
Pertemuan dengan Daniya membuat sepanjang jalan Ralen hanya diam tak berkata matanya fokus pada jalanan tapi pikirannya menerawang jauh pada sosok wanita yang ternyata Kakak kandungnya sekaligus wanita yang juga menyukai suaminya, jika sudah begini dia harus apa?
"Len," panggil sang ibu yang berada di belakangnya dengan tepukan pelan pada bahu anaknya.
Ralen hanya melirik pada kaca spion guna melihat wanita yang memanggilnya barusan.
"Kalian ada masalah apa sebenarnya?" tanya sang ibu yang memang sejak tadi bertanya-tanya namun tidak kunjung mendapat jawaban, tentang kedua anaknya yang seolah sudah saling mengenal sebelumnya.
"Kalian pernah bertemu sebelumnya?" tambah wanita yang mendekatkan kepalanya ke samping pundak sang anak.
"Kami memang pernah bertemu dan.."
"Jangan melakukan hal yang tidak mengenakkan pada Kakakmu ya Len, ibu itu sayang sama dia apalagi sudah sangat lama ibu tidak pernah melihatnya ketika tahu anak pertama ibu sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan sehat ibu sangat bahagia dan berharap Kakakmu juga memanggil ibu seperti kamu dan Arda," tutur sang ibu yang seenaknya saja menyela padahal Ralen pun masih belum menyelesaikan perkataannya.
"Memangnya Ralen melakukan apa?" intonasi Ralen terdengar sedikit keras mungkin karena sedang berada di jalanan dan suaranya teredam oleh suara-suara bising dari mesin motor dan juga kendaraan lainnya di jalan raya itu, atau memang dia sengaja melakukannya untuk melampiaskan rasa tak nyaman dalam hatinya saat ibunya seolah mulai berpihak pada Daniya.
Ralen cukup mengerti andai ibunya hanya memintanya untuk menghormati Daniya karena memang wanita itu lebih tua darinya, tapi kalau sampai harus di suruh mengalah apa dia harus tetap mengerti juga? apa dia harus menjadi anak penurut seperti biasanya, dulu sekalipun dia judes dan terkesan galak tapi kalau sudah menyangkut tentang keluarga terutama orang tuanya dia akan menurut apabila orang tuanya sudah melarang atau memintanya untuk melakukan apa yang mereka kehendaki.
Wanita di belakang Ralen mengelus punggungnya dengan telapak tangan yang naik turun, "ibu tidak tahu tapi yang jelas mulai hari ini jangan bertengkar dengannya, apalagi tadi Kakakmu itu sudah mau menerima makanan yang ibu bawa itu artinya sedikit-sedikit dia sudah bisa menerima kita terutama ibu, karena kamu dengan sendiri kan apa yang Arda katakan semalam," papar ibunya yang tadi memang begitu bahagia ketika makanan di dalam rantang yang dia berikan langsung di terima oleh Daniya, meski masih dengan ekspresi yang sombong.
Ralen ingat dengan jelas setiap cerita tentang Daniya yang Arda katakan, tentu dia juga senang kalau ibunya senang dia bukan anak yang tidak tahu diri ataupun gila yang menginginkan ibunya dimusuhi oleh anak kandungnya.
Motor yang Ralen kendarai sudah memasuki gang menuju kontrakannya dan kedua matanya memicing kala di tepi jalan tepat dimana sampingnya adalah kontrakan yang orang tuanya tempati berada sudah terparkir mobil milik sang suami.
"Itu sepertinya mobil suami kamu, Len," kata sang Ibu memberitahu.
Padahal tanpa diberitahu pun Ralen sudah tahu bahwa itu memang mobil suaminya, plat nomornya dia sudah sangat hafal.
"Ngapain dia kesini?" Ralen menggerutu.
Wanita itu tentunya masih sangat kesal dengan kejadian kemarin, semakin kesal saja ketika mengingat alasan dia kesal seperti inipun karena bertemu dengan Daniya di kampus.
"Huss! suami datang kok ngomongnya malah begitu," ucap sang ibu tak suka ketika Ralen malah terlihat tidak senang dengan kedatangan suaminya.
Ralen memarkirkan motornya dan dari tempatnya berada dia sudah bisa melihat sosok sang suami yang sudah menunggunya dengan berdiri di teras kontrakan tidak peduli dengan tubuhnya yang jangkung berdiri memalang jalan masuk menuju pintu rumah.
"Baru sampai apa sudah lama?" tanya ibu pada sang menantu yang membungkuk seraya mencium punggung telapak tangannya.
"Sudah dari Ibu dan Kak Ralen baru berangkat Kak Ipul sudah datang." dari arah samping Arda yang baru saja muncul langsung berteriak menjawab pertanyaan dari ibunya padahal bukan dia yang ditanya.
"Lama banget dong," timpal sang ibu sedangkan menantunya menganggukkan kepala seraya tersenyum lebar.
"Iya lama, hampir jamuran itu, lagian ngapain sih Ibu sama Kak Ralen perginya lama banget ketemu orang judes begitu betah banget," celetuk Arda dengan wajah yang sejak tadi memang terlihat kesal.
Iya, dia itu kesal karena ibu dan Kakaknya pergi dan tidak pulang-pulang padahal sudah dari pagi seolah sangat betah berhadapan dengan wanita judes dan angkuh bernama Daniya, sepertinya Arda tidak akan pernah bisa menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap Kakak pertamanya, langsung saja blak-blakan tak peduli kalau ibunya mungkin akan marah terhadapnya toh kenyataannya dia memang tidak suka terlebih lagi sikap Daniya yang menurutnya sangat keterlaluan.
