
Di dalam mobil pikiran Ralen jadi tidak karuan fokusnya kini mengingat tentang wajah wanita yang tadi menabraknya, dia merasa pernah melihatnya tapi ingatannya seolah tidak ingin membantu dia mengingat dimana dia melihat wanita itu, sudah mencoba memutar otak tapi tetap saja dia ingatannya buntu.
Rupanya kedatangan Daniya ke hotel itu bukan tanpa tujuan, dia ingin bertemu dengan laki-laki yang sudah mengganggu pikirannya sungguh dia merendahkan harga dirinya sendiri untuk bisa mencapai apa yang dia inginkan.
Tentu penolakan yang Ipul terhadapnya membuat dia tidak ingin menyerah, dia bukan seorang wanita yang akan menyerah begitu saja ketika segala keinginan kerap dipenuhi oleh orang tua angkatnya, jadi jangan pernah berharap dia akan menyerah walau untuk kali ini saja.
Bahu Daniya tampak melemas ketika mendengar bahwa laki-laki yang dia ingin temui malah sudah keluar setengah jam yang lalu.
"Dia pasti ke perusahaannya," gumam wanita yang memakai dress membentuk body memperlihatkan bagaimana sempurnanya tubuh yang dia miliki, sejak dulu para laki-laki akan sangat mudah tergoda ketika dia bahkan hanya berjalan saja di depan mereka.
Tubuh wajah serta kekayaannya itu adalah aset luar biasa yang siapapun tidak akan pernah bisa untuk menolaknya, tapi kemarin dia justru mendapatkan penolakan dari laki-laki yang memiliki rasa yang sama dengannya.
Kecewa? jelas tapi dia tidak mau larut dan berdiam diri dengan rasa kecewanya itu, bukankah dia juga berhak mendapatkan apa yang dia inginkan? terlebih lagi selama ini apapun akan dia dapatkan dengan sangat mudah.
Wanita itupun mengambil handphone dari dalam tasnya ketika benda itu berbunyi sebagai tanda ada seseorang yang sekarang menghubungi dirinya.
"Kamu mau jalan-jalan juga?" tanya Ralen pada sopir yang kira-kira seusia dirinya.
Seorang sopir wanita yang disiapkan oleh suaminya, tadinya dia mengira kalau sopirnya itu seorang pria, yah pria berkisaran seusia Damar, tapi nyatanya malah seorang wanita yang tengah berdiri di depan mobil lalu dengan sigap membukakan pintu untuknya, yah suaminya itu tidak tahu kenapa sempat-sempatnya mencarikan sopir wanita untuknya.
Wanita yang berpakaian rapi bahkan lebih rapi darinya itu sejak dari parkiran tadi terus saja mengekori dirinya, mengikuti kemana saja dia bergerak persis seperti seorang penguntit.
Ralen melihat wanita yang menatapnya dengan sungkan, cukup sadar diri bahwa wanita itu adalah istri dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Namanya adalah Amara, dia bekerja di bagian lapangan untuk memantau semua proyek tapi hari ini dia di tugaskan untuk mengantar istri dari atasannya itu berjalan-jalan menjadi sopir sekaligus pengawal, begitulah tugas yang tadi dikatakan oleh Damar, asisten dari sang atasan.
Mendapat perintah begitu sebagai bawahan dia jelas tidak akan bisa menolak apalagi membantahnya, yah sebenernya bisa saja dia menolak asalkan dia memang siap untuk kehilangan pekerjaannya.
Amara menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan dari wanita yang sekarang harus dia kawal, untungnya dia ini mempunyai sabuk hitam jadi itu bisa diandalkan kalau-kalau ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Jangan sampai terjadi apa-apa dengan Nona Ralen" ultimatum dari Damar itulah yang akhirnya mengisi kepala wanita berusia 25 tahun itu, tidak boleh terjadi apapun terhadap istri dari atasannya kalau tidak bisa habislah dia.
"Terus kenapa ikutin?" Ralen menatap sang wanita yang mengatupkan bibirnya, tadi saat keluar dari parkiran dan Amara berjalan di belakangnya dia pikir mungkin wanita itu ada urusan tapi setelah sekian jauh berjalan nyatanya wanita itu tetap berada di belakangnya, mengikutinya kemanapun dia melangkah.
Ralen juga sempat berhenti untuk memastikan dan Amara juga malah ikut berhenti, hingga akhirnya benar lah dugaan Ralen kalau wanita itu memang tengah mengikutinya.
"Pak Damar meminta saya untuk mengikuti Nona, emm.. menjaga Nona maksudnya," jelas Amara dengan suara pelan namun terdengar sangat tegas sebagai seorang wanita, sungguh sudah sangat terlatih.
Ralen menghela napas, ini pasti perbuatan suaminya yang songong itu, harus berapa kali dia katakan kalau dia ini bukan anak kecil! eh sekarang malah menugaskan salah satu pekerjanya untuk mengawal.
__ADS_1
"Dasar buaya mesum, tidak percayaan banget!" sungut Ralen gemas dengan ulah suaminya.
Amara mengusap tengkuknya mendengar istri dari seorang pemimpin perusahaan malah bersungut mengatai suaminya sendiri.
