
"Nggak kerja Kak?" tanya Arda saat tak sengaja melihat sang Kakak masih bergelut di atas tempat tidur memeluk guling.
"Kerja lah, nggak liat apa Kakak udah rapi begini," celetuk Ralen nyolot.
Memang Arda melihat Kakaknya itu sudah memakai seragam kerjanya juga rambutnya sudah diikat satu seperti biasa, tapi yang membuatnya sampai bertanya adalah apa yang Kakaknya itu lakukan saat ini ketika sudah siap untuk bekerja, berguling tak jelas seperti sedang bermalas-malasan untuk pergi bekerja, sangat berbeda dengan kemarin dan hari-hari yang sudah terlewati.
Kemarin-kemarin Kakaknya itu penuh dengan semangat bahkan bangun selalu pagi, meski hari pertama harus datang terlambat tapi kan hari-hari berikutnya sang Kakak datang tepat waktu bahkan mah lebih awal dari jam kerjanya.
"Liat Kak, cuma kan aneh aja," cetus ABG yang sudah memakai seragam sekolah itu.
"Aneh apaan? emangnya Kakak makhluk langka! udah ah males ama kamu, bawel!" sungut Ralen lalu beranjak bangun menyambar tas yang biasa dia bawa.
Wanita itu melewati sang Adik yang menyingkir kaku ketika mereka berpapasan di depan pintu.
"Lagi datang bulan kayaknya." tebak Arda dengan mata yang mengekori pergerakan Kakaknya.
"Bu Ralen berangkat." menghampiri sang ibu lalu mencium tangannya.
"Kamu belum sarapan," kata sang ibu.
"Lagi nggak nafsu Bu, Ralen bawa bekal aja," tolak Ralen lalu mengambil kotak makan miliknya yang sudah terisi.
Setiap hari dirinya memang membawa bekal untuk makan siang, sebab untuk makan di kantor kantor tentu harus menyiapkan uang dan dia tidak mau membuang-buang uang, selama masih bisa berhemat maka Ralen akan melakukan itu, toh makanan yang disiapkan oleh ibunya tidak kalah enak dengan yang ada di kantin.
Sepanjang jalan menuju tempat kerja Ralen di buat pusing memikirkan mulai hari ini dia akan selalu bertemu dengan Ipul.
"Ngapain mesti dia sih OB barunya."
Tidak terima dan nyatanya tetap saja menyangka jika Ipul adalah OB baru yang akan bekerja dengannya di lantai yang sama.
Ciiiitttt
Mendadak Ralen menghentikan laju motornya saat dia teringat sesuatu.
"Sekarang tanggal berapa?" bertanya pada diri sendiri, lalu saat tak menemukan jawaban diapun mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan memeriksa kalender yang tersedia di benda itu.
"Gue lupa!" menepuk keningnya saat melihat kalender dan tahu ini tanggal berapa.
Wanita itu baru sadar kalau ini sudah tepat satu bulan dari waktu yang dia janjikan untuk mengganti uang yang dia pakai dari dompet Ipul.
"Uangnya belum ada." tubuh Ralen terkulai di atas motor menyandarkan kepalanya di atas spedometer yang menunjukkan bensin sudah berkedip meminta segera diisi.
Ralen membuang napas dengan kasar, wanita itu sepertinya tidak memiliki semangat untuk bekerja setelah mengetahui teman kerjanya adalah pria yang selalu ingin dia hindari.
Tiiinnnn
Suara klakson mampu menyadarkan Ralen dan mengangkat wajahnya.
"Kira-kira dong Lo kalau bunyiin klakson! bisa Bolot gue!" makinya pada mobil yang melintas begitu saja setelah membunyikan klakson membuat Ralen mengangkat kakinya hendak menendang mobil itu namun tidak kena.
Habis mengomel Ralen pun kembali menjalankan motor maticnya bergegas menuju kantor dengan sedikit rasa cemas yang menggelayuti hatinya.
"Gue seniornya masa junior berani marahin gue," gerutu Ralen tentang rencananya yang akan mengintimidasi Ipul jika pria itu menagih hutang.
Ah, sepertinya Ralen lupa kalau kemarin pun dia di buat tidak bisa berkutik kala Ipul terus berceloteh membicarakan apa saja, diapun kemarin sampai kalah bicara menghadapi si cowok songong.
Baru saja menginjak lobby gedung bertingkat itu, tangan Ralen malah sudah di tarik oleh temannya, Ratu.
"Kita harus ke aula sekarang," kata Ratu kala Ralen tampak bingung.
"Aula? bersihin aula?" tanya Ralen dengan tampang melongo.
"Bu Dita belum kasih tahu elo?" Ratu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Ralen menggeleng lambat memberi jawaban, kemarin Bu Dita memang tidak mengatakan apapun hanya berpesan untuk segera membersihkan lantai 9 saja dan itu sudah dia lakukan kemarin.
