Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Wanita Cantik


__ADS_3

Pagi hari Ipul berdiri di depan pintu kamar yang masih saja tertutup rapat sejak tadi malam, terkunci tanpa ada di niat dari si penghuni kamar untuk membukanya benar-benar melarang dia untuk masuk ke dalam melewati batasan yang sudah di tentukan oleh wanita yang sejak kemarin menabuh genderang perang terhadapnya.


Tarikan napas pria itu terdengar tidak biasa, begitu berat seperti banyak sekali tekanan yang menghimpit, dia sudah mengetuk pintu itu sejak pagi buta saat dia bangun dan tak bisa lagi melanjutkan tidurnya ketika hanya ada sofa yang bisa dia jadikan tempat untuk tidur.


"Astaga Ralen, bukalah pintunya aku ini perlu mandi," suara Ipul meninggi dengan tangan yang berada di kedua pinggangnya, dia ini sudah kesal sehingga memanggil istrinya dengan panggilan lamanya.


"Mandi saja di toilet depan, disitu ada toilet!" seru Ralen dari dalam kamar tak kalah kencang agar suaminya itu mendengar.


"Itu hanya untuk buang air besar tidak ada bathtub," papar Ipul.


"Tapi kan ada air, kamu tetap bisa mandi tanpa bathtub asalkan ada air!" jawab Ralen dengan wajah yang cemberut, tetap menguasai kamar agar suaminya itu tidak masuk dengan alasan apapun.


"Aku tidak biasa mandi dengan kloset," kata Ipul sambil memasang telinga agar mendengar apa lagi yang akan dikatakan oleh istrinya itu.


Ralen mendengus makin kesal mendengar alasan yang suaminya berikan, memang di rumah pria itu kloset berada di kamar mandi yang berbeda tidak menyatu dengan tempat untuk mandi, semuanya yang ada di rumah pria itu memang berbeda dengan rumah kontrakannya.


"Kamar mandi ku saja bersatu dengan kloset, itu tidak jadi masalah, mandi ya mandi memangnya kenapa dengan kloset apa saat mandi dia akan menatapmu?!" oceh Ralen memberikan argumen bahkan sampai menjabarkan keadaan kamar mandi di rumah kontrakannya.


"Itu kan kamu bukan aku, kamu terbiasa sedangkan aku tidak jadi jangan samakan," jelas Ipul tak mau kalah.


"Cepat buka pintunya aku sudah terlambat," lanjut Ipul memainkan handle pintu.


"Kemarin saja kamu terlambat, jadi apa bedanya dengan sekarang kamu kan seorang pemimpin, dulu aku yang hanya bawahan saja tidak mengapa datang terlambat," cerocos Ralen.


Ipul menggaruk pangkal alisnya meskipun tidak gatal, lalu beranjak ke pintu saat ada yang menekan bel.


Membuka pintu dan di depannya sekarang sudah terlihat asistennya yang membawa map dengan pakaian santai.


"Ini berkas yang tuan muda cari," kata Damar memberikan berkas yang kemarin tertinggal.


Ipul mengambil berkas yang diberikan oleh sang asisten lalu memeriksanya sebentar dan sekarang melihat pada asistennya yang juga menatap dirinya.


"Om mau kemana?" tanya Ipul ingin tahu.

__ADS_1


"Hari ini tidak ada pertemuan jadi saya ingin berkeliling sebentar," jawab Damar lugas.


Nyatanya hari ini Ipul tidak ada kerjaan, padahal tadi mengatakan pada istrinya kalau dia akan terlambat, rupanya itu hanya akal-akalannya saja agar Ralen mau membukakan pintu.


"Tuan muda belum mandi?" balik memberikan pertanyaan ketika melihat pakaian yang dikenakan oleh tuan mudanya masih yang kemarin.


"Singa betina masih ngamuk."


Brak!


Terdengar suara pintu yang di tutup dengan kencang membuat kedua pria yang sedang berbicara itu menoleh bersamaan, ternyata tadi Ralen sudah sempat membuka pintu tapi malah mendengar omongan suaminya yang menyamai dirinya seekor singa betina.


"Buka Jelita, kenapa di tutup lagi," Ipul kembali berdiri di depan pintu dengan Damar yang malah tertarik untuk mengikuti, sepertinya Damar lupa kalau dia tadi mengatakan akan berkeliling menikmati hari libur dari kegiatan yang beberapa hari ini menguras otak pikiran serta tenaganya.


"Kamu bohong, bilang terlambat tapi ternyata hari ini kamu tidak ada kerjaan," teriak Ralen dengan wajah yang cemberut.


"Sepertinya memang harus di dobrak!" Ipul membuka kemejanya lalu mulai mengambil ancang-ancang bersiap untuk mendobrak pintu yang menjadi penghalang dan pertahanan Ralen.


