Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Kebencian


__ADS_3

"Bagaimana? apa dia sudah membalas pesan mu?" tanya Agatha.


Kedua wanita itu sedang duduk berdua di balkon apartemen yang menjadi tempat tinggal Daniya selama bertahun-tahun di negara itu, dengan sinaran bulan dan bintang yang berkerlip indah di langit malam keduanya berbincang membicarakan rencana mereka saat di Indonesia nanti.


Empat hari, rencananya empat hari lagi mereka akan terbang ke negara tempat Daniya dilahirkan oleh orang tua kaya raya yang ternyata bukanlah orang tua kandungnya, saat mengetahui itu ada setitik rasa kecewa yang teramat dalam tapi kemudian dia mencoba mengusir dan mengenyahkan rasa kecewa yang bersemayam dalam hatinya tentang kebenaran siapa dia yang sesungguhnya di keluarga kaya dan terpandang di salah satu kota besar di Indonesia.


Kecewa jelas akan dia rasakan tapi dia tidak mungkin menyalahkan orang tua yang selama ini sudah mengangkatnya sebagai anak, sepatutnya dia harus banyak-banyak berterimakasih atas segala apapun yang mereka butuhkan sampai akhirnya Ayah angkatnya itu meninggal setengah tahun yang lalu dan hanya menyisakan ibu angkat yang dia panggil Mama seorang diri dan kerap kali memintanya untuk kembali.


Sesungguhnya dia ingin kembali dan membaktikan diri pada wanita yang sudah berusia senja itu, ingin sekali merawat dan menjaganya di sisa hidupnya ini, tapi Daniya merasa belum siap jika harus bertemu kembali dengan Angga, pria yang dia tinggalkan karena merasa jenuh akan hubungan yang terlalu monoton, tidak ada tantangan sebab pria itu selalu menuruti apa yang dia mau, tidak pernah marah saat dia dengan sengaja melakukan kesalahan padahal Daniya ingin sesekali pria itu marah padanya, mungkin dia wanita yang aneh di saat wanita-wanita lain ingin memiliki pasangan yang mau mengerti dan tidak akan marah, tapi dia malah menginginkan yang sebaliknya hingga akhirnya benar-benar merasa tidak ada tantangan dalam menjalin hubungan dengan Angga, padahal mereka sudah merencanakan pernikahan tapi akhirnya dirinya memilih pergi saat pria itu begitu semangat untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.


Daniya menggelengkan kepala, "dia tidak membalasnya sama sekali," sahut wanita yang rambut panjangnya sudah berubah menjadi pendek sebahu, saat berada di salon dia benar-benar memangkas rambut pendeknya bertekad untuk tampil lebih fresh di depan pria yang dia sukai.


"Huuuh, bagaimana pria itu apa dia tidak punya jari untuk membalas pesan darimu!" sungut wanita berambut pirang dengan hidung mancung yang melebihi dosis, sepertinya sebagian hidung Daniya di rampas oleh wanita berkulit putih dengan bintik-bintik yang begitu khas di kulit tubuh serta wajahnya.


Daniya mengedikkan bahunya lalu menghela napas panjang yang terasa begitu berat, seperti dia baru saja atau bahkan mungkin akan menghadapi hidup yang luar biasa berat.


Agatha yang tadi berdiri di pagar penghalang balkon pun beralih menuju kursi yang terbuat dari kayu lalu menghempaskan bokongnya di tempat itu, "kamu juga sudah menghubunginya kan? lalu dia bicara apa? dia pasti bicara kan, tidak mungkin dia diam saja kecuali jika lidahnya sudah terputus hingga membuatnya jadi bisu," berondong Agatha mengajukan pertanyaan demi pertanyaan yang akhirnya hanya di jawab singkat oleh temannya.


"Seperti katamu tadi," jawab Daniya memutar tubuhnya menghadap Agatha sambil bersandar pada pagar pembatas.


Agatha menautkan kedua alisnya, "apa? kataku yang mana?" tanya Agatha bingung sendiri karena dia yang bicara banyak tapi malah lupa apa yang dia bicarakan.


"Dia tidak berbicara apapun bahkan sampai aku menutup telepon dia tetap tidak berbicara," Daniya berhenti sejenak lalu mengangkat wajahnya menatap langit di atas sana, "mungkin dia terkena serangan jantung."


"Dasar gila!" oceh Agatha melempar bungkus rokok miliknya yang masih menyisakan beberapa batang rokok ke arah tubuh temannya yang terkekeh karena temannya kesal.