Sang ibu menggeleng kepala lalu berkata pada sang menantu, "ibu masuk ya," ucapnya.
"Iya Bu," sahut Ipul yang lalu atensinya beralih pada wanita yang baru saja selesai menyandarkan motornya di samping teras.
__ADS_1
Sedangkan Arda mengekori ibunya meninggalkan pasangan suami istri yang dari wajahnya saja sudah terlihat sedang bermasalah.
"Apa lihat-lihat!" ketus Ralen kala mendapati sepasang mata suaminya yang tengah menatap padanya.
"Telepon aku kenapa di reject terus?" langsung bertanya saat Ralen berjalan mengarah padanya.
"Males jawab Telepon," menjawab asal.
"Malas jawab telepon dikirimin pesan juga nggak di balas, lagi malas ngetik juga?" memicingkan matanya lalu mengajak istrinya untuk duduk.
"Nah itu udah tahu, aku lagi malas banget sama semua yang berhubungan sama kamu!" sentak Ralen tidak mau duduk.
"Kecilkan suaramu Jelita!" tegas Ipul dengan mata yang melebar.
"Sengaja biar yang lain dengar," oceh Ralen dengan sudut bibir yang menajam sinis.
"Udah kayak anak kecil kamu, berantem sama suami kayak gitu."
"Bodo!" ketus wanita yang tubuhnya menolak untuk menempel pada kursi kosong disebelah suaminya, dia sebenarnya ingin masuk ke dalam tapi tangannya malah di cekal oleh pria yang kalau melihat wajahnya itu akan membuatnya ingat dengan Daniya.
"Masih marah soal kemarin? aku minta maaf lagian aku kan nggak ngapa-ngapain loh, malah diperpanjang begini," beber Ipul tidak mengerti kenapa wanita kalau sudah kesal akan terus berlanjut padahal prianya sudah berusaha untuk meminta maaf.
Ralen memutar bola mata mendengar penuturan dari suaminya.
"Pulang aja yuk, semalam nggak ada kamu aku nggak bisa tidur, aku ini juga lagi sakit masa kamu tega biarin aku sendiri nggak ada yang urusin," mulai memasang wajah memelas agar istrinya mau ikut pulang dengannya.
"Soal makan pasti Mama urusin tapi kalau soal yang lain kan nggak mungkin aku minta sama Mama, Jelita!" tekan Ipul menerangkan bahwa dia tidak mungkin meminta Mamanya untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh istrinya.
Ralen menghela napas masih dengan wajah yang cemberut menandakan dia itu kesal dengan suaminya, sangat kesal dan makin kesal saja rasanya entah kenapa akhir-akhir ini dia jadi begini biasanya kalau kesal ya hanya sekedarnya saja tidak sampai seperti ingin makan orang, kalau sedang berada di dalam kamar mungkin suaminya ini sudah dia terkam untuk melampiaskan kekesalannya tentang apa yang baru saja dia ketahui.
"Aku ambil tas dulu," kata Ralen yang akhirnya menurut dan mau pulang, karena memang dia hanya berniat menginap satu malam saja dan hari ini akan pulang berhubung suaminya datang tentu saja dia akan sedikit melakukan drama, bukankah wanita memang kadang memiliki sifat yang aneh?
Ipul mengangguk semangat akhirnya nanti malam dia kan tidur bersama istrinya lagi setelah semalaman tidak bisa tidur hanya berguling tak jelas saja
"Motornya suruh Arda anterin aja," kata Ipul saat Ralen malah akan menuju motornya.
"Terus aku naik apa?!" bertanya nyolot.
"Naik mobil aku lah, sembarangan kamu mau naik motor sendirian!" oceh Ipul lalu dengan rasa gemas diapun menarik tangan istrinya, tentunya mereka sudah berpamitan pada Ayah dan ibu.
Ralen membuang napas sangat kasar lalu dengan malas menuju pada mobil suaminya, masuk ke dalam mobil lalu membanting pintu mobil dengan sangat kencang.
"Rusak mobil aku!" omel Ipul.
"Takut mobil rusak tapi nggak takut kehilangan mobil!" sindir Ralen.
__ADS_1
"Iihhhh, sakit!" seru Ralen kala suaminya tiba-tiba menjawil kedua pipinya gemas.
"Gemes banget sama kamu, jawabin terus kalau orang ngomong," lontar Ipul dengan wajah yang memang benar-benar menunjukkan rasa gemas yang sangat kentara.
Mobil sudah mulai menjauh dari rumah kontrakan Ralen dan mengarah pada jalan raya di ujung gang.
"Daniya Kakak kandung aku." kata Ralen memecah keheningan di dalam mobil.
"Ya terus?" nada suara Ipul terdengar sangat datar dan santai tidak ada keterkejutan yang terlihat.
Ralen menatap wajah tenang pria di sampingnya, "kamu nggak kaget atau apa gitu?"
Ipul mengedikkan bahunya, "kenapa harus kaget?" malah balik bertanya.
Pertanyaan yang sontak membuat Ralen bertanya, "kamu sudah tahu sebelum aku?" mulai menebak.
Ipul menggeleng, "tidak," jawab tegas tanpa beban karena memang sebelumnya dia tidak tahu apapun.
"Kamu kenapa setenang ini Mas Sai?!" Ralen mulai tidak terima dengan sikap suaminya.
"Ya terus aku harus bagaimana Jelita sayang? aneh kamu ini masa aku harus kena serangan jantung dulu atau bilang wow gitu! ngaco," tuding Ipul bingung dengan sikap sang istri.
Ralen membuang wajah menatap jalanan di sampingnya, sungguh dia malah jadi kesal dengan sikap tenang suaminya itu.
"Sikap tenang menyebalkan!"
****
__ADS_1