Baru saja Ipul akan berlari ke arah pintu tapi tubuhnya malah di tahan oleh Damar, asistennya itu menahan pergerakan dirinya yang akan menabrakan tubuhnya ke pintu.


Ralen di dalam kamar memasang pendengaran menempelkan telinganya ke daun pintu ketika mendengar keributan di luar sana, dia mendengar suara suaminya yang sedang mengomeli asistennya.


"Dari semalam Ipul sudah sabar di kunciin begitu, di suruh tidur di luar sedangkan dia tidur di dalam sana sendirian!" ucap Ipul malah bercerita pada sang asisten kalau dia sejak semalam dia tidak di bolehkan masuk ke dalam kamar.


"Tenang tuan muda, kalau memang Nona tidak mau membukakan pintu lebih baik Tuan muda mandi kamar saya saja, tidur di kamar saya saja mulai sekarang toh baju tuan muda juga bisa kita bawa, hari ini kita libur tuan muda bisa ikut saya berkeliling mencari kesenangan mungkin?"


Damar berbicara dengan sangat kencang seperti memang sengaja agar wanita di dalam kamar bisa mendengar apa yang dia bicarakan.


Ipul menatap asistennya dengan tatapan yang memicing dan penuh selidik lalu ketika Damar mengedipkan sebelah matanya akhirnya dia sadar dengan kode yang diberikan sang asisten.


Sepertinya dua laki-laki ini sedang melakukan kerjasama membuat wanita di dalam kamar sana kelabakan.


"Ipul ingin pergi ke klub nanti malam, kita sudah merencanakan itu sejak dari beberapa hari yang lalu kan? tapi harus batal karena kedatangan.."

__ADS_1


Ipul tidak melanjutkan perkataannya, sengaja melakukan itu untuk memancing wanita yang sedang menguping mendengarkan pembicaraannya.


"Benar, saya tahu klub malam yang terkenal di daerah sini, banyak wanita cantik dan seksi di tempat itu kita bisa cuci mata," tutur Damar makin sesuka hatinya.


Mata Ipul membelalak tak percaya dengan yang baru saja di lontarkan oleh Damar.


"Om benar-benar memancing amukan singa betina," bisik Ipul tak ingin di dengar oleh Ralen.


Damar menahan senyumnya, "singa betina itu hanya berani mengamuk pada pasangannya," sahut Damar tenang.


"Sialan," umpat Ipul, jelas dialah pasangan yang di maksud oleh sang asisten, yakinlah setelah ini atau mungkin nanti dia akan mendapatkan masalah yang lebih besar dari sekedar tidur di ruang tamu.


"Ayo tuan, kita ke kamar saya sekarang," ajak Damar mengangkat koper serta pakaian milik atasannya yang berserakan di atas sofa.


Ipul mencebikkan bibirnya lalu melangkah mengikuti sang asisten yang berjalan lebih dulu.


Ipul sempat melihat pada pintu kamar yang sedikit mengeluarkan suara tapi tetap tidak terbuka bahkan sampai dia keluar pintu.


Sedangkan di dalam kamar Ralen yang mendengar semua pembicaraan dua orang laki-laki itu bergerak gelisah, tangannya ingin membuka pintu tapi hatinya melarang, hingga akhirnya dia hanya sekedar memegang handle pintu lalu melepasnya lagi, begitu terus berulang-ulang sampai sudah tidak ada suara yang dia dengar.


"Dia mau ke klub malam? yang benar saja!" omel Ralen tak bisa diam.


"Mau lihat wanita seksi? dua pria itu sudah gila kah, Pak Damar juga kan sudah punya istri apa dia tidak memikirkan istrinya? kenapa juga malah mengajak suamiku berbuat macam-macam," dengus Ralen dengan keringat yang mulai membahasi keningnya.


Akhirnya dengan tangan yang bergetar sekaligus basah oleh keringat Ralen berusaha membuka pintu yang sialnya malah jadi terasa sangat sulit.


"Mas Saiiii," langsung berteriak saat pintu terbuka tapi sudah tidak ada siapapun membuatnya langsung bergegas menuju pintu keluar dan berdiri bingung ketika sudah tidak ada siapapun di lorong hotel itu.


"Kamar Pak Damar," ucap Ralen lalu mencari dimana kamar asisten dari suaminya itu, tapi naasnya dia tidak tahu dimana kamar sang asisten.


"Yang mana kamarnya?" Ralen berdiri menatap satu persatu pintu kamar, haruskah dia mengetuk pintu itu satu persatu?


"Wajahnya bodoh sekali," Ipul yang sedang mengintip malah menghina wajah istrinya sendiri.

__ADS_1


Ralen berdiri di lorong dengan wajah yang panik, melihat pada pintu-pintu kamar di lorong itu dengan wajahnya yang terlihat sangat bingung dan persis seperti orang yang sedang tersasar tak tahu jalan tapi tak ada orang yang bisa dia tanyai.


****


__ADS_2