Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Kita Punya Kakak?


__ADS_3

"Seharusnya bicara dulu, jelaskan dulu siapa Dani itu!" omel Ralen seperti tidak terima ketika suaminya sudah mulai mempermainkan seluruh tubuhnya.


Dress mini yang ketat itu bahkan sudah tidak ada di tubuhnya, teronggok tak berdaya di dekat jendela, suaminya itu tadi merobek dress mininya itu, dan itu artinya sudah ada dua pakaian miliknya yang tidak akan bisa di pakai lagi, pakaian mahal yang di beli dan harus sekali pakai saja selebihnya menjadi barang tidak berguna, sungguh membuang-buang uang.


"Diam lah Jelita, aku sedang bekerja keras sekarang, apa kamu tidak senang dengan kerja keras ku ini?!" Ipul mengangkat wajahnya dari bagian tubuh atas istrinya yang tangan serta kakinya masih sengaja dia ikat.


Dia benar-benar menghindari resiko akan perlawanan istrinya yang pasti akan kabur saat ikatannya dia buka.


Ralen menatap wajah pria yang sekarang menatapnya.


"Apa ada jaminan kalau aku menjelaskan di awal sebelum kita melakukannya kamu akan tetap memberikan jatah ku setelah kamu mengetahui siapa Dani?" tanya Ipul dengan mata yang memicing, dia sangat yakin kalau Jelitanya itu jelas akan menggeleng.


"Tidak! saat aku tahu siapa Dani dan aku sakit hati, aku tidak akan pernah membiarkan kamu menyentuhku!" sentak Ralen yang langsung membuat Ipul kembali melakukan penyerangan.


"Kalau begitu biarkan aku melakukannya sekarang dan akan aku jelaskan sesudahnya."


"Ah." Ralen mengeluarkan suara yang begitu sensasional di telinga siapapun yang mendengarnya kala sang suami melakukan hal yang sensual di bagian tubuh bawahnya.


"Bukan ikatan dasi ini, kamu curang sekali!" kata Ralen dengan mata yang terpejam, sesungguhnya dia sudah tidak akan melawan atau berontak lagi tapi kenapa pria itu masih tidak mau melepaskan ikatan yang membuat tangan dan kakinya sakit.


Ipul mengumbar senyum samar lalu tangannya bergerak untuk membuka dasi yang mengikat bagian kaki istrinya.


Ralen pun bernapas sangat lega ketika akhirnya kedua kakinya bisa bergerak dengan leluasa, bebas melakukan apa saja bahkan menjepit tangan suaminya yang sedang dengan jahilnya bermain.


"Sekarang katakan siapa Dani?" sudah seperti ini Ralen masih saja menanyakan perihal Dani, rasanya dia sudah sangat penasaran luar biasa.


"Lalu setelah aku mengatakannya kamu akan menendang ku begitu? oh tidak bisa Jelita, itu malah jauh lebih buruk karena saat ini kita sedang sangat tanggung sangat tidak mungkin kalau kita berakhir dengan pertengkaran padahal ada hasrat yang harus di tuntaskan," jelas Ipul kembali membuka kedua kaki istrinya yang tengah menahan pergerakan tangannya.


"Biarkan kita selesai dulu baru setelah itu aku akan menjelaskan semuanya padamu."


Ralen menatap kesal tapi selanjutnya malah disambung dengan suara-suara yang begitu menggetarkan jiwa ketika suaminya kembali bergerak namun kali ini dengan gerakan yang cepat.


Kamar hotel itu yang kemarin malam menjadi saksi betapa malangnya seorang Saipul Gunawan ketika harus menahan gejolak yang tiba-tiba muncul dan tidak bisa menyalurkannya kini pun menjadi saksi betapa pria itu menjadi begitu tidak terkendali kepada tubuh seorang wanita yang menjadi istrinya dan wanita yang kemarin menjadi bahan pikiran kotornya.


Sepertinya peperangan tidak akan berhenti dalam waktu cepat, sebab pasti akan ada peperangan kedua ketiga keempat bahkan mungkin peperangan tidak akan berhenti?


*****


Setelah kepulangan Angga rumah kontrakan yang dihuni oleh orang tua serta Adiknya Ralen menjadi begitu hening, kesunyian terlihat jelas sesaat setelah mereka mengetahui suatu kebenaran tentang satu anggota keluarga mereka yang seolah disembunyikan tentang kebenarannya.


"Jadi sebenarnya Arda punya dua Kakak?" tanya pemuda ABG begitu mengetahui apa yang terjadi sekarang.

__ADS_1


Tadi Arda turut mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria bernama Angga yang baru jari itu dia lihat, pembicaraan serius antara Angga dan kedua orang tuanya malah membuat dia yang penasaran ikut serta bergabung dan mendengarkan pembicaraan ketiganya.


