Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Mertua Sayang Menantu


__ADS_3

Mama Riska bangun dengan tubuh yang sangat segar setelah di pijat.


Semalaman dia tidur begitu nyenyak akibat pijatan yang menghilang semua pegal yang dia rasakan, tidur sampai lupa waktu dari pukul 8 malam sampai menjelang subuh baru dia bangun untuk sholat.


Sungguh semalam dia terus saja memuji tukang pijat yang didatangkan oleh sang menantu, bahkan saat kini dia sudah sibuk dengan urusan dapur pun mulutnya terus saja berbicara tentang tubuhnya yang jauh lebih enteng dan relaks.


"Nanti Mama mau pijat lagi ah," katanya pada sang menantu yang tengah membuat susu hamil untuknya.


Susu hamil yang padahal sangat tidak dia sukai akan tetapi harus tetap dia konsumsi untuk pertumbuhan dan kesehatan janin yang ada di dalam perutnya.


"Memang selama ini Mama tidak pernah pijat?" tanya Ralen menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk susu panas dalam gelas.


"Sering tapi bukan pijat tradisional, padahal udah lama banget Mama cari-cari tukang pijat tradisional tapi nggak pernah dapet, nggak ada satupun kenalan Mama yang kenal sama tukang pijat tradisional kayak yang Bu Sarma," aku sang mertua bercerita tentang dirinya yang telah lama mencari jasa pijat seperti yang semalam namun tidak kunjung menemukannya terasa sangat sulit dan waktu itu dia beranggapan mungkin memang sudah tidak ada lagi orang yang melakukan pekerjaan seperti itu lagi.


"Iya memang sudah jarang Ma, itu aja kan satu-satunya di tempat Ralen, nggak tahu kalau di daerah lain masih ada apa memang sama jarangnya," papar Ralen mencuci sendok yang tadi dia pakai untuk mengaduk susu.


"Bener, jaman sekarang tuh yang tradisional-tradisional gitu emang udah langka banget," timpal sang mertua.


Mertua dan menantu itu terlibat pembicaraan yang bisa di bilang serius namun juga santai karena yang mereka bicarakan tentang semakin majunya zaman hingga keduanya bahkan tidak menyadari kedatangan Bi Sumi di ambang pintu dapur.


"Loh Bi Sumi kapan datang?" Mama Riska malah kaget sendiri dengan kedatangan wanita yang memang sudah lama membantunya di rumah.


"Lumayan lama Bu, cuma kan ibu sama istrinya Aden lagi asik ngobrol," sahut wanita yang memang sudah sangat akrab dengan pemilik rumah tempatnya bekerja selama ini.


Saat datang tadi wanita paruh baya itu terus memperhatikan interaksi antara mertua dan menantu dan dia dapat menyimpulkan bahwa keduanya saling menyayangi, sungguh dia bisa melihat wajah kedua wanita itu terlihat ceria dengan mata yang berbinar saat sedang berbicara membuat dia pun turut senang atas apa yang dia lihat.


Tuhan memang maha adil, saat dia mengambil seseorang untuk kembali padanya tapi Tuhan juga telah menyiapkan penggantinya yang bisa mengobati kehilangan yang mendera.


"Iya kah? kenapa kita tidak sadar ya Len?" Mama Riska melihat pada menantunya.


"Mama keasikan ngomongin tukang pijat," sahut Ralen dengan senyuman lebar sambil memegang gelas berisi susu yang siap untuk dia minum.


"Memang itu si tukang pijat yang mengalihkan duniaku," canda Mama Riska yang sontak membuat Ralen dan Bi Sumi tertawa.


Sungguh siapa pun tidak akan menyangka kalau ketiga orang itu tidak memiliki hubungan darah.

__ADS_1


Hanya mertua, menantu dan juga wanita yang membantu di rumah itu akan tetapi ketiganya bisa mengobrol layaknya saudara sedarah, begitu dekat dan akrab.


****


"Mas lagi dimana?" Ralen yang sedang mengacak-acak lemari pakaian milik suaminya terlihat tengah berbicara dengan sang suami melalui video call yang menampilkan wajah pria yang meskipun berkeringat namun tetap terlihat tampan bahkan malah kesan macho tergambar begitu nyata.


"Lagi di proyek," sahut Ipul tanpa menatap layar handphone.


Pria itu tampak sedang sibuk memperhatikan para pekerjanya namun masih tetap menyempatkan waktu untuk menjawab telepon sang istri dan berbicara dengannya, membiarkan sang istri melihat wajahnya karena mungkin saja istrinya sedang sangat merindukan dirinya saat ini.


"Kemeja Mas yang warna abu kemana sih?"


Sontak Ipul melihat pada layar handphone, menatap wajah sang istri yang sekarang tidak sedang melihat padanya.


"Kamu telepon aku karena kangen atau cuma mau tanyain baju?" Ipul bertanya dengan kerutan di wajah.


