Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Saipul Gunawan!!


__ADS_3

"Saya ngantuk Pak," kata Ralen yang matanya sudah sangat sulit untuk terbuka.


Ini sudah hampir jam 11 malam dan mereka masih juga terjebak di dalam ruangan istirahat di lantai 9 yang kemungkinan sudah tidak ada lagi orang di dalam gedung bertingkat ini selain mereka, walaupun mungkin ada security yang berjaga tapi mereka hanya berjaga di lantai dasar serta depan saja, tidak pernah berkeliling sampai lantai demi lantai.


Dan mungkin sebagian lampu-lampunya juga sudah di padamkan, beruntung Ralen sebab dirinya ada di ruangan pria yang juga sangat berpengaruh di perusahaan itu dan terjebak bersamanya di ruangan terkunci itu, jika tidak mungkin sejak tadi dia sudah pingsan ketakutan karena terus mengingat kalau lantai 9 ini lantai yang sudah lama kosong.


Ternyata meski terjebak seperti ini Ralen pun tetap harus merasa beruntung karena ada yang menemaninya, tidak perlu munafik diapun mungkin akan mengakui keberuntungannya itu, meski sejak tadi kerap di salahkan karena sebagi tenaga kebersihan malah tidak memegang anak kunci ruangan ini.


"Itu kasur luas lo tinggal tidur apa susahnya, lagian Lo sadar juga tetap nggak bisa bantuin gue," sahut Ipul ketus.


Sepertinya amnesia kalau semua ini karena ulahnya, kalau saja sifat usilnya tidak merajalela mungkin hal konyol begini tidak perlu terjadi.


Ralen merengut dengan jawaban ketus yang seakan menusuk telinganya, pria itu bahkan bicara tanpa menoleh padanya, sibuk mencongkel pintu dengan pulpen yang padahal tidak berguna sama sekali.


Tanpa kata pun Ralen beranjak dari tempatnya menuju tempat tidur besar yang sejak tadi menganggur, ini saatnya dia memanfaatkan tempat itu untuk sedikit merilekskan tubuhnya yang sedari pegal karena terus duduk dengan posisi yang sama.


5 menit 10 menit 15 menit sudah terlewati dan ini sudah mendekati tengah malam tapi Ipul masih saja bergulat dengan pintu otomatis yang masih setia mengurung mereka.


"Sialan, apes banget gue!" umpatnya lalu melemparkan pulpen yang sungguh sangat tidak berguna.


Keringat di tengah dinginnya AC malah membuatnya terlihat tidak normal, kemejanya sudah basah sebagian karena berbagai perasaan bercampur aduk menjadi satu di dalam dirinya hingga mengganggu kadar oksigen yang dia butuhkan.


Pria itupun lantas beranjak dari tempatnya menuju satu-satunya jendela yang ada di ruangan itu membukanya sedikit guna memasukkan udara segar, masa bodo dengan AC yang masih menyala yang jelas dia butuh udara segar dan alami saat ini, dan benar saja begitu angin malam menerpa wajahnya diapun langsung terlihat begitu menikmatinya menghirupnya dalam-dalam memenuhi paru-paru.


Puas dengan angin malam kini diapun berpikiran untuk mandi, keringat di tubuhnya membuatnya lengket dan tentu dia tidak nyaman.


Ipul pun membuka satu persatu kancing kemejanya, menanggalkannya lalu melemparkannya begitu saja ke arah tepian tempat tidur tapi sayangnya kemeja itu malah merosot jatuh ke lantai sedangkan Ipul sudah berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Tentu siraman air akan mendinginkan tubuhnya yang terasa panas serta menjernihkan kepalanya yang pusing akibat ulahnya sendiri, sungguh kekonyolan yang dia buat malah merugikan dirinya sendiri.


Penjaga perusahaan langsung berlari menghampiri mobil yang baru saja masuk ke area gedung perkantoran dengan sebagian lantai yang sudah gelap.


Tadi saat akan tidur Damar malah mendapat telepon dari istri sang atasan yang bertanya panik kala anaknya belum juga pulang padahal hari sudah semakin malam.


Dalam sekejap dia yang sudah akan naik ke tempat tidur malah memakai kembali kemejanya dan pergi kala sang atasan memintanya untuk datang.


Acara tidurnya dengan sang istri harus gagal akibat anak dari atasannya yang sejak pagi memang sudah memusingkan dirinya.


Niatnya menenangkan diri setelah seharian menghadapi Ipul harus kandas begitu saja setelah mendapatkan perintah yang tidak bisa dia tolak meski dia mau sekalipun.


"Selamat malam Pak," sapa sang penjaga bertubuh besar itu seraya memberi hormat pada pria yang turun dari mobil.


Irman mengangguk akan membuka mulut namun istrinya sudah lebih dulu berbicara.


