
Pagi ini Ralen dan keluarganya sedang bersiap menunggu jemputan yang akan membawa mereka ke rumah sakit untuk melaksanakan ijab kabul di sana.
Sungguh dia menjadi pengantin yang akan menikah di rumah sakit tanpa adanya pesta meriah yang mengiringi, tidak ada bunga-bunga yang menghiasi panggung pelaminan seperti pengantin kebanyakan dan Ralen bisa menerima semua itu dengan besar hati, dia juga sudah meyakinkan orang tuanya yang langsung mengerti saat Ralen mengatakan kalau pernikahan ini terpaksa dilakukan seperti ini karena calon mertuanya yang masih sakit.
Mobil yang mereka tunggu pun akhirnya tiba dan mereka berempat langsung masuk ke dalamnya hingga mobil pun segera kembali berangkat membawa mereka sekeluarga.
"Tika nggak ikut Len?" tanya sang ibu ketika tidak melihat teman dekat anaknya itu tidak ada.
"Semalam dia bilang mau ikut tapi ternyata dia nggak bisa ambil libur," jawab Ralen dengan tangan yang berkeringat.
Mereka masih di jalan belum sampai di tempat tujuan tapi kenapa dia sudah merasa gugup serta cemas begini?
"Ya sudah tidak apa-apa toh ini juga mendadak," tutur sang ibu seraya merapikan untaian rambut Ralen yang sedikit keluar karena tak sengaja terbentur saat akan masuk ke dalam mobil.
Meski hanya memakai kebaya biasa serta kain yang sempat Zara belikan untuknya namun Ralen terlihat sangat anggun terlebih dengan riasan sederhana di wajahnya, dia berdandan sendiri padahal Zara sudah sempat menawarkan agar Ralen di rias oleh perias langganannya saja tapi Ralen menolak, karena merasa tidak enak, menurutkan istri dari sepupu calon suaminya itu sudah sangat membantunya dengan memilihkannya setelan pengantin yang sesuai dengan seleranya.
Mobil akan terus melaju mengantarkan satu keluarga yang hanya beranggotakan empat orang saja, dan baru akan berhenti begitu mereka tiba di gedung rumah sakit.
Semakin dekat dengan tujuan Ralen bukan semakin tenang melainkan semakin cemas dan gugup luar biasa sampai akhirnya mobil benar-benar sudah memasuki halaman rumah sakit yang tampak sedikit lengang.
Dua orang pria tampak sudah menunggu kedatangan mereka, yang satu adalah Damar tentu Ralen sudah sangat mengenalnya, sedangkan pria satunya Ralen tidak tahu siapa sebab baru hari ini dia melihatnya.
Damar membantu Ayah Ralen untuk duduk di kursi roda yang sudah pria itu siapkan lalu mengajak mereka semua untuk mengikutinya sambil dia mendorong kursi roda.
Sekarang Ralen sudah duduk berdampingan dengan seorang pria yang selama ini tidak pernah terbayangkan dalam benaknya, dengan seorang pria yang terbaring di atas tempat tidur yang ditubuhnya terdapat alat-alat medis yang seperti menjadi gantungan hidupnya untuk mempertahankan detak jantung meski sejak tadi dokter sudah mengatakan kalau detak jantung itu terus melemah.
Dokter dan seorang suster pun tetap berada di tempat itu untuk mengontrol pasiennya di tengah penghulu yang akan memulai prosesi ijab kabul untuk menyatukan dua anak manusia ke dalam ikatan yang sah di mata hukum dan agama.
Wajah Ralen memerah manakala melihat tangan pria di sampingnya mulai menjabat tangan sang Ayah yang sedikit bergetar karena ini pertama kalinya dia menikahkan seorang anak dan menjadi walinya.
"Bismillahirrahmanirrahim."
__ADS_1
Jiwa Ralen serasa di bawa terbang oleh sesuatu membuatnya tak lagi mampu mendengar kalimat demi kalimat yang tengah dituturkan.