"Cuma suruh cepat-cepat bersihin lantai 9 aja, gue sampai lembur tahu nggak Tu, untungnya ada OB baru yang datang bantuin kalau nggak bisa pulang pagi gue," kata Ralen melaporkan kegiatannya yang sampai larut malam.
"Ya udah bagus deh kalau gitu," kata Ratu lalu melanjutkan langkahnya menuju aula yang berada tak jauh dari tempat mereka berada.
"Terus nih kita mau ngapain ke aula?"
"Perkenalan anak bos," sahut Ratu.
"Anak bos?" tanya Ralen mengikuti langkah temannya.
"Iya, yang ruangannya ada di lantai 9, masa lupa," celetuk wanita berambut sebahu itu.
"Oh iya, hari ini kan ya?"
"He em." memberikan anggukan kepala.
Banyak juga karyawan dari divisi lain yang turut serta hadir guna mengenal calon pemimpin mereka nantinya, sebab yang mereka dengar pemilik perusahaan akan menyerahkan urusan kantor pada anaknya itu.
"Jadi anak Bos enak ya Tu, nggak perlu capek-capek kerja bisa langsung dapat perusahaan," celetuk Ralen iseng membicarakan sang anak bos yang belum juga terlihat.
"Ya gitu deh, tapi yang gue dengar-dengar sih dia sempat kerja juga di perusahaan punya orang waktu di Inggris dulu, kayaknya cari pengalaman sih," timpal Ratu menceritakan desas-desus yang sempat dia dengar tentang anak Bos pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Ralen mencebikkan bibirnya lalu matanya tak bisa diam melihat kesana-kemari.
"Ralen," panggil sang supervisor seraya menepuk bahunya.
"Iya Bu," jawab Ralen sambil sedikit mengangguk.
"Lantai 9 aman kan?" tanya Bu Dita memastikan kalau lantai 9 terutama ruangan yang akan di tempati oleh anak bos mereka sudah siap.
"Aman Bu." Ralen mengacungkan jempolnya dengan cengiran khas menyeruak dari bibirnya yang terlihat sedikit tebal dan berisi di bagian bawah.
"Bagus." tersenyum puas.
"Di bantuin sama OB baru katanya," adu Ratu yang berdiri di sebelah Ralen membuat Ralen menyenggol lengannya.
__ADS_1
"OB baru?" Bu Dita malah terlihat bingung.
Ralen mengangguk malu-malu sambil menggaruk tengkuknya.
"Yang benar kamu Len?" tanya Bu Dita lagi.
"Ya benar Bu, masa Ralen bohong." malah Ratu yang untuk kedua kalinya menjawab.
"Padahal keponakan saya baru sampai tadi subuh loh dari kampung," celetuk Bu Dita.
"Keponakan ibu?" Ralen dan Ratu membelalak menunjukkan keterkejutannya, tidak menyangka kalau OB baru itu adalah keponakan sang supervisor, yah meski di zaman sekarang hal seperti itu sangatlah lumrah, saling membantu antar saudara soal memberikan pekerjaan.
"Nah, tuh orangnya," Bu Dita menunjuk pada pemuda yang sedang menuju mereka.
Ralen mengerjap-ngerjapkan kedua matanya memperjelas wajah pemuda yang sedang mendekat.
"Lah kok?" malah heran kala pemuda itu bukan si cowok songong.
"Kamu semalam bantuin Ralen?" tanya Bu Dita.
Yah mungkin saja sebelum datang ke rumahnya keponakannya itu lebih dulu mendatangi kantor guna mengetahui tempatnya bekerja, pikir Bu Dita.
"Ralen? siapa Ralen?" pemuda bernama Safiq itu malah bingung dengan todongan pertanyaan yang diajukan oleh sang Tante.
"Safiq kan baru datang subuh tadi Tan, kesini aja baru ini terus Ralen itu siapa? Safiq belum kenal siapa-siapa loh?"
Di tengah kebingungan itu para karyawan terdengar riuh kala menyambut kedatangan sekelompok orang yang mereka tahu salah satunya adalah Irman Rustanto sang pemilik perusahaan beserta dengan para jajaran pemegang saham.
"Yang itu kan anaknya Pak Bos."
Ralen bisa mendengar selentingan suara hingga matanya ikut melihat pada arah seseorang yang di maksud.
Ralen sudah tidak mendengarkan omongan Bu Dita dengan keponakannya itu.
Mata Ralen serasa mau lepas dari tempat peraduannya dengan jantung serta keringat dingin yang merembes ke seluruh pori-pori tubuhnya apalagi kala sepasang mata di atas panggung aula sana bertatapan dengannya.
"Mampus gue!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*