Dia satu-satunya anak lelaki di rumah itu sudah sangat wajar kalau dia mengetahui apa yang terjadi karena dialah yang nantinya akan menjadi pelindung bagi kedua orang tuanya, juga mungkin Kakaknya?


Arda melihat kedua orang tuanya bergantian menunggu jawaban atas pertanyaan yang dua utarakan, dia memang sudah mendengarnya tadi tapi dia masih ingin meyakinkannya lagi.


Ibu dan Ayahnya mengangguk sebagai jawaban dengan wajah yang tidak tahu bagaimana menggambarkan apa isi hati kedua orang tuanya itu setelah mengetahui bahwa anak pertama mereka yang dia berikan pada orang lain saat masih bayi kini mereka ketahui keberadaannya.


Apa yang akan mereka lakukan sekarang? menemui anak pertama mereka itu dan memohon maaf atau terus berpura-pura bahwa anak mereka hanya dua orang saja, sungguh sebenarnya mereka merindukan anak pertama mereka tapi rasa malu menggerus pikiran mereka hingga rasanya tidak ada keberanian untuk menunjukkan wajah ke depan mata putri yang diberi nama Daniya Ranita.


"Apa Kak Ralen mengetahuinya atau Kakak juga sama seperti Arda, tidak mengetahui hal besar yang kalian sembunyikan?" usut Arda yang sekarang terlihat seperti pria dewasa di usianya yang baru menginjak 14 tahun satu bulan yang lalu.


"Tidak, saat itu jauh sebelum Kakak mu lahir," jawab sang Ibu yang sejak tadi begitu tidak menyangka bahwa setelah bertahun-tahun lamanya dia mendengar kembali kabar anak pertama mereka yang sejak kecil dia berikan pada wanita bernama Dayna, teman dari wanita tempatnya bekerja dulu.


Pada saat itu dia dan suaminya sangat terpaksa memberikan Daniya kepada Nyonya Dayna yang tidak mempunyai anak, terlebih lagi karena wanita itu sangat baik padanya mau menanggung semua biaya untuk kesembuhan Daniya yang saat bayi memang sering sekali sakit, dia dan suami yang tidak mempunyai biaya mau tidak mau memberikan putri pertamanya itu, hingga kemudian memutuskan untuk berhenti bekerja dan pindah agar tidak terus bersedih karena harus jadi dari anak yang baru dilahirkan itu.


"Jadi sampai sekarang Kak Ralen belum tahu?" Arda bertanya lagi tentang ketidaktahuan Kakaknya yang sekarang mungkin dibuat tidak berdaya oleh pria bernama Saipul Gunawan.


****


"Brengsek! jahat kamu!" Ralen memukuli suaminya menggunakan bantal dengan membabi-buta, berkali-kali menyerang tubuh sampai wajahnya ketika sang suami baru saja menyelesaikan penjelasannya tentang siapa Dani, lebih tepatnya Daniya Ranita.


Mereka baru saja menyelesaikan ronde kedua, tadinya Ipul masih saja mengulur waktu sebab dia masih ingin melakukan ronde demi ronde untuk memuaskan hasratnya yang sejak kemarin dia tahan karena dia tahu jika dia bercerita sebelum keinginannya terpuaskan nantinya Ralen tidak akan mau melayaninya kembali.


"Berhenti Jelita, aku kan sudah bicara jujur sama kamu tapi kamu malah ngamuk, aku bisa geger otak kalau begini," pinta Ipul menahan bantal yang sudah siap melayang kembali menghantam wajahnya.


"Kamu brengsek!" ulang Ralen lagi dengan tatapan yang nyalang.


Keduanya kini jadi tarik-menarik bantal yang satu mencoba menyerang tapi yang satu lagi mencoba untuk menyelamatkan diri agar tidak kembali dipukuli dengan benda empuk itu.


"Brengsek apa? seumur hidupku aku cuma brengsek sama kamu," lontar Ipul dengan suara yang meninggi.


"Kamu melarang ku berdekatan dengan laki-laki lain, tapi kamu sendiri malah bertemu dengan mantan pacar mu! apa itu bukan brengsek namanya?!" balas Ralen tak mau kalah, sekarang dia hanya memakai pakaian dalam saja setelah memberikan dua ronde untuk suami songong yang sekarang benar-benar membuat darahnya naik ke kepala.


"Aku tidak pernah berpacaran dengannya! jadi jangan katakan kalau dia mantan pacar ku," protes Ipul tidak terima seraya menarik bantal dari tangan Ralen hingga terlepas lalu melemparkan bantal itu ke sembarang arah, tidak tahu sekarang bantal itu berada dimana.


