari genggamannya.
Sayang?
Rasanya Ralen ingin sekali menangis mendengar panggilan sayang yang terlontar dari mulut suaminya, sakit hatinya belum sembuh tapi suaminya sudah bisa dengan santainya memanggil dia sayang seolah tidak pernah ada masalah yang terjadi antara mereka.
Semua unek-unek Ralen simpan dalam hati, tidak ingin bersuara karena dia merasa lelah setelah menangis terus sejak kemarin, hari ini biarkan dia mengunci mulutnya dengan rapat agar tidak bisa menjawab perkataan dari suaminya.
Ralen yang masih terus diam membuat Ipul gemas, ingin rasanya menarik wanita itu masuk ke dalam kamar lalu menguncinya agar tidak bisa pergi kemanapun, tapi rasanya dia tidak mungkin melakukan itu karena nantinya hanya akan membuat hubungan mereka semakin buruk.
Tidak akan pernah membaik andai dia terus melibatkan emosi dan ketidaksabaran yang dia miliki.
"Istirahat di dalam kamar saja ya, aku akan hubungi pihak kampus untuk mengurus cuti mu."
Ralen yang tadinya menatap arah lain pun sontak melihat pada pria yang juga tengah melihatnya, tatapan mereka kini bertabrakan dengan mata Ralen yang melebar.
Cuti?
"Mau buat aku stres dengan tidak membiarkan aku keluar rumah?" sindir Ralen menatap tajam pria yang terkejut mendengar ucapannya.
"Kamu salah paham, bukan itu maksudku," membela diri atas tudingan sang istri.
Dia tentu bukan suami gila yang ingin membuat istrinya stres, tidak ada dalam pikirannya hal yang seperti itu tapi bisa-bisanya Ralen mengira dia akan melakukan hal konyol begitu.
Ralen mendengus membuang pandangan ke arah lain, sudut bibirnya juga berkedut.
"Aku hanya ingin kamu istirah.."
Ralen bergegas pergi meninggalkan pria yang belum selesai bicara, masuk kembali ke dalam kamar lalu membanting pintu hingga tertutup.
Brak!
Suaranya membuat Ipul membuang napas berat dan kasar.
Sepertinya mulai hari ini Ralen akan berhenti bicara dengannya, dan itu adalah cara wanita itu untuk membalaskan sakit hati terhadapnya.
Ipul baru akan beranjak saat dia mendengar suara mobil yang masuk ke halaman, dia pikir Mamanya sudah kembali tapi saat dia mendengar mengintip sepasang matanya malah melihat sosok pria yang sangat tidak dia suka.
__ADS_1
Sekalipun dia tahu kalau pria itulah yang menyelamatkan istrinya tapi itu tidak akan merubah cara berpikirnya, sekali tidak suka dia tidak akan pernah suka sekalipun pria itu sudah menjadi dewa penyelamat bagi istrinya dan jelas dia tidak suka itu, karena artinya Istrinya akan merasa berhutang budi pada sang dosen.
Ipul meremat seluruh jarinya ketika mendengar suara ketukan di depan pintu, tidak tahu kenapa orang-orang malah lebih suka mengetuk pintu ketimbang menekan bel padahal bel berada tepat di samping pintu.
Baru saja Ipul akan beranjak tapi dia malah mendengar langkah kaki dari arah tangga, dia menoleh dan mendapati istrinya yang tadi masuk kamar malah tengah menuruni anak tangga.
"Telinganya peka sekali," gumamnya dengan mata yang terus mengikuti gerakan sang istri ke arah pintu.
Saat Ralen akan membuka pintu Ipul dengan cepat menahan pintu dengan tangan dan kakinya.
"Mau ngapain?" tanyanya dengan mata yang memicing.
Ralen tak menjawab, mengabaikan pria yang sekarang memutar tubuh dan berdiri di depannya.
"Aku tanya kamu mau ngapain, sayyang?" kalimat sayang terdengar penuh penekanan seolah menunjukkan bahwa dia gemas karena pertanyaannya tidak di jawab.
"Buka pintu, tidak dengar ada yang ketuk pintu?" tanya Ralen dengan wajah sinis.
Dia sebenarnya enggan untuk bicara tapi pria di depannya sungguh menyebalkan.
"Itu dosen.."
"Aku tahu karena dia memang sudah meminta ijin untuk datang," menyela perkataan suaminya.
"Ada suamimu dan kamu mengijinkan pria lain untuk datang ke rumah?" alis Ipul bertaut, dia tidak mengerti kenapa istrinya memberi ijin pria lain datang ke rumah tanpa bertanya padanya, terlebih lagi pria itu adalah pria yang tidak dia suka dan selalu membuatnya cemburu.
Cemburu?
Iya, dia akui dia cemburu dan tidak senang ada pria yang dengan terang-terangan mendekati bahkan mendatangi rumah untuk bertemu dengan istrinya.
"Baiklah kalau begitu."
Tapi rasa lega seolah hanya sebentar saja berpihak padanya karena perkataan Ralen selanjutnya sungguh membuat dia meremas rambutnya.
"Aku akan meminta Mas Angga untuk datang lain kali saat kamu tidak ada di rumah," kata Ralen begitu entengnya.
