Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Kamu Jahat!!


__ADS_3

Satu bulan kemudian..


Pagi ini seharusnya Ralen bisa bangun dengan wajah yang bersinar setelah akhirnya dia mulai mau berbicara dengan suaminya lagi.


Pria yang memberikan kesakitan tapi pria itu jugalah yang dengan susah payah berusaha untuk menyembuhkan sakitnya, dan Ralen merasa sudah cukup baginya menghukum sang suami.


Dia yang terlalu baik atau memang dia yang sudah kadung cinta mati dengan sang suami?


Tak mau lagi mengingat perkataan pria itu yang kadang terlontar tanpa di pikir lebih dulu akan memberi efek seperti apa terhadap dirinya juga orang lain yang berhadapan dengan suaminya, mungkin?


Ralen menepuk sisi tempat tidur dimana suaminya seharusnya berada, seingatnya suaminya tidur bersamanya dan ini masih cukup pagi ketika dia merasakan tempat di sebelahnya sudah kosong.


Ralen terkesiap lalu membuka mata, "kemana?" bertanya sendiri seraya memasang telinga mendengarkan barang kali suaminya sedang mandi, tapi ternyata tidak ada suara apapun, suara air mengalir satu tetesan pun tidak terdengar olehnya.


Ralen merapikan rambut lalu membenarkan pakaian tidurnya, tanpa mencuci muka dia keluar kamar untuk mencari pria yang tadi malam terus memeluknya dengan erat, mendekap dengan hembusan napas yang terasa hangat dan membuatnya merasa damai dan tenang saat tubuh mereka berdekatan.


Sungguh Ralen berharap tidak akan ada lagi masalah dalam rumah tangga mereka, dia juga terus menghindari bertemu dengan ibunya bukan karena dia melupakan bahwa dia seorang anak yang terlahir dari rahim sang ibu tapi dia hanya ingin hidupnya tenang tanpa tuntutan dari ibunya.


Ralen menapaki anak tangga satu persatu dan melihat keadaan rumah yang sangat sepi, Mama mertuanya mungkin sedang pergi ke rumah Tante Andini karena semalam sudah memberitahu dia kalau wanita itu merindukan Achnaf.


Mengingat Achnaf membuat dia refleks menyentuh perutnya yang dulu sempat berisi bayinya dan sang suami, tangannya gemetar dengan tarikan napas yang menjadi cepat.


"Setelah ini aku akan benar-benar menjaga bayi kita lagi," katanya pelan berjanji pada sang suami meskipun dia tidak melihat keberadaan suaminya di rumah.


Entah pergi kemana suaminya itu, padahal ini masih pagi belum ada pukul 8 dan rumah sudah benar-benar sepi bahkan Bi Sumi juga belum datang, atau mungkin tidak datang? entahlah Ralen tidak tahu yang pasti sekarang dia hanya duduk seorang diri di ruang makan dengan segelas air putih untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


Wanita itu menghela napas lalu menghabiskan air putih dan siap kembali ke kamar, dia harus segera mandi lalu berangkat kuliah.


"Kuliah?" kaki Ralen terhenti seraya mulutnya menggumamkan kata kuliah.


Suaminya sudah mengatakan bahwa dia cuti kuliah, entah sampai kapan karena pria itu tidak memberitahu, entah lupa atau memang tidak ingin memberitahunya kapan dia akan kembali masuk kuliah.


Jujur saja dia sudah mulai tidak betah berdiam diri di rumah, meski sesekali dia bisa pergi ke tempat Antika untuk mengusik ketenangan temannya itu dengan segala ocehan yang keluar dari mulutnya.


"Sebaiknya ditanyakan dulu," katanya kemudian berpikir untuk bertanya pada sang suami.


Tapi suaminya yang tidak ada di rumah tidak tahu pergi kemana membuat dia harus mengambil handphonenya yang berada di kamar.

__ADS_1


Kakinya melangkah dengan ringan menginjak satu persatu anak tangga sampai akhirnya dia sudah berada di depan kamar yang pintunya terbuka karena dia yang memang tidak menutupnya.


