
Menjelang tengah malam Ralen di buat terus gelisah memikirkan ucapan sang ibu yang lagi-lagi sukses membuat dia terusik dan sekarang malah di tambah oleh suaminya yang tak kunjung menghubungi.
Tadi siang mereka memang sedikit berdebat tentang kemeja dan Ralen ngambek tapi biasanya saat dia ngambek suaminya masih tetap berusaha untuk menghubungi dirinya meski dia tidak merespon, juga mengabaikan tapi sang suami akan terus berusaha untuk berbicara atau menanyakan kepada sang Mama tentang dirinya.
Tapi hari ini pria itu setelah siang tadi sama sekali tidak menghubungi dirinya maupun sang Mama sungguh tidak seperti biasa.
Ralen ingin menghubunginya namun dia merasa gengsi karena tadi dialah yang menutup telepon lebih dulu, dia ngambek pada suaminya.
"Apa yang terjadi?" bingung Ralen menggumam sendiri mempertanyakan apa yang tengah terjadi pada sang suami.
Hingga akhirnya Ralen memutuskan untuk menghubungi Om Damar, asisten suaminya yang memang kerap kali berada di sekitaran sang suami.
"Tapi ini kan tengah malam, Om Damar juga pasti sedang istirahat," gumamnya sampai akhirnya diapun mengurungkan niat untuk mengubungi Om Damar, tidak mau mengganggu istirahat pria itu.
Wanita itu memilih untuk tidur meski tidurnya tidak akan bisa nyenyak sama sekali karena semua yang terjadi hari ini.
Saat pagi..
Langkah Ralen terhenti ketika ingin menuruni tangga kala telinganya menangkap suara sang mertua yang kemungkinan sedang berbicara melalui telepon karena dia tidak mendengar suara orang lain selain suara mertuanya.
"Hanna?" suara Mama Riksa terdengar sedikit keras seperti orang yang sedang terkejut atau mungkin mendapatkan kejutan.
Suara dari mertuanya membuat Ralen makin penasaran mertuanya itu sedang bicara dengan siapa saat ini dan akhirnya untuk memenuhi rasa penasarannya Ralen pun sedikit memajukan kepalanya agar bisa mendengar lebih jelas apa yang dibicarakan dan dengan siapa mertuanya itu bicara saat ini.
Berdosa lah dia karena kini menguping pembicaraan Mama mertuanya yang ada di ruang tengah.
"Hanna?" Ralen merasa asing dengan nama yang tadi membuat mertuanya sangat terkejut.
Ralen tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya, jadi mungkin Mama Riska tidak sedang berbicara dengan suaminya, sampai akhirnya rasa penasaran Ralen langsung menguap pergi.
Ralen hendak kembali melangkah ketika lagi-lagi dia mendengar suara Mama Riska bicara dan kali ini memaksa dia untuk benar-benar berhenti dan melanjutkan acara menguping yang tadinya tidak sengaja mendengar namun akhirnya malah dengan sengaja ingin mendengarkan.
"Kamu ketemu Hanna di mana Ipul?"
Dan mendengar nama suaminya membuat jantung Ralen berdebar hebat, suaminya bisa menghubungi Mamanya tapi kenapa tidak bisa menghubunginya.
Lalu tentang seorang bernama Hanna? itu siapa?
"Hanna sudah bercerai? ya Allah malang sekali nasibnya."
__ADS_1
Ralen bisa mendengar kesedihan dari suara yang Mama Riska keluarkan namun dia masih tidak tahu siapa Hanna yang sekarang jadi pembicaraan antar Ibu dan anak.
"Mama selalu ingin menangis kalau ingat Hanna Pul, Hanna itu wanita baik tapi sayangnya kamu berbuat jahat sama dia."
Bibir Ralen berkedut.
Sekarang apa lagi maksud dari perkataan sang Mama mertua?
Kenapa mengatakan kalau suaminya jahat?
Memangnya apa yang sudah di lakukan oleh suaminya?
"Mama bukan menyesali perpisahan kalian Pul, Mama mengerti mungkin kalian memang tidak berjodoh hanya saja Mama sebagai wanita pun akan merasakan sakit hati ketika pria yang sudah mengatakan ingin menikah dengan Mama malah tiba-tiba memutuskan untuk mengakhiri hubungan membatalkan pertunangan."
Jantung Ralen seperti di remas membuatnya kesulitan untuk bernapas.
"Dia bertemu dengan mantan tunangannya?" batin Ralen kecewa.
"Kamu harus memberitahu Ralen tentang Hanna Pul, agar Ralen tidak kecewa dan marah padamu karena biar bagaimana pun Ralen itu istrimu dan kamu patut menjaga hatinya apalagi sekarang dia tengah mengandung anakmu."
Suara Mama Riska memenuhi telinga Ralen lalu mengitari otaknya membuat dia pusing dan seolah tak bisa mendengar suara yang lainnya.
Semalam pun Ralen sudah merasa aneh, suaminya yang biasanya akan berusaha untuk menghubunginya saat dia marah tapi hal itu tidak dilakukan oleh suaminya, pria itu tidak ada sama sekali menelepon atau mengirim pesan untuk membujuk dirinya.
"Padahal semalam aku sangat membutuhkan kamu Mas, aku ingin cerita tentang ibu, tapi kamu.."
Suara Ralen seolah tercekat di tenggorokan tak mampu menyelesaikan perkataannya, sekarang dia tertawa tapi juga menangis di saat yang sama.
Telinga Ralen rasanya sudah sangat panas, tidak ingin lagi mendengar apapun tentang suaminya dan wanita bernama Hanna.
Ralen yang tadinya ingin berangkat kuliah diantar oleh supir malah kembali berlari masuk ke dalam kamar mencari benda yang semalam dia masukkan ke dalam tas yang dia pakai saat pergi ke mall.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Ralen pun segera berlari menuruni anak tangga menjadi lupa bahwa dia sedang mengandung.
"Pokoknya kamu telepon Ralen, minta maaf sama Ralen, kamu itu harus banyak mengalah sama istrimu," kata Mama Riska pada sang anak.
__ADS_1
"Kok kayak ada suara motor?"
Kening Mama Riska mengerut ketika telinganya menangkap suara kendaraan yang beda.
Suara mesin mobil dan motor cukup berbeda.
Mama Riska mematikan telepon lalu gegas keluar.
"Istrinya Aden bawa motor Bu," lapor Bi Sumi yang terang saja langsung membuat Mama Riska berlarian keluar rumah.
"Raleeeen!"
Terlambat!
Ralen sudah pergi membawa motornya dengan sangat cepat.
"Kenapa di bukain Pak!"
Mama Riska berseru marah pada penjaga rumah yang membukakan pagar untuk Ralen, padahal andai tidak dibukakan tentu Ralen tidak akan bisa pergi.
"Non bilang lagi buru-buru Bu, takut terlambat makanya saya bukain." kata sang penjaga membela diri.
Tadi memang itu yang dikatakan oleh Ralen saat minta di bukakan pagar dan dia tentu tidak bisa menolak apalagi melarang.
Mama Riska menghela napas panjang memijat keningnya lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
\*\*\*\*
__ADS_1