"Pria itu yang gila, pergi tidak bilang lalu saat aku hubungi bukannya bicara tapi malah diam saja!" sungut Daniya, tampaknya dia juga kesal dengan pria yang beberapa malam lalu dia hubungi.


Awalnya Daniya kira kalau mungkin saja pria itu sangat syok tidak percaya kalau dia tiba-tiba menghubungi sampai pria itu tidak bisa berkata-kata, dan Daniya sangka setelah sadar dari rasa terkejutnya pasti pria itu akan menghubunginya balik tapi nyatanya sampai saat ini pria itu tidak menghubungi bahkan pesan yang dia kirimkan pun tidak kunjung di balas.


"Pria itu memang gila tapi kenyataannya kamu lebih gila karena masih saja menyukai pria gila semacam itu," desis Agatha tersenyum mengejek.


"Haahhh," Daniya menghembuskan napas, "yah lebih tepatnya aku menjadi gila karena Awan," aku Daniya dengan senyum samar mengakui kegilaannya yang malah menyukai pria yang dia panggil Awan cerah, karena pria itu memang membuat hari-harinya menjadi cerah dan banyak senyum ketika bersamanya.

__ADS_1


Agatha menganggukkan kepala menyetujui pengakuan dari sang teman.


"Lalu bagaimana dengan keluarga kandungmu? apa kamu akan mencari mereka?" tanya Agatha mengubah arah pembicaraan.


Bukan tidak mungkin kalau dia akan mengetahui apa yang terjadi terhadap temannya, semua yang Daniya alami sudah dia dengar langsung dari mulut sang teman kenyataan bahwa temannya itu hanya anak angkat pun menjadi cerita yang paling menyedihkan untuk dia dengar.


Daniya selalu menunjukkan emosi yang dalam ketika mendapat pertanyaan dan harus mengingat dia yang di buang oleh orang tuanya dan segunung dendam akan dengan jelas dia tunjukkan melalui untaian kata.



"Aku membenci mereka, aku tidak akan mencari mereka dan saat aku bertemu pun aku tidak akan mengakui mereka apalagi memberi mereka maaf, aku anak mereka tapi aku malah di buang oleh mereka, orang tua macam apa yang dengan tega memberikan anaknya kepada orang lain!" Daniya berkata dengan wajah yang penuh kebencian dan dendam yang berkobar, kecewa sakit hati dan marah semuanya berkumpul menjadi satu di dalam jiwa dan raganya.


Tangannya terkepal dengan sangat erat hingga punggung tangannya memutih dengan jelas disertai undakan tulang jari-jemarinya yang terpampang begitu nyata.


"Oke, sebaiknya kita sudahi saja pembicaraan malam ini, kita harus beristirahat dengan baik karena besok kita sudah harus berangkat ke bandara," ujar Agatha tidak ingin melihat Daniya tidak bisa mengendalikan emosinya ketika harus mengingat orang tua kandungnya.



Raut wajah Daniya menjadi dingin setelah diterpa rasa marah yang teramat.




"Aku sudah mengetahui dia berada dimana sekarang," tutur Daniya dengan senyum yang sudah kembali menghias wajahnya.



Agatha mengerutkan alis tak percaya, "tahu darimana?" tanya Agatha.



"Dia baru saja mengirim gambar di akun media sosialnya dan aku melihat nama tempat yang dia datangi itu," Daniya menunjukkan sebuah photo dengan nama tempat yang sangat tidak asing baginya.

__ADS_1


"Ini?"


"Restoran milik mendiang Papaku," jelas Daniya kepada sang teman yang langsung menganggukkan kepala.



Hanya gambar secangkir kopi di atas meja tapi Daniya sudah langsung bisa mengenali tempat yang sedang didatangi oleh pria yang dia cari itu, di atas meja ada kartu kecil yang menunjukkan menjadi petunjuk untuk Daniya, membuat dia merasa sangat senang karena nyatanya pria itu malah berada di restoran sekaligus hotel milik orang tua angkatnya.



"Jadi kita langsung ke Batam?" tanya Agatha.



"No! bukan kita," ralat Daniya.



"Kalau bukan kita lalu siapa?" Agatha malah bingung sepertinya dia lupa dengan rencananya sendiri.



"Hanya aku Agatha, bukankah kamu akan bertemu dengan pria mu yang baru," Daniya mengingatkan temannya yang mulai menjadi pikun.



"Oh ya ampun aku bahkan melupakan untuk apa aku datang ke Indonesia." Agatha memukul keningnya sendiri.



Daniya mengomel lalu melenggang pergi masuk ke dalam toilet membiarkan Agatha sendirian mengoceh tentang kebodohannya yang melupakan pria yang ingin dia temui.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2