"Kalau begitu jalan di sampingku," kata Ralen lalu dengan cepat menarik lengan wanita yang sekarang bertugas menjaganya.
"Kamu pasti sudah sangat mengenal kota ini kan?"
"Iya Nona," jawab Amara dengan sikap yang salah tingkah merasa tak enak ketika begitu dekat dengan istri dari sang atasan.
"Bagus kalau begitu tugas kamu selain menjadi sopir pengawal juga harus menjadi seorang guide untukku hari ini," lontar Ralen dengan wajah yang kembali bersemangat, terang karena dia jadi punya teman yang akan menemaninya berkeliling.
"Ah double job yang benar-benar double," gumam Amara tentang apa yang harus dia lakukan seharian ini.
Sampai sore hari Daniya masih berada di hotel, wanita itu tidak juga pergi, sepertinya dia memang sangat berniat untuk bisa bertemu kembali dengan Saipul Gunawan.
Mobil yang membawa Ipul sudah sampai di hotel dan pria itu gegas turun tidak sabar untuk memeluk istrinya.
Memeluk? dia sudah sangat rindu wanita bernama Ralen kah? merindukan wanita yang kerap kali bertengkar dengannya bahkan tadi pagi pun mereka sempat berdebat, karena nyatanya dia juga seorang suami yang tidak peka dan semaunya, apa yang dia pikirkan ya harus sesuai yang dia mau.
Tadi istrinya mengatakan kalau sudah kembali ke hotel.
Damar mengikuti di belakangnya tidak berani mendahului sang atasan yang tengah menderapkan langkah menuju wanita yang berdiri di depan meja resepsionis.
"Akhirnya kamu datang juga."
Wanita yang hanya tinggal beberapa langkah lagi darinya pun berbalik mungkin menyadari ada yang sedang mendekat padanya.
Dalam sekejap Ipul menghentikan laju langkahnya yang hanya tinggal selangkah lagi dan dia sudah berada di depan si wanita yang tengah memberikan senyum kepadanya.
"Daniya," gumam Ipul.
Ipul menoleh kiri kanan, sialan bisa-bisanya dia tertukar, semalam istrinya dia sangka Daniya lalu sekarang Daniya malah dia sangka istrinya, semua ini karena potongan rambut mereka yang sama.
"Kenapa Jelita harus memotong rambutnya!" dengus Ipul dengan sudut mata yang berkedut, sepertinya itu adalah sebuah firasat untuknya.
"Kita harus cepat sampai Amara, jangan sampai malah suamiku yang tiba lebih dulu di hotel, kamu tadi dengar sendiri kan apa yang aku bilang pada suamiku? bisa ngomel sepanjang masa dia kalau ternyata aku belum kembali," cerocos Ralen pada wanita yang sedang mengendalikan mobil.
"Nona bilang sudah kembali ke hotel," ucap Amara memberitahu apa yang tadi dia dengar saat Ralen berbicara dengan suaminya.
__ADS_1
Ralen mengangguk dengan mata yang membulat, "benar, atasanmu itu sangat menyeramkan jika sudah marah, maka kamu harus berhati-hati dengannya jangan sampai melakukan kesalahan," lontar Ralen, mungkin untuk mengingatkan Amara agar jangan sampai terlambat tiba di hotel kalau mau selamat dari kemarahan sang atasan.
Sepertinya perkataan Ralen sukses membuat Amara ketar-ketir hingga diapun makin mempercepat laju kendaraan roda empat yang tengah dia bawa, jangan sampai karena terlambat malah nyawanya yang menjadi taruhan.
Ralen membuang wajah ke samping saat menyadari wajah Amara menjadi tegang dan laju mobil yang menjadi lebih cepat dari yang tadi, rupanya provokasinya tadi berhasil.
Akhirnya perjalanan yang menurut Ralen panjang dan lama itu berakhir sudah setelah Amara menjalankan mobil bak seorang pembalap formula one, wanita yang hatinya tengah diliputi kecemasan pun gegas turun dan berjalan cepat memasuki hotel berbintang.
Ralen melewati pintu kaca dengan setengah berlari, apalagi kalau bukan untuk bisa segera tiba di kamar hotelnya.
Kening Ralen mengernyit ketika dia melihat asisten suaminya sedang berdiri di tengah lobi hotel.
"Pak Damar," panggil Ralen pada pria yang langsung menoleh padanya.
Mata Damar membulat sempurna menunjukkan kekagetan yang luar biasa.
"Mas Sai.."
Ralen hendak menanyakan suaminya tapi kemudian suaranya malah tertahan di tenggorokan ketika matanya bertabrakan dengan sepasang mata pria yang tadi baru akan dia tanyakan.
Pria yang berdiri tidak sendiri melainkan dengan seseorang yang tadi pagi bertabrakan dengannya, seseorang yang akhirnya dia ingat dimana dia pernah melihat wajah yang tak asing itu.
Napas Ralen mulai menjadi sesak membuatnya tak benar dalam memasukan oksigen ke dalam paru-paru.
Wanita itu, wanita yang tadi bertabrakan dengannya, wanita yang sekarang berdiri dan tengah menggandeng lengan suaminya adalah wanita yang hadir dalam mimpinya, wanita yang tadi malam di ceritakan oleh suaminya.
"Daniya."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*