"Tapi kalian saling suka! orang yang saling suka bisa melakukan apapun yang mereka mau, jangan mengira kalau aku bodoh, bahkan denganku saja kamu bisa melakukan apa yang kamu mau tanpa perasaan suka," oceh Ralen beranjak turun dari tempat tidur, wanita itu mengingatkan kembali apa yang sudah Ipul lakukan terhadapnya.


Dulu, bahkan saat mereka belum lama mengenal dan bisa dipastikan belum ada rasa saling suka sedikitpun Ipul sudah menidurinya, jadi rasanya bukan hal yang mustahil kalau pria itu juga melakukan hal yang sama dengan wanita bernama Daniya itu apalagi mereka saling suka.


"Nyatanya perkataan mu memang benar, aku harus bermain dengan feeling ku dan feeling ku menunjukkan kebenaran tentang betapa brengseknya pria yang menjadi suamiku."

__ADS_1


Ipul mengacak rambutnya, singa betina yang tadi sudah berhasil dia kendalikan kembali mengamuk dan sepertinya kali ini akan sangat susah untuk menanganinya.


"Mau kemana Jelita?" tanyanya melihat Ralen sedang memakai baju yang wanita itu ambil dari dalam koper kecil yang di bawa.


Sepertinya istrinya itu memang sudah sangat niat untuk menemaninya di hotel ini, tapi karena kesalahan yang tak disengaja malah pertengkaran yang terus terdengar sejak tadi, meskipun tadi mereka sempat terbang bersama ketika mencapai puncak rasa yang sulit terlupakan.


Ralen tidak menjawab, dia terus saja memakai pakaiannya lalu merapikan rambut yang berantakan.


Melihat itu Ipul pun gegas turun dari tempat tidur lalu memakai boxer hitamnya tanpa mengenakan pakaian dalam lagi.


"Aku tidak akan membiarkan kamu kemanapun!" tegas Ipul sudah mencekal tangan sang istri dengan erat.


"Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku?"


Ipul termangu mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut istrinya itu, kenapa wanita yang masih menampakkan emosinya itu mendadak menanyakan tentang perasaannya?


"Kamu bilang wajahnya mirip denganku kan? jadi saat berhubungan denganku apa sebenarnya kamu sedang memikirkan dia?" tambah Ralen yang makin membuat pria di depannya mengerutkan kening serta rahang yang mengetat.


"Aku berhubungan denganmu ya wajahmu yang ada di mataku Jelita, semuanya yang ada pada kamu Ralensi Jelita, bukan wanita lain yang aku bayangkan!" jawab Ipul penuh penekanan.


Menurutnya pertanyaan dari istrinya itu sangat konyol, bagaimana mungkin dia membayangkan wanita lain sedangkan wanita yang dia nikahi itulah yang selalu hadir dalam setiap imajinasinya, imajinasi yang berbagai macam termasuk imajinasi kotor yang kerap kali muncul di dalam pikirannya saat dia menginginkan kehangatan.


"Jangan berpikiran tak jelas seperti itu, di dalam kepala dan hatiku hanya ada kamu!" tegas Ipul, apakah itu artinya dia sedang mengakui perasaannya?


"Lalu Daniya?perasaanmu dengannya?"


"Masa lalu, tidak ada apapun antara kami dan tidak akan pernah ada sampai kapanpun," tutur pria yang perlahan meraih wanita yang sudah berpakaian itu ke dalam dekapannya.


Saat sudah tidak lagi ada pertengkaran dan suasana kamar hotel itu sudah kembali kondusif kini malah terdengar bunyi handphone milik Ralen yang ada di dalam tas.


Membuat Ipul mengurai dekapannya, "siapa yang telepon malam-malam begini?" tanya Ipul pada wanita yang gegas menggeleng.


Sudah jelas handphone ada di dalam tas jadi tidak mungkin Ralen tahu siapa yang menelepon tanpa melihat handphone, memangnya dia seorang cenayang?


"Aku lihat dulu," kata Ralen lalu berjalan mengambil handphone.


"Arda," kata Ralen pada sang suami ketika melihat siapa yang menghubunginya saat ini.


Ipul mengangguk, kalau saja bukan Adik iparnya yang menelepon tentu dia akan langsung membanting handphone yang sudah mengganggunya, padahal tadi dia berencana untuk menarik istrinya itu kembali ke tempat tidur lalu..


Ipul mengusak kepalanya lalu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur menatap wanita yang kedua matanya membulat setelah menempelkan handphone ke telinganya.

__ADS_1


"Kita punya Kakak?"


******


__ADS_2