"Tanyain baju, aku mau pergi sama Mama soalnya."


Mulut Ipul terbuka.


Dugaannya salah besar, dia mengira istrinya rindu tapi kenyatannya malah hanya ingin menanyakan baju miliknya yang memang akhir-akhir ini sering di pakai oleh wanita hamil itu.


Kemarin istrinya tidak menginginkan dia pergi bahkan merengek untuk ikut, tapi setelah dia pergi malah sibuk menanyakan pakaian bahkan dengan entengnya menjawab.


"Kelamaan, Mas pasti balasnya beberapa jam kemudian mendingan langsung aku telepon kan langsung di jawab." Ralen menjawab dengan polos sambil tangannya tetap mencari-cari kemeja yang dia maksud.


Kemeja kesayangan suaminya yang memang sering dia pakai, bahkan dulu kemeja itu juga yang di pakai oleh suaminya saat mereka bertemu untuk pertama kalinya tentu menjadi kemeja yang paling berkesan baginya, mungkin.


"Kemejanya Mana Mas? simpen dimana?" Ralen mulai tidak sabar karena tak kunjung menemukan apa yang dia cari.


Ipul diam sesaat dengan sebelah tangannya yang menggaruk ujung alisnya terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan dari sang istri.


"Mas iih." Ralen merajuk tak sabar.


"Aku bawa sayang," sahut Ipul ragu.

__ADS_1


Kemarin malah setelah istrinya menyiapkan pakaian yang dia bawa dia sudah lengkap semua perlengkapan dan siap untuk dimasukkan ke dalam koper akan tetapi dia merasa pakaiannya masih kurang sampai akhirnya kembali mengambil beberapa kemeja dari dalam lemari termasuk kemeja yang sekarang ditanyakan oleh istrinya.


Sepertinya dia harus bersiap mendapat Omelan dari sang istri, atau lebih parahnya mungkin istrinya itu akan ngambek padanya.


Lihat saja sekarang sudah seperti apa wajah Ralen mendengar pengakuannya, wajah yang tadi masih ada senyum kini berubah dengan sangat drastis.


"Sayang." Ipul memanggil wanita yang menatapnya dengan tatapan tajam namun tetap terlihat menggemaskan.


"Kan masih ada abu-abu yang lainnya kenapa harus abu yang itu terus sih?" tanya Ipul sedikit heran, sepertinya dia tidak mengerti kenapa istrinya sangat menyukai kemeja warna abu gelap yang dia bawa karena seingatnya kemeja dia yang warna abu masih ada beberapa lagi, tapi kenapa harus yang dia bawa yang di cari-cari.



Lalu kenapa juga dia bawa kemeja yang memang dia sudah tahu sering di pakai oleh istrinya, Ipul malah bingung sendiri, dia termasuk salah juga, padahal baju mana saja yang dia bawa sudah disiapkan oleh istrinya tapi kenapa dia harus menambahkannya lagi.


Aku ngambek!" Ralen berseru lalu kemudian langsung mematikan telepon.


"Dia ngambek saja masih bisa bilang," tutur Ipul menggelengkan kepala, tidak mengerti tapi dia sadar wanita seperti apa yang dia nikahi.


Ralensi Jelita dengan segala sifat dan tingkahnya yang ajaib akan tetapi sukses membuatnya kehilangan mobil kesayangan yang sudah lama dia inginkan, tapi setelah susah payah memilikinya nyatanya dia harus merelakan mobil itu jatuh ke tangan sang Abang sepupu.


Kisah percintaan yang membawa kebahagiaan namun juga membawa kerugian untuknya.


Mengetahui istrinya ngambek Ipul dengan tenangnya menyimpan handphone ke dalam saku saat seorang pekerjanya datang menghampiri.


Urusan bujuk membujuk akan dia lakukan nanti saja, yang terpenting sekarang adalah pekerjaan yang sedang dia tangani.


Seorang pria yang ternyata adalah kepala bagian lapangan datang dengan membawa berkas laporan yang lumayan tebal lantas mulai melakukan diskusi pada sang pemimpin.


"Om." Ipul berteriak memanggil asistennya yang tengah berdiri bersama dua orang pria.


Sang asisten pun segera mengakhiri pembicaraan lalu berjalan cepat mendatangi atasannya.


Mereka bertiga tampak berbicara, sangat fokus dengan apa yang mereka bicarakan di tengah cuaca yang semakin terik.


"Kita bicara di kantor saja." Ipul yang mulai tidak tahan dengan matahari yang menyilaukan itupun mengajak untuk pergi ke sebuah bangunan yang memang sudah dipersiapkan untuk kantor sementara agar tidak perlu bolak-balik ke gedung kantor yang ada di pusat kota.

__ADS_1


Ketiganya berjalan menuju kantor lalu masuk ke dalamnya dan mulai kembali melakukan pembicaraan serius.


****


__ADS_2