Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Setitik Harapan


__ADS_3

Ipul terdiam dengan handphone yang ada di tangannya, dia baru saja tak sengaja membuka akun media sosialnya dan melihat ada banyak pesan yang masuk.


Pesan dari teman-teman lamanya berbaris rapi membuat tangannya bergerak membuka satu persatu pesan, terkadang bibirnya tertawa kala melihat salah satu temannya mengirimkan photo lama yang memperlihatkan betapa culunnya dia saat remaja dulu.


"Kurang ajar Tara," umpatnya kesal tapi bibir tetap melebarkan senyuman.


Jari-jemarinya terus bergerak memeriksa kembali beberapa pesan yang masuk sampai akhirnya jarinya berhenti bergerak dengan tatapan mata yang begitu fokus kala membaca nama akun yang mengirim pesan padanya, pada keterangannya tertera kalau pesan itu di kirim dua hari yang lalu.


"Daniya?" gumamnya sarat akan pertanyaan tentang wanita yang memang sempat dia dekati dan tidak munafik kalau dia juga menaruh hati pada wanita itu, wanita yang bahkan dia tidak sadar kalau memiliki wajah yang lumayan mirip dengan istrinya hanya saja Ralen memiliki tahi lalat di atas bibir bagian kirinya dan dia sangat suka tahu lalat itu.


Pria yang tengah berada di kantor itu dengan sedikit ragu membuka pesan yang dikirimkan mantan wanita yang pernah dekat dengannya dengan perasaan bergemuruh tidak tahu kenapa dia merasa ada desiran aneh yang menyergap dirinya.


Ipul membaca beberapa kalimat yang terpampang di atas layar, kalimat demi kalimat yang membuatnya mengerutkan kening lalu rasa bersalah menyeruak di dalam hati, rasa bersalah ketika dia menggantungkan seorang wanita di negara nan jauh di sana padahal mereka sudah sangat dekat dan bunga-bunga cinta memang sempat muncul di dalam dirinya, tapi sekarang sudah tidak ada rasa cinta melainkan hanya rasa bersalah karena telah membuat seorang wanita begitu menaruh harap padanya.


Di negara kelahirannya dia sudah menikah, memiliki istri sedangkan di negara yang sempat dia singgahi ada seorang wanita yang masih mengharapkan dirinya, mengharapkan kedatangannya.


Daniya begitu senang ketika memeriksa pesan yang dua hari lalu dia kirim sudah di baca, setitik harapan langsung muncul membuncah mengisi ruang hatinya yang selama ini kosong.


"Dia sudah membacanya," katanya lirih tapi kemudian seulas senyum menghiasi wajah.


Perbedaan 7 jam membuat di tempat Daniya sekarang bagi pukul 3 pagi, dan dia yang memang tidak bisa tidur sejak dirinya mengirim pesan pada sang pria langsung terduduk dengan spontan di atas tempat tidur yang sedari tadi menjadi tempatnya berguling memutar tubuh ke sana-kemari tak jelas, resah terus saja menyelinap tapi keresahan itu mendadak musnah setelah pesannya terbaca oleh pria yang dia tuju, semoga saja.


Daniya menunggu balasan dari sang pria tapi sekian menit menunggu tidak ada juga balasan yang dia dapatkan, bahkan akun media sosial yang tadi sempat aktif kembali non aktif ketika dia tidak lagi melihat titik hijau di pojok sebagai tanda kalau akun itu aktif.


Dia yang tadinya semangat pun kembali tak bergairah, wajahnya menjadi sendu lagi bahkan tetesan air mata mulai turun dari kedua matanya.


********


"Dari pada kamu bosen bete di rumah lebih baik kita ke rumah Zara aja yuk Len," ajak sang Mama mertua pada menantunya yang sejak tadi memamerkan wajah kusut.


Ini sudah hari ketiga Ralen tidak lagi bekerja di kantor sang suami, dia juga tidak akan bisa memantau apa saja yang suaminya lakukan terlebih waspada nya terhadap sekretaris makin menjadi-jadi, dia tidak tahu apakah suaminya itu sudah mengganti sekretaris centilnya atau belum, bahkan saat di tanya suaminya itu tidak memberikan jawaban.

__ADS_1



"Ayo Ma," sahut Ralen cepat, terlihat jelas kalau dia begitu antusias untuk bertemu dengan Zara yang sejak awal mengenal sudah menunjukkan kalau wanita bernama Zara itu sangat baik.



Mama Riska tersenyum senang melihat menantunya menjadi lebih semangat ketimbang yang tadi.



"Naik motor?" tanya Mama Riska yang langsung mendapat gelengan kepala dari sang menantu.



Ralen dengan tegas menolak sebab dia sudah berjanji untuk tidak membonceng mertuanya lagi, cukuplah sekali saja dan tidak akan mengulanginya kembali, sungguh dia takut kalau Ipul sampai tahu apalagi sekarang ini suaminya ada di Jakarta, dia tidak akan mungkin melakukan tindakan bodoh di saat suaminya sudah memberikan peringatan kepadanya untuk tidak membonceng Mama mertuanya naik motor.



"Okelah kita naik mobil aja kalau gitu biar Mama yang bawa," kata Mama Riska dengan senyuman sumringah yang disetujui oleh sang menantu.




Mama Riska berhenti di depan pintu lalu mengacungkan jempolnya sebagai tanda setuju.


Ralen pun mulai menghubungi sang suami sambil dia menaiki anak tangga menuju kamar, bukankah dia juga harus bersiap-siap?


"Halo emm," Ralen terdengar ragu saat akan memanggil pria yang pastinya sedang mendengarkannya.


__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ipul pada sang istri.



Ralen merasa nada suara suaminya terdengar sedikit ketus, atau hanya perasaannya saja?



"Aku sama Mama mau ke rumah Mbak Zara boleh?" tanya Ralen memberanikan diri, tidak tahu kenapa dia masih saja merasa canggung jika harus berkata banyak dengan pria yang menikahinya itu.



"Hhmm."


Ralen mengernyit mendengar jawaban yang suaminya berikan, hanya hhmm saja? apa itu tidak keterlaluan? sedangkan dia berbicara lumayan banyak.


"Jangan naik motor," kata Ipul kemudian setelah diam sesaat.


Ralen tidak tahu apa yang tengah dilakukan oleh pria itu di kantor, apa sedang pusing dengan berkas-berkas atau malah sedang ada sekretaris centil di dekatnya yang menggoda?


Ralen menggeleng kepala lalu memukul keningnya berusaha untuk mengenyahkan pikiran tak baiknya.


"Mama mau bawa mobil katanya," jelas Ralen sambil membuka lemari pakaian lalu mengambil baju yang akan dia pakai.


"Ya sudah," jawab Ipul singkat lalu mematikan sambungan telepon.


"Hah?" Ralen melongo menatap layar handphone yang tidak lagi bersuara.



Ralen melempar benda yang berada di tangannya itu ke atas tempat tidur dengan perasaan kesal tak karuan.

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2