"Itu mobil Ipul kan Pa," kata sang istri menunjuk pada mobil milik sang anak yang masih terparkir di parkiran khusus.

__ADS_1


Irman dan Damar pun melihat pada seonggok mobil yang memang mereka kenali.


Lalu saling pandang dan kemudian beralih pada sang penjaga seolah bertanya tanpa perlu berbicara.


"Saya memang belum melihat tuan muda keluar Pak," lapornya memberi keterangan, karena memang saat jam pulang sampai sekarang pun dia belum melihat anak dari pemilik perusahaannya itu.


"Berarti Ipul masih di dalam dong Pa, aduh Mama malah tambah panik deh jadinya, mana di telepon nggak jawab-jawab," tutur Riska yang makin bertambah kalut memikirkan ada apa dengan sang anak hingga belum pulang bahkan tidak memberi kabar padanya.


Meski kerap kali mengesalkan tapi nyatanya Ipul adalah seorang anak yang penurut terlebih lagi pada sang Mama, pria itu akan selalu memberitahukan apa yang dia lakukan pada Mamanya itu, bukan manja hanya saja dia tidak ingin membuat wanita yang dia sayangi itu khawatir karenanya.


Mulut Riska tidak bisa diam, terang saja dia bertambah cemas berkali lipat saat mendapati mobil anaknya masih berada di kantor, itu artinya sang anak belum keluar tadi dia mengira mungkin saja anaknya itu pergi bertemu dengan temannya atau mengunjungi Davi dan juga Zara, tapi begitu dia menghubungi Davi tapi keponakanya itu mengatakan kalau Ipul tidak datang dan harapan terakhirnya adalah menunggu anaknya itu pulang sambil terus menghubunginya tapi sampai malam anaknya tak kunjung pulang bahkan teleponnya satupun tidak ada yang Ipul jawab.



Kulit wajahnya pun berubah sangat pucat ketika mereka sekarang masuk ke dalam gedung itu lalu menuju lift khusus yang masih bisa di akses padahal seharusnya lift itu di nonaktifkan saat jam 8 malam.



"Memangnya tadi dia tidak mengatakan apapun padamu Damar?" tanya Irman pada sang asisten yang seharusnya paling tahu tentang yang di lakukan anaknya itu di dalam kantor.



"Tuan muda mengatakan masih ingin mempelajari berkas yang Bapak berikan, tuan muda meminta saya pulang duluan," jelas Damar mengingat saat sore hari Ipul memintanya pulang duluan saja.




Lift berdenting menandakan mereka sudah sampai di lantai 9, lantai yang mereka tuju.



Ketiganya segera keluar dan keheningan pun lantas menyambut mereka, lantai 9 menjadi lebih menakutkan saat malam hari seperti ini apalagi ini sudah tengah malam.



Sepertinya yang Ralen katakan tentang hantu adalah kenyataan sebab Riska merasakan bulu kuduknya berdiri membuatnya merinding dan bergidik.



Damar berjalan di depan seperti tour guide yang membawa rombongan wisatawan.



Ketiganya berhenti di depan pintu ruangan yang hari ini menjadi hari pertama di tempati oleh Ipul, saling menatap sebab tidak ada suara apapun dari dalam sana.

__ADS_1



"Cepat buka Damar," perintah Riska yang tak sabar lagi.


Damar pun mengangguk lalu tangannya meraih pegangan pintu dan segera membukanya.


"Ipul kemana Pa?" tanya Riska kecemasan makin menguasai kala mendapati ruangan yang kosong.



Irman hanya menggeleng tak mengerti namun tetap melangkah menuju meja kerja sang anak dan mengambil handphone milik anaknya.



"Ini handphonenya ada disini," katanya pada Damar.



Damar pun menoleh lalu kini fokusnya beralih pada satu pintu yang tertutup rapat, pria itu mencoba membukanya namun terkunci.



"Kenapa?" tanya Irman menghampiri sang asisten yang terdiam.



"Tidak bisa di buka Pak, sepertinya sensor kuncinya rusak, sebentar saya ambil kunci cadangannya dulu," katanya lalu beranjak menuju lemari dengan laci-laci yang berjejer.



"Ini kuncinya Pak," ucap Damar begitu menemukan kunci yang di maksud.



Sepertinya setelah ini Ipul harus melampiaskan kekesalannya pada asisten Papanya itu karena telah teledor menyimpan kunci, bukan di laci kamar tapi malah di laci ruang kerjanya.



Riska harap-harap cemas hingga tangannya berkeringat menanti Damar yang sedang berusaha membuka pintu.



Saat pintu terbuka Riska menerobos masuk melewati dua pria yang hampir saja jatuh karenanya.


__ADS_1


"Saipul Gunawan!!!!"


*******


__ADS_2