
"Kuat juga pukulannya."
Angga tengah memeriksa wajahnya yang lebam akibat perbuatan suami dari wanita yang dia sukai kemarin.
Sungguh dia tidak menduga kalau akan mengalami hal seperti ini, dipukuli orang tanpa bertanya lebih dulu.
Tiba-tiba datang dan tiba-tiba memukul melayangkan tinju ke arah wajah dan bagian tubuh yang lainnya, membuat dia yang tak siap lantas tersungkur dengan darah yang sedikit keluar dari bibirnya yang pecah.
Marah? jelaslah dia marah dia tidak merasa berbuat masalah tapi malah dipukuli tanpa bertanya dulu, terlihat sangat mengesalkan hingga akhirnya diapun mulai membalas memberikan pukulan demi pukulan kearah wajah sang pria yang mendadak melabraknya seperti seorang singa buas yang tengah kelaparan dan mencari mangsa.
Angga menggerak-gerakkan rahangnya masih merasakan tulang rahangnya yang sakit seraya bercermin dengan obat merah yang dia oleskan pada luka yang terbuka di sudut bibir.
Bahkan teman yang bersamanya pun harus turun tangan untuk memisahkan, karena jujur suami dari Ralen tenaganya cukup besar ditambah lagi dengan emosi yang menyelimuti, sulit baginya untuk mengimbangi orang yang tengah dilanda emosi.
Pria itu lantas menarik napas berat lalu menyimpan kembali obat merah pada tempatnya berkumpul dengan obat-obatan lainnya.
Suara dering handphone membuat dia yang tadinya akan mengambil pakaian di dalam lemari pun terhenti, merubah tujuannya ke arah tempat tidur dimana benda yang tengah berbunyi itu teronggok sejak semalam.
"Tante Dayna?" mengerutkan alis penuh tanya.
Pasti ada yang sedang terjadi karena tidak mungkin wanita itu menghubunginya sepagi ini jika tidak ada sesuatu yang penting.
Tangannya pun menggeser logo berwarna hijau untuk menjawab telepon yang sepertinya sudah tidak sabar lagi menunggu.
"Ya hallo Tan." suara berat dan gagahnya pun dia keluarkan.
"Angga." Tante Dayna bersuara pelan, terdengar sekali wanita itu sedang tidak sehat.
Bagaimana mau sehat kalau seorang wanita tua harus menghadapi tingkah laku anak angkat yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri, namun akhir-akhir ini malah sering kali bertingkah yang tidak sesuai membuat orang disekitarnya tentu saja pusing menghadapi segala permintaan tak masuk akal yang ada di kepalanya.
"Iya Tante, ini Angga." sahut Angga seraya membuka lemari, dia sudah mandi dan dia harus bersiap untuk ke kampus.
"Tante kenapa?" tanyanya lagi saat hanya mendengar hembusan napas saja.
"Bisakah kamu kembali pada Dani?"
Pertanyaan wanita di seberang sana membuat gerakan Angga terhenti, apa ini? kenapa tiba-tiba mempertanyakan hal itu? bukankah sejak Daniya membatalkan pernikahan mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, dan Tante Dayna pun tahu dengan jelas betapa dia kecewa dan tidak akan bersedia mengulang kembali kisah yang sudah membuatnya bahagia namun akhirnya membuat luka.
"Tante?" Angga sangat tidak percaya dengan pendengarannya.
"Sebenarnya Tante tidak ingin peduli, ingin membiarkan Dani mau melakukan apa, Tante ingin menutup mata, tapi rasa sayang Tante terhadapnya tidak akan pernah berubah, sekalipun Tante mengatakan tidak ingin lagi mengurus Dani, tapi jauh di lubuk hati Tante, Tante tidak ingin seperti itu." wanita yang sedang berada di rumahnya itu berkata.
__ADS_1
Menceritakan tentang apa yang dia rasakan, sungguh dia sangat menyayangi Daniya, bahkan rasa sayangnya mungkin jauh lebih besar dari apapun, hanya saja dia menjadi kecewa karena merasa tidak dianggap lagi oleh Daniya.
"Sebelumnya Angga mohon maaf sama Tante, sungguh Angga sangat menghormati dan juga menyayangi Tante, bahkan Angga sudah menganggap Tante sama seperti Mama Angga sendiri, hanya saja untuk permintaan yang satu ini sungguh Angga tidak bisa melakukannya," terdiam sesaat untuk mengatur napas.
Dia tidak pernah menyangka bahwa paginya yang seharusnya diisi dengan hal yang membangkitkan semangat malah harus mendengarkan permintaan yang tidak akan mungkin bisa dia terima.
"Angga sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Daniya, bahkan Daniya pun juga sama seperti Angga, tidak ada rasa yang tersisa antara kami berdua, setitik pun benar-benar tak lagi ada," beber pria yang merasa tak enak akan tetapi dia tidak punya pilihan lain, ketimbang harus memaksakan diri dengan hatinya yang sudah tidak ada lagi Daniya, lebih baik dia berbicara jujur, kalau setelah ini Tante Dayna marah biarlah yang jelas dia tidak akan pernah mau kembali pada Daniya, cukuplah satu kali saja dan jangan sampai dia mengulang kembali, karena bukan tidak mungkin kalau dia akan kembali sakit hati nantinya apabila kembali bersama Daniya.