Kalimat-kalimat sakral yang di dengar dan saksikan berpasang-pasang mata yang kesemuanya tertuju pada dirinya dan pria di sampingnya yang sama-sama mengenakan pakaian berwarna putih.
Degub jantung Ralen tak kuasa dia kendalikan mana kala akhirnya dia mendengar seruan SAH yang datang dari bibir semua orang di ruangan itu membuat jiwanya kembali pada tempatnya dan menyadarkannya kalau sekarang dia adalah seorang istri dari pria bernama Saipul Gunawan, pria yang datang dengan segala sikap menyebalkan nya.
Semua mengucap syukur serta lantunan doa-doa untuk kedua pengantin dengan suasana yang khusyuk dan serta haru yang bercampur bahagia sampai ketika semuanya berubah menjadi kepanikan kala suara dokter menggema di dalam ruangan dengan ketegangan yang mengiringi intonasi suaranya.
"Detak jantung berhenti!" seru pria dengan jubah putih yang langsung meminta semua orang untuk keluar sebab dia akan melakukan tindakan medis berusaha untuk mengembalikan detak jantung yang tidak lagi muncul di layar monitor.
Garis-garis yang tadinya bergelombang menjadi lurus memanjang seiring dengan bunyinya yang begitu nyaring.
Dokter spesialis jantung pun segera bekerja dengan alat pacu jantung untuk mengembalikan detak jantung yang tak lagi ada.
Dokter menggeleng pada perawat memberi kode bahwa pasien meninggal dunia.
Sedangkan di balik pintu Riska menangis tak kuasa menahan kesedihan ketika sang dokter memberi kabar menyakitkan di hari pernikahan anaknya.
__ADS_1
Semua wajah pun menampakkan kesedihan terutama ibu dan anak yang sekarang saling berpelukan mencoba saling menguatkan namun nyatanya itu tidak berguna.
Ipul dan Mamanya masuk ke dalam ruangan untuk melihat tubuh pria yang mereka sayangi yang kini sudah ditutupi oleh kain putih, menyibak kain di bagian wajah untuk melihat wajah pria yang selama ini sangat menyayangi dirinya dan juga sang Mama.
Sungguh di saat ini dia menjadi pria yang sangat lemah dan rapuh dia tidak kuasa membendung air mata yang menjadi dominan menyedihkan di hari yang harusnya bahagia karena dia baru saja menikah.
"Ipul sudah nikah Pa, tapi kenapa Papa malah pergi," tutur Ipul dengan suara bergetar, semakin tidak tahan menahan tangisnya ketika mendengar sang Mama menangis meratapi kepergian sang kepala keluarga.
"Bangun Mas! aku sama siapa kalau kamu pergi?!" sebagai seorang istri Riska menjadi wanita paling terpukul karena kehilangan pria yang dia cintai, dia sungguh tidak pernah membayangkan hal seperti ini datang begitu cepat.
Dia mengira masih akan hidup lebih lama bersama suaminya, menikmati hari tua sambil menggendong cucu-cucu mereka nantinya, tapi takdir tuhan berkata lain impian serta angan dan harapannya kandas di hari pernikahan sang anak.
Tangis Yang beralaskan kebahagiaan kini berganti menjadi menjadi tangis beralaskan duka nestapa karena kembalinya satu jiwa kepada sang pemilik semesta.
Arman serta keluarganya pun menyusul masuk, mencoba memberikan kekuatan pada dua orang yang tengah terpuruk akibat kehilangan.
__ADS_1
Sedangkan di luar sana ada Ralen yang juga ikut merasakan kesedihan, meski tidak mengenal dekat sosok Papa mertuanya tapi saat pertama kali bertemu dulu dia sudah tahu bahwa almarhum Papa mertuanya itu adalah orang yang baik, sosok yang sayang pada keluarga Ralen bisa melihat itu dari raut wajah kesedihan yang tergambar dari semua orang di dalam ruangan sana.
******