"Astagaaaa bukan itu maksudnya.." Ipul terlihat sangat tertekan saat ini bahkan dia menendang pintu yang masih saja di ketuk oleh Angga, bahkan dia makin panas saat Ralen memanggil Angga dengan panggilan Mas.
Brug!
Tubuh Ralen sedikit berjengkit kaget karena kaki suaminya yang tiba-tiba menendang pintu.
Tubuh Angga mundur selangkah mendengar suara benturan yang cukup keras dari dalam sana dengan pintu yang sedikit bergetar.
Kedua tangannya terulur untuk menempel pada daun pintu guna memeriksa apa yang terjadi, lalu sesaat kemudian keningnya berlipat jadi berapa lipatan dan terkaget ketika mendengar suara handphone yang berdering di saku celananya.
"Ralen?" bingung melihat nama yang ada di layar.
Wanita itu tadi mengijinkannya datang tapi saat dia sudah datang bukannya membukakan pintu malah menghubungi dirinya, apa wanita itu tidak ada di rumah? membatin penuh tanya.
"Mas datang lain kali saja saat suamiku tidak ada di rumah."
Suara Ralen dengan jelas di dengar oleh Ipul sebab wanita itu yang masih ada di anak tangga, belum terlalu jauh darinya.
Mata Ipul membelalak tak percaya, istrinya sungguh apa sedang menguji dirinya?
Ralen tersenyum sadis lalu berjalan cepat kala melihat suaminya hendak mengejar dirinya.
Wanita itu berlari masuk ke dalam kamar manakala suaminya berderapan mengikuti dibelakang dengan suara terus memanggil.
"Jelita, kamu tidak bisa seperti itu." Ipul berkata gemas dan geram menjadi satu.
__ADS_1
Ralen menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut lalu menahan dengan kedua tangan kala suaminya berusaha untuk menarik selimut.
"Jangan pernah mengundang pria lain datang ke rumah, karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri, mulai hari ini aku akan bekerja dari rumah!" putus Ipul tanpa berpikir.
Dia ini selalu mengatakan apa yang ingin dia katakan tanpa memikirkannya lebih dulu, dan setelahnya mungkin dia akan menyesal?
Ralen mendengus tak senang, dia ingin menimpali tapi sudah terlanjur malas, hatinya masih tidak baik-baik saja masih dalam kecewa dan sedih atas kehilangan anaknya, dia ingin sedikit saja memberi pelajaran pada pria yang selalu saja seenak perutnya bicara, tapi baru juga mulai malah sudah gagal.
Pria itu memang sangat mengesalkan, pemarah egois dan selalu ingin menang sendiri.
Heran bagaimana bisa Daniya begitu tergila-gila pada pria semacam ini dan anehnya lagi dia juga malah sudah jatuh cinta.
Ralen mendengar derap kaki yang menjauh pun segera membuka selimut menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu.
"Egois!" desisnya.
Ipul membuka pintu lalu menuju pada pos jaga yang ada di gerbang.
"Kalau ada pria datang ke rumah ini jangan biarkan masuk, terutama pria yang tadi!" dengan tegas memberi perintah.
Tentu saja perintah sekaligus peringatannya itu tidak akan bisa di bantah oleh dua orang penjaga yang bertugas, mereka di rumah itu bekerja dan jika mau tetap bekerja harus mengikuti semua peraturan dari si pemilik rumah, apapun yang dikatakan harus dengan sigap mereka turuti dan laksanakan dengan baik.
Selesai dengan dua orang penjaganya dia kembali melenggang menuju rumah dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku sambil berjalan dia sesekali menendang batu kerikil, sungguh kakinya begitu iseng hingga tak sengaja menendang kerikil sampai mengenai vas buka milik sang Mama.
Mulut pria itu terbuka lebar dengan mata yang juga membelalak, dia buru-buru menghampiri vas bunga di atas meja takut kalau vas bunga itu sampai lecet.
"Kalau sampai retak dikit aja kepala gue bisa terancam bentuknya," katanya dengan napas yang lega.
Siapa yang menyangka kalau pria sekonyol ini nyatanya akan sangat menyeramkan apabila sudah marah, tidak segan memarahi siapapun termasuk istrinya sendiri, bahkan kemarin dia sempat melayangkan tangannya untuk sang istri, andai sang Mama tidak ada mungkin dia sudah menampar istrinya yang akhirnya hanya akan menyisakan penyesalan.
Sepertinya dia hanya takut pada Tuhan dan juga Mamanya.
Ipul meletakkan kembali vas bunga ke atas meja setelah memastikan benda itu tidak ada yang lecet sama sekali akibat ulahnya, masuk ke dalam lalu beralih menuju kulkas untuk mengambil air dingin yang mungkin bisa membantunya mendinginkan kepala yang terasa panas karena kedatangan Angga.
Menenggak habis air di dalam gelas lalu menyandarkan tubuhnya ke pintu kulkas melamun beberapa menit sampai akhirnya dia mendengar bunyi telepon rumah yang ada di ruang tamu.
Menyimpan gelas lalu beranjak menuju telepon yang masih berbunyi, "hallo."
"Mas."
\*\*\*\*
__ADS_1