Baru saja melangkah dia malah sudah mendengar suara dering handphone miliknya yang tertindih oleh bantal segera saja dengan langkah pasti dia menuju sisi tempat tidur dimana dia berada semalam, tangannya terulur untuk mengambil benda yang menyala.


"Ibu?" mulutnya bergerak saat melihat siapa yang sekarang tengah menghubunginya.


Sungguh Ralen tidak menyangka sang ibu yang bahkan kapan terakhir kali menghubunginya itu kini meneleponnya bahkan ada pesan yang juga belum sempat Ralen baca.


"Cepat kamu datang ke rumah!"



Telinga Ralen tidak salah dengarkan?


Ibunya meminta dia datang ke rumah, untuk apa? dan suaranya juga terdengar begitu panik dengan napas yang tidak stabil, memangnya apa yang terjadi, lalu hubungannya dengan dia apa? kenapa dia harus diminta untuk datang ke rumah kontrakan mereka sedangkan di rumah itu jelas ada Daniya dan ibunya sangat tahu kalau dia tidak akan pernah datang ke rumah itu selagi ada Daniya.


Sungguh dia tidak ingin melihat wajah wanita yang katanya adalah Kakak kandungnya tapi sifatnya melebihi iblis wanita.



"Ralen belum mandi." dia berkata seperti itu tentu saja secara tidak langsung menolak permintaan ibunya.




Iya, Ralen bisa mendengar suara tangis yang entah milik siapa, ibunya kah? atau justru orang lain.



Ralen terdiam, dia sedang berpikir untuk mencari alasan lain agar tidak datang ke rumah kontrakan ibunya, bukan dia tidak tahu diri atau ingin bersikap durhaka dan kurang ajar hanya saja dia benar-benar tidak ingin melihat Daniya.



"Mas Sai tidak ada di rumah, Ralen harus.."


__ADS_1


"Suamimu ada di sini!!!" Ralen belum selesai bicara namun sang ibu terus menyela.


Deg!


Jantung Ralen sungguh jadi tidak stabil, berdebar keras kala sang Ibu mengatakan suaminya ada di sana, di rumah kontrakan orang tuanya, ini masih pagi dan lebih penting nya lagi sedang apa suaminya di rumah orang tuanya? apa yang sedang dilakukan olehnya?


"Kamu jahaaaat Awan!"



Dan detik berikutnya Ralen bisa mendengar teriakan histeris milik wanita lain, Ralen mengenali suara itu.


Itu suara Daniya, apa yang suaminya perbuat terhadap Daniya.


Otak Ralen membeku sejenak sebelum akhirnya sudah tidak ada lagi suara yang bisa Ralen dengar sebab sang ibu sudah mematikan telepon.


Bibir Ralen buka tutup menggumam tak jelas, dia sangat tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang.


Sampai akhirnya dia memutuskan untuk berganti pakaian tanpa mandi lebih dulu, tubuhnya terasa gemetar dengan hebat membayangkan sesuatu yang mengerikan mungkin sedang terjadi.


"Ya Tuhan, apa lagi sekarang?" membatin dengan mata yang mulai berembun.



Dia mencoba untuk berlari setidaknya berjalan cepat, namun kakinya yang gemetar seolah tidak bisa dia kendalikan dia bahkan harus berpegangan pada railing tangga karena persendiannya yang seolah lemas membuat dia berulang kali hampir saja jatuh.



Dia baru saja berbaikan dengan suaminya dan sedang berusaha untuk memulai semuanya lagi, merancang kebahagiaan untuk hidupnya dan mulai memikirkan kapan dia akan hamil lagi.



Ralen menghentikan langkahnya saat tinggal beberapa anak tangga lagi yang harus dia tapaki untuk bisa sampai ke bawah, memejamkan mata lalu mengatur napas mencoba untuk berpikir bahwa semua akan baik-baik saja, tidak ada hal yang akan berlebihan yang sedang terjadi.


Baru kemudian wanita itu melanjutkan langkah meski masih tetap dengan kaki yang gemetar dan terasa berat, menuju keluar lalu mengambil motor yang ada di garasi.


Dia memutuskan untuk naik motor agar bisa sampai dengan cepat ke rumah kontrakan orang tuanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2