"Lagipula Daniya juga sudah menyukai orang lain, dan Tante tentu tahu itu," jelas Angga seraya menghempaskan tubuhnya ke tepian tempat tidur.
Wanita yang sejak tadi mendengarkan dengan perasaan yang cemas itupun menarik napas panjang dan terdengar begitu menyesakkan.
"Tante hanya tidak mau Dani mengganggu rumah tangga adiknya," kata Tante Dayna lemah sarat akan keputusasaan.
Tidak tahu kenapa dia masih saja memikirkan anak angkatnya itu, memikirkan agar jangan sampai Daniya bertingkah makin berlebihan, sungguh dia tidak mau Daniya menjadi buruk di pandangan masyarakat, label pelakor mungkin akan tersemat pada diri anaknya itu dan dia tidak mau itu sampai terjadi.
Dayna sepertinya malah tidak tahu bahwa anak yang tengah dia khawatirkan malah tidak peduli pada pemikiran orang, tidak peduli mau di cap pelakor atau julukan-julukan mengerikan lainnya karena yang ada di pikiran Daniya saat ini adalah bagaimana caranya dia mendapatkan Awan.
Angga menarik napas lalu membuangnya dengan cepat, "buat apa Tante masih terus memikirkan Daniya sedangkan Daniya saja tidak memikirkan dirinya sendiri, tidak perlu repot menyusahkan diri Tante, karena Angga yakin saat melakukan apa yang dia mau tentu Daniya pun sudah memikirkan konsekuensinya jadi Angga mohon berhenti memikirkan Daniya, berhenti khawatir karena hanya akan mengganggu kesehatan Tante sendiri nantinya," bujuk Angga.
Tante Dayna ini teman dari Mamanya, sudah jelas dia menyayangi dan akan mencemaskan wanita yang sekarang sudah tidak memiliki suami sedangkan Daniya malah tidak memikirkannya.
Oh tuhan dia ini sudah benar-benar membuang Daniya dari hatinya dan sekarang ini tengah berusaha untuk menyingkirkan nama Ralen yang sudah bersuami akan tetapi nama Ralen seolah makin kokoh saja di dalam hati dan pikirannya.
Dia tidak mau mengganggu wanita bersuami, kalau pun ingin dekat dia akan memastikan kalau Ralen sudah tidak bersama laki-laki manapun.
****
Langkah kaki dengan sepatu berwarna hitam terdengar berderap keras dan berat, melangkah menyusuri koridor rumah sakit yang menjadi tujuannya.
Langsung membuka pintu tanpa ada niat untuk mengetuknya lebih dulu, masa bodo dengan kesopanan yang harus dia abaikan, dia sedang marah dan ingin segera melampiaskan kemarahannya pada orang yang ada di dalam ruangan yang kini pintunya sudah terbuka.
"Awan."
Seruan kaget bercampur senang pun langsung terdengar di telinga pria yang bahkan enggan untuk mengucapkan salam, benar-benar kehilangan sopan santun.
__ADS_1
Ipul segera menutup pintu dan menghampiri wanita yang berdiri di samping Daniya, lalu mengulurkan tangan untuk mencium tangannya, biar bagaimanapun wanita itu adalah ibu mertuanya.
"Kamu datang sendiri?" tanya Arni pada sang menantu yang mengecup punggung tangannya.
Daniya melirik tak senang dengan pertanyaan dari ibunya.
Ralen tidak ada kenapa harus ditanyakan? dia tidak peduli adiknya itu ikut atau tidak karena yang terpenting adalah pria yang dia nantikan akhirnya muncul juga, tentu untuk menemuinya, kan?
Ipul mengangguk, "Jelita sedang tidak enak badan, mungkin efek kehamilan." dengan sengaja mengatakan itu agar wanita yang sedang tersenyum melihatnya sadar diri.
Arni melirik Daniya yang mengubah ekspresi wajahnya, dari senyum menjadi dingin disertai dengan mata yang menyiratkan ketidaksukaan.
Suasana yang tadinya sedikit jadi lebih baik karena kedatangan Ipul menjadi kembali tegang membuat siapapun mungkin tidak akan nyaman berada di dalamnya dengan segala aura panas yang tercipta.
Kedatangan Ipul tentu mempunyai maksud tersendiri, bukan untuk menjenguk Daniya apalagi merelakan diri untuk bersamanya.
Tidak akan pernah dia mau bersama Daniya apapun yang terjadi.
Biar bagaimanapun dia ini seorang laki-laki yang sudah menikah dan akan menjadi seorang Ayah, dia mempunyai tanggung jawab besar untuk membahagiakan keluarganya, tidak akan tinggal diam saat ada yang mencoba untuk menggangu sekalipun itu adalah ibu mertuanya sendiri.
Dia harus bicara pada dua wanita yang tengah menatapnya dengan tatapan mereka masing-masing beserta dengan apa yang mereka pikirkan, dia tahu dua wanita ini mungkin sedang menebak-nebak maksud dari kedatangannya.
Harus memberi peringatan agar keduanya paham dan mengerti untuk tidak lagi mengganggu istrinya.
Persetan walaupun dia mungkin harus berkata keras pada ibu mertuanya.
****
__ADS_1