
Mama Riska yang baru saja datang bersama dengan Zara dan juga Achnaf saling menatap heran saat telinga mereka mendengar suara berisik dari lantai atas, suara derap kaki yang terus terdengar berulang-ulang seperti orang yang sedang melakukan kegiatan.
Lalu keduanya makin mengerutkan kening ketika menangkap suara seseorang yang seperti sedang membujuk dengan cara bicara yang amat lemah dan lembut namun juga diselingi oleh intonasi frustasi yang cukup mengejutkan.
Apa yang terjadi?
Kedua wanita itu bertanya melalui sorot mata mengabaikan Achnaf yang tengah tertawa sendiri entah anak kecil itu mentertawakan apa.
"Aku tidak mungkin bisa tidur tanpa ada kamu di sampingku," suara Ipul berat dengan wajah yang biasanya galak kini berubah seperti anak kucing yang hendak di buang oleh pemiliknya.
Pria itu terus mengekori ketika Ralen yang sejak tadi mondar-mandir mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari lalu memindahkannya ke kamar yang ada di bagian ujung.
Kamar yang memang disiapkan untuk tamu yang mau menginap tapi mulai hari ini sepertinya kamar itu akan mendapatkan pemiliknya yang tidak tahu akan sampai kapan berada di kamar yang lama kosong namun tetap dibersihkan itu.
"Sebelum kamu mengenalku kamu tidur sendiri, dan aku yakin tidurmu juga sangat nyenyak," desis Ralen dengan mata yang menyinis.
Bajingan yang sedang menggelayuti dirinya mengganggu pergerakannya itu mengatakan hal yang luar biasa konyol, tidak masuk akal dan menyebalkan, bukankah perkataan itu sangat sering dikatakan oleh pada buaya darat, agar tidak di tinggalkan oleh kekasihnya?
Sungguh Ralen tidak akan termakan rayuan sialan dari bajingan yang kerap kali membuat ulah.
Ipul menggaruk kepalanya dengan wajah yang memelas, sepertinya dia lupa wanita macam apa yang dia nikahi.
"Kamu salah menikahi wanita, Saipul Gunawan!" ketus Ralen mematahkan semua harapan Ipul yang sejak tadi berusaha untuk membujuk bahkan melontarkan perkataan-perkataan buaya darat, namun tetap saja tidak mempan.
Dia menikahi wanita yang sangat luar biasa kan?
"Kita bisa bicara baik-baik sayang," kata Ipul.
__ADS_1
Apa? bicara baik-baik katanya? Ralen tidak salah dengarkan? bicara baik-baik setelah melakukan perbuatan yang tidak baik terhadap istrinya? menyembunyikan fakta tentang dia yang membantu wanita lain bahkan sampai ada foto mereka yang berpelukan.
Ralen tahu itu tidak sengaja, tapi kesalahannya adalah tidak memberitahukan kepadanya, pakai berdalih lupa.
"Enak saja mau bicara baik-baik sedangkan saat aku melakukan kesalahan kamu langsung mengurungku dan melontarkan kata-kata menyebalkan!" sambar Ralen dengan sorot mata tajam.
Suaminya ini memang mengesalkan dan selalu saja membangkitkan emosi di dalam diri, terus menguji kesabaran yang dia miliki padahal kesabarannya itu setipis tissu.
"Suamiku bajingan bukankah sebaiknya aku juga jadi istri yang bajingan?" celetuk Ralen seraya berjalan keluar, dia bertanya tapi tidak membutuhkan jawaban.
"kalian sedang apa?"
Ralen menoleh ke arah tangga dan melihat Mama mertua dan juga Zara sudah berada di sana menatap penuh tanya padanya juga Ipul yang memang terus mengikutinya.
"Loh itu pakaian Ipul mau dikemanakan?" tanya sang Mama melihat tumpukan kemeja milik sang anak.
Ralen menoleh pada pria yang sedang salah tingkah di belakangnya, "mau Mas yang kasih tahu Mama atau aku saja? kebetulan ada Mbak Zara disini." tutur Ralen dengan senyum yang di buat sangat manis, tapi Ipul sadar senyum itu berupa ancaman menakutkan untuknya, tentu dia tahu benar akan seperti apa Mamanya nanti setelah mengetahui apa yang terjadi di tambah dengan Zara?
Ipul menggeleng lemah lalu memberikan tatapan memohon, dia memang galak dan suka seenaknya tapi kalau harus menghadapi kemarahan Ralen lalu di tambah dengan Mama dan juga Zara, sungguh dia tidak akan bisa selamat.
Nyawanya sangat terancam oleh tiga singa betina sekaligus, menghadapi satu singa betina saja sudah sangat kewalahan lalu bagaimana caranya dia menghadapi ketiganya sekaligus?
Ralen mendecih.
"Senang membuat masalah tapi takut jika harus menghadapi resikonya!" sindir Ralen.
"Kamu berbuat apa lagi?" sepertinya tanpa diberitahu pun Mama Riska sudah bisa menebak kalau anaknya itu habis membuat masalah.
__ADS_1
"Pasti dia bikin ulah lagi Tante." Zara sengaja berpura-pura seperti tengah berbisik padahal suaranya tetap saja keras dan tentu itu didengar oleh Ralen dan Ipul.
Lihat kan? belum apa-apa Zara sudah jadi provokator handal dengan ekspresi wajah yang sangat antagonis.
Kata-kata Zara pun berhasil membuat kedua mata sang Mama menajam dan mengeluarkan kilatan membuat Ipul harus mewaspadai setiap gerakan yang akan Mamanya lakukan.
Biasanya sang Mama akan menarik telinganya tanpa ampun hingga rasanya dia tidak lagi memiliki telinga.
Hingga dia refleks menutupi kedua telinganya melakukan perlindungan dengan tetap berdiri di belakang istrinya yang jelas tidak akan pernah menolong dia.
"Bi Sumi." Mama Riska memanggil Bi Sumi yang memang baru saja datang satu jam yang lalu.
"Saya Bu," sahut Bi Sumi yang datang dari arah belakang dan sekarang sedang meniti anak tangga untuk bisa mendekati majikannya.
"Tolong pegang Achnaf," kata Mama Riska tanpa menoleh karena kedua matanya terus mengunci pergerakan sang anak.
Bi Sumi langsung mengambil Achnaf lalu membawanya pergi.
Zara menyembunyikan senyum yang sangat kurang ajar bagi Ipul.
"Sepertinya aku harus membantumu memindahkan barang-barang pria yang sedang bersembunyi di belakang mu Len," cetus Zara.
Ralen menyingkir membuat Ipul kalang kabut dan berusaha untuk tetap berlindung padanya.
"Zara sialan!" makinya saat Zara menarik tangan Ralen menjauhi dirinya lalu masuk ke dalam kamar yang akan dia tempati mulai malam ini.
Dan dalam sekejap Ipul merasakan telinganya sakit dengan tubuhnya yang sontak merunduk mengikuti tangan yang sudah mencapit telinganya tanpa ampun.
__ADS_